
Dalam persembunyiannya, Dewi Rengganis tetap optimis menyimpan seluruh harapannya dalam doa. Tirakatnya semakin kuat. Dia semakin rajin berdoa dan bertapa. Memasrahkan semua pada Yang Maha Kuasa.
Dia menghabiskan hari-harinya dengan menyepi di puncak gunung Argopuro. Berteman dengan alam, berselimut bisikan angin. Tak banyak yang dilakukannya selain bercengkrama dengan batin. Gunung, sungai, pepohonan dan hamparan padang rumput adalah saksi keteguhan batinnya.
Well, itu adalah versi dari legenda tentang Dewi Rengganis yang pernah saya baca. Dewi Rengganis yang merupakan putri kesayangan dari Raja Brawijaya yang terpaksa harus melarikan diri untuk menghindari tahta kekuasaan.
Dewi Rengganis begitu terkenal dengan kecantikannya yang tersohor juga kelembutan hatinya yang menawan. Banyak pemuda dari berbagai penjuru, menginginkan dirinya. Konon, kecantikannya yang magis mampu membuat iri wanita-wanita manapun pada saat itu. Dan hingga kini, namanya tetap melegenda.
Saya sendiri tidak tahu, mengapa orangtua saya memberi saya nama Dewi Rengganis. Mungkin harapan mereka, agar saya bisa tumbuh menjadi wanita yang cantik lahir dan batin seperti Dewi Rengganis. Aah, apalah arti sebuah nama. Meski jujur, saya senang terlahir dengan nama Dewi Rengganis. Meskipun, kecantikan saya tidak melegenda seperti dirinya. Dan tak ada pria dari berbagai penjuru yang mengejar-ngejar cinta saya.
Hehehe.
__ADS_1
Mungkin satu kesamaan saya dengan Dewi Rengganis dalam legenda adalah, menjalani hidup yang menyepi. Dewi Rengganis menyepi di puncak gunung Argopuro. Menjalani hari-harinya dengan bertapa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan saya, lebih banyak menyepi di dalam sangkar emas berwujud kamar berukuran 3 X 4 meter. Berteman dengan sunyi.
Seperti saat ini, saya sendirian menunggu Si Botak yang belum juga pulang. Dia berpamitan dari tadi sore untuk janjian dengan Meylan. Sepertinya, keasyikan pacaran sampai lupa waktu. Sekarang sudah pukul setengah dua belas malam. Dan saya semakin sulit memejamkan mata.
...****************...
Bu Ratu nampak begitu serius mendengarkan penjelasan dari pemateri. Sore ini, sepulang mengajar kami mendatangi Helena Beauty untuk mengikuti Beauty Class. Sebagai beauty shop terbesar di kota ini, Helena Beauty cukup sering mengadakan event event seputar kecantikan.
Saya perhatikan ekspresi Bu Ratu yang mendadak berubah. Wajahnya jadi terlihat bete sekali. Mungkin perutnya mual, mendengar kata MUA, hehehehe. Sudah pasti itu mengingatkannya pada madunya.
Istri muda suaminya kan juga seorang MUA terkenal. Pantas saja Bu Ratu semangat sekali mengajak saya mengikuti Beauty Class ini. Mungkin dia ingin belajar lebih banyak tentang make up, bagaimana cara memoles diri sekaligus kiat-kiat bagaimana terlihat cantik dan awet muda agar tidak kalah saing dari Sang Madu.
__ADS_1
Ya Allah, kasihan sekali Bu Ratu. Saya bisa merasakan kepedihan hatinya. Entahlah, apakah saya akan kuat bertahan atau tidak jika ada di posisinya. Kondisi saya dan Bu Ratu juga kurang lebih sama. Sama-sama diduakan. Bedanya adalah, Bu Ratu menjalani kehidupan pernikahan yang real, sedangkan saya menjalani pernikahan sandiwara yang sedari awal sudah ditentukan bagaimana aturan mainnya.
Lalu, Bu Ratu bertahan dipoligami karena demi anak-anaknya. Sedangkan saya belum dipoligami sih, tapi saya bertahan demi harta. Demi nilai materi yang dia janjikan untuk saya. Eeh, tidak juga deh. Bu Ratu juga bertahan karena demi harta juga. Dia tidak rela kalau aset-aset suaminya jatuh ke tangan perempuan itu. Kalau cerai kan, Bu Ratu terancam tidak dapat apa-apa. Makanya beliau kuat bertahan, supaya nanti kalau suaminya meninggal dunia, aset dan harta kekayaan suaminya tetap jatuh sepenuhnya kepada dirinya dan anak-anaknya. Siapa yang sudi sih berbagi sama pelakor? bukan begitu bukan?
Kegiatan Beauty Class berjalan seru dan menyenangkan. Saya mendapat banyak ilmu hari ini. Entahlah kalau Bu Ratu. Sedari tadi wajahnya manyun saja, apalagi setelah mengetahui kalau sosok yang memberikan materi juga berprofesi sebagai MUA profesional.
Sebelum acara ditutup, pihak penyelenggara juga menggelar acara launching produk make up terbaru. Beberapa wanita cantik mulai naik ke atas panggung. Rupanya mereka adalah Brand Ambassador dari produk-produk make up terkenal. Wajah mereka cukup sering muncul di layar TV. Saya tercengang. Mereka sangat cantik. Bertubuh tinggi langsing, dengan kulit putih merona. Seketika saya langsung teringat pada sosok Meylan.
Rupa fisik mereka nyaris setara dengan Meylan. Cantik dan menarik. Pesona lahiriah yang mampu membuat semua mata berdecak kagum dan menoleh saat mereka melintas. Tiba-tiba perut saya mendadak mules.
Beberapa peserta Beauty Class mulai heboh. Selesai acara mereka antre untuk berswafoto dengan model-model cantik itu. Saya masih duduk diam. Tak bergeming. Melihat dan menatap mereka membuat saya makin insecure.
__ADS_1
Bersambung.