LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Sindrom Dopamin


__ADS_3

Seharian ini saya selalu teringat Si Botak. Saat di ruang kelas, saat di ruangannya Bu Endang, saat di kantin, juga saat di ruang guru. Ada getaran yang tidak bisa saya bohongi. Getaran yang telah meluluh lantakkan perasaan saya. Getaran yang selalu timbul saat wajahnya hadir dalam benak saya. Saat senyum dan tingkah polahnya kembali terbayang.


Ada apa dengan saya? apa saya mulai jatuh cinta? semua berawal dari tadi malam. Saat dia memberi kabar kalau dia tidak pulang dan terpaksa harus menginap di kantornya. Ada deadline yang harus dikerjakan, katanya. Entah benar atau tidak. Karena selama ini, dalam pengamatan saya, dia cukup sering membawa pekerjaan dan menyelesaikan deadlinenya di rumah. Dia jarang sekali tidak pulang.


Saya yang sedang terombang ambing menanti kedatangannya semakin dilanda kecemasan. Entah mengapa, saya merasa kecewa. Sedih, ingin nangis, galau, dan ah, entah apalagi. Semua bercampur menjadi satu. Apa jangan-jangan dia sedang sama Meylan ya? bisa saja kan? dia hanya beralasan menginap di kantornya, padahal siapa tau dia menginap di apartemen Meylan?


Kemungkinan yang sangat mungkin. Biar bagaimana pun mereka pernah terikat sebagai pasangan yang saling mencintai. Terlebih mereka kini sedang mulai menjalin kedekatan lagi. Saya mendadak cemburu. Tanpa sadar, genangan airmata mulai mengumpul. Saya tidur dengan air mata.

__ADS_1


Sarapan pagi saya lalui sendirian. Biasanya kami selalu mengobrol tentang apa saja. Dia juga kadang menyempatkan diri untuk mengantar saya ke sekolah. Saya kembali galau saat pesan WA hanya terkirim dan belum dibaca olehnya. Sekarang sudah jam tujuh. Dan biasanya dia sudah bangun jam segini.


Saya berangkat kerja dengan separuh hati. Karena separuhnya lagi ada di sini.. Di rumah ini. Hati saya tertinggal di sini. Hati yang menginginkan Si Botak untuk pulang pagi ini. Kalau menuruti keinginan rasanya malas sekali beraktivitas. Tapi tugas dan tanggung jawab sudah menanti di depan mata. Dan beginilah yang terjadi di tempat kerja hari ini. Dimana saya tidak bisa fokus dan selalu terbayang wajahnya. Hati saya terus bergetar tiap kali mengingatnya atau melihat foto-fotonya di sosmed. Ada kerinduan yang terus mengusik.


Saya rindu padanya. Aah, lebay sekali ya??? tapi memang beginilah adanya. Orang yang kasmaran kan biasanya suka lebay dengan perasaannya. Dan saya memang selalu begini tiap kali sedang kasmaran. Selalu mudah menangis, mudah kangen dan mudah kecewa juga, hmmmm.


...****************...

__ADS_1


Saya masih sendiri. Sebentar lagi senja berganti malam. Dan dia belum juga pulang. Saya kembali dilanda rindu dan cemas. Saya ingin menelponnya, menanyakan keberadaannya, apa dia sudah makan atau belum? dia pulang jam berapa nanti?


Saya lalui menit demi menit dengan menelusuri Facebook dan Instagramnya. Saya amati foto-fotonya. Saya baca status- status dan postingan-postingannya. Seketika debaran di hati kembali menari-nari. Saya merasa seperti terbang tinggi. Begitu indahnya perasaan ini. Sindrom dopamin sudah menjalari peredaran darah saya. Saya jatuh cinta. Sungguh jatuh cinta.


Ponsel berbunyi. Si Botak mengabarkan dia pulang telat. Dia meminta saya agar tidak usah menunggunya untuk makan malam. Saya kembali nelangsa. Pikiran saya lagi-lagi hanya tertuju padanya. Saya ingin menunggunya malam ini. Membukakan pintu untuknya dan menyambutnya.


Hmmmm...Apakah ini terlalu berlebihan? saya jatuh cinta padanya. Dan ini benar-benar di luar kendali saya. Saya juga tidak tahu bagaimana rasa ini tiba-tiba muncul. Apakah sejak kami berakting mesra di depan mamanya? atau saat saya sekamar dengan dia? entahlah. Apa Jangan-jangan saya memang orangnya cepat baper? dengan begitu mudahnya terbawa perasaan. Padahal itu hanya pura-pura. Tidak. Saya tidak boleh membiarkan perasan ini terus tumbuh. Saya harus realistis. Jatuh cinta padanya hanya akan membuat saya semakin terluka....

__ADS_1


Ya Tuhan.. Tolong bantu saya...


Bersambung.


__ADS_2