
Sejauh mata memandang hanya ada hamparan rumput yang begitu menyejukkan pandangan. Sinar mentari menjadi saksi indahnya hari itu, ketika saya dan Si Botak berjalan menyusuri jalan setapak di tepian bukit. Nampak bunga-bunga beraneka warna bermekaran. Indah sekali. Mereka bergoyang menahan hembusan angin. Suasana syahdu, semesta tersenyum. Dawai hati saya makin bergetar saat Si Botak memeluk pinggang saya. Tatapan matanya mengisyaratkan cinta. Tangannya menyentuh wajah saya, makin mendekat, mendekat seolah dia akan mencium saya.
Suara gemericik air membangunkan saya. Ternyata cuma mimpi. Ya Tuhan, baru saja saya bermimpi tentang Si Botak. Ini baru pertama kalinya saya memimpikan dia. Mimpi yang aneh, dimana saya dan dia beradegan romantis, hehehehe.
Seru juga kali ya, kalo adegan romantis seperti di mimpi itu benar-benar kami lakukan meskipun cuma acting. Dimana mamanya dan Kak Ferin berperan sebagai sutradara. Wow. Kok jadi ngarep dot com gini ya? hahahaha.
Ternyata dia sedang mandi. Saya masih rebahan. Rada malas juga sih untuk turun apalagi hari ini week end. Mungkin lima menit lagi baru saya akan turun ke bawah. Saya masih teringat lagi pada mimpi itu. Duh, kok jadi keingetan terus ya?
Saking asyiknya bengong sampai gak nyadar kalau Si Botak sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku pikir kamu sudah bangun! biasanya jam segini kamu sudah turun ke bawah." Wajahnya pias menahan malu. Dia terlihat risih. Gimana gak risih, dia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk di pinggang. Aroma shower gel tercium sangat kuat dari tubuhnya. Aroma kayu-kayuan yang eksotis.
__ADS_1
Saya membalikkan tubuh saya, refleks dia menghindari pandangan mata saya yang secara tidak sengaja tadi menatap dalam-dalam tubuh putihnya yang atletis. Duh, kenapa jadi kebat-kebit ya?
Dia pasti mengira saya sudah turun ke bawah. Maka dengan cueknya, dia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk doang. Salah dia sendiri donk, kenapa gak ngecek dulu tadi pas mau keluar dari kamar mandi. Apalagi posisi tempat tidur ini cukup simetris dari letak kamar mandi, pastinya kan kelihatan ada orang yang masih tiduran apa enggak.
Dia bergegas mengambil pakaian dari lemari dan masuk lagi ke kamar mandi. Hihihi. Tapi mau kemana ya dia? tumben sepagi ini sudah mandi. Wangi pula.
"Kalau gak enak badan, minum obat sana! tapi sarapan dulu!" tiba-tiba dia bersuara.
Dia mengira saya ga enak badan, karena saya belum juga beranjak dari tempat tidur. Biasanya kan saya yang paling gercep bangun lebih dulu.
FARID
__ADS_1
Sumpah. Benar-benar kaget hari ini. Kukira Ninis sudah bangun dan turun ke bawah. Eeh, ternyata belum. Dengan cueknya aku keluar kamar mandi hanya dengan handuk. Betapa malunya aku. Sepertinya Ninis sedang tidak enak badan, makanya masih meringkuk di balik selimut seperti itu. Biasanya kan jam segini dia sudah turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Aku tahu, dia juga risih melihatku dalam keadaan polos bertelanjang dada seperti itu. Makanya dia langsung membalikkan badan. Secepat kilat, langsung saja aku sambar baju dan celana dari dalam lemari dan masuk lagi ke kamar mandi. Jadi gak ada acara milih-milih baju deh. Karena langsung saja, aku sambar apa yang nampak dari lemari.
Jujur, aku benar-benar risih setiap malam harus berdua-duaan dengan Ninis di kamar ini. Kalau mengikuti keinginan sih. Aku tidak ingin kamar ini dimasuki siapapun selain aku dan Meylan. Kamar ini suci. Ini adalah saksi cintaku dengan Meylan. Ribuan malam kulalui dengan Meylan di kamar ini. Dan pasca cerai, kamar ini sengaja kukosongkan. Karena aku tidak sanggup tidur di sini tanpa Meylan. Kamar ini penuh dengan bayang-bayang dirinya.
Tapi demi menghindari kecurigaan Mama dan Kak Ferin, apa boleh buat. Mau tidak mau kamar ini harus kutempati lagi dengan Ninis. Padahal, kamar ini sangat kujaga. Aku sudah bertekad hanya akan menempatinya lagi dengan Meylan.
Potret Meylan masih banyak sekali terpampang di sudut kamar ini. Begitu juga dengan barang-barangnya, pakaian-pakaiannya yang belum sempat dia bawa ketika dia pergi meninggalkan rumah ini. Aku memang sengaja tidak merubah posisi barang-barang di kamar ini. Semua masih sama seperti ketika Meylan masih berada di sini.
Hari ini aku berencana untuk menjemput Meylan di bandara. Semalam dia mengirim pesan untuk minta dijemput. Aah, betapa senangnya hati ini. Akhirnya bisa bertemu lagi dengan pujaan hatiku. Rindu ini semakin parah. Aku tidak sabar ingin segera menemuinya.
__ADS_1
Sudah pasti, aku harus kelihatan oke saat bertemu dengan dia nanti. Aku tidak mau tampil sembarangan. Makanya aku pilih pakaian yang paling bagus untuk hari ini. Meylan paling suka warna biru. Kemeja kotak-kotak warna biru ini sepertinya keren.
Bersambung.