
Dia masih duduk. Tak bergeming. Wajahnya nampak sendu. Tak ada bias keceriaan di wajahnya. Tak ada senyum yang menghiasi wajah tampannya. Saya jadi serba salah. Ingin mendekatinya dan bertanya, tapi saya tak punya keberanian. Selain itu, hati saya juga masih sakit mengingat kejadian pasca menonton konser, di mana dia lebih memilih untuk menemani Reyna ketimbang pulang dengan saya.
Saya tidak tahu kapan dia pulang, dia tidak memberikan kabar seperti biasanya. Saya melihatnya duduk di meja makan dengan wajah lesu dan diam seribu bahasa. Saya juga jadi malas menegurnya. Maka saya lebih memilih untuk berdiam diri di kamar.
Ekspresi wajahnya saat ini mengingatkan saya pada momen saat kami belanja seserahan dulu. Dimana dia menemani saya belanja tapi dengan wajah yang super kaku dan tanpa senyum. Sorot matanya juga menggambarkan kesedihan yang mendalam.
Saya buka ponsel hitam yang berisikan retasan ponselnya dia. Benar saja. Ternyata ini penyebabnya. Siapa lagi kalau bukan Meylan. Saya baca percakapan mereka satu-persatu.
Farid
Sayang, kamu sibuk apa sih? harus berapa lama lagi aku menunggu? beri aku kepastian, Sayang. Kita sudah jalani rencana ini. Dan aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu. Please, Sayang! tolong pertimbangan aku, kasih aku bukti kalau kita benar-benar akan bersatu lagi. Kita nikah siri dulu ya? jujur saja, dengan kamu yang pergi-pergian terus seperti ini dan susah dihubungi, aku kok jadi ragu ya?
Please Sayang, beri aku kepastian.
Meylan
Aku benar-benar sibuk Mas. Kamu kenapa sih? dari awal, aku kan sudah minta sama kamu untuk bisa ngertiin kerjaan aku. Kalau memang kamu serius ingin kita rujuk, kamu yang harusnya bisa lebih sabar menunggu...
__ADS_1
Farid
Tapi kenapa kamu susah sekali dihubungi? pesan-pesanku pun juga hanya dibalas singkat. Kamu juga tidak pernah lagi mengangkat teleponku. Sesibuk apa sih, dirimu? kamu seperti mengabaikan aku. Tak tahukah kamu, di sini aku menahan rindu.
Meylan
Lebay banget sih kamu. Aku sudah bilang kan dari awal, kamu yang harusnya bisa lebih sabar menunggu. Dari dulu, kamu kan tahu bagaimana pekerjaanku. Lama-lama aku capek dengan sikap posesif kamu. Mending kita udahan aja deh.
Farid
Hey, jangan sembarangan ngomong kamu. Kita sudah sepakat dengan rencana kita. Kenapa, kamu anggap mentah seperti ini? aku sudah ikuti semua aturan dari kamu, sampai terpaksa menikahi Ninis. Dan, sekarang kamu mau lepas tangan gitu aja?
Meylan
Farid
Kenapa Mama harus dijadikan alasan. Kita kan sudah sepakat supaya Mama jangan sampai tahu. Ninis juga tidak akan cerita sama Mama. Mey please! tolong jangan seperti ini. Aku benar-benar gak mau kehilangan kamu.
__ADS_1
Meylan
Sedari awal, aku sudah ragu dengan rencana ini, Mas. Tapi kamu yang tetap memaksa juga. Jujur saja, aku ngeri menghadapi mama kamu. Rasa sakit hatiku belum hilang atas makian dan ucapannya waktu itu kepadaku. Tadinya, kupikir dengan rencana ini, aku bisa membalaskan sakit hatiku pada Mama. Tapi kok, semakin ke sini, aku semakin ragu. Apalagi, sepertinya Ninis itu ideal di mata mama kamu.
Farid
Apa maksud kamu, Mey? kenapa Mama kamu jadikan alasan. Aku tidak mau tahu, kita harus jalani rencana kita. Kita harus menikah secepatnya. Ninis ideal di mata Mama, tapi tidak di mataku.
Meylan
Terserah...Aku mau fokus sama kerjaan aku. Aku dah gak peduli lagi sama rencana kita...
Farid
Kamu gak bisa begitu, Mey!!!!! aku sudah berkorban banyak. Kamu gak bisa sembarangan seperti ini.
Lalu Meylan memblokir WA Si Botak.
__ADS_1
Ya Allah, ternyata separah ini. Kenapa Meylan bersikap seperti ini? ini semua kan rencana dia? pasti ada apa-apa dengan Meylan. Kasian juga Si Botak. Tapi ah, itu urusan dia.
Bersambung.