
Liana membuka perlahan matanya, dan seketika dapat menghirup aroma wangi bunga mawar yang bercecer didalam kamarnya dan beberapa tangkai bunga yang utuh tertata divas kaca. "wah... indahnya!" decak kagum Liana menatap kesekeliling.
"Mungkinkah Arvin yang mempersiapkan semua ini?" tanyanya pada diri sendiri sembari.
Tak ingin hanya berdiam diri diatas ranjang untuk menikmati keindahan kamarnya yang dihias sedemikian rupa, Liana pun turun dan mengambil setangkai mawar dari vas kaca yang terletak disisi jendela. "Tapi mana mungkin pria yang tidak memiliki sikap yang lembut bisa seromantis ini?" Gumam Liana menduga-duga sendiri.
Terdengar samar-samar suara deburan ombak ditelinga Liana, "mungkinkah?"
Dengen segera Liana membuka gordeng panjang nan lebar yang menutupi segalanya dari pandangan luar kamarnya. "Oo.. memang benar. Ini pantai!" Liana terpukau dengan apa yang saat ini Ia lihat.
"Indahnya. Jika seperti ini, walau tidak jadi ke Paris tak akan jadi masalah untukku." Gumam Liana memandang luas kearah luar jendela yang terhampar langsung terpampang pemandangan pantai dengan pasir putihnya.
Tak ingin melewatkan keindahan Sunrise, Liana langsung bergegas masuk kedalam mandi tuk membersihkan dirinya sebelum Ia keluar menuju pantai.
"Uwah..." lagi-lagi Liana ditakjubkan oleh Villa milik keluarga Arvin. Bagaimana tidak? Kamar mandinya hampir seluas kamar dan memiliki disain yang terbilang mewah seperti hotel berbintang.
"Bagaimana bisa tempat seindah ini hanya sebagai tempat persinggahan saja? Sayang sekali" gumamnya merasakan perbedaan yang cukup besar antara keluarganya yang hanya menopang hidup pada penghasilan Ayahnya yang hanya manager cabang sebuah Bank swasta, dengan keluarga Arvin yang memiliki perusahaan poperti yang telah go internasional. "Orang kaya memang berbeda."
Tak ingin ambil pusing tentang semua itu, Liana bergegas membereskan urusannya, agar dirinya dapat segera menghirup angin segar pantai, dan merasakan pasir putih di telapak kakinya.
Ketika Dirinya ingin turun ke bawah, pendangannya teralihkan pada sebuah ruangan yang pintunya tak tertutup penuh, Liana bisa melihat didalam ruangan Arvin yang tertidur pulas dengan selimut tebal menutupi tubuhnya yang telanjang atas.
"Dasar pemalas! Ditempat seperti ini malah mementingkan tidurnya, daripada menikmatinya." gerutunya lirih.
"Tapi baguslah, dalam beberapa saat dia tidak akan mengganggu pagiku yang indah ini," benak Liana.
"Selamat tidur Arvin! Yang pulas ya!" Lontarnya lirih sambil melambaikan tangan.
Liana bergegas keluar dari rumah sepertinya Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
"Udaranya seger sekali! Aku belum pernah merasakan udara sesegar ini. Ternyata Arvin sangat pintar memilih tempat" Liana menghirup panjang udara yang belum tercampur polusi.
"Oo... pak Imam sudah ingin pulang ya?" tanya Liana saat mendapati Pak Imam membuka mobil.
"Iya Nona Liana, kalau begitu saya permisi dulu!" jawab Pak Imam begitu santun.
"Iya hati-hati dijalan pak Imam!"
"Terima kasih Nona" Pak Imam pun berlalu sekarang hanya tinggal Liana dan Arvin saja di Villa itu.
Memang rencananya seperti itu, keduanya dibiarkan disana selama dua atau sampai tiga hari. Dan akan dijemput kembali oleh Pak Iman jika ingin kembali ke rumah.
Setelah menghantar kepergian Pak Imam Liana pun memutuskan untuk berjalan kesekeliling seorang diri.
***
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Arvin terbangun dari tidurnya karena sinar matahari yang masuk dari sela gorden yang tak tertutup penuh.
__ADS_1
"Ternyata sudah pagi," ujar Arvin saat membuka gorden kamarnya. Pandangannya langsung tertuju pada garis pantai.
"Bukankah itu Liana?" Ragu Arvin, saat melihat seorang yang memiliki postur tubuh yang sama seperti Liana tengah duduk-duduk dipasir putih pantai itu.
Untuk meyakinkan dirinya Arvin berusaha untuk menyusulnya. Dengan kaos oblong yang dikenakan Arvin sembari berjalan keluar, Arvin siap untuk pergi keluar. Meski belum mencuci mukanya.
Tapi entah mengapa langkah cepat itu tiba-tiba terhenti pada satu kamar yang berpintu yang memiliki cat warna lain dari kamar yang lainnya.
Dibukanya pintu berwarna putih itu oleh Arvin. Sebuah foto terpampang sangat besar yang langsung menjadi pusat perhatian seseorang yang baru masuk kedalam kamar itu.
Foto gadis kecil yang begitu manis memiliki umur yang tak jauh berbeda dengan Dafina.
"Maaf... maafkan Kakak!" ucap Arvin memandang nanar kearah foto besar itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ka- kak to-long ak-ku!" pinta Cika suaranya terpatah-patah karena kepalanya keluar masuk kedalam air.
"Sudalah Cika jangan berpura-pura tenggelam lagi! Kali ini Aku tidak akan tertipu lagi untuk kesekian kalinya."
"Ka-ka..."
"Sudah berhentilah bercanda! Kalau tidak aku akan meninggalkanmu sendirian disini!"
"ka-kakk to..."
"Ya sudah Kakak pergi," Arvin tak ingin tertipu kembali oleh kebohongan adiknya yang suka sekali menggodanya.
"CIKAAA..!". (Flashback Arvin.)
Kenangan yang terpedih dalam hidupnya terputar lagi diotaknya begitu jelas.
"Tolong ada yang tenggelam!" Suara teriakan membuat Arvin hadir kembali kedunia nyatanya.
"Cika!" Seru Arvin berlari sekuat tenaganya.
"Tuan tolong wanita itu!" Seru Bibi penjaga Villa, setelah melihat majikannya berlari kearahnya. "Ya ampun bagaimana ini?"
"Liana!" Arvin terhenyak shock melihat orang yang tengelam adalah Liana, "Liana!".
Tanpa berpikir panjang Arvin langsung berlari kearah pantai dan berenang hingga mencapai tubuh Liana yang naik turun terbawah ombak.
Dibawahnya Liana ke tepi pantai dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.
"Liana bertahanlah!" Arvin menggosok telapak tangan dan telapak kaki Liana yang dingin secara bergantian.
"Aku mohon sadarlah!" Kini Arvin memberi pertolongan pertama pada Liana sesuai dengan prosedur yang Ia ketahui yaitu pemberian nafas buatan untuk seorang yang tak sadarkan diri karena tenggelam.
"Aku mohon! Aku mohon!" berulang kali terucap dibibir Arvin yang tak pernah menyerah pada Liana. Hingga Ia melihat tanda-tanda kesadaran Liana mulai kembali.
__ADS_1
Dimutahkan semua air yang tidak sengaja masuk ke tubuh Liana hingga menyumbat pernafasannya.
"Syukurlah!" Lega Bibi penjaga Villa. Kini melangkah pergi, memiliki inisiatif tuk ambilkan handuk untuk kedua atasannya yang telah basah kuyup.
"Liana!" Arvin mencoba menuntun kesadaran Liana dengan terus memanggil namanya.
"Arvin?" ucapLiana untuk pertama kalinya, saat dia tersadar sepenuhnya.
"Ahh" nafas yang sempat tertahan karena takut kini bisa dibuang lepas oleh Arvin dengan mata yang berkaca-kaca.
Dipeluk erat tubuh Liana lalu berucap, "terima kasih! Terima kasih!"
"Maafkan aku telah membuatmu khawatir!" desah lirih Liana.
"Apa Kau bodoh? Kenapa Kau berenang sepagi ini? Kau ingin mati konyol? Bagaimana jadinya kalau tadi Bibi tidak melihatmu, pasti sekarang kau sudah menjadi mayat disana" bentak Arvin yang tak sadar telah mengeluarkan beberapa tetes air mata yang kini mengalir dipipinya.
"Maaf!" Liana hanya bisa berucap satu kata itu saja untuk menunjukkan rasa sesalnya.
"Tuan ini handuknya," Bibi memberi dua helai handuk pada Arvin.
"Terima kasih Bi!"
"Iya Tuan." Bibi pergi meninggalkan suasana tegang itu.
"Keringkan badanmu setelah itu berkemaslah! Kita akan pulang hari ini juga," perintah Arvin sembari pergi meninggalkan Liana sendiri di pantai.
"Apa?" ucap Liana tak percaya liburannya terhenti karena satu kecerobohannya saja.
"pak Imam sekarang ada dimana?" Tanya Arvin membuka pembicaraan ditelpon.
"Saya masih ada dijalan Tuan" jawab Pak Imam dari sambungan telepon.
"Ya sudah Pak Imam putar balik ke Villa! Kami ingin pulang sekarang." tegas Arvin.
"Maaf?" Saut sepontan Pak Imam, namun tak berniat bertanya mengapa? Dan kenapa?. Ia hanya berkewajiban untuk menuruti semua permintaan atasannya.
"Baik Tuan, segera Saya akan datang ke sana" jawab pak Imam menuruti perkataan Arvin.
"Kenapa Kau ini selalu seenaknya sendiri?" Lontar Liana yang berhasil menyusul Arvin.
"Hanya karena masalah seperti ini, Kau semarah itu?"
"Ya sudah kalau kau masih ingin disini, Aku akan pulang sendiri" Arvin masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan kerasnya.
"Hiiss.. dasar pria egois!" Kecam Liana.
***
__ADS_1