
Disalah satu pusat perbelanjaan, satu persatu baju dan sepatu yang Alya pilih dicobanya. Tak hanya satu Toko saja, tapi beberapa Toko dimasukinya untuk mencari barang-barang yang Ia inginkan.
"Bagaimana dengan ini? Cocok tidak?" Tanya Alya atas baju yang dipakainya, pada Liana yang duduk di depan ruang ganti.
Untuk kesekian kalinya Liana memberikan komentar, "bagus. Kakak terlihat sangat cantik memakai baju itu" jawab Liana yang hampir sama dengan komentar-komentar sebelumnya.
"Benarkah?"
"Tentu saja" yakin Liana.
"Pembohong!" cetus Alya.
"ehm?"
"Kau berkomentar seperti itu hanya ingin membahagiakanku saja kan?"
"Bukan seperti itu, aku bicara seperti ini karena kakak memang cocok memakai baju apa pun" jelas Liana.
"Iya aku tahu. Aku hanya ingin menggoda mu saja" tawa Alya geli. "Kau lucu sekali dengan ekspresi wajah seperti itu." Alya mencubit gemas pipi Liana seraya tersenyum begitu manis. Sedangkan Liana hanya tersenyum singkat memperhatikan tingkah Alya yang begitu unik baginya.
"Oh ya, coba pakai baju ini!" pinta Alya menyodorkan sebuah mini dress yang memiliki motif bunga-bunga dan berwarna soft.
"Untukku?" tanya Liana tak yakin.
"Tentu saja. Memang untuk siapa lagi?"
"Tidak perlu. Aku tidak berniat membelinya" tolak Liana secara halus.
"Stt! Sudah pakai saja! Jangan banyak protes! Aku hanya ingin melihatmu memakainya" perintah Alya sebelum Ia kembali kedalam ruang ganti, tuk menggantinya dengan baju yang lainnya.
Sesaat setelah Ia keluar dari ruang ganti, Ia melihat Liana telah memakai baju yang dipilihkannya.
"Uwah.. kau cantik sekali. Sangat cocok memakai baju itu"puji Alya.
"Benarkah?" Liana tersipu.
"Tentu saja" puji Alya.
Liana berbalik bermaksud untuk mengganti pakaian yang Ia pakai dengan bajunya sendiri.
"Kau mau kemana?" Tanya Alya.
"Mengganti bajuku" ujar Liana.
"Untuk apa? Pakai saja! Kau sangat cocok memakainya."
"Tapi aku tidak berniat membelinya."
"Stt! Sudah jangan banyak bicara! Anggap saja itu hadiah dariku untukmu, karena kau sudah menjaga kak arvin untukku" ucapannya membuat hati Liana hancur seketika.
__ADS_1
"Tolong bungkus semuanya!" pinta Alya pada Karyawan toko.
"Baik!" turut sang Karyawan toko.
"Rasanya aneh sekali, harus berjalan berdua seperti ini. Andai saja orang tau, jika wanita yang bersamaku sekarang adalah kekasih suamiku mungkin semua orang akan mentertawakan ku. Dan akan mencibirku ' jika aku ini wanita yang tidak waras'. Pasti seperti itu" batin Liana tersenyum getir dengan air mata yang Ia tutupi agar tak ada siapapun yang tahu.
"Ayo kita pergi!"
"Iya" angguk Liana sekali, mengikuti kemanapun Alya pergi.
Disebuah restauran seafood yang bertempat disatu pusat perbelanjaan yang sama dengan mereka berbelanja tadi. Alya memilih sebuah bangku untuk Ia duduki dengan Liana.
"Kau mau pesan apa?" tawar Alya seraya membolak-balikkan menu makanan yang disediakan disana.
"Terserah Kakak saja." Liana menyerahkan semua pilihan kepada Alya.
"Emm.. apa kau suka kepiting?"
"Iya suka" jawabnya singkat.
Dengan beberapa pertimbangan Alya pun memesan menu makanan yang bahan utamanya adalah kepiting sebanyak tiga porsi.
"Satunya untuk siapa?" tanya Liana bingung
"Itu untukku" jawab Arvin yang baru saja datang.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku? Jika kau mengajaknya juga" ketus Arvin pada Alya yang tidak sesuai kesepakatan awal.
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu! Aku juga akan pergi dari sini" cetus Liana yang menangkap ada ketidak sukaan diwajah Arvin saat mengetahui dirinya berada disana.
"Liana kau mau kemana?" tanya Alya saat Liana akan pergi dari sana.
"Sebaiknya aku pulang saja, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua" ujar Liana beranjak pergi.
Seseorang menggenggam pergelangan tangan Liana sangat erat, seperti tak ingin Liana pergi dari sana. Dan dia adalah Arvin yang setelah itu berucap, "duduklah!" pinta Arvin.
"Tidak mau" tolak Liana secara cepat.
"Maaf telah menyinggung mu" tulus Arvin. "Bukankah kau suka sekali dengan kepiting?" ungkap Arvin memberi isyarat pada Liana jika sang Pelayan restoran berdiri dibelakangnya dengan membawa pesanan mereka.
Seketika Liana menelan ludahnya sendiri saat melihat kepiting-kepiting yang terlihat begitu lezat menanti untuk disantapnya. "Baiklah jika kau memaksa" ujar Liana jual mahal, padahal dirinya juga ingin tetap berada disana. Ia pun kembali duduk, dan mulai melahap makanan kesukaannya itu.
Arvin hanya tersenyum melihat cara makan sang Istri yang sangat menikmati setiap suap makanan yang masuk kedalam mulutnya.
"Ini untukmu!" Arvin memberikan beberapa bagiannya pada Liana.
"Kau memberikan semuanya kepadaku?"
"Kalau tidak mau ya sudah" Arvin menarik kembali pemberian nya.
__ADS_1
"Eh siapa bilang tidak mau?" Liana menahan pemberian dari Arvin.
Arvin tersenyum singkat, melihat tingkah Liana yang masih bisa makan dengan lahap dengan dandanan seperti itu. "Seketika aku lupa jika dia adalah Liana, dia terlihat berbeda malam ini" benak Arvin menatap penuh wajah yang penuh dengan kebahagiaan saat melahap makanan kesukaannya.
Alya melihat semua tatapan itu, dan hatinya mulai tak tenang akan hal itu. Tatapan yang dibuat Arvin memandang Liana, tatapan itu tidak pernah Ia lihat selama ia bersama dengan dirinya.
"Kakak tidak makan?" tanya Alya mengalihkan perhatian Arvin padanya.
"Tidak, aku sudah kenyang" ujar Arvin.
"Tapi bukankah tadi kakak yang ingin memesan menu ini, tapi kenapa malah tidak mau memakannya?"
Arvin terdiam tak dapat menjawab apa pun. karena sebenarnya ia tak begitu suka dengan menu itu. Hanya saja saat itu ia sedang memikirkan Liana, makanya ia memesan makanan yang disukai oleh Liana.
"Aku suapi ya?" Alya mencoba menghilangkan rasa takutnya dengan melakukan beberapa hal yang sering ia lakukan waktu dulu saat mereka makan berdua. Alya mulai menyuapi Arvin dengan caranya.
Liana yang melihat hal itu merasa tidak nyaman. Rasa yang aneh dan rasa sakit di dada tiba-tiba saja muncul.
"aku permisi ke toilet sebentar!" pamit Liana.
"Jangan lama-lama! Sebentar lagi kami akan pulang". "Jika tidak aku akan meninggalkanmu disini" Liana tak menggubris ucapan Arvin, Ia berjalan terus dengan langkah cepatnya.
Sesampainya didalam toilet ia menumpahkan semua air mata yang sempat tertahan.
"Kenapa denganku sebenarnya? Kenapa rasanya begitu sakit sekali?" Tangan kiri Liana menyeka air mata begitu juga dengan tangan kanannya yang memiliki tugas yang sama, namun tetap saja kedua tangan itu kualahan dengan air mata yang mengucur dengan cepat. "Tidak boleh. Tidak boleh Liana, kau tidak boleh seperti ini! Dia memang suamimu tapi dia milik orang lain" ujar Liana mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa dirinya tak seharus menyukai Arvin.
"Ahhh.. aku bisa gila kalau terus seperti ini" rintiknya sebelum satu panggilan masuk diposelnya, dan orang yang menelfonya adalah Arvin. Liana berusaha untuk menjawabnya dengan sikap setenang mungkin. "Iya ada apa?" tanya Liana menahan isak.
"Yakk! Apa yang sedang kau lakukan didalam toilet? Kenapa lama sekali?" teriak Arvin membuat Liana sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Iya sebentar lagi aku juga keluar."
"Lima menit. Itu waktumu untuk sampai diparkiran, kalau terlambat sedikit saja aku akan meninggalkanmu" seketika Arvin menutup poselnya secara sepihak.
Secepat mungkin Ia menyeka air matanya, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. "Iya. Aku memang sudah gila, menyukai pria yang sama sekali tidak mempunyai keperibadian baik" gerutunya seraya berlari sekencang mungkin. "Dasar Arvin jelek! Bodoh! Tidak berperikemanusiaan" umpat Liana yang tak menghentikan aktivitas larinya.
"Terkutuk kau Arvin!" kecam Liana berteriak hanya dihati saja karena begitu kesal pada pria yang saat ini berada di hadapannya.
"Lumayan. Empat menit lima puluh dua detik" Arvin menghitung sesuai dengan jam tangan yang dipergelangan tangannya.
"Kenapa sih kau suka sekali membuatku susah?" Tanya Liana mencoba mengatur nafasnya.
"Karena itu sangat menyenangkan bagiku" ungkapnya disela tawanya.
"Dasar pria kejam" kecam Liana.
Pandangan Liana kesana kemari tuk mencari keberadaan Alya, yang sedari tadi tak Ia lihat keberadaannya.
"Dia sudah pulang lebih dulu. Ada alasan mendesak yang tidak dapat dia tinggalkan" ujar Arvin yang mengerti apa yang sedang dicari Liana. "Ayo! Kita juga harus pulang" Arvin menggandeng tangan Liana, namun secara cepat Liana menepisnya.
__ADS_1
"Jangan bersikap manis padaku!" Liana berjalan dahulu didepan, lalu diikuti oleh Arvin dari belakang.
***