Love'S Feeling

Love'S Feeling
Makeover


__ADS_3

Dengan bantuan kedua sahabatnya Anita dan juga Sofi, Liana mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun Alya.


Jika bisa dirinya yang seperti bebek tak terlihat akan menjadi angsa putih yang cantik. Bukan untuk menjadi pusat perhatian, melainkan hanya ingin menarik pandangan Arvin.


"Sofi kita bagi tugas saja. Kau yang urus rambut Liana! biar Aku yang akan mendandaninya." Ucap Anita membagi tugas.


"Baiklah ayo kita lakukan! Kita buat Arvin mengganggah melihatmu." Yakin Sofi.


Dengan kerja sama yang baik kedua sahabat melakukannya dengan rapi dan hampir menyentuh kata sempurna.


"Apa yang Kau lakukan?" Tanya Liana saat Anita membawa sebuah catok rambut.


Liana tak ingin rambutnya yang Ia rawat akan rusak menjadi rusak karena panas dari alat itu.


"Kita ubah sedikit rambutmu, agar tidak membosankan" ujar Anita.


"Tapi rambutku kan sudah lurus, memang mau diapakan lagi?"


"Siapa yang ingin meluruskan kembali rambut mu yang sudah lurus? Kita buat nuansa yang berbeda. Oce!" Senyuman Anita penuh sejuta maksud.


"Aku tidak menyukai senyuman itu."


"Stt.. diam saja, kau ingin cantik atau tidak?" bentak Anita.


"Tentu saja."


"Makanya diam saja, dan jangan banyak protes!" Galak Anita yang merasa dirinya lebih susah mendandani Liana dari pada mendandani seorang anak kecil.


"Iya," pasrah Liana.


Kini Liana hanya diam tak katakan sepatah kata pun.


Namun kediaman itu tak bertahan lama, Liana menjerit kesakitan saat Sofi mencatok rambutnya, "Akhhk... Sakit Sofi!" Rengek Liana.


"Maafkan Aku! Kali ini akan Aku lakukan dengan benar." Sesal Sofi yang memang pada dasarnya Sofi dengan Liana tak berbanding jauh dari Liana, sama-sama tidak bisa berdandan. Hanya Anita lah yang mengerti banyak tentang makeover.


Sungguh berat pengorbanan seorang wanita agar dapat bisa cantik dihadapan pria yang disukainya. Dan itu yang dirasakan Liana saat ini.


Dirinya tak dapat mengeluh, hanya bisa diam dan menurut apa yang diinginkan oleh Anita. Diminta untuk memejamkan mata, Liana menurut, diminta mendongakkan kepala Liana juga menurutinya.


"Selesai!"


"Cantik!" Ungkap Sofi dan Anita tersenyum puas.


Setelah beberapa waktu akhirnya mereka dapat menyelesaikan riasan wajah dan tatanan rambut Liana.

__ADS_1


"Sekarang berganti baju lah dengan gaun ini!" pinta Anita, memberikan dress yang khusus dia beli untuk Sahabatnya.


"Baiklah." Dirasakan mudah hanya berganti baju saja, Liana tersenyum lega.


"Liana kalau masukan baju lewat bawah, jangan lewat atas! Nanti bisa merusak riasan mu" tutur Anita sebelum Liana benar-benar masuk kamar mandi.


"Aku mengerti."


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk Liana mengganti pakaiannya. Sekarang Liana terlihat seperti peri dengan gaun panjang berwarna putih.


"Bukankah ini terlalu berlebihan?" ucap Anita penuh menyelidik dari atas rambut sampai kaki.


"Kau benar, terlalu berlebihan." Liana membenarkan, karena merasakan bajunya terlalu panjang jadi susah dibuat untuk berjalan.


Baju kedua. Bodycon dress dipilih Anita untuk gaun yang kedua.


"Haruskah Aku memakai ini? Aku tidak yakin dengan badanku yang tidak terlalu bagus." ucap Liana tak terlalu percaya diri.


"Kau benar juga. Ganti!" Perintah Anita.


"Aku harus ganti baju berapa kali?" Lelah Liana.


"Sampai benar-benar ada yang cocok untukmu," ujar Anita.


"Sebentar akan aku ambil beberapa gaun lagi." Berjalan keluar untuk kembali mengambil beberapa gaun dari dalam mobilnya.


"Kau dapat dari mana gaun sebanyak ini?" tanya heran Liana, karena size Anita dan Liana berbeda. Mana mungkin Anita membelikan gaun sebanyak itu hanya untuk Liana.


"Aku mengambilnya dari toko baju langganan ku."


"Kau membeli semuanya?"


"Tentu saja tidak. Aku ambil yang benar-benar cocok untukmu, dan yang lainnya akan Aku kembalikan nanti."


"Memang boleh seperti itu?" tanya Liana tak yakin. Karena Liana takut akan membayar semua gaun-gaun mahal itu.


"Sudah jangan banyak tanya, Ayo cari yang cocok untukmu!" Anita mencoba memilih beberapa dari tumpukan gaun itu.


"Ini sepertinya cocok untukmu." Diperlihatkan mini dress yang cantik dan terlihat seksi.


"Yakk.. haruskah aku memakai ini? Ini terlalu seksi untuk dikenakan." Protes Liana melihat potongan baju itu sangat pendek.


"Bisakah Kau hanya menurut tanpa harus protes? Ini kostum ampuh untuk memenangkan perang." tutur Anita.


"Sofi," rintih Liana meminta untuk dibela.

__ADS_1


"Anggap saja ini penggorbananmu untuk memenangkan hatinya." ucap Sofi yang berdiri mendukung Anita.


"Aku akan membantumu," tawar Anita yang ikut masuk untuk membantu merapikan baju Liana. 


Tak berselang beberapa menit Liana masuk kekamar mandi. Arvin berjalan masuk kedalam kamar Liana yang pintunya tak tertutup.


"Kau sudah datang?" ucap Sofi berbasa-basi.


"Iya baru saja." Jawab Arvin ramah.


"Tapi dimana Liana?" Tanya Arvin to the point.


"Dia sedang berganti baju. Tunggu saja! Sebentar lagi dia juga akan keluar" Ucap Sofi dengan senyum sejuta maksud.


"Baiklah." Arvin berjalan ingin duduk dikasur Liana, namun belum sempat duduk, Arvin terlebih dulu dikejutkan oleh suara Sofi yang memberi tahunya jika Liana telah keluar dari kamar mandi.


"Itu dia Liana." tunjuk Sofi pada Liana yang sibuk menarik gaun yang terlalu pendek, berharap akan lebih panjang jika Ia melakukan itu.


Mata Arvin terbelalak melihat kecantikan yang terdapat pada diri Liana. Dengan pakaian berwarna merah pekat dan tatanan rambut yang tertata cantik. Sepatu berheels tinggi, serasi dengan dress yang dikenakan. Liana berjalan pelan bak seorang model.


"Oo Arvin, Kau sudah ada disini?" Ucap Liana tersenyum manis.


"Iya. Aku baru saja datang," jawab Arvin l sedikit kaku, dengan wajah memerah.


"Aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang!" pinta Liana yang melangkah menghampiri Arvin.


"Akhkk...!" jerit Liana saat dirinya hampir terjatuh karena tak dapat seimbangkan tubuhnya saat berjalan dengan heels yang sangat tinggi menurutnya.


Seketika itu Arvin tersenyum untuk dirinya sendiri karena begitu bodoh yang megira bahwa Liana telah berubah seratus delapan puluh derajat dari dirinya yang sebelumnya.


Tapi karena insiden tadi menunjukan bahwa Liana tetaplah Liana yang menarik hatinya.


"Apa yang Kau tertawakan?" Kesal Liana yang ditertawakan Arvin hanya kesalahan kecil.


"Tidak ada. Ayo berangkat! Sepertinya akan turun hujan jadi kita harus cepat." Ajak Arvin yang tak ingin memperdebatkan masalah sepele.


"Baiklah. Ayo!"patuh Liana.


"Teman-teman Aku pergi dulu!"pamit Liana.


"Iya, hati-hati dijalan!" ucap Sofi.


"Semoga sukses!" suport Anita. Keduanya memberi dua jempol mereka untuk menyemangati Liana.


"Terima kasih!" Ungkap Liana tanpa mengeluarkan suara, lalu memberikan lambang cinta dengan jarinya pada kedu sahabat yang telah sukses membantunya.

__ADS_1


***


__ADS_2