Love'S Feeling

Love'S Feeling
Ku pilih Cintamu


__ADS_3

Sebuah gedung baru yang masih dalam proses pembangunan yang telah menampakan bentuk yang sangat megah. 


"Selamat presedir gedung ini akan menjadi gedung impaian yang sangat cantik. Dan itu akan terwujud sebentar lagi, mimpi anda untuk membuat sekolah musik akan terwujud sebentar lagi," tutur Sekertaris Arga dengan senyum kebahagiaan.


"Kau benar. Semua keinginanku akan terwujud sebentar lagi," Tirta tersenyum tak sepenuhnya bahagia.


"Aku tak bisa bayangkan, ruangan ini nantinya akan penuh dengan sympony-sympony dan nyanyian yang menakjubkan," Lontar Sekretaris Arga dengan ekspresi yang sangat berlebihan.


"Ucapanmu itu sangat berlebihan. sekolahan ini didirikan hanya untuk anak-anak cacat dan anak tak mampu diluar sana. Bukan sekolah orang-orang profesional dalam bidang musik," ucap Tirta mengingatkan.


Sekertaris Arga hanya tersenyum malu karena salah bicara.


"Ayo kita pergi! Sepertinya sudah waktunya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa itu,".


Tirta menepuk pundak Sekretaris Arga dengan senyum singkat yang terdapat dibibir merah mudahnya kemudian berjalan mendahului Sekretaris Arga beberapa langkah didepan.


"Daram dam dam ..." Sekretaris Arga bersenandung mengikuti gaya bethoven.


Masih saja, membayangkan gedung ini akan menjadi pertunjukan orkestra.


***


Didepan pintu ruang pertemuan Tirta merapikan jasnya sebelum masuk sedangkan Sekretaris Arga berlari kedepan untuk membukakan pintu untuk atasannya.


"Silahkan presedir!" dengan hormat Sekretaris Arga mempersilahkan Tirta berjalan lebih dulu.


Dengan gagah Tirta melangkah masuk kedalam diikuti oleh Sekretaris Arga.


"Lihat-lihat! Dia sudah datang" cetus salah satu mahasiswi yang melihat Tirta masuk pertama kali.


"Wahh... dia sangat menawan sekali, begitu gagah," puji salah satu mahasiswi yang menerima beasiswa.


"Benarkan apa kataku, dia memang benar-benar mempesona dan juga sangat kaya" lanjut salah satu mahasiswi yang lainnya.


"Matanya sangat indah dan senyumnya begitu manis," puji yang lainnya.


"Tahu tidak? Dengar-dengar dia akan mendirikan sekolah musik untuk anak-anak cacat. Bukankah itu sangat hebat?".


"Dia terlihat sangat sempurna sekali, tidak cacat sedikit pun. aku saja sebagai pria, sangat iri padanya".


Perbincangan yang dilakukan teman-temannya menjadikan Sofi penasaran dan mencoba menengok kearah seseorang yang menjadi topik pembicaraan teman-temannya sedari tadi. 


Alangkah terkejutnya Sofi yang melihat orang yang dimaksud adalah orang yang membuat hatinya tak tenang dan membuat matanya tergenang air mata.


Sofi melihat penuh teliti saat Tirta sedang berbicara dengan salah satu dosen yang mengantar mereka.


Mata yang selalu melihat kearah teman pembicaranya dan bibir yang bergerak meniru walau tak begitu jelas.


Hati Sofi seperti tersayat oleh sebilah pisau tajam, sakit membuat air matanya menetes seketika.


"Oo ... Nona Sofi!" lontar sekretaris Arga yang baru mengetahui keberadaan Sofi, mencoba memberitahu pada atasannya namun dicegah oleh Sofi yang memberi isyarat pada Sekertaris Arga untuk tetap diam dan tak berkata apa pun pada Tirta tentang keberadaannya.


"Tapi kenapa?"


"Sofi apa kau mengenal pria itu?" Tanya temannya yang menyadari ada komunikasi yang terjadi antara Sofi dan Sekertaris Arga.


"Memang siapa yang dikenal sofi?" Kepo salah satu mahasiswa disana.


"Itu pria yang terus mengikuti presedir Tirta" terang mahasiswa yang berjajar didekat Sofi.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ahh ... tidak. Aku hanya pernah beberapa kali bertemu dengannya, itu pun tak sengaja." kelak Sofi yang berbeda dengan kenyataannya.


Acara pun dimulai, pemberian beasiswa secara resmi diberikan langsung oleh Tirta yang selaku donatur terbesar disini.


Beberapa wartawan dari stasiun tv dan surat kabar pun ikut hadir untuk meliputnya. 


"Aku ucapkan selamat untuk keberhasilanmu!" satu persatu Tirta menjabat tangan para mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa itu.


"Bagaimana ini?" gusar Sofi yang semakin dekat dengan keberadaan Tirta.


Sofi menundukkan kepalannya lalu bergumam. "Andai saja ada keajaiban yang membuatnya tak mengkenaliku." Dan tiba-tiba gelap gulita.


Cahaya lampu yang menerangi gedung tertutup itu seketika padam. Semua orang yang berada disana panik, begitu juga dengan sekretaris Arga yang mengetahui segalanya tentang atasannya.


Ia berteriak panik memberi perintah untuk cepat menyalakan lampu yang padam. "Hey siapapun tolong cepat nyalakan lampunya!" Teriak Sekretaris Arga.


"Presedir anda dimana? Apa anda baik-baik saja? Presedir !Presedir!" panik Sekretaris Arga.


Dan di lain sisi Tirta begitu ketakutan dengan suasana ini. Tak dapat mendengar dan juga pengelihatannya tertutupi oleh kegelapan.


Tubuhnya menggigil ketakutan tapi Ia berusaha untuk tetap tenang.


"Sekretaris Arga! Sekretaris ... kau dimana?" suara Tirta terdengar begitu berat dan nafasnya pun tak terdengar baik.


Sofi yang menyadari hal itu tak tinggal diam dengan segera Ia merogoh isi kantong celana yang dirinya tahu bahwa ponselnya Ia taruh di sana.


ditekannya salah satu tombol ponselnya hingga menyala. Cahaya kecil dari poselnya diarahkan pada wajah Tirta yang pucat, kantung mata yang memerah, terlihat jelas wajah yang begitu ketakutan. 


"Sofi?" cetusnya dengan nada yang gemetar.


Direbut paksa ponsel itu dari genggaman Sofi, dan sekejap kemudian Tirta sorot wajah Sofi dengan cahaya ponsel yang baru saja dirinya rebut.


Terlihat jelas wajah Sofi yang dipenuhi dengan linangan air mata.


"Kenapa kau menangis sekarang?"


"Tidak, aku sama sekali tidak menangis" sangkal Sofi menggelengkan kepala.


"Apa kau menangis karena mengkhawatirkan aku?" Tanya Tirta membuat Sofi menjadi terpojok.


"Aku bilang, aku tidak menangis," sangkal Sofi sekali lagi.


"Tidak, aku memang menangis," koreksi Sofi pada ucapannya. "Dan semua itu karenamu, jadi aku harap, menjauhlah dari hidupku!" pinta Sofi.


Tirta begitu jengkel karena tidak dapat mengerti ucapan Sofi, karena ia tak dapat melihat bibir Sofi dengan jelas.


Diraihnya tangan Sofi lalu ditarik secara paksa pergi dari ruangan itu dengan bermodalkan cahaya ponsel mencari tempat yang lebih terang dan lebih sepi tentunya. Karena ia ingin berbicara lebih leluasa dengan Sofi.


"Tirta sakit. lepaskan tanganku!" rintih Sofi mencoba melepas tangannya dari genggaman tangan Tirta.


"Tirta berhenti!" teriak Sofi kesal.


"Baik aku akan mendengarkanmu, jadi lepaskan tanganku sekarang!" mata Sofi mulai berkaca-kaca kembali.


"Tirta, sebenarnya kau mendengarkan ucapanku atau tidak?" kini Sofi meneteskan air matanya.


Bukan karena rasa sakit dipergelangan tangannya yang terlalu erat digengam oleh Tirta, melainkan rasa sakit dihati atas kebenaran bahwa Tirta tak dapat mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Tirta lepaskan tanganku sekarang! atau kau memang ingin aku benar-benar marah padamu" kecam Sofi namun masih tak ada respon.


"Aku hitung sampai sepuluh jika kau tidak benar-benar berbalik dan berhenti, selama-lamanya aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi" ancam Sofi.


Sebenarnya Sofi tak bersungguh-sungguh Ia hanya ingin mengingkari kenyataan bahwa Tirta tidak dapat mendengar.


Dan kini Sofi mulai berhitung.


"Satu ... dua ..." hitungannya ada beberapa jeda agar sedikit mengulur waktu.


"Tiga ... empat ...," diwaktu yang sama ketika hitungan yang keempat didalam hati Sofi berucap, "Kenapa masih tidak mau berbalik?"


"Lima ..."


"Enam ..." Sofi mulai ragu untuk menghitung.


"Aku mohon berbaliklah! aku berjanji akan melakukan semuanya yang kau mau. Aku akan berada disampingmu jika itu yang kau inginkan" benak Sofi mulai risau.


"Tujuh..".


"Aku mohon berbaliklah! aku benar-benar takut sekarang," benak Sofi.


"Delapan..".


Tirta berbalik dan berkata. "Bisakah kita berbicara baik-baik? Beri aku waktu hanya beberapa menit!" pinta Tirta.


"Aku ..." perkataan itu berhenti seketika saat kecupan lembut mendarat dipipinya.


"Apa ini?" Tanya Tirta dengan tindakan Sofi yang sepontan.


"Apa sekarang kau ingin mempermainkan hatiku?" Tirta terlihat tidak senang.


"Bukan seperti itu, aku hanya..." Sofi terlihat ketakutan, hingga membuat Tirta merasa bersalah.


"Maafkan aku telah berkata kasar padamu! Aku hanya marah pada diriku sendiri karena tidak dapat memahamimu".


Kini Sofi tidak dapat menyembunyikan kelegaan hatinya. Dengan menangis Sofi mengekspresikan perasaannya.


Sedang Tirta yang tidak bisa menebak apa terjadi pada Sofi, begitu khawatir dengan keadaan Sofi yang terus saja menangis.


"Terima kasih telah berbalik menatapku!" ucap Sofi mendongakkan wajahnya, agar Tirta dapat mengetahui apa yang ingin Ia katakan.


"Aku mencintaimu".


Pernyataan Sofi yang tak terduga membuat Tirta sedikit terkejut. Ia terdiam dan tidak dapat mengatakan apapun.


"Kenapa kau diam? Aku sedang menyatakan cinta padamu".


Hati Sofi semakin kacau dengan kediaman Tirta.


"Jika kau terdiam seperti ini, apa yang harus aku lakukan?" Batin Sofi.


"Kalau begitu aku akan pergi" Sofi berbalik, dan melangkah pergi dengan rasa malu.


"Bodoh. Seharusnya aku tidak lakukan itu tadi. Malunya aku!" gumamnya sendiri.


Tiba-biba sebuah tangan Tirta menariknya hingga tubuhnya berputar dan tangan yang lainnya merengkuh tubuh kecilnya.


Sebuah kecupan lembut mendarat dibibirnya. Ciuman itu berlansung beberapa detik lamanya. Dan setelah terlepas sebuah jawaban diterima Sofi. "Aku sangat mencintaimu!" keduanya pun tersenyum singkat.

__ADS_1


***


__ADS_2