
Pagi itu sedikit berbeda tak seperti biasanya, tidak ada celoteh dari Liana yang memberi suasana familiar bagi Arvin.
Membuat dirinya harus mencari-cari keberadaan Liana disetiap sudut rumah, namun tetap tak dapat Ia temukan seorang gadis yang ingin Arvin lihat disetiap paginya.
Hanya terlihat Bibi Atun yang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
"Apa Tuan sedang mencari Nona Liana?" Tanya Bibi Atun berinisiatif bertanya sebelum sang majikan bertanya padanya.
"Nona Liana sudah pergi pagi-pagi sekali," lanjut Bibi Atun.
"Pergi kemana?"
"Kata Nona Liana, dia ingin pergi ke toko buku terlebih dahulu sebelum pergi ke kampus,".
"Apa dia mulai masuk kuliah? Kenapa dia tidak bilang apapun padaku?" gumam Arvin sendiri melangkah pergi meninggalkan Bibi Atun yang masih bertaut dengan segala kesibukannya.
Setiap jam dilalui oleh Arvin dengan susana bosan, tak ada pekerjaan yang dapat Ia kerjakan karena telah dirinya selesaikan kemarin malam. Tak ada juga telpon yang menyibukkan dirinya.
Hanya bisa duduk menggonta-ganti saluran televisi atau sekedar merebahkan tubuhnya di ranjang nyamannya.
"Hah ... bosan sekali!" seru Arvin dengan nafas panjangnya.
"Haruskah aku pergi keluar untuk mencari udara segar? Jika hanya berjalan santai mestinya tidak akan ada masalah".
Arvin mengambil mantelnya dengan cepat yang dikenakannya sembari dirinya berjalan turun menuju carport.
Arvin menjalankan mobil pribadinya keluar dari rumah menuju kesebuah tempat yang bukan lain adalah kampus Liana.
"Pasti dia akan senang melihatku yang tiba-tiba datang menjemputnya," narsis Arvin tersenyum bangga, merasa Ia sangat dicintai oleh Liana hingga kehadiran dirinya sebuah kesenangan tersendiri bagi Liana.
Sedangkan Liana sendiri malah tak berada di kampusnya saat ini, Ia mangkir dari jadwal yang dirinya rancang sendiri.
Karena kelelahan mencari bahan skripsi, Liana kini duduk disebuah kedai kopi yang memiliki tempat duduk yang nyaman untuk berlama-lama berada disana.
Hanya bermodalkan laptop dan beberapa materi, Liana mulai mengerjakan skripsinya. Dengan ditemani segelas minuman segar dan cake cokelat favoritnya yang telah terhidang di meja.
"Liana!" panggil seorang pria yang terdengar ragu.
Seketika Liana menatap sumber seorang yang tadinya memanggil namanya. Liana mendapati seorang pria tampan bertopi yang memiliki wajah yang tak asing baginya, tapi juga tak dapat diingat dengan mudahnya.
"Benar kau Liana dari SMA negeri X!" seru pria itu kini telah yakin setelah melihat wajah Liana dengan lebih jelas.
"Kau tidak mengingatku? Aku Syarif ketua basket serigala putih," ulas Syarif mencoba mengingatkan Liana.
Kini ingat Liana yang karatan mulai terasah, bayangan masa lalu pun terputar kembali. Dan disanalah Liana dapat menemukan Syarif pernah hadir di catatan perjalanan hidupnya.
"Oo... Senior!" seru Liana mengingat Syarif sebagai seorang yang berjasa telah membantunya belajar bermain basket.
__ADS_1
Awalnya Liana bermain basket hanya untuk meninggikan badan, karena cerita beberapa orang itu sangat manjur. Namun lambat waktu Liana mulai menyukai bidang olahraga basket itu sendiri.
Hingga pernah Liana dapat masuk pada grup basket putri, dan mendapatkan meraih juara tiga pada pertandingan antar sekolah.
"Syukurlah kau masih mengingat diriku" ucap Syarif tersenyum lega.
"Bagaimana mungkin aku melupakan Senior yang berjasa banyak terhadap ku," ujar Liana membalas dengan senyuman tak kalah ramah.
"Wah ... berapa lama ya kita tidak bertemu? terakhir kali, pada waktu perpisahan angkatan ku," lontar Syarif mengingat-ingat.
"Benar, sudah hampir 5 tahun lamanya".
"Hah ... 5 tahun kau telah tumbuh menjadi gadis yang sangat menawan," puji Syarif membuat Liana tersipu seketika.
"Benarkah?" Serasa berbunga hati Liana dipuji oleh seseorang meski tak memiliki ikatan hati dengannya.
Seperti angin dingin yang menusuk dirasakan mereka berdua secara tiba-tiba.
"Kenapa aku merasa hawa tidak enak?" peka Syarif yang telah dipandangi oleh Arvin dengan tatapan mematikan dari kejauhan.
"Liana!" seru Arvin berjalan mendekat kearah tempat duduk Liana dan Syarif.
"Oo ... bagaimana kau bisa datang kemari?" Liana begitu terkejut dengan keberadaan Arvin disana.
"Aku mencarimu ke kampus dan aku bertemu dua sejoli itu (Anita dan Rendi), dan mereka bilang jika kau berada ditempat ini," detail Arvin menerangkan.
"Liana dia siapa?" Tanya Syarif tidak pernah bertemu dengan Arvin selama dirinya menjadi teman baik Liana.
"Suami Liana" pertegas Arvin memotong ucapan Liana.
"Sebelum menjadi ancaman, akan aku singkirkan pria ini terlebih dahulu" tekat Arvin, yang baru saja ingin memperbaiki hubungannya dengan Liana.
Tapi ada saja yang menggangu, padahal satu pria masih belum dia singkirkan (Jojo) dan sekarang ada yang datang lagi.
"Ah halo, saya senior Liana saat sekolah menengah atas," tiba-tiba Syarif menggunakan bahasa baku saat bicara pada Arvin.
Karena dirinya merasa terancam dengan tatapan membunuh Arvin padanya, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Liana sepertinya aku harus pergi, karena ada urusan yang baru aku ingat," pamit Syarif yang tak ingin lagi berlama-lama disana.
"Ah baiklah, Senior hati-hati dijalan".
"Sampai jumpa ...". "Ah bukan, selamat tinggal!" ucap Syarif merevisi perkataanya yang tak berharap bertemu Arvin lagi.
"Kau ini kenapa?" Arvin duduk dihadapan Liana dengan ekspresi kemarahan.
"Apa? Memang aku kenapa?" tanya Liana yang merasa tak nyaman dengan tatapan Arvin padanya.
__ADS_1
"Bukankah kau ingin mengerjakan skripsimu? Tapi kenapa malah bertemu dengan seorang pria di cafe?" Interogasi Arvin.
"Aku mengerjakannya. Dan tentang senior Syarif, kami tidak sengaja bertemu disini" jawab Liana dengan nada ringan.
"Kan kau bisa mengerjakannya dirumah, kenapa harus sejauh ini hanya untuk mengerjakan skripsimu?" Lanjut Arvin.
"Di sana ada toko buku, aku ingin membeli beberapa buku disana." tunjuk Liana pada sebuah toko buku yang berada tepat di seberang cafe yang didatangi oleh Liana.
"Tapi toko buku itu masih tutup saat aku datang. Jadi aku putuskan untuk menunggunya disini, lagi pula aku juga sedikit malas ke kampus. Tidak ada urusan mendesak hingga aku harus datang kesana" Terang Liana panjang lebar.
"Oh ..." singkat Arvin yang merasa sedikit malu dengan segala pikiran buruknya.
"Kau ... mungkinkah?"
"Apa? Apa?"
"Apa kau cemburu?" Duga Liana.
Arvin terdiam.
Suasana menjadi canggung antara mereka berdua.
"Aku ..."
"Ah ... benar." potong Liana atas ucapan Arvin.
"Mana mungkin Kau cemburu, Kau kan memiliki kak Alya. Jadi mana mungkin Kau memiliki waktu untuk cemburu terhadap hubungan orang lain" Ia tidak ingin mendengar ucapan menyakitkan dari mulut Arvin.
Lebih baik ia sadar diri lebih awal, dari pada malu dan terluka diakhirnya.
"Benar aku masih memiliki hubungan dengan Alya, jadi mana mungkin aku nyatakan perasaan ku terhadap Liana," sadar Arvin yang hampir menyatakan rasa cemburunya pada Liana.
"Lebih baik aku selesaikan segalanya, baru aku akan nyatakan perasaanku terhadap Liana," yakin Arvin dengan apa yang diputuskan kali ini.
Ia tak ingin lagi mengulangi kesalahannya yang dulu-dulu. Demi menjaga perasaan orang lain, Ia mengesampingkan perasaannya sendiri terlebih terhadap Liana.
"Liana!" seru Arvin memiliki sebuah ide yang terlintas dipikirannya.
"Apa?"
"Karena sekarang kita sudah berada diluar, haruskah kita pergi bersenang-senang?" Arvin mengutarakan pendapatnya.
"Tapi aku harus mencari beberapa buku dulu".
"Tidak masalah, kita pergi setelah kau mendapatkan buku yang kau cari".
"Baiklah," setuju Liana.
__ADS_1
"Kali ini biarkan aku melakukannya dengan benar," benak Arvin.
***