
Ikrar pernikahan telah di ucapkan oleh Arvin, dan secara hukum dan agama keduanya telah sah menjadi sepasang suami istri.
Resepsi pun dilangsungkan dengan meriah keluarga dan para sahabat kedua mempelai membanjiri gedung resepsi, ruangan yang terhiasi dengan mawar putih terlihat begitu mempesona.
Apalagi disaat kedua mempelai memakai pakaian adat mereka terlihat seperti Rama dan Sinta (tokoh pewayangan zaman dulu).
"Liliput! Kau cantik juga jika didandani" puji Arvin berbisik lirih ditelinga Liana.
"Baru sadar kalau Aku cantik?" bangga Liana.
"Jujur Kau juga terlihat berbeda dengan pakaian adat itu. Kau jauh lebih tampan." Puji Liana balik.
"Baru sadar? Aku memang terlahir sebagai pria tampan." Narsis Arvin.
"Dasar narsis," cibir Liana lirih.
"Arvin my friend!" Sapa seorang Pria berkulit putih. Sepertinya dia teman Arvin saat di Luar Negeri.
Mereka berbincang dengan berbahasa Internasional yaitu Bahasa Inggris yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh Liana.
Liana hanya dapat menafsirkan dari tingkah laku mereka, yang Ia yakini bahwa mereka sangat senang setelah sekian lama tak bertemu.
Dan Ia juga meyakini jika dia menjadi bahan perbincangan mereka kini, karena sebuah kata ' your wife '.
Dan dirinya mulai tersipu saat mendengar kata ' Beautiful ', Ia merasa sedang dipuji oleh teman bule Arvin.
"Kenapa wajahmu memerah seperti itu?" Tanya Arvin yang melihat tingkah Liana yang tak biasa.
"Bukankah dia mengatakan jika Aku cantik?" Ragu Liana berbisik.
"Kata siapa?" Tanya balik Arvin yang berlagak tak mengerti.
"Bukankah dia bicara Beautiful? bukan kah itu artinya cantik?"
"Hah! Memangnya hanya itu arti dari kata beautiful? Kata itu bermakna meluas, bisa untuk mendeskripsikan keindahan Alam, atau semacamnya." Tentang Arvin akan pemikiran Liana.
__ADS_1
Meski Ia tahu, temannya tadi memang memuji Liana sangat cantik. Namun jika itu diketahui oleh Liana, pastinya Ia akan besar kepala.
"Kau ini mahasiswi, tapi mengapa tidak tahu apapun?" cibir Arvin yang mendapat bibir manyun Liana. "Dasar Liliput Bodoh!"
Ingin sekali membalas cibiran yang diterima oleh dirinya, dengan membalikan segala cibiran kepada Arvin. Namun niat itu diurungkan disaat Ia melihat para sahabatnya yang baru datang.
"Liana!" Sapa Anita melambaikan tangannya.
"Akhirnya mereka ingat jika masih memiliki Aku sebagai sahabatnya," dengan amarah yang meluap-luap Liana berjalan mengarah ke tempat ketiga sahabatnya itu.
"Aku tidak mengira jika sahabatku yang satu ini akan mendahului ku" Anita memegang lembut jemari Liana.
"Kau cantik sekali Liana memakai pakaian adat pengantin itu" puji sofi yang ikut komentar.
"Kau tidak bicara apa pun untuk memujiku? Seperti kedua wanita ini," lontar Liana yang terlihat sangat kesal pada Rendi.
"Kami hanya bisa memberikan ini untukmu, terimalah!" Rendi memberi sebuah kado yang dibungkus kertas berwarna merah muda.
"Selamat atas pernikahanmu. Semoga kalian bahagia sampai tua nanti" tambah Rendi.
"Kesalahan kalian begitu besar padaku, kenapa hanya memberikan kado dan ucapan selamat saja untukku?" Liana begitu kesal karena sahabat-sahabatnya tak merasa bersalah sedikit pun padanya.
"Apa seperti ini kelakuan seorang sahabat? kalian memang benar-benar sangat kejam," dumal Liana.
"Maafkan Kami" tulus Sofi memohon maaf pada Liana.
"Iya kalian bertiga dimaafkan" cetus Arvin yang baru saja bergabung sudah berani mengambil suara.
"Sebaiknya Kau tidak perlu ikut campur! Ini urusanku dengan mereka."
"Ini kan hari bahagia kita, jadi mengapa tidak Kau maafkan mereka?"bujuk Arvin.
"Jika Kau cemberut seperti ini, akan merusak hari bahagia kita. Dan juga kau akan terlihat jelek jika cemberut" peluk Arvin dari belakang membuat Liana terkejut setengah mati.
"Apa yang Kau lakukan?" Liana begitu terkejut tak pernah Ia sangka Arvin akan berbuat senekat itu padanya.
__ADS_1
"Kalau Kau tidak memaafkan mereka, Aku akan memelukmu seperti ini terus sampai Kau mau memaafkan mereka" ancam Arvin.
"wah romantisnya mereka" puji Anita bernada iri.
"iiya, aku memaafkan mereka."
"katakan dengan senyuman!" pinta Arvin merajuk.
Liana memaksa bibirnya untuk tersenyum berharap Arvin segera melepaskan tangannya dari tubuh Liana. "Iya, Aku sudah maafkan kalian semuanya" Liana telah menuruti semua yang dikatakan Arvin, dan dengan segera Arvin melepaskan tangannya dari tubuh Liana.
"Wahh.. kalian manis sekali, membuat semua orang iri melihatnya" cetus Anita.
"Kenapa harus iri? Aku juga bisa melakukannya. Seperti ini kan?" Rendi memeluk Anita seperti yang dilakukan oleh Arvin.
"Hey kalian, bisakah kalian tidak mencuri ide orang lain? Kalau ingin melakukan hal-hal romantis, cari ide kreatif sendiri jangan meniru ide pasangan lain" cibir Sofi.
"Biar saja yang penting romantis, bilang saja kalau kau iri pada kami! Makannya cari pacar! Jangan cuma cari buku saja," sindir Anita membalikkan ucapan pada Sofi.
"Biar saja, aku lebih suka membaca buku dari pada harus jalan dengan seorang pria yang isinya hanya nonton, makan, dan belanja. Padahal tanpa pacar aku juga bisa melakukannya sendiri."
"Tapi itu hal yang sangat berbeda. Jika kita memiliki kekasih, akan terasa lebih baik. Kalau bersamanya, tidak akan kesepian karena ada yang dapat kita ajak bicara, menggegam tangan kita, dan bisa ngelindungin kita kalau seandainya terjadi sesuatu. Apa Kau bisa mendapatkan pengalaman ini dari buku?" ejek Anita yang semakin tak mau kalah.
"Iya Aku setuju." nimbrung Arvin.
"Walaupun kita bisa melakukan segalanya, tapi kita masih membutuhkan seseorang disisi kita untuk melengkapi segala yang kurang pada hidup kita. Seperti tangan ini" Arvin memperlihatkan tangannya yang menggengam erat tangan Liana.
"Kalau tangan kita tidak tergengam seperti ini, pasti ada beberapa sudut yang kosong disana. Tapi kalau tergenggam pasti ini, sudut-sudut yang kosong akan terisi penuh." tunjuk Arvin.
"Jadi tidak ada lagi yang namanya kekurangan karena sudah disempurnakan oleh pasangan kita." tutur Arvin panjang lebar. Sesaat Liana merasa terpesona dengan tutur kata Arvin.
"Perasaan apa ini? Beberapa saat Aku merasa bangga menjadi wanitannya" Liana menatap lekat kearah wajah Arvin dan berpindah pada tangan yang masih tergenggam erat ditangan Arvin yang lebih besar darinya.
Pesta berlangsung meriah, Dafina yang mempunyai suara yang lumayan bagus menghadiahkan beberapa lagu untuk kedua mempelai.
Dan tak tertinggal pula sang pengantin wanita yang sangat jago bermain piano, memainkan nada Love story dengan sempurna oleh Liana, semua orang bertepuk tangan saat jemari Liana telah menyelesaikan satu instrumental yang begitu indah.
__ADS_1
Begitu pula dengan pesta pernikahan yang dapat terselesaikan dengan baik. Dan tanpa mereka sadari bahwa ada sebuah sandiwara yang tersembunyi ditengah kenyataan, hanya untuk menutupi sebuah perjanjian yang semua orang tak akan pernah mengetahuinya.
***