
"Aku melihatmu hari ini, dan tanpa sadar kehadiranmu membuat hatiku sangat bahagia, entah mengapa?"
"Apalagi saat kau tunjukkan kelakuan konyol mu yang memberi senyuman yang beberapa hari terakhir tidak pernah berada di bibirku."
"Sesungguhnya aku sangat merindukanmu, namun aku malu untuk menyatakannya." (monolog Arvin)
Iya sesungguhnya Arvin telah menyadari keberadaan Liana sedari awal ketika dirinya sedang berbicara dengan salah seorang Stafnya Sassy. Ia hanya tak ingin menegur Liana agar dirinya merasa dapat lebih lama bersama Liana meski jauh.
Arvin hanya tersenyum singkat ketika Ia melihat kelakuan Liana yang terbilang konyol berjongkok disisi pot tanaman sebagai persembunyiannya.
"Bodoh!" Ujar Arvin setelah tak lama melewati tempat persembunyian Liana.
Tak sampai disana saja, Arvin juga memperlambat lajunya agar Liana dapat mengikuti jejaknya sampai di restoran tempat dirinya memiliki janji pada para Customer.
"Rasanya perutku sakit sekali, seharian hanya meminum kopi dengan perut kosong" benak Arvin yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Ku harapkan semua tindakan bodohku kali ini bisa membuatmu dekat denganku. Jika benar dugaan ku, Kau akan berlari kearah ku karena mengkhawatirkan diriku" pemikiran egois Arvin memang benar-benar terjadi, Liana kini terjebak dalam rencana Arvin.
***
Waktu menujukkan pukul sembilan malam ketika Liana sampai disebuah area Apartemen yang diduga sebagai tempat tinggal Arvin.
"Kenapa dia berhenti disini? Mungkinkah dia tinggal disalah satu unit di apartemen ini?" dengan sejuta pertanyaan Liana melangkah masuk kesebuah apartemen yang mengusung berkonsep kekinian, namun terlihat sangat mewah.
"Wah... cantik sekali!" decak kagum Liana dengan mata yang melihat ke sekeliling, "Apa ini Apartemen itu?" Duga Liana sebagai apartemen milik Arvin yang sedang dipromosikan oleh Arvin.
"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pegawai keamanan disana.
"Ah... iya. Sebenarnya saya ingin mencari seseorang" ujar Liana yang ingin bertanya pada petugas keamanan itu.
Namun Ia ragu jika Ia bertanya, "Saya ingin menemui pemilik Apartemen ini!" Tapi mungkinkah ini benar-benar milik Arvin.
Dan jika Ia bertanya, "Saya ingin bertemu salah satu penghuni apartemen ini!" jika memang benar Arvin tinggal disini, tapi jika tidak bagaimana?.
__ADS_1
"Nona kau sedang mencari siapa?" Tanya petugas keamanan itu lagi.
Namun belum sempat Liana menjawab pertanyaan dari petugas itu. Panggil yang begitu familiar dari suara yang tak asing terdengar oleh Liana, "Liliput!" Seketika pandangan Liana mengarah pada sumber suara itu berasal, karena dirinya yakin jika itu adalah Arvin.
"Arvin!" Seru Liana begitu senang hingga tanpa sadar Ia berhambur kearah Arvin dan langsung memeluk erat tubuh Arvin didepan semua orang.
"Selamat malam Direktur!" hormat petugas keamanan itu pada sang atasan.
"Selamat malam!" Sapa kembali Arvin tanpa mengurangi kesopanan meski dirinya yang memperkerjakan semua orang di sana.
"Kau boleh pergi sekarang! Jangan hiraukan keberadaan ku!" pinta Arvin yang tidak ingin diperlakukan istimewa meski dia pemilik Apartemen ini dan semua pekerja adalah Karyawannya.
"Wah... ternyata Suamiku ini benar-benar kaya" puji Liana memberi rona merah pada Arvin yang tersenyum bangga.
"Tentu saja. Baru sadar jika Suamimu ini sangat kaya? Apa sekarang kau menyesal tidak memperlakukan ku dengan baik?" canda Arvin.
"Sepertinya begitu" ujar Liana kembali melihat kesekeliling. Ia melihat tempat yang dibangun oleh Arvin sangatlah besar dan sangat cantik.
"Aku datang untuk melihat dirimu" jawab Liana tanpa ragu untuk tunjukkan perasaannya.
"Jadi Kau datang karena merindukan Aku?" ucap Arvin yang tak mengharapkan jawaban jujur dari Liana. Karena menurutnya Liana tak seberani itu tuk ungkapkan hal yang sesungguhnya seperti dirinya.
"Iya aku merindukanmu" cetus Liana mematahkan pemikiran Arvin. "Sangat." Ungkap Liana membuat hati Arvin seketika berdegup tak normal.
Arvin mencoba menghindari tatapan intim Liana dengan padangan matanya turun pada kantung plastik yang dibawa oleh Liana. wa Dengan sedikit mendahem Arvin mulai berucap, "Apa yang kau bawa ditangan mu itu?" Tanya Arvin mengalihkan pembicaraan.
"Ah... ini. Aku bawakan nasi Padang untukmu. Bukankah kau sangat menyukainya?" disana ada nada kecewa karena sekali lagi pernyataan Liana diabaikan oleh Arvin.
"Bukankah yang dia pesan tadi nasi goreng? Kenapa sekarang menjadi nasi Padang? Mungkinkah yang dia tiba-tiba berhenti ditengah perjalanan karena ingin membeli ini?" Analisa Arvin.
"Aku membelinya cukup banyak, jadi Kau bisa memakannya bersama Kak Alya"
__ADS_1
"Tidak perlu, biar Aku makan sendiri saja. Lagi pula butuh waktu satu jam untuk datang ke tempatnya" ujar Arvin menegaskan jika dia tidak tinggal satu atap dengan Alya.
"Jadi benar dia tidak tinggal bersama Kak Alya" Liana tersenyum lega.
"Sini berikan padaku! Kebetulan aku sangat lapar, sehari penuh aku belum makan" ujar Arvin yang bicara omong kosong. Bukankah keduanya sudah sama-sama tahu.
"Bukankah ini dibeli oleh uang? Jadi Kau tebus makanan ini dengan tour keliling apartemen mu"
"Baiklah. Kemari!" ajak Arvin menggandeng erat tangan Liana.
Arvin mulai menunjukkan beberapa keunggulan apartemen yang dibangunnya yang tidak dimiliki oleh beberapa bangunan apartemen lainnya.
Disain interior, view yang diberikan, fasilitas terlengkap, hingga keamanan yang terbaik.
"Ini adalah proyek pertamaku sekaligus keberhasilan pertamaku" ungkapnya penuh binar kebanggaan dimatanya.
"Apa kau sangat puas setelah mencapai ini semua?"
"Tidak ada kata puas untukku, setelah ini aku akan mulai mengembangkannya" lontar Arvin menatap mata Liana yang sedari tadi memandang kearahnya.
"Walau Aku tidak puas tapi bukan berarti aku tidak bahagia. Aku sangatlah bahagia, rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Usaha kerasku terbayar dengan rona puas dari para pemilik unit Apartemen ini" ucap Arvin panjang lebar.
"Senang mendengarnya" Liana tersenyum dan diikuti oleh senyum Arvin. Keduanya saling menatap begitu lama.
Kedua mata Arvin penuh menyelidik mengamati satu persatu kecantikan yang dimiliki oleh Liana. Bola mata yang kecoklatan dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Hidung kecil yang tak begitu mancung. Hingga sampailah pada bibir kecil Liana yang memiliki warna merah muda.
Degup jantung Arvin kembali berdetak tak normal, dipikirannya muncul pemikiran kotor untuk menikmati sentuhan dari bibir lembut Liana.
"ek-em" Arvin mendahem sambil memalingkan wajahnya.
"Bukankah ini sudah larut? Seharusnya Kau pulang sekarang! Jika tidak Kau akan ketinggalan bus terakhirmu" tutur Arvin yang sudah tidak dapat berlama-lama berada di tempat yang sama dengan Liana, jika itu terjadi mungkin Ia akan kehilangan kendali.
"Baiklah. Aku akan pulang sekarang" ucap Liana kembali kecewa dengan sikap Arvin.
__ADS_1
"Aku pulang!" pamit Liana meninggalkan Arvin yang masih berada ditempatnya dengan degup jantung yang masih bergetar kuat karena efek kejadian beberapa menit yang lalu.
***