Love'S Feeling

Love'S Feeling
Piknik


__ADS_3

Dengan beberapa pertimbangan tentang kesehatan nenek, akhirnya Nenek dipindahkan keruang rawat inap. 


"Apa tidak biasa pulang saja? Aku sudah bosan dengan tempat ini" keluh Nenek 


"ahh.. Nenek, Nenekkan belum sembuh betul. Mana boleh diperbolehkan pulang." 


"Tapi aku sangat bosan disini. Apa kau mau Nenek mati disini karena bosan?" 


"Kalau mencari alasan yang masuk akal! Mana mungkin seseorang mati karena bosan?" protes Liana. 


"Benar juga sih" Nenek tersadar dengan kebodohannya.


Arvin yang melihat kejadian itu tersenyum dibalik pintu yang tidak diketahui keberadaannya oleh kedua perempuan yang kini tengah beradu mulut. 


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?" ajak Arvin yang memiliki ide dari kotak makan yang baru saja ia beli. 


"Kemana?" saut Nenek cepat.


"Bagaimana kalau kita piknik dibelakang rumah sakit saja? Aku lihat ada beberapa pohon pinus yang tumbuh disana" usul Liana. 


"emm.." angguk Arvin setuju. "Baiklah aku akan minta izin dulu pada dokter" Arvin bergegas pergi sedangkan Liana sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan nanti. 


"Nenek ayo pakai jaketnya!" 


"Biar aku pakai sendiri" ucap nenek mengambil jaketnya dari tangan Liana. "aku memang sudah tua tapi aku masih bisa melakukannya sendiri, jadi jangan melakukanku seperti Nenek tua yang lumpuh!" 


"CK! Iya. Baiklah!" seru Liana disela senyumnya.


"Oo.. makanannya. Kenapa aku bisa lupa dengan makanan Nenek?" gumamnya sendiri. 

__ADS_1


"Sudah, makanan yang dibawa Arvin saja. Ini sudah lebih dari cukup" ujar Nenek yang sesungguhnya Ia tak ingin memakan masakan rumah sakit yang tak cukup enak.


"Tidak boleh. Nenek tidak boleh memakan makanan yang sembarangan" tolak Liana. "Nenek kan baru sembuh, memang mau nanti sakit lagi?"


"Nenek tunggu disini sebentar! aku akan segera kembali" Liana berlari keluar tuk menuju dapur rumah sakit, meminta jatah makan siang Nenek lebih awal. 


"Hey.. tidak perlu. Yang ini sajalah!" teriak Nenek tak digubris oleh Liana.


"Aku pikir kalau piknik akan membebaskanku dari makanan rumah sakit, tapi tetap saja anak itu membuatku harus memakan masakan yang tidak enak itu" dumal Nenek sendiri yang tidak sengaja didengar oleh Arvin. 


"Itu artinya Liana sangat perduli pada kesehatan Nenek" ungkap Arvin yang baru saja kembali. "Kita akan pergi setelah Liana datang." 


"Lihatlah istrimu! Padahal kita pergi hanya beberapa meter dari sini tapi dia membuatnya seperti kita mau piknik ketempat yang sangat jauh" gerutu Nenek sekali lagi.


Arvin hanya tersenyum singkat. Namun senyuman itu tiba-tiba menghilang saat tutur kata Nenek yang disampaikan untuk dirinya.


"Walau dia sangat bodoh dan cerewet tapi dia seorang gadis yang sangat baik, hatinya sangat tulus untuk menyayangi orang-orang disekitarnya". "Jangan sampai kamu kehilangannya karena kebimbangan hatimu" nasehat Nenek secara tiba-tiba. 


"Tentu saja. Dia gadis yang baik, kau beruntung mendapatkannya" 


Arvin hanya tersenyum dan berkata dalam hatinya, "sayang keberuntunganku hanya sebentar saja". 


"Tapi jangan bilang padanya kalau aku mengatakan ini! Nanti dia bisa besar kepala" Kali ini Arvin juga hanya tersenyum namun kini lebih lebar. 


"Bekalnya sudah siap" celetuk Liana masuk kedalam kamar rawat Nenek. "Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Liana disela helaan nafas yang begitu berat sepertinya ia berlari dari dapur rumah sakit sampai kamar Neneknya. 


"Kamu ini dari mana saja? Kami sudah bosan menunggumu!" ketus nenek seraya berjalan lebih dulu. 


"Maaf deh, sebagai gantinya aku sudah bawakan nenek dua ayam khusus untuk nenek" rayu Liana. 

__ADS_1


"Memangnya aku anak kecil yang dikasih ayam langsung luluh hatinya" ketus Nenek. 


"Ihh" desis Liana lirih. "Kalau es krim?" Liana menunjukan sebuah es krim rasa coklat, dan secepat kilat es krim itu berpindah tangan ke Neneknya. "Katanya bukan anak kecil tapi ditunjukkan es krim langsung diambil" gerutu Liana.


"Kalau ini berbeda, aku hanya ingin mencicipi rasa es krim seperti apa?" alasan Nenek.


"Iya aku mengerti" Liana mencoba untuk mengalah pada Neneknya. Sedangkan Arvin hanya memandang penuh senyum dari belakang.


Dengan beralaskan tikar, mereka bertiga duduk dibawah pohon pinus yang tak begitu besar namun sudah dapat meneduhkan ketiganya dari terik matahari. 


Dengan manja Arvin menaruh kepalanya dipangkuan Neneknya. "Kamu ini seharusnya tidur dipangkuan Istrimu!" 


"Tidak mau, aku lebih suka tidur dipangkuan Nenek" 


"Dasar anak nakal. Apa yang kau sukai dari wanita tua sepertiku." 


"hey Nyonya Rosnia! Meski wajahmu penuh dengan kerutan bukan berarti kau tidak cantik. Malah kerutan itu membuatmu terlihat lebih seksi" goda Arvin.


"Bocah nakal. Pujianmu itu lebih seperti sebuah cibiran untukku" Nenek memukul Arvin tak serius.


"Kenapa berpikir seperti itu? Aku benar-benar mengatakan yang sejujurnya." bela Arvin pada dirinya sendiri. 


"iya-iya baiklah. Terserah Kamu saja" Nenek menyerah.


Liana memandang senduh kearah Arvin yang saat itu sedang bermanja dengan sang Nenek. "Syukurlah semua sudah kembali seperti semula, kalau tidak mungkin aku akan melihat kesedihan itu lagi" gumam Liana yang hanya dapat Ia ucapkan dihatinya saja.


"Hey kenapa hanya diam disitu saja? Kemarilah!" panggil Nenek melihat Liana yang hanya berdiam diri saja mengawasi mereka berdua. 


"Iya" Liana mendekat kearah Nenek dan menyandarkan kepalanya pada pundak Nenek meski tak sepenuhnya, karena Liana takut sang Nenek akan merasa kelelahan.

__ADS_1


Ketiganya menikmati piknik dadakan yang tergelar dibawah pohon pinus. Sederhana memang, namun menimbulkan kebahagian yang lebih dari cukup untuk melepaskan kepenatan selama berhari-hari dirumah sakit.


***


__ADS_2