Love'S Feeling

Love'S Feeling
Ikatan masala lalu 2


__ADS_3

Sofi berlari masuk kedalam Rumah sakit tanpa memperdulikan siapapun. Ia hanya berpikir bagaimana agar dia cepat menemui sang Ibu? Bagaimana keadaannya setelah mengalami kecelakaan itu.


Dengan sejuta pemikiran buruk Sofi terus berlari tanpa memikirkan kelelahannya.


Disebuah batas antara ruang IGD dengan koridor rumah sakit, tepatnya di ambang pintu rauang IGD. Sofi melihat dua orang yang sedang beradu mulut dan salah satunya adalah Ibu yang kini Ia khawatirkan keadaannya. Seketika kaki yang sedari menopang tubuhnya tiba-tiba lemas begitu saja, Sofi pun jatuh kelantai dengan derai air mata. Hati Sofi sangat lega karena tidak ada luka serius yang terjadi pada Ibunya, seperti pemikiran buruknya saat perjalanan menuju Rumah Sakit. Tapi entah mengapa Sofi tetap saja menangis sesenggukan hingga tubuhnya terjatuh ke lantai. " Syukurlah! Syukurlah!" serunya berulang-ulang.


Ibunya yang melihat anaknya yang terpuruk langsung menghampirinya dengan dibantu seorang Pria yang dikenalnya yaitu Paman Iwan panggilan akrab Sofi pada pemilik warung kelontong yang tak jauh dari rumahnya.


"Anak kau pasti sangat kaget. maafkan Ibu!" ujar Ibu Sofi yang memaksakan terduduk dilantai meski pergelangan kakinya masih terasa sakit akibat kecelakaan yang dialaminya. "Maafkan Ibu telah membuatmu cemas!" peluk Sang Ibu mencoba menenangkan hati Anaknya.


"Syukurlah Ibu baik-baik saja" Lega Sofi menangis sejadi-jadinya.


"Iya. Ibu baik-baik saja" Ibu Sofi membelai lembut rambut sang Anak.


"Maaf jika aku merusak suasana kalian. Tapi bisakah kita kembali kekamarmu sekarang?" tanya Paman Iwan mencoba membuyarkan adegan mellow drama itu. 


Pandangan Sofi beralih pada Paman Iwan, lalu mengucap, "terima kasih. Paman telah membawa Ibu kemari." 


"Tidak masalah, Aku melakukannya dengan tulus. Semoga saja setelah ini Ibumu mau menerimaku sebagai pasangannya" ceplos Paman Iwan yang menang memiliki sifat blak-blakan.


"Semoga berhasil Paman Iwan! Aku berada dipihakmu" semangat Sofi yang menyeka air matanya dan juga sang Ibu.


"Apaan sih kalian ini? Sofi, ayo bantu ibu kembali kekamar!" 


"Biar aku bantu juga!"ungkap paman Iwan menawarkan bantuan. 


"Tidak perlu, lebih baik Kamu kembali saja! Bukan kah Kamu harus menjaga toko?" 


"Ahh.. kalau itu gampang. Aku yang punya toko jadi mau Aku buka, atau Aku tutup itu urusanku" 


"Dasar tidak waras" cibir Ibu Sofi.


"Tapi Kamu sukakan dengan Pria gila inikan?" goda paman Iwan. Yang membuat tawa Sofi diwajahnya yang sembab.


Dari jauh Tirta menonton semua Adegan itu, Ia menangis dan juga tersenyum melihat senyum Sofi yang kembali merekah. Walau ia tak dapat mendengar ucapan mereka tapi ia bisa melihat kehidupan kedua wanita itu sudah cukup membaik dari pada tujuh tahun yang lalu saat ia tinggalkan mereka dalam duka.


"Kenapa cepat sekali kembali? Aku kira Presedir akan sedikit lebih lama disana" tanya Sekretaris Arga saat Tirta kembali kedalam mobil. 


"Ayo kita pergi!" perintah Tirta, terdapat amarah dinada bicaranya. Amarah pada dirinya sendiri karena sampai saat ini Tirta tidak dapat melindungi kedua perempuan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Karena dirinya terlalu lemah untuk menghadapi kehidupannya sendiri, lalu bagaimana Ia bisa melindungi yang lainnya.


"Baik" Sanggupi sang Supir.


"Apa terjadi sesuatu Presedir?" Tanya Sekretaris Arga yang tak mendapat jawaban dari atasannya. Ya mana mungkin dijawab, Tirta saja tidak mengetahui jika ada pertanyaan dari Sekretarisnya. Namun Arga juga memaklumi itu, Ia juga tak ingin bertanya lebih lanjut karena sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengulas lebih dalam.


Sofi berlari dari dalam gedung tuk mengejar mobil yang ditumpangi Tirta pergi beberapa detik yang lalu keluar dari halaman Rumah Sakit.


"Tunggu!" teriak Sofi yang sama sekali tak memiliki efek. Karena mobil Tirta melaju semakin kencang dijalan beraspal. "Kenapa terburu-buru sekali? Akukan belum mengatakan terima kasih padanya" kecewa Sofi saat ia tak dapat lagi mengejar ketertinggalannya.


Namun tak ada kata menyerah bagi Sofi. Meski tidak dapat mengucapkan langsung, Sofi bisa melakukan alternatif yang kedua yaitu mengatakannya lewat sambungan telfon. Tapi sayang tak ada jawaban dari sana, hingga beberapa kali pun tak ada jawaban. 


"Kenapa setiap kali ditelfon dia tidak mengangkatnya?" Dengus Sofi begitu kesal.

__ADS_1


- terima kasih atas hari ini. hanya itu yang mau aku sampaikan padamu. kenapa kau suka sekali tak menjawab telfon dariku? -


Tertulis seperti itu pesan yang dikirimkan Sofi pada ponsel Tirta.


"AAAHH...!" pekik Tirta seraya membanting keras ponsel yang sedari tadi digenggamnya.


"Presedir, Apa kau baik-baik saja?" tanya Arga seraya menyentuh kaki Tirta, supaya Tirta dapat menatapnya dan mengartikan ucapannya. 


"Batalkan semua jadwal hari ini!" 


"Apa?". "Tapi sebentar lagi rapat akan dilangsungkan" ucap Sekretaris Arga kebingungan.


"Apa kau mulai tuli sepertiku? Aku bilang batalkan semuanya!" Seru Tirta tak ingin tahu konsekuensinya.


"Presedir. Ini rapat sangat penting, mana bisa dibatalkan begitu saja?" rengek Arga memasang wajah memelasnya. 


"Aku bilang batalkan, ya batalkan!" 


"Presedir." 


"Kau ingin dipecat olehku?" 


"Presedir" meski tak menghendaki tindakan atasannya yang semuanya sendiri, Arga harus tetap melaksanakan semua perintah yang tak sesuai hatinya. 


"Sekarang antar aku pulang!" 


"Baik tuan muda" ungkap si Sopir menurut.


Cukup satu jam waktu yang dibutuhkan untuk dapat sampai kerumahnya. 


"Sekretaris Arga!" panggil Tirta memberhentikan langkahnya yang ingin masuk kedalam rumah. 


"Iya" sigap Sekretaris Arga.


"Usulmu yang dulu untuk membeli ponsel khusus..." 


"Iya?" tanya Sekretaris Arga yang begitu tak sabar mendengar ucapan Titra yang tersendat-sendat. 


"Belikan satu untukku!" 


"Apa?" 


"Apa aku perlu mengulangi ucapanku?" geram Tirta. 


"Tidak perlu, saya mendengarnya. Tadi cuma ingin memastikan saja" ungkap Sekretaris Arga yang mengetahui dengan sangat, bahwa Tirta sejak dulu tak ingin membeli ponsel itu, dikarenakan dirinya tidak ingin dianggap sebagai seorang yang memiliki kekurangan. Meski sebenarnya Ia sangat membutuhkannya. 


"Semoga dengan seperti ini aku bisa berhubungan denganmu lewat telfon dan kau tidak perlu marah lagi padaku karena aku akan selalu mengangkat telfon darimu" benak Tirta seraya berjalan masuk. 


"Loh sayang, kenapa kau sudah pulang?" tanya Ibu Tirta, namun Tirta berjalan terus karena tak mengetahui keberadaan Ibunya. Sedangkan ibunya hanya tersenyum tipis kearahnya. "Ya ampun, kenapa sampai sekarang aku sering lupa tentang kekurangan Anakku?" ungkap Ibu Tirta yang menyadari kebodohannya. 


Ibu berjalan keluar dan menemui Sekretaris Arga yang pada saat itu ingin pergi dari sana. 

__ADS_1


"Sekretaris Arga!" panggil Ibu berlari kecil mendekati Arga. 


"Iya Nyonya?" ucap Arga menjawab panggilan Ibu Tirta. 


"Apa terjadi sesuatu pada Tirta?" 


"Tidak ada" 


"Lalu kenapa Ia pulang dengan muka masam? Dan tidak biasanya Dia pulang secepat ini?" Tanya sang Ibu yang begitu penasaran akan sikap anaknya yang tak biasa, karena menurut Ibu Tirta bukan tipe orang yang meninggalkan pekerjaan hanya untuk berdiam dirumah.


"Saya juga tidak tahu, tapi Presedir tadi meminta Saya untuk membatalkan rapat penting hari ini." curah Arga dengan wajah memelas. 


"Apa hanya itu saja?" 


"Ah benar, ada lagi. Presedir meminta saya untuk membeli ponsel khusus itu" 


"Benarkah? Bagaimana bisa?" tanya Ibu Tirta dengan pandangan tak percaya pada ucapan Sekretaris Arga.


"Mungkin karena Presedir butuh, atau mungkin juga karena gadis yang bernama Sofi. Sepertinya Presedir menyukai wanita itu" jelasnya singkat. 


"Sofi?" 


"Iya" angguk Sekretaris Arga.


 


"Mungkinkah itu dia?" Terka Ibu Tirta yang meyakini bahwa yang dimaksud Arga adalah Sofi yang sama dengan Sofi yang ia temui tujuh tahun yang lalu bersama Ibunya, disisi makam pria yang menyelamatkan anaknya dari penjara. 


Sejenak pikiran Ibu Tirta melayang kemasa lalu saat seorang Pria berhati malaikat yang mengampuni Anaknya Tirta. Walau Anaknya telah membuat sang Pria berada diambang Kematian.


Suara Lirih yang keluar dari mulut yang masih memakai selang oksigen yang membantunya untuk bernafas, Pria baik hati itu berucap, "aku membebaskannya dari segala tuduhan".


Sesaat Ibu Tirta menangis haru dan berseru, "Terima kasih! Terima kasih!" *syukur sang Ibu Tirta. Meski disisi lain ada yang tidak merelakan keputusan itu.


Ya tentu sang Ibu Sofi yang menentang keputusan sang Suami, namun dengan cara hapus sang Suami bertutur, "Ibu, jangan pernah pandang masalah ini pada posisi kita! Tapi pandanglah dari posisi mereka! Bagaimana jika anak itu adalah anak kita? Apa Ibu tetap memegang teguh keinginan Ibu?" Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendengar perkataan Ayah Sofi secara utuh.


"Aku akan bertanggung jawab. Jika kalian membutuhkan sesuatu? Datanglah padaku! Aku tidak akan sungkan membantu" ujar Ibu Tirta sebagai caranya untuk berterima kasih.


"Tidak Nyonya. Hal itu tidak diperlukan" tolak Ibu Sofi. Ayah tersenyum semampunya saat mendengar penuturan sang Istri. (Flashback Ibu Tirta*).


Itulah memori singkat dari masa lalunya yang membuat sebutir air mata menetes dipipinya. 


"Nyonya! Anda baik-baik saja? Kenapa nyonya menangis?" tanya Sekretaris Arga khawatir. 


"Tidak apa-apa. Sudah, lebih baik kamu kembalilah kekantor!" 


"Baik." patuh Sekretaris Arga melaksanakan perintah Ibu Tirta.


Sedangkan ibu Tirta hanya terdiam dengan perasaan resah setelah mendengar penuturan dari Sekretaris pribadi Tirta. "Semoga Hal ini tidak akan melukaimu Nak!" Seru Ibu Tirta.


***

__ADS_1


__ADS_2