
Dosen membahas tentang sebuah materi dikelas dan semua mahasiswa memperhatikan materi yang diterangkan.
Namun lain untuk Liana yang masih sibuk dengan pikiran-pikirannya yang belum mempunyai jawaban yang begitu pasti.
Tanpa sadar Liana menatap terus kearah luar kelas terlihat sekelebatan orang seperti Jojo dengan wanita lain.
"Kak Jo?" Cetus Liana sepontan dan tak sadar bahwa dia menjadi pusat perhatian satu kelas.
"Hey..Liana!" panggil Sofi lirih untuk menyadarkan sahabatnya yang tak sadar dosennya telah berdiri disisi Liana.
"Liana!" Tegur Pak Totok kepadanya.
"Ada apa sih?" Liana langsung menoleh kearah suara yang mengganggunya tadi.
"pak Totok!" Liana langsung terkejut melihat dosennya sudah ada disampingnya.
"Liana kalau Kamu sudah tidak berminat lagi dengan pelajaran saya, silakan anda keluar!" Tegur Pak Totok.
"Maafkan saya pak!"
"HUUHHH...!" sorak mahasiswa dan mahasiswi yang berada dikelas kecuali Sofi.
"Sudah-sudah...kita lanjutkan lagi pelajarannya! Dan untuk kamu Liana, saya harap kamu lebih memperhatikan materi yang saya terangkan!" saran Pak Totok dosen Liana.
"Biak pak." perasaan Liana begitu campur aduk antara malu karena kepergok tidak memperhatikan pelajaran dan rasa penasaran dengan apa yang Ia lihat.
Tidak seperti biasanya kalau Liana selesai kuliah langsung pulang kerumah atau mampir dulu ke Café terlebih dahulu, tapi ini langsung pergi kerumah sahabatnya Sofi untuk mengerjakan tugas dari Pak Totok karena tak ingin ditegur kembali seperti tadi siang dikelas.
Liana memutuskan untuk mengerjakannya dengan Sofi walau Rendi dan Anita tidak ikut serta karena beda fakultas.
"Apa Kau baik-baik saja?" Tanya Sofi yang memperhatikan sahabatnya yang begitu murung sepanjang hari.
"Hem?"
"Kenapa dari tadi Kau diam saja? Apa Kau punya masalah?"
"Aku tidak apa-apa, Aku cuma sedikit kurang enak badan saja."
"Apa Kau masih sakit? Kalau memang masih sakit, sebaiknya Kau pulang dan istirahatlah dirumah! Biar tugas ini aku yang menyelesaikannya." pinta Sofi mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.
"Tidak perlu, sebentar lagi juga selesai. Aku pulang kalau tugasnya sudah selesai saja." Liana tersenyum untuk mengurangi kekhawatiran Sahabatnya itu.
"Kau ini memang keras kepala! Ya sudah terserah Kau sajalah." Liana tersenyum tipis kepada sahabatnya itu.
Mereka mulai mengerjakan tugas dengan segera dan beberapa lama mereka berpikir keras akhirnya tugas terselesaikan dan Liana dapat pulang kerumahnya dengan memakai jasa taksi untuk menuju kerumahnya.
"Loh... pintunya kok terbuka? Apa mungkin Arvin sudah pulang? Tidak seperti biasanya" ucap Liana saat menuruni taksi.
"Aku pulang!"
"Jadi seperti ini kelakuanmu sebagai istri?
__ADS_1
"Maaf?"
"Dasar istri zaman sekarang tidak tahu tata krama, seharusnya sebagai seorang istri pantang bila pulang semalam ini" tegur seorang nenek yang sudah duduk-duduk santai diruang tamu.
"Nenek ini siapa ya?"
"Eeh.. gadis model seperti ini kok jadi istri Arvin, ya nggak pantas. Hary iku mikir opo tho yo? Nikahno anak karo wadon sing nggak bener (hary ini berfikir apa ya? Menikahkan anak dengan gadis yang tidak benar)." sindir Sang nenek tua itu.
"Maaf ya Nek! Aku tidak tahu maksud pembicaraan nenek. Tapi sepertinya Nenek sudah salah paham pada saya."
"Salah paham opo? Wong nyatan'e omonganku bener kok. Mahasiswi sih mahasiswi tapi jangan lupa kodratmu sebagai seorang istri jadi jangan pulang seenak jidat kamu" Liana begitu shock dengan ucapan nenek yang belum Ia kenal sudah berbicara kasar padanya sembari memegangi keningnya.
"Nenek ini sebenarnya siapa sih? Kenapa tiba-tiba Nenek ikut campur urusan rumah tangga orang lain?".
Belum sampai terjawab semua pertanyaan Liana dari nenek itu, Arvin datang dan tanpa sengaja dia memberi jawaban dari pertanyaannya.
"Nenek kapan datang?" Arvin berjalan melewati Liana yang masih berdiri didepan pintu dan memeluk Neneknya dengan penuh kasih sayang.
"Nenek datang dari tadi, kamu baru pulang kerja?"
"Iya, Nenek kok tidak bilang kalau mau datang! Kan Aku bisa jemput nenek di Bandara"
"Tidak usah, Nenek mengerti kalau kamu itu sibuk dengan pekerjaanmu"
Mereka begitu bahagia satu sama lain selayaknya nenek dan cucu yang baru bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa.
Sedangkan Liana terperangah karena masih tak percaya bahwa nenek cerewet nan menyebalkan itu adalah nenek Arvin.
"NENEK... jadi orang ini neneknya Arvin. Tamat riwayatku"keluh Liana dalam benaknya.
"Ahh? Iya," Liana mengaggukan kepalanya sembari tersenyum masam, Arvin hanya menatap heran kearah Liana dan neneknya secara bergantian sepertinya dia melewatkan sesuatu.
"Bagus kalau begitu," Liana merasakan sesuatu yang menyulitkan hari-harinya.
"Arvin Nenek akan tinggal disini untuk sementara waktu, untuk mengajari istrimu tentang tata krama sebagai seorang istri. Jadi siapkan kamar untuk Nenek!"
"Iya. Arvin akan siapkan kamarnya."
"Kalau begitu nenek mau mandi dulu" nenek meninggalkan keduanya diruang tamu.
"Sebenarnya apa yang Kau lakukan sampai-sampai nenek memutuskan untuk menginap? Bagaimana kalau nenek sampai tahu tentang perjanjian kita?" Tanya Arvin meminta penjelasan.
Namun Liana hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Arvin dengan menunjukan ekspresi menyesal.
"Kau ini suka sekali membuat masalah," keluh Arvin terhadap tindakan Liana yang begitu ceroboh, ketika Liana akan melangkah Arvin memegang tangan Liana.
"Apa lagi? Aku bingung dengan semua ini dan jangan tambahi kebingunganku dengan kemarahanmu itu!" protes Liana tanpa mengetahui maksud Arvin.
"Aku tidak mau menambah masalah ini menjadi rumit, jadi mulai sekarang jangan bertindak ceroboh lagi."
"Iya Aku tahu itu,"
__ADS_1
Arvin melepaskan genggaman tangannya.
"kau mau kemana?"
"Menurutmu? Ya kekamarlah, mau kemana lagi?"
"Kau ini masih tidak mengerti juga ya? Apa tanggapan nenek melihat pasangan suami istri tidur dikamar terpisah?"
"Lalu harus bagaimana?"
"Mau tidak mau kita tidur satu kamar malam ini," saran Arvin.
"Apa?" Liana begitu terkejut dengan kata-kata yang terucap oleh Arvin.
"Apa tidak ada cara yang lain selain harus tidur satu kamar?"
"Jangan mengeluh ini semuakan kesalahanmu! Jadi turuti saja ucapanku kalau ingin selamat, lagi pula kita memang satu kamar tapi tidak satu tempat tidurkan."
"Baiklah." dengan terpaksa Liana menuruti ucapan Arvin.
"Sebaiknya kau tidur ditempat tidur! Biar Aku yang tidur disofa"
"Kau mengalah padaku?"
"Karena ini bukan apa-apa dibandingkan pengalamanmu besok yang begitu panjang."
"Memang apa yang akan dilakukan oleh nenekmu?" Liana begitu ketakutan saat membayangkan nenek menyiksa dirinya.
Khayalan tingkat tinggi Liana pun kamuh.
"Ini Nek tehnya?" Liana menyuguhkan secangir teh hangat dengan berlutut
"Jangan panggil aku nenek, panggil aku madam! Mengerti"nenek membentak Liana.
"Baik madam." patuhnya.
"Bagus!". "Sekarang pijat kakiku!"
"Baik madam." Liana mulai memijit kaki nenek dengan perlahan.
"Sudah-sudah dipijit olehmu bukannya hilang sakitnya malah bertambah parah. Lebih baik kamu bersihkan rumah, cuci baju, setrika, bersikan kamar mandi, potong rumput, siram tanaman, sapu halaman, ..."
Liana terlalu menghayalkan yang tidak-tidak tentang kekejaman yang diterimanya besok ketika pagi menjelang.
"Hei! Kau terlalu berlebihan membayangkannya, nenek tidak sekejam itu. Lagi pula Kau bukan orang pertama yang mengalami semua ini, ibu juga pernah mengalami yang sama sepertimu tapi sampai sekarang dia masih baik-baik saja kan." Tegur Arvin membuyarkan khayalan Liana.
"Aku harap ucapanmu benar," ucapan Arvin sedikit melegakan hatinya.
"Sudah tidurlah! Besok pasti akan melelahkan untukmu"Liana pun menuruti Arvin.
Terlelap dalam tempat tidur yang biasa ditempati Arvin.
__ADS_1
"Bau tubuh Arvin sangat melekat di tempat tidur ini, terasa begitu nyaman" ucap Liana dalam hati merasakan. Mereka pun terlelap dalam mimpinya masing-masing disatu malam.
***