Love'S Feeling

Love'S Feeling
Rasa bersalah


__ADS_3

Sepanjang hari perhatian Liana tidak lepas dari telpon genggamnya, dengan penuh gelisah dia mengotak-atik handphonenya sepertinya menunggu pesan atau telepon dari seseorang.


"Hey Liliput kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Terlihat semakin jelek saja, " ejek Arvin disela tawa kecilnya.


"Sepertinya tidak ada yang harus ditertawakan," ketus Liana sinis.


"Aku tertawa karena menurutku itu lucu, sangatlah lucu!" tekan Arvin.


"Haaah...hahh.. tertawalah sepuasnya!"


"Oh ya ampun, sebenarnya ada apa denganmu? Apa ini semua berhubungan dengan lelaki bermata sipit itu?" Tanya Arvin mengorek informasi.


"Dia punya nama, dan namanya Jojo bukan pria bermata sipit"ucap Liana bertambah sinis.


"Jadi benar karena dia. Kasihan sekali, cinta tak terbalas" ledek Arvin.


"Kau benar-benar menyebalkan!" Kesal Liana.


"Siapa yang Kau bilang menyebalkan? Apa tidak terbalik? Jelas-jelas sudah berstatus menjadi istri orang lain masih saja memikirkan pria lain. Seperti wanita kesepian saja"


"Yakk... Kau minta dihajar ya?"


"Memang benarkan, sudalah jangan memikirkan pria yang jelas-jelas mencapakkanmu!"


"Diamlah! Aku tidak butuh pendapatmu."


"Kau ini tidak tahu terima kasih sama sekali, seharusnya Kau bicara dengan baik pada orang yang selalu berempati padamu!"


"Aku tidak pernah memintanya."


"Sekarang gara-gara pria itu Kau mulai bicara kasar pada suamimu sendiri, ingatlah Aku ini suamimu!"


"Ya sudah batalkan saja kontraknya dan kita cerai sekarang, bereskan?" Liana berlalu begitu saja pergi meninggalkan Arvin diteras belakang rumah sendirian.


"Heii... mana bisa seperti itu? Bagaimana tanggapan orangtuamu dan orangtuaku nanti? Kalau kita tiba-tiba bercerai?" Teriak Arvin dan sama sekali tak digubris oleh Liana malah dia masuk kamar dan menutup pintu dengan begitu keras.


"Oh ya ampun. Dia mempunyai temperamen yang sangat buruk," gerutu Arvin.


Diletekkan kepalanya dibantal mencoba untuk memejamkan matanya berharap menghilangkan pikiran yang membuatnya selalu resah, namun apa daya Liana tak dapat tertidur juga walau rasa kantuk mendera dirinya masih saja matanya tak dapat untuk terpejam.


Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan memadati otaknya yang butuh jawaban dengan segera.


"Ada apa sebenarnya dengannya? Kenapa akhir-akhir ini dia sepertinya menjauhiku? Apa dia sedang sibuk? Oleh karena itu dia tidak pernah menghubungiku, atau karena ucapan Arvin tempo hari? Haiis.. kenapa semuanya begitu rumit untuk dimengerti?" Liana begitu bingung dengan pertanyaan seabrek yang memadati otaknya yang siap kapan pun untuk meledak.


"AHHH...! Semua ini membuatku jadi gila" renggek Liana sembari mengacak-acak rambutnya.


Liana bergegas keluar dari tempat tidurnya dan melangkah menghampiri kamar Arvin, berharap Arvin bisa membantu mengurangi bebannya.


"Arvin, apa Kau sudah tidur?" ucap Liana sedikit ragu.


"emm..." saut Arvin dari pintu yang terkunci itu.


"Kau menjawab. berarti Kau belum tidurkan?" Yakin Liana.


"Aku tidak bisa tidur, bisakah Kau temani Aku mengobrol sebentar? Aku butuh teman cerita" ketuk pintu kamar Arvin. Kali ini tak ada lagi sautan.


"Arvin, Kau benar-benar sudah tidur? Aku mohon temani aku sebentar saja!" rengek Liana berkali-kali.


"Hiss... berisik sekali!" Arvin beranjak dan membuka pintu kamarnya.


"Yakk...! Bisakah Kau diam dan tidak membangunkan orang ditengah malam seperti ini?" teriak Arvin beberapa saat setelah ia membuka pintu.


"Aku butuh teman cerita."


"Tidak mau" Arvin mencoba untuk menutup pintunya namun dihalangi oleh Liana.


"Yakkk...!"


"Aku mohon.. sekali saja! emm..!"


"Kemarilah!" Arvin menarik lengan Liana hingga keluar kehalaman belakang rumah.


Dan beberapa saat setelah dirinya dan Liana disisi yang berbeda, Arvin mengkunci pintu belakang.


"Yak..yak.. kenapa Kau kunci pintunya?" Tanya Liana yang tersadar Arvin telah mengunci dirinya diluar.


"Kau butuh teman cerita bukan? Ya sudah sana cerita pada bulan, bintang, atau rumput yang bergoyang. Kau juga bisa teriak sepuasnya jika ingin berteriak" ungkap Arvin berjalan menuju sofa ruang tengah.


"Mengganggu orang tidur saja" Arvin yang mengantuk berat kini telah terlelap disofa sedangkan Liana masih berusaha keras untuk membuka pintu yang Ia kunci.

__ADS_1


"Yakk.. Arvin, buka pintunya! Kalau tidak, Aku bersumpah akan membunuhmu. Yakk.. Arvin!" Walau berusaha sekeras apa pun tetap saja pintu itu tak dapat Ia buka.


Sejenak Ia memandang sekeliling hanya terdapat kolam renang yang hampir memenuhi semua halaman dan beberapa lampu taman yang hanya menyala buram.


"Bagaimana ini?" rintihnya hampir menangis.


Dengan terpaksa Liana membaringkan tubuhnya tepat disebelah kolam renang walau udara malam yang terlalu dingin serasa menyabik-nyabik tubuhnya.


"Kenapa begitu dingin sekali disini?" rintihnya seraya memeluk tubuhnya dengan erat.


***


Hari berganti pagi, cahaya menyilaukan menyinari, disela-sela tirai panjang.


Arvin terbangun dari tidur lelapnya, "bagaimana Aku bisa tidur disini?" linglungnya masih dengan keadaan setengah sadar.


Tanpa dipikir lagi, Arvin berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok giginya.


Terngiang samar suara Liana yang terdengar dibalik pintunya kamarin malam dan ingatan itu membuat Arvin cengar-cengir sendiri.


"Katanya tidak butuh bantuanku tapi malam-malam menghampiri kamarku meminta ditemani. Dasar perawan tua kesepian" Arvin tertawa namun hanya sesaat lalu Ia hentikan.


"Sebentar! jika kemarin malam itu memang Liana berarti dia sekarang..."


"AHHHHKKKHH....!! MAYATT..." teriak Bibi Atun yang melihat Liana dari kejauhan menganggap Liana adalah seorang mayat.


Sedangkan Liana yang terkejut tak ingat bahwa disampingnya kolam renang yang dipenuhi dengan air yang sangat dingin.


BBYYYUUUUURRRRR...!!! Tubuh Liana terjatuh masuk kedalam kolam renang.


"Ahhk...dinginn...!" Liana sudah mendapati tubuhnya terjatuh dikolam dan terbasahi oleh air.


"Ya ampun Nona Liana" Bibi Atun begitu terkejut dan mencoba membantu Liana keluar dari kolam renang.


"Maafkan Bibi! Bibi sama sekali tidak tahu jika itu Nona Liana," sesal Bibi Atun seorang yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang melakukan tugasnya lalu pergi setelah selesai.


"Iya.. tidak apa-a.. HACCIIHH..!" Liana menghirup kembali air hidung yang sempat ingin keluar.


"Sebentar bibi akan ambilkan handuk dulu."


"Terima kasih!" Liana mengangguk pelan.


"Kenapa badanmu basah kuyup semua? seperti bebek yang berendam pagi-pagi." Arvin menahan tawanya.


"Ya ampun pria ini, tak sedikit pun merasa bersalah" batin Liana geram.


"Yakk.. hacciiuh..." Liana kini tak bisa sepenuhnya dapat marah karena beberapa kata Liana selalu bersin dan hal itu malah membuat Arvin semakin tertawa keras.


"Ahh.. sudalah lupakan!"


Dengan segera Liana berjalan masuk kedalam rumah, dan meninggalkan Arvin dengan Bibi dalam keadaan bingung.


"Memang apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arvin lebih lanjut.


"Saya juga tidak tahu Tuan, tadi saya hanya melihat Nona Liana sudah tertidur disamping kolam renang. Dan gara-gara teriakan saya Nona Liana terkejut lalu jatuh kedalam kolam" terang Bibi menceritakan semua yang ia tahu.


"Ternyata yang semalam itu benar dia. Dan bodohnya, Aku meninggalkan dia sendirian diluar rumah." Sesal Arvin langsung berjalan masuk tanpa memperdulikan Bibi yang semakin bingung dengan tingkah Arvin.


Arvin yang begitu menyesal atas tindakannya, berusaha melakukan beberapa cara agar bisa langsung dimaafkan oleh Liana, disaat ia minta maaf nantinya.


Sedangkan Liana hanya sibuk menggerutu sendiri dikamar mandi.


"Hiss... kenapa ada pria yang tidak punya perasaan seperti dia? Aku tahu sekarang alasan kenapa dia dijodohkan oleh orang tuanya, karena sampai kapan pun tidak akan ada wanita yang mau padanya kalau sifatnya sangat menyebalkan seperti itu. Bukan menyebalkan lagi tapi sangat.. sangat.. menyebalkan" gerutu Liana ditengah kesibukannya membersihkan badannya.


Belum sampai disitu saja kemarahan yang bisa diluapkan oleh Liana. Sesaat setelah Ia keluar dari kamar mandi dirinya telah menemukan secangkir coklat hangat dan beberapa roti bakar sebagai pelengkapnya.


_- Liana, ini semua Aku yang membuatnya khusus untukmu sebagai tanda permintaan maaf ku. Karena telah membuatmu tidur diluar tadi semalam. Aku sangat menyesal jadi tolong maafkan aku! Kalau Kau sudah memaafkanku, datanglah ke taman jam tujuh malam ini! Aku menunggumu. Arvin. -_


Pesan yang tertera diselembar note didekat makanan yang disiapkan Arvin.


"Apa Kau ingin menyogokku dengan ini? Tidak akan pernah lagi, hatiku tidak akan luluh semudah itu" ketus Liana sembari menyambar sepotong roti bakar dan secangkir coklat hangat untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Halo?" Jawab Liana pada sambungan telepon yang masuk pada handphonenya. Disana tertera nomer baru yang tidak Ia kenal.


"Ini aku sofi, Aku menelepon mu dari telpon umum tadi ponselku mati. Apa Kau tidak kekampus hari ini?"


"Maafkan aku, aku sedikit kurang enak badan hari ini."


"Apa Kau baik-baik saja? Apa Aku perlu kesana?"

__ADS_1


"Tidak perlu, Aku hanya flu biasa saja." Ujar Liana tak mau merepotkan Sahabatnya itu.


"Benar?"


"Iya aku baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkanku!"


"Ya sudah aku tutup dulu. Cepat sembuh ya Liana!"


"Iya, terima kasih!" Keduanya pun mengakhiri percakapan mereka.


"Haa... jadi hari ini Aku sendirian? Kenapa sepasang kekasih konyol itu ikut-ikut tidak masuk sih?" keluh Sofi seraya berjalan menuju kesebuah perpustakaan yang menjadi salah satu fasilitas yang berada di kampusnya.


Seharian Sofi hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku diperpustakaan. Dan tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sore yang terlihat begitu gelap kerena Mega terselimuti awan mendung.


Rintik hujan mulai membasahi tanah bumi. Sofi mengulurkan tangannya keluar untuk mencapai rintik hujan diluar sana saat Ia berdiri didepan kampus.


"uhh... hujan. Bagaimana ini? Aku tidak membawa payung hari ini" gumamnya seorang diri.


Sesaat Sofi berfikir untuk berlari menerobos hujan lebat yang sekarang berada didepannya. Karena Ia tak menginginkan kalau dirinya terlambat masuk kerja hanya karena hujan.


"Sofi tunggu!" seseorang berteriak mencegahnya dari arah belakang.


"Zahra, ada apa?" Tanya Sofi yang tak asing lagi dengan teman sekelasnya itu.


"Ini untukmu dan ini juga," sebuah payung dan setangkai bunga tulip putih Zahra berikan pada Sofi.


"Untuk apa semua ini, Kau berikan padaku?" Tanya Sofi bingung saat kedua barang itu telah berpindah ke tangannya.


"Seorang pria tampan yang mempunyai mata bening dan berkulit putih menyuruhku memberikan semua ini padamu." jelasnya tak begitu terang.


"Kau tahu siapa dia?"


"Aku tidak tahu, karena sepertinya dia bukan mahasiswa sini."


"Benarkah?"


"Emm.. tadi Aku juga ingin bertanya siapa namanya tapi dia keburu pergi. Saat aku panggil, pria itu taidak menoleh sama sekali. Seperti dia tidak memperdulikan panggilanku." terang Zahra sekali lagi.


Sejenak Sofi terdiam untuk berfikir siapa pria baik yang mempunyai mata bening dan berkulit putih yang Ia kenal.


"Sofi, aku tinggal dulu ya!"


"Ahh.. iya, terima kasih!"


"emm..." lambai Zahra mengucapkan selamat tinggal dengan isyarat tubuh.


"hati-hati!".


"Payung dan tulip putih. hiss.. semua ini membuatku bertambah bingung." tak ingin berfikir lama-lama, Sofi pun berlari menerobos derasnya hujan dengan payung yang melindunginya.


***


Hujan sepertinya enggan untuk meninggalkan tanah bumi. Walau hanya gerimis namun udara dingin membuat orang menjadi malas untuk melakukan aktivitas mereka. Apa lagi untuk keluar dari rumah sepertinya perlu berfikir dua kali untuk melakukannya.


Begitu pula dengan Liana, walau dirinya ingat dengan pesan Arvin, walau Ia tahu bahwa jarum jam telah meninggalkan pukul tujuh beberapa waktu yang lalu.


Tapi Liana masih tidak punya niatan untuk pergi ke taman tempat yang telah Arvin janjikan. Malah ia membaringkan tubuh diranjang hangatnya.


Dipandangnya keadaan diluar kaca jendela kamarnya. Rintik gerimis yang merambat pada kaca jendela kamarnya membuat perasaan tak tenang mulai menghampiri hati Liana.


Dan ditambah kata tanya yang berkeliling diotaknya 'apakah dia masih menungguku di taman? Apa nanti dia akan marah padaku karena tak menemuinnya malam ini?'.


Ketika pemikiran itu masih memenuhi otaknya, tiba-tiba pintu kamar yang tak terkunci terbuka dari luar kamar. Ia, sudah menduga dari awal itu adalah Arvin.


Tak tahu apa yang harus dikatakan jika Arvin bertanya 'kenapa Ia tak datang?' dan rasa takut jika melihat kemarahan Arvin nantinya, Liana memutuskan untuk memejamkan mata atau lebih tepatnya berpura-pura tertidur lelap dalam dekapan malam. Itulah yang dilakukan Liana saat ini.


Terasa tangan dingin dan sedikit basah menyentuh keningnya. "Syukurlah dia tidak demam," terdengar samar suara Arvin ditelinga Liana yang tengah mengkhawatirkan kondisinya.


Lalu beberapa saat kemudian dirinya merasakan kehangatan selimut pada bagian tubuh yang belum tertutup dengan baik.


"Maafkan aku! Dan selamat malam!"


"Tangannya dingin dan sedikit basah, apa dia benar-benar menungguku tadi?" benaknya seraya membuka matan, ketika Ia mendengar suara pintu kamar yang tertutup.


"Haa.." Liana menghela nafas panjang bukan karena Ia lega dengan kesuksesannya dalam menipu Arvin.


Namun Ia menghela nafas panjang karena dada yang merasa sesak saat dirinya menyadari betapa jahatnya Ia karena tidak datang ke taman padahal dia ingat.


***

__ADS_1


__ADS_2