Love'S Feeling

Love'S Feeling
Terkuaknya Rahasia


__ADS_3

Siang yang begitu terasa panas membuat dua gadis muda Anita dan Sofi, menghentikan perjalanan sejenak untuk beristirahat disebuah cafe. Dan mencoba menyegarkan tenggorokan mereka dengan minum minuman dingin.


"Hah.. kenapa hari ini begitu panas?" keluh Sofi.


"Nona tolong dua minuman dingin untuk Kami?" pesan Sofi pada seorang Pegawai restoran yang kebetulan lewat disampingnya. 


"Baik, tunggu sebentar!" ucap sang Pegawai restoran menyanggupi.


"Terima kasih!" lontar Sofi sopan.


"Kau sedang lihat apa?" Tanya Sofi pada Anita yang sedari tadi memandang kearah yang sama. 


"Coba lihat itu!" tunjuk Anita.


"Apa?" Sorot mata Sofi langsung mengikuti ujung telunjuk Anita.


"Itu pria yang berdiri disisi pintu, yang sedang menelfon. Bukankah itu Arvin?" 


"Oo... Kau benar, itu Arvin. Tapi dengan siapa dia kemari? Bukankah kata Liana, dia akan pulang ke rumah Orangtuanya dengan Arvin karena ada acara disana? Lalu kenapa Arvin bisa ada disini?" 


"Mungkin dia dengan rekan kerjannya" duga Anita 


"Bisa juga" Sofi mencoba meyakini yang diutarakan Anita itu sebuah kebenaran. Namun ternyata firasat yang dipendamlah yang benar. 


Keduanya melihat dengan jelas Arvin duduk di depan seorang wanita yang bukan lain adalah Alya setelah menyelesaikan pembicaraannya lewat telfon genggamnya. 


"Oo.. itukan.." mulut Anita mengangah seraya wajahnya berputar kearah sahabatnya yang berada disebelahnya, sebelum kembali melanjutkan ucapannya. 


"ALYA!" seru keduanya hampir saja bersamaan. 


"Arvin dan Alya... mungkin kah?" 


"Sudah aku duga, memang sejak awal ada yang aneh pada gadis itu" cetus Anita. "telepon Liana!" Seru Anita seraya mengobrak-abrik isi tasnya hanya untuk menemukan ponselnya yang berada didalam. 

__ADS_1


"Liana, sekarang Kau ada dimana?" Tanya Anita saat sambungan telponnya tersambung. "Bisakah kau kemari sekarang? Aku dan Sofi ada di café friendship" ucap Anita menunggu jawaban dari Liana.


"Aku mohon! ada yang ingin kami katakan padamu" pinta Anita yang sepertinya sangat sulit mendatangkan Liana ketempat itu.


"Bagaimana?" Tanya Sofi yang tak sabar menunggu hasil akhirnya.


"Tunggu sebentar!" pinta Anita hanya menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


"Tidak bisa. Hal ini sesuatu yang tidak bisa dikatakan ditelpon, Kau harus datang langsung kemari! Aku mohon!" pinta Anita memelas.


Setelah beberapa waktu membujuk Liana, akhirnya Liana menyetujui permintaannya. "Baiklah. Aku mengerti" kata terakhir Anita sebelum Ia menutup ponselnya. 


"Bagaimana? apa dia akan datang?" 


"Em... dia akan datang." 


"Baguslah" Lega Sofi.


"Sebentar lagi kita akan ungkap ketidak setiaan suaminya itu" lontar Anita dengan keyakinan yang menggebu-gebu. 


"Kenapa lama sekali?" 


"Maafkan aku! Aku terjebak macet tadi. Ini saja aku sudah berusaha cepat untuk sampai kemari" tuturnya dengan nafas yang mencoba untuk Ia atur karena tak setabil. "Memang ada apa?" tanya Liana duduk disisi Anita sembari meneguk minuman segar milik Sofi tuk hilangkan dahaganya.


"Yang ingin kami tunjukkan padamu sudah pergi beberapa menit yang lalu" sesal Anita.


"Memang apa yang ingin kalian tunjukan padaku?" tanya Liana penasaran.


Sesungguhnya kedua sahabat Liana tak tega katakan kenyataan yang mungkin akan membuat hati Liana tersakiti. Tapi sesakit apapun itu, seharusnya diketahui oleh Liana kerena jika ini tersimpan lebih lama lagi akan membuat Liana semakin tersakiti.


"Arvin dan Alya sepertinya mereka memiliki hubungan" sesal Anita. "Tadi kami melihat mereka berdua disini. Mereka sangat mesra layaknya sepasang kekasih" jelas Anita lebih lanjut.


Ada rasa sedih terlihat jelas di wajah Liana namun ekspresi wajah Liana tak menampakkan seorang yang baru saja mendengar jika sang Suami kepergok selingkuh. Dan itu semua telah disadari oleh Sofi. "Liana. Apa kau sudah mengetahui ini sejak awal?" Tanya Sofi mulai curiga pada sang sahabat.

__ADS_1


"Mana mungkin seperti itu" gagap Liana.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?"


Liana terdiam. Tak tahu harus katakan apa pada kedua sahabatnya.


"Kau ingin memendam ini, apa kau ingin menceritakannya pada kami?" pojok Sofi. "Haruskah kita bertanya pada Arvin atau Alya tentang kebenarannya?" ancam Anita.


"Aku mohon jangan lakukan itu. Aku bisa mengurus ini sendiri. Jadi jangan khawatir padaku! Dan aku mohon jangan bertanya lagi!" pinta Liana masih memegang teguh rahasia pernikahan kontraknya dengan Arvin.


"Aku bukannya ingin mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi semua ini tidak benar Liana. Kau tidak bisa lakukan ini"


"Sofi aku mohon! berikan Aku waktu, jika memungkinkan disuatu saat nanti akan Aku ceritakan segalanya pada Kalian. Ehm!" bujuk Liana.


"Baiklah lakukan sesukamu". "Tapi hanya ingin Kau tahu saja. Mungkin keputusanmu nanti akan menyakiti banyak orang. Terutama dirimu sendiri" dengan perasaan marah Sofi ingin pergi.


"Kau bodoh Liana. Untuk kedua kalinya Kau akan kehilangan cintamu". "Dulu Kau memiliki Arvin sebagai sandaranmu, oleh sebab itu kau bisa melewatinya dengan mudah. Lalu sekarang, siapa?"


"Sudahlah Anita. Tidak ada gunanya bicara seperti itu padanya. Dia tidak bisa mempertahankan sesuatu yang menjadi hak nya" Sofi menarik tangan Anita, mengajaknya untuk pergi menjauh dari Liana.


"Bukan seperti itu" Tahan Liana meneteskan air mata. "Dari awal dia bukan milikku."


Satu persatu rahasia yang selama ini Ia simpan rapat, Liana ceritakan pada sahabatnya. Tentang pernikahan kontraknya, tentang status Alya yang sebenarnya, dan tentang posisi tak berarti Liana di hati Arvin.


"Kau gila" lontar Anita atas tindakan Liana.


"Maafkan aku!"


"Lalu, apa tindakanmu selanjutnya?" tanya Anita penasaran dengan kelanjutan ceritanya. 


"Bisakah kita tidak membahasnya?" Liana menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya kembali. "Sepertinya aku harus pergi sekarang. Mungkin semuanya telah menugguku saat ini" Liana mencoba mengalihkan perhatian, karena jika Ia membahas ini lebih banyak lagi pasti perasaannya yang sesungguhnya akan terbaca oleh kedua sahabatnya.


"Apa Kau akan selalu melarikan diri seperti ini? Apa Kau tidak lelah dengan cinta yang selalu meninggalkanmu?" tanya Sofi geram. 

__ADS_1


"Kali ini aku tidak melarikan diri. Karena cintanya bukan hak ku" tutur Liana dengan nada standart. "aku pergi!" pamitnya melangkah pergi dari kedua sahabatnya.


***


__ADS_2