Love'S Feeling

Love'S Feeling
Saling menguatkan


__ADS_3

Dari awal berangkat sampai Liana tiba disalah satu rumah sakit terbesar di Kota S, Liana tak henti-hentinya menangis karena mencemaskan keadaan Neneknya. 


"Dimana ruang ICU?" tanya Liana pada Resepsionis terlihat begitu terburu-buru. 


"Anda lurus saja nanti ada pertigaan belok kanan" tunjuk sang Resepsionis kesebuah arah yang benar. 


"Terima kasih!" Liana berlari terus sampai ia tiba disebuah lorong rumah sakit yang ujungnya terdapat ruang ICU. Disanalah keluarganya telah duduk diruang tunggu, terlihat begitu resah.


Liana berjalan tak bertenaga kesebuah jendela kecil yang terdapat di pintu ruang ICU tempat nenek berjuang untuk hidup atau menyerah untuk mati. Tangisan Liana semakin menjadi sembari menatap pilu kedalam ruangan. Tubuh yang sudah rentah harus berbaring tak berdaya menghadapi maut bersama dengan selang-selang yang ditancapkan ditubuhnya untuk membatunya bertahan hidup. Rasanya tak ada tenaga lagi untuk menahan tubuhnya sendiri, Ia pun terjatuh kelantai dengan posisi terduduk. 


"Liana!" seru semuanya. Arvin mendekat untuk menolong. 


"Nenek..nenek.." panggil Liana berulang kali. 


"stttt... semua akan baik-baik saja. Nenek akan kembali pada kita, jadi jangan khawatir!" Arvin mencoba menenangkan istrinya dengan memeluknya. "Nenek wanita yang sangat kuat, penyakit ini tidak akan membuatnya mati" tambahnya.


"Ayo bangun sayang!" Ibu Mertua membantu Liana untuk duduk dikursi yang berada diruang tunggu. "Sudah tidak apa-apa" ucap sang Ibu Mertua mengelus lembut tangan Liana.


Tak lama kemudian dokter yang menangani nenek muncul dari balik pintu ruang ICU. 


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arvin begitu tak tenang. 


"Syukurlah beliau sudah melewati masa keritisnya, jadi anda dapat tenang sekarang!" ungkap dokter memberi sedikit ketenangan untuk Arvin, Liana maupun Orangtuanya. 


"Syukurlah" ungkap Ayah merangkul pundak istrinya. 


"Untuk saat ini, kami akan pantau keadaan Nyonya Rosnia. Kalian bisa menjenguknya setelah Nyonya Rosnia dipindahkan keruang rawat inap" ujar Sang Dokter.


"Apa sekarang kami tak bisa melihatnya?" tanya Liana meminta persetujuan. "Kami hanya ingin melihatnya lebih dekat."


Permohonan yang begitu tulus dari Liana mendapat pertimbangan dari sang Dokter, "baiklah. tapi hanya satu orang saja. Dan itu tidak lebih dari lima menit" Dokter memberi pengecualian.


"Baik terima kasih Dok!" seru Liana.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu!" 

__ADS_1


"Iya silahkan!" rona bahagia terpancar dari wajah mereka, yang beberapa detik lalu masih menunjukkan raut wajah kecemasan. 


Harus menunggu beberapa jam untuk dapat bertemu dengan nenek yang masih tak sadarkan diri, itu pun hanya satu orang yang diperbolehkan masuk. 


"Bolehkah aku yang masuk?" mohon Liana. 


"Iya masuklah!" Ayah memberi izin, dan Ibu sepertinya juga setuju, yang kini memberi senyum pada Liana. 


"Masuklah!" Anjur Arvin.


"Terima kasih."


Dengan memakai baju khusus dan sebuah masker yang menutupi sebagian wajah Liana, Ia pun masuk kedalam ruangan yang segalanya tertutup. "Nenek aku datang" Liana membuka ucapan. "Nenek bisa mendengarku kan?" tanya Liana mentahan tangis. "Bagaimana bisa jadi seperti ini? Bukankah Nenek wanita tua yang paling sehat di dunia ini?" beberapa tetes air mata terjun bebas dari pelupuk mata Liana. "Nenek melakukannya dengan baik. Teruslah seperti ini dan sembuhlah dengan cepat! Karena aku sudah merindukan bicara Nenek yang berdialek tak begitu baik. Aku rindu omelan Nenek" canda Liana mengharapkan Nenek dapat bangun karena ejekannya.


Pandangan Liana menjadi kabur karena air mata yang terus saja mengalir. Setelah dirasa cukup untuk mengurangi kekhawatiran hatinya. Liana pun keluar tanpa setetes air mata yang tertinggal hanya saja matanya terlihat memerah dan kantung mata sedikit bengkak.


"Sebaiknya Ibu dan Ayah pulang saja! Biar aku dan Liana yang menjaga Nenek" terlihat Arvin yang berusaha keras membujuk kedua Orangtuanya. Mungkin ia khawatir dengan keadaan Orangtuanya yang belum istirahat karena mengkhawatirkan Neneknya. 


"Iya, sebaiknya Ibu dan Ayah istirahat di rumah! Setelah melewati satu hari yang melelahkan, pasti Ibu dan Ayah sangat lelah." tambah Liana yang baru bergabung. 


"Nenek terlihat baik. Dia akan bangun dalam waktu beberapa hari. Jadi Ibu pulang saja!" bujuk Liana 


"Tapi." 


"Tapi apa? Lihat wajah Ibu! Begitu pucat. Kalau ada perkembangan tentang Nenek kami akan segera memberi tahu Ibu dan Ayah. Jadi pulang ya!" bujuk Liana sekali lagi.


"Ayo!" Liana mengajak ibu keluar menuju parkiran rumah sakit dan Ayah mengikutinya dari belakang.


"Pak Imam, tolang antarkan Ibu dan Ayah sampai rumah! Jangan sampai lecet sedikitpun, oke!" canda Liana mencairkan sedikit suasana. 


"Siap nona!" jawab Pak Imam yang ikut-ikutan. 


"Dasar anak nakal" pukulan yang tak begitu keras meluncur kekepala Liana. 


"Ayah?" keluh manja Liana yang terkejut mendapatkan pukulan dari Ayah mertuanya. 

__ADS_1


"Maaf, apa pukulannya terlalu keras?" tanya Ayah tersenyum.


Liana menggelengkan kepalannya sebagai jawaban untuk pertanyaan Ayah. 


"Ibu titip Nenek dan Arvin, tolong jaga mereka baik-baik!" Ibu mempercayakan penuh kepada sang Menantu yang bisa Ia andalkan.


"Pasti" Liana memperlihatkan ketegarannya dengan tersenyum pada kedua Mertuanya itu. 


"Terima kasih sayang!" Ibu membelai lembut rambut panjang Liana. 


"Ya sudah kami pergi dulu, kalau ada apa-apa, segera kabari Ayah dan Ibu!" 


"Iya, pokoknya Ibu dan Ayah tidak perlu khawatir! Kalau ada apa-apa, orang pertama yang akan Aku kabari adalah kalian berdua" lontar Liana seraya membantu Ibu untuk masuk kedalam mobil.


"Pak Imam kalau menyetir jangan ngebut ya!" 


"Baik Nona" jawab Pak Imam patuh. 


"Hati-hati dijalan!" Liana melambaikan tangannya sampai mobil yang ditumpangi Ayah dan Ibu mertuanya tak lagi terlihat olehnya. 


Dengan perlahan Liana pergi dari parkiran menuju ruang tunggu tempat Arvin ditinggalkan sendirian. Namun beberapa waktu langkah Liana semakin dipercepat, dan Ia mulai berpikir untuk berlari agar secepat mungkin sampai ke tempat Arvin berada. 


Hampir saja Arvin terjungkal kedepan saat Liana memeluk tubuh Arvin dari belakang, tapi ketahanan tubuh Arvin begitu kuat sehingga tak dapat roboh begitu saja karena terbentur oleh tubuh Liana. 


"Liana?" 


"lima menit, hanya lima menit biarkan Aku memelukmu!" ungkap Liana menahan tangisnya. "Sekarang Aku ada dibelakangmu, aku tidak akan bisa melihat wajahmu untuk beberapa waktu. Jadi sekarang menangislah sepuasnya!" mendengar penuturan Liana, Arvin pun langsung tersenyum sekaligus menjatuhkan air mata yang tak dapat ia bandung lagi.


"Tubuhmu gemetaran, Kau pasti ketakutan tadi" ungkap Liana merasakan tubuh yang ia peluk saat ini. 


"Tubuhmu juga gemetar" desah Arvin lirih seraya melepaskan tangan Liana dari tubuhnya, dengan segera Arvin berbalik menatap wajah Liana yang tertunduk menahan tangisnya. 


"Kemarilah!" kali ini Arvin yang memeluk tubuh Liana dengan perlahan. "Terima kasih sudah mau menghiburku" Liana hanya menganggukan kepalanya dan beberapa kali Ia juga meneteskan air matannya. "Sudah jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja. Nenek sudah membuktikan kalau dia mampu melewati masa kritisnya. Jadi pasti Nenek sangat mudah untuk mengatasi penyakitnya, dan segera sembuh" tutur Arvin mencoba menenangkan hati Liana. 


"Iya" wajah Liana ditenggelamkan kedada Arvin dengan isak tangis yang semakin menjadi. Sedangkan Arvin yang tubuhnya lebih tinggi dari Liana hanya dapat menenggelamkan wajahnya dipundak Liana.

__ADS_1


***


__ADS_2