Love'S Feeling

Love'S Feeling
Ketika Wanita Bersama Pria Dewasa


__ADS_3

“Ahh..aku lapar!” rintih Arvin. 


“Apa kita cari makan dulu sebelum pulang?” tawar Liana. 


“Tidak mau, malam ini aku ingin makan masakan istriku. Sudah lama aku tidak makan masakanmu,” manja Arvin.


“Memang kau ingin makan apa malam ini? Biar aku masakan untukmu,” Arvin tersenyum senang karena keinginannya dipenuhi oleh Liana. 


“Emm... apa saja yang penting enak”.


 


“Baik. Kalau begitu berhenti di Pusat perbelanjaan yang ada didepan! Aku ingin membeli beberapa bahan makanan untuk malam ini”.


"Okey" setuju Arvin.


Setelah mobil diparkirkan, keduanya pun masuk untuk berbelanja bersama. Beberapa bahan makanan telah masuk kedalam keranjang dorong yang dibawa oleh Arvin. 


“Arvin tolong ambilkan beras!” suruh Liana dan Arvin pun menurut saja.


Beberapa saat Arvin kembali dengan membawa beras sekarung.


“Kenapa sebanyak ini? Ambil yang kecil saja! yang beratnya 5 kg. Memang kau ingin membuat pesta malam ini?"


"Kan bisa dibuat stok," usul Arvin.


"Tidak perlu, kita hanya berdua saja, kau juga jarang pulang untuk makan siang, bahkan makan malam pun kau jarang pulang,".


"Jadi Kembalikan saja! kita tidak butuh sebanyak itu," pinta Liana dengan sedikit memohon.


“Baiklah,” pasrah Arvin yang berpikir ada benarnya juga ucapan dari Liana.


“Liana ada lobak putih!” Seru Arvin.


"Memang kau mau masak apa dengan lobak itu? Kembalikan!”.


“Untuk apa ambil wortel dan toge? Lalu ini juga. Apa aku ini kelinci yang dikasih rumput seperti ini?” kali ini giliran Arvin mengajukan protes karena kurang suka dengan sayuran. 


“Ini sayuran Arvin, kau harus makan beberapa untuk vitamin tubuhmu”.


“Mentimun saja,” Arvin meletakkan kembali mentimun yang akan ia kembalikan pada tempatnya. 


“Ayo jalan!” Arvin berjalan lebih dahulu sedangkan Liana mengambil beberapa sayuran yang dikembalikan Arvin, tanpa sepengetahuan Arvin. 


“Liana kemarilah!”  panggil Arvin melambaikan tangannya.


“Apa?”.


“Cicipi ini!” Pinta Arvin yang mengambil salah satu sample yang telah disediakan untuk pelanggan.


“Apa ini kerang?” Tanya Liana sebelum melahap makanan yang disuapi oleh Arvin. 


“Iya,” jawab Arvin menyuapi Liana.


“Bagaimana?” Tanya Arvin tentang pendapat Liana. 


“Enak,” komentar Liana.

__ADS_1


“Kalian ini sepasang pengantin baru ya?” Tanya Bibi penjaga stan. 


“Benar, kami memang pengantin baru. Apa kami terlihat sangat serasi?” Arvin mencari pendapat dengan tangan kanan melingkar kepundak Liana. 


“Iya kalian sangat serasi sekali,” Bibi itu menjawab dengan kata pujian. 


“Istriku apa kau ingin makan pasta seafood?” 


“Apa?” Liana terkejut mendengar Arvin memanggilnya begitu mesra.


“Bibi aku ingin kerang hijau ini. Berikan aku yang paling segar!” pinta Arvin tanpa menunggu persetujuan dari Liana. 


“Tentu,” Bibi penjaga stan bergegas memilihkan kerang yang paling segar dan membungkusnya.


“Apa yang kau lakukan? Lalu untuk apa kita belanja semua ini kalau cuma ingin buat pasta?” 


“Kan bisa dibuat persediaan untuk besok,” . "Aku berjanji akan sempatkan makan malam dirumah," Arvin meringis senang.


“Ini aku bungkuskan yang paling segar, yang baru datang tadi pagi”.


Arvin menerima kerang yang telah terbungkus rapi diplastik lalu ditaruhnya dikeranjang belanjaannya. 


“Bibi, kami sangat serasikan? Seperti pengantin baru,” tanya Arvin sekali lagi sebelum ia melangkah pergi. 


“Tentu saja. Kalian yang paling serasi”puji Bibi penjaga Stan. 


“Terima kasih,” senyum bangga kini bersarang dibibir Arvin. 


Dan disepanjang perjalan pulang Arvin terus saja membahas perkataan Bibi penjaga Stan itu.


“Hanya dibilang seperti itu saja sudah kesenangan. Asal kau tahu, itu hanya rayuan Bibi itu biar kau membeli kerangnya,” duga Liana.


“Kau salah besar. Jelas-jelas aku melihat Bibi itu bicara jujur, dia memuji dari hatinya”.


“Terserah kau sajalah!”


Seperti yang telah dijanjikan, sesampainya dirumah Arvin langsung masak untuk makan malam mereka yaitu pasta seafood.


Sedangkan Liana sendiri tengah sibuk membersihkan diri dan berganti baju yang lebih kasuel.


Setelah dirasa telah selesai Liana pun turun bermaksud untuk membantu Arvin didapur tapi ternyata hidangan telah tertata rapi dimeja. 


“Oo. Ternyata kau sudah selesai,” Liana menghampiri meja makan. 


“Duduk dan makanlah!” pinta Arvin dengan segera Liana menyantap hidangan itu dengan lahap. 


“Bagaimana?” Arvin mencari pendapat tentang masakannya.


“Ini benar-benar enak, masakan mu selalu enak,” puji Liana bukan hal pertama merasakan enaknya masakan Arvin.


“Kalau begitu habiskanlah!” 


“Tentu saja” Liana tersenyum kesenangan.


“Lalu apa yang akan kau kerjakan setelah ini?” Tanya Arvin yang memiliki maksud lain.


“Setelah ini aku akan cuci piring, untuk membalas rasa terima kasih telah dibuatkan makan malam olehmu,” rencana Liana.

__ADS_1


“Lalu?” 


“Entahlah,” Liana mencoba berpikir, sedangkan Arvin tersenyum dengan sejuta maksud.


“Mungkin aku akan memikirkan konsep pernikahan Sofi karena aku diminta untuk membantunya mendekor ruang resepsi.” 


“Setelah itu?” 


“Tentu saja tidur karena besok aku harus mengajar pagi,” ucap Liana menunjukkan wajah innocentnya.


“Ya sudah cuci piring sana!” Kesal Arvin meninggalkan meja makan dengan perasaan kecewa karena perasaan Liana yang tak peka terhadap dirinya. 


“Kau tidak mau membantuku?” 


“Aku sudah masak tadi, jadi ini giliranmu yang cuci piring,” ketus Arvin.


“Apa aku salah bicara tadi? Kenapa dia kelihatannya marah padaku?” gumam Liana sendiri sambil membereskan piring kotor untuk dicuci. 


“dasar pria aneh sebentar baik beberapa menit kemudian marah-marah. Apa dia punya kepribadian ganda?”dumal Liana dengan tangan yang masih sibuk meletakkan piring ditempat cuci piring.


Tiba-tiba sebuah pelukan hangat dari belakang mengejutkan Liana. 


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Liana mencoba untuk berbalik tapi dilarang oleh Arvin. 


“Diamlah, jangan bergerak! Tetaplah seperti ini sebentar saja!” pinta Arvin kini mengecup lembut pundak Liana.


Liana hanya diam dan menuruti. Ia mencoba untuk tidak bicara dan pasrah dalam pelukan Arvin.


“Kau cantik jika rambutmu digerai,” ungkap Arvin membuka ikatan rambut Liana.


“Kau juga cantik jika rambutmu dikuncir tapi lebih cantik jika rambutmu digerai,” pandangan mata mereka saling menatap saat tubuh Liana dibalikan kearahnya.


Dikecup lembut kening Liana lalu berucap, “Aku merindukanmu”.


Kecupan lembut itu kini berpindah ke mata Liana yang tertutup dan Arvin juga berkata, “Aku menyukaimu”.


Kali ini bibir Arvin mencium singkat bibir Liana. “Aku benar-benar mencintaimu. 2 tahun yang lalu, sekarang, dan seterusnya,” tutur Arvin mengangkat tubuh Liana.


Digendong Liana menyusuri tangga rumah, dengan beberapa kecupan dibibir.


Kini melintasi lorong rumah, agar dapat sampai dikamar tidur, "Bukalah!" pinta Arvin dengan suara manja, meminta Liana membuka kancing kemeja Arvin.


Dengan wajah memerah Liana membuka satu per satu kemeja Arvin meski tak sepenuhnya, karena tertutupi oleh tubuhnya yang masih berada di gendongan Arvin.


Dibaringkan tubuh Liana diatas tempat tidur, dan Arvin mencoba membuat kancing kemejanya yang hanya tersisa 2 buah yang masih terkancing.


Sedangkan pandangan Liana mengarah kemana saja kecuali menatap tubuh kekar Arvin tuk kurangi rasa gugupnya.


"Aku mencintaimu!" desah Arvin mencairkan kegugupan Liana.


"Aku juga mencintaimu! Sangat," desah Liana tak kalah lirih yang kini dapat merasakan nafas Arvin yang panas.


Diciuminya bibir Liana dan juga beberapa bagian tubuh Liana yang tak lagi tertutupi oleh sehelai kain pun.


Liana memasrahkan segalanya untuk Arvin, tak ada sedikitpun penolakan darinya karena Ia mengerti benar bahwa dirinya adalah milik Arvin dan ini kali pertama Liana menjadi seorang pengantin yang seutuhnya setelah tiga tahun usia pernikahan mereka berdua.


***

__ADS_1


__ADS_2