Love'S Feeling

Love'S Feeling
Permainan takdir


__ADS_3

Disalah satu sudut kampus Liana terduduk disebuah bangku panjang yang terpasang dibawah pohon yang tak begitu rindang tapi cukup meneduhkan Liana, dan menghalau teriknya cuaca siang itu.


Liana membolak-balik buku yang dipegangnya saat ini, namun tak dapat satupun yang bisa ia cerna dari isi buku yang tebalnya melebihi kamus-kamus bahasa yang berukuran jumbo karena pikirannya selalu tertuju pada suami kontrak yang mulai mengusik hatinya, dan ditambah dengan wanita yang tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka berdua.


"Ahh.. kalau seperti ini terus, aku bisa gila!" keluhnya lirih seraya menyadarkan kepalanya pada batang pohon. 


"Ayo!" gertak Anita yang saat itu datang bersama kedua sahabat yang lainnya. "Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Anita sedikit mengejutkan Liana. 


"Apa kau ada masalah?" tanya sofi yang melihat wajah sahabatnya yang begitu kusut seperti orang yang berfikir begitu keras. 


"Tidak ada" jawabnya singkat. Yang masih tak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kau sedang sakit?" tanya Rendi yang bisa merasakannya juga. 


"Aku tidak apa-apa, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu" ungkapnya sembari menyingkirkan tangan Rendi yang ingin menyentuh dahinya mungkin untuk megukur suhu tubuh Liana.


"Benar Kau baik-baik saja?" Tanya Sofi yang masih ragu dengan ucapan sahabatnya itu. 


"Sudahlah! Kalau dia bilang tidak apa-apa, ya artinya memang dia baik-baik saja. Jangan mengintrogasinya seperti itu!" Anita mencoba membantu Liana yang terlihat terpojok dengan kekhawatiran para sahabatnya yang berlebihan.


"Oh ya nanti kita jadi pergi kan?" Tanya Anita lebih lanjut pada Liana.


"Tentu. Aku tadi juga sudah bilang pada Arvin, kalau nanti Aku pulang sedikit terlambat" 


"Baguslah, akhirnya Aku biasa shopping" ucap Anita kegirangan. 


"Sofi, benar kau tidak mau ikut dengan kami?" Tawar Liana. 


"Tidak terima kasih, lebih baik aku dirumah dari pada ikut Anita belanja" sindir Sofi yang tahu benar sifat sang sahabat jika sedang belanja akan lupa segalanya.


"Siapa juga yang ingin mengajakmu? bisa-bisa telingaku akan tuli karena mendengar ocehanmu sepanjang perjalanan." balik Anita membela diri.


"Baguslah kalau kau berpikir seperti itu." 

__ADS_1


"Hey berhentilah bertengkar! Kalian inikan bukan anak kecil lagi. apa kalian tidak malu bertengkar di depan umum?" lerai Rendi.


"MENURUTMU?" walau bertengkar tapi mereka masih begitu kompak mengucapkannya. Dan itu membuat Rendi tidak dapat bicara lagi, dan sedangkan Liana hanya bisa tersenyum melihat kejadian itu, karena menurutnya itu hal yang sangat lucu baginya. 


"Liana!" panggil Alya dari sudut depan. 


"Oo kakak?" heran Liana yang melihat Alya telah berada di Kampusnya. 


"Hay!" Sapanya sekali lagi, kali ini Alya telah berada di hadapan Liana. 


"Kenapa kakak bisa datang kemari?" 


"Kak Arvin yang memberi tahuku bahwa kau ada disini" jelasnya.


"Aah.." tak ada yang bisa diucapkan oleh Liana dengan penjelasan itu.


"Liana, siapa dia?" Tanya Anita yang begitu penasaran. 


"Apa mereka semua temanmu?" Saut Alya.


"Salam kenal" Sapa Rendi


"Dan yang berbaju pink namanya Anita". "Dan dia adalah Sofi " 


"Hallo!" Sapa Sofi.


"Hay namaku Alya! Aku adalah teman baru Liana dan akan menjadi sahabat terbaiknya" ucap Alya memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri. "Dan kalau kalian ingin jadi sahabatku juga, pasti aku akan jauh lebih senang" cerocos Alya tak sungkan. 


"Tentu" ungkap Sofi memberikan senyuman. 


"Dia terlihat sopan sekali" gumam Sofi lirih hanya dapat didengar oleh Anita yang duduk disampingnya. 


"Tapi menurutku dia itu sangat aneh" ujar Anita yang tidak satu paham dengan Sofi. 

__ADS_1


Diraihnya tangan Liana, lalu digandengnya "Ayo kita pergi!" ajak Alya.


"Pergi kemana?" 


"Liat saja nanti! Pokoknya kita bersenang-senang hari ini." Jawab Alya yang tidak sesuai dengan pertanyaan Liana.


"Tapi aku sudah ada janji dengan Anita." 


"Anita tolong kali ini biarkan Liana bersamaku ya!" pinta Alya memohon. 


"Tapi.." 


"Iya, tidak apa-apa" saut Sofi.


"Terima kasih!" Senang Alya. "Ayo Liana!"


"Iya" turut Liana.


"Terima kasih semuanya!". "Sampai jumpa!" pamit Anita.


"Maaf!" ujar Liana pelan merasa tak enak pada Anita yang memasang wajah memelas, sebelum ia benar-benar pergi bersama Alya meninggalkan para sahabatnya.


"Kenapa Kau membiarkan Liana bersamanya? Lalu Aku bagaimana?" 


"Sudahlah nanti aku akan mengantarmu" ucap Sofi bertanggung jawab karena semua acara Anita berantakan karena ucapannya. 


"Apa? Kau? Tidak mau" tolak keras Anita.


"Ya sudah, aku juga tidak akan memaksa." 


"Sayang bener Kau tidak mau mengantarku?" rengek Anita pada sang kekasih.


"Bukan tidak mau, tapi nanti aku ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan. Jadi maaf ya sayang!" jelas Rendi.

__ADS_1


Anita merengek sambil berpikir bagaimana baiknya untuk rencana yang telah ia susun kemarin. "Ya sudahlah, mau bagaiman lagi" Anita menyerah, dan mengubah rencana awalnya. "Ayo kita pergi!" Ajak Anita menarik tangan Sofi meninggalkan Rendi sendiri yang hanya tersenyum melihat sikap lucu sang kekasih.


***


__ADS_2