
Perjalanan kembali yang terhitung sangat panjang dan melelahkan itu dilewati dengan keheningan, tak ada tanya atau lelucon yang keluar dari mulut Liana. Mungkin Liana takut akan dikeluarkan dari mobil atau mungkin Ia masih marah karena sikap Arvin padanya tadi.
"eh-em" dahem Arvin tuk mendapat perhatian dari Liana yang sibuk dengan iPad yang berada digenggamannya. "ehh-emm" tegur Arvin sekali lagi, Arvin beranggapan bahwa Liana tak mendengar tegurannya yang pertama. Tapi seketika Arvin tersadar jika Liana bukan tidak mendengar ucapannya melainkan mengacuhkannya. Karena Ia mendengar samar dumalan Liana.
"Apa kau sedang mengacuhkan ku?" Tanya Arvin.
"Tidak?" pertegas Liana penuh dengan kebohongan.
"Lalu kenapa kau diam?"
"Tidak ingin bicara saja" ujar Liana.
"Apa kau masih marah tentang kejadian tadi pagi?" ulas Arvin.
"Tidak."
"Yak!" Bentak Arvin, yang seketika mendapat perhatian Liana sepenuhnya.
"Apa? Kenapa?" Kali ini giliran Liana yang berteriak pada Arvin. "Bukankah kau memintaku untuk diam? Tapi kenapa sekarang malah bertanya?" Perjelas Liana. "Dasar pria tak punya pendirian" cibir Liana lirih hanya dapat didengar oleh dirinya saja.
"Itukan tadi. Tapi tidak untuk sekarang".
"Aku membutuhkan teman bicara untuk mengusir kepenatan ku, saat aku harus mengendarai mobil berjam-jam" ujar Arvin. "Kau tahu kenapa sering sekali seorang kecelakaan di jalan tol. Itu karena mereka sudah lelah dengan perjalanan jauhnya, makanya mereka kehilangan konsentrasi." tutur Arvin.
Untuk sesaat Liana merasakan rasa bersalah pada Arvin dan berucap, "maafkan aku!" sesal Liana. Kini giliran Arvin yang diam tak menjawab. Sepertinya Ia tak dapat semudah itu memaafkan sikap Liana yang kekanak-kanakan.
"Sungguh aku sangat menyesal. Maafkan aku!" tulus Liana.
Belum sempat permohonan maafnya disetujui oleh Arvin. Perhatian itu telah berpindah ke yang lain, lebih tepatnya pada Alya yang menghubungi Arvin pada jaringan telfon.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Arvin yang bersikap dingin, mungkin karena efek pertengkaran antara dirinya dengan Liana. "Aku sedang menyetir saat ini." ucap Arvin memberi tahu posisinya saat ini. Arvin terdiam sejenak dan mulai mencerna ucapan Alya dari seberang sana. "ehm Baiklah. Satu jam lagi aku akan sampai" setuju Arvin. Entah apa yang dikatakan oleh Alya? Ada urusan apa yang membuat Arvin harus datang secepatnya ke Apartemen Alya? Tapi itu satu hal yang sangat wajar dilakukan para kekasih, datang saat pasangannya membutuhkan pertolongannya.
Waktu satu jam yang dijanjikan oleh Arvin telah ditepatinya meski hanya berselang beberapa menit, namun itu sangat wajar jika melihat kemacetan jalan di Ibukota.
"Kau tidak Ikut kedalam?" tawar Arvin.
"Tidak. Aku sangat lelah, aku berada didalam mobil saja. Kau pergilah!" alasan Liana yang tak sepenuhnya benar. Karena alasan yang sesungguhnya karena hatinya pasti akan terluka kembali melihat mereka berdua.
"Baiklah, Tunggu disini sebentar! Aku tidak akan lama" ujar Arvin yang kemudian melangkah masuk kesebuah gedung Apartemen, meninggalkan Liana sendiri diparkir mobil.
Kini janji Arvin yang diberikan pada Liana tak ditepati seperti Ia menepati janji pada Alya. Ia berjanji pada Liana Ia akan segera kembali namun hampir satu jam Liana menunggu Arvin belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sudah cukup! Kesabarannya diuji oleh Arvin. Liana pun memutuskan untuk menyusul Arvin kedalam gedung Apartemen. Namun belum sampai masuk kedalam gedung Apartemen, Liana melihat keduanya berdiri diarea taman Apartemen.
"Oo itu mereka. Ternyata disana rupanya" ujar Liana melihat keduanya dari kejauhan.
Sesaat Liana berniat untuk menghampiri mereka namun Ia mengurungkan niatnya itu ketika tanpa sengaja dirinya melihat dengan jelas Alya mengecup mesra bibir Arvin tanpa meminta izin. Arvin begitu terkejut saat itu, hingga Ia membelalakkan matanya.
"Semoga ciuman ini bisa menghilangkan sedikit kesedihanmu" terdengar samar-samar oleh Liana perkataan yang diucapan Alya setelah mengecup bibir Arvin untuk beberapa waktu. Dengan sekuat tenaga Liana berlari dengan hati hancur dan air mata yang turun deras membasahi pipi putihnya. Ia terduduk disebuah taman kota yang lokasinya tak jauh dari Apartemen Alya.
Menangis.. menangis.. dan menangis.. hanya itu yang dapat dilakukan oleh Liana untuk melampiaskan semua kesedihannya. Dicekramnya dada yang semakin lama semakin menyakitinya. Sesak di dada membuatnya tak dapat bernafas dengan benar. Sesekali ia mencoba untuk menghantam dadanya dengan kepalan tangannya berharap rasa sesak yang ia rasakan bisa menghilang dengan sendirinya.
Sebuah panggilan telepon masuk pada ponsel Liana, dan disana tertera nama Arvin. Dengan cepat Liana menyeka air matanya dan sedikit mengubah nada suarax yang serak karena kebanyakan menagis
"Kau dimana?" tanya Arvin saat telponnya tersambung.
"Maaf aku pergi lebih dulu tidak bilang padamu, habis aku bosan menunggumu terlalu lama" alasannya seraya membasuh air mata yang masih tersisa dipipinya.
__ADS_1
"Sekarang kau dimana? Tunggu aku disana! aku akan menjemputmu" ada kekhawatiran pada nada bicara Arvin yang tidak dapat ditangkap oleh Liana.
"Tidak perlu aku sudah naik bus, lagi pula aku sudah dekat dari rumah" bohongnya.
"Ya sudah aku akan menjemputmu dihalte bus. Tunggu aku disana!" pinta Arvin langsung menutup ponselnya tanpa mendengar jawaban Liana terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa Liana. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja" hibur dirinya sendiri sambil meletakkan senyuman paksa pada bibirnya meski terasa berat, bersamaan dengan tangannya menyeka air mata yang hampir membasahi pipiya lagi.
Dengan tenaga yang tersisa Liana berjalan menuju halte bus untuk menepati janji yang dibuat Arvin untuknya. Tak sampai dua jam Liana telah sampai dihalte dekat rumahnya, ternyata Arvin sudah menantinya disana entah sudah berapa lama yang pasti wajah Arvin terlihat cemas menunggu kedatangan Liana.
"Katanya sudah dekat dari rumah? Kenapa baru sampai? Kau membohongiku?" tanya Arvin dengan nada sedikit tinggi karena begitu mengkhawatirkan Liana.
"Tidak, aku tadi ada urusan jadi maaf kalau..." belum selesai Liana memberi alasannya, Arvin langsung memeluk erat tubuh Liana.
Bertambah erat tuk sekian detiknya, Arvin memeluk wanita yang beberapa saat mampu membuat jatungnya berdegup tak beraturan karena khawatir. "Apa yang kau lakukan?" Liana mencoba untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Arvin karena dianggapnya perlakuan Arvin itu sangat memalukan.
"Seharusnya kau telpon kalau datang terlambat! Aku begitu cemas menunggumu disini." tutur Arvin dengan nada standart
"Kau mencariku?"
"Tentu saja. Aku seperti orang gila memanggil namamu, lalu memeriksa satu persatu bangku bus yang datang. Mungkin dengan seperti itu aku akan menemukanmu tertidur disana" penuturan Arvin membuat senyum Liana kembali lagi walau hanya sejenak karena ingatan tentang kejadian tadi membuat Ia tersadar dari pesona Arvin yang sesaat membius dirinya.
"Maafkan aku. Aku kira kau akan berada ditempat Kak Alya lebih lama lagi". "Lagi pula, aku bukan anak kecil lagi yang perlu dikhawatirkan seperti itu" Liana melangkah mundur setelah dirinya lepas dari pelukan Arvin.
"Benar juga, kau itukan kucing. Yang dibuang dimana saja pasti kembali ke tempat asalnya" ujar Arvin menutupi kegugupannya saat dirinya sadar akan sikapnya yang berlebihan pada Liana.
"Itu kau tahu, ya sudah ayo kita pulang! Aku sudah lelah" Liana berjalan memasuki mobil Arvin yang terparkir didepan halte bus.
"Bodoh. Sesaat aku berpikir kau pergi karena kau melihat ciuman itu" benak Arvin yang khawatir tanpa alasan.
__ADS_1
Sedangkan hati yang lain juga berucap, "Kenapa ini begitu menyakitkan untukku? Haruskah aku berpura-pura tidak tahu kalau cinta ini benar-benar ada? Padahal setiap hari cinta ini semakin tumbuh dan semakin menyakitkan hatiku" benak Liana. Sesungguhnya dua hati itu telah memiliki satu tujuan yang sama yaitu cinta.
***