
Dengan sedikit tenaga Liana berjalan tak tegap, mata yang masih mengeluarkan air mata hanya menatap kosong kearah depan tanpa memperdulikan anggapan-anggapan yang dibicarakan beberapa orang tentang dirinya.
“Hey Nona Cantik! Apa Kau tidak malu, menangis ditepi jalan seperti ini?” tanya seorang laki-laki yang mengendarai sepeda motor berjalan pelan disampingnya. “Haruskah Aku menghiburmu?”
Awalnya Liana tidak ingin menggubris perkataan dari si Pengendara motor itu, Ia hanya menambah kecepatan laju kakinya agar terhindar dari penggoda itu.
“Bagaimana kalau Aku antar Kamu pulang?” Tawar sang Pengendara motor.
"Tidak. Terima kasih" tolak Liana secara cepat meski Ia tak tahu siapa yang sedari tadi menawarkan banyak bantuan kepadanya.
"Bukankah sangat memalukan berada ditempat umum dengan keadaanmu yang seperti ini? Jadi terimalah bantuan Ku!" Bujuk si Pengendara motor.
“Pria ini benar-benar," Ingin berbalik dan mencoba memaki si Pengendara motor yang terus saja mengganggu dirinya, "Kau...” namun keinginan itu diurungkan ketika Liana mengenali wajah pria yang tengah menggoda dirinya.
“Kakak?” ucapnya tak percaya bahwa yang berada disampingnya adalah Jojo.
“Hai! senang bertemu denganmu” sapa Jojo begitu manis.
Seketika wajah sembab Liana dipenuhi dengan senyuman.
***
Dibagikannya sekaleng minuman dingin bersoda pada Liana yang sudah menunggunya disebuah taman, “Ini untukmu.”
“Terima kasih” Liana menerimanya dengan senang hati.
“Disitu," tunjuk Jojo pada salah satu sisi wajah Liana. Dengan nada ragu Jojo memberi tahu Liana. "Diwajahmu masih ada air mata yang tersisa.”
Dengan arahan dari Jojo Liana berusaha membasuh wajahnya meski secara acak.
__ADS_1
Jojo yang melihat Liana yang kesulitan menemukan setetes air mata itu, dengan Inisiatif Jojo untuk membantunya, “Bukan disana, tapi disini” ulur Jojo memberikan bantuan untuk membasuh air mata yang mulai mengering.
“Terima kasih” Liana mengumbar senyum ramah.
“ehm” angguk Jojo sekali.
“Aku melihat suamimu disiaran langsung berita bisnis pagi ini, tapi kenapa Kau malah menangis ditepi jalan seperti itu? Apakah Arvin tahu tentang ini?” Tanya Jojo yang mungkin terdengar sangat lancang, namun sebenarnya Ia bermaksud baik pada Liana. Ia mencoba untuk membantu Liana jika dia tahu duduk permasalahannya.
“Maafkan Aku! Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan kakak,” ucap Liana tak ingin membuka aib masalah yang membelit pernikahannya.
“Begitu ya, Baiklah Aku mengerti” ungkap Jojo tersenyum tipis pada Liana. Ada rasa malu karena bantuannya ditolak, namun Jojo memaklumi itu.
“Tapi bisakah kakak menghiburku? Aku sangat membutuhkannya saat ini” sejenak keduanya saling pandang membuat jantung Jojo berdetak tak beraturan untuk beberapa waktu. “Bisakah?”
“ehk'em”Jojo mengedahem setelah memalingkan wajahnya dari Liana.
“Ini Aku pinjamkan punggungku, menangislah sepuasnya!” Jojo menyodorkan punggungnya dengan senang hati.
“Baiklah kalau Kau malu aku akan tutup telingaku supaya Aku tak mendengarmu menangis” Jojo merogoh sebuah earphone disaku jaketnya lalu Ia memasang dikedua telinganya.
“Kakak jangan seperti ini! Aku sama sekali tidak ingin menangis" Liana mencoba untuk tetap tegar dihadapan Jojo.
“Apa perlu Aku bernyanyi untuk menghiburmu?”
"Sungguh Aku tidak ingin menagis,” tak perduli walau Liana terus memanggil namanya, “Kakak!” Ia tetap saja bersenandung.
Dan sampai pada akhirnya Liana pun menyerah dengan keteguhan hatinya, yang tak ingin semua orang tahu bahwa hatinya terluka.
Tetesan kristal putih satu persatu terjun dari kelopak mata Liana. “hiks... hiks..." tangis Liana semakin menjadi, membuat Jojo menghentikan senandungnya. Hatinya kini ikut merasakan rasa sakit yang Liana rasakan.
__ADS_1
"Jika seperti ini, haruskah Aku merebutmu dari Pria itu?" Terbersit pemikiran buruk karena Jojo berpikir hingga sekarang Arvin tetap memperlakukan Liana tak begitu baik.
***
Dan untuk Alya yang memiliki kesedihan yang sama seperti Liana. Mencoba untuk bertemu dengan sang kekasih untuk menenangkan hatinya.
“Kenapa Kau memintaku datang ketaman ini? Apa ada yang ingin Kau katakan padaku?” cerocos Arvin yang baru saja datang. Tanpa ada jawaban Alya memeluk erat tubuh Arvin.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu hari ini?” Tanyanya yang semakin penasaran melihat kelakuan aneh Alya.
“Jangan bicara! Aku ingin seperti ini saja tanpa ada yang bicara. Aku hanya ingin memeluk Kakak untuk menenangkan hatiku” ujar Alya yang mulai meneteskan air mata.
“Apa seperti ini jauh lebih baik?” Arvin yang menyadari Pacarnya yang dirundung kesedihan mencoba untuk menghiburnya dengan cara membalas pelukan Alya lalu menepuk-nepuk punggung Alya sebagai penghibur.
“Emm... Terima kasih” jawabnya singkat.
"Seharusnya Aku tidak khawatir selama dia masih berada bersamaku." Yakin Alya pada kekuatan cintanya. Meski hatinya bertolak belakang dengan pemikirannya.
Kringgg...! Bunyi ponsel Arvin membuyarkan pelukan hangat itu. sejenak Arvin melihat siapa yang menelfon dirinya sebelum Arvin melangkah menjauhi Alya.
Arvin bicara sangat serius, terlihat jelas raut wajah yang terlihat sangat tegang. Dan beberapa saat kemudian Arvin memutus hubungan antar telfon itu lalu kembali kepada Alya.
“Siapa yang mentelfon? Sepertinya penting sekali sampai Kakak harus menjauh dariku” Tanya Alya penasaran.
“Ia memang ini sangat penting. Jadi aku harus kekantor sekarang, ada yang perlu Aku urus secepatnya."
“Benarkah? Tapi kan kita baru saja bertemu” keluh Alya dengan nada kecewa.
__ADS_1
“Maafkan Aku. Aku akan mentelfonmu nanti.” Janji Arvin sebelum Ia benar-benar pergi meninggalkan Alya sendirian di taman.
***