
"Akhkk...!" rintih Arvin disertai dengan batuk yang mencoba untuk ditahan olehnya.
Ternyata Arvin hanya tertidur sebentar, Ia kembali membuka matanya karena kebisingan yang ditimbulkan oleh Liana.
Didapatinya Liana telah terduduk lemas menatap nanar kearahnya sembari bernafas lega.
"Kenapa Kau melihatku seperti itu? Memang Kau berpikir apa?" Tanya Arvin dengan nafas menderu.
"Kenapa Kau menutup mata?"
"Aku hanya beristirahat sebentar saja, Aku sangat lelah."
"Tapi Kau menakutiku," Liana kembali menangis, kini Ia menangis sejadi-jadinya.
"Hey kenapa nangis lagi?" Arvin berusaha untuk bangkit dan secara hati-hati berlutut dihadapan Liana.
"Aku mengira Kau sudah mati" ucap Liana disela Isak tangisnya.
"Maafkan Aku telah membuatmu ketakutan!" Didekap erat tubuh Liana yang gemetaran.
"Stt...! Sudah jangan menangis lagi. Aku akan baik-baik saja." Ujar Arvin mencoba menenangkan Liana. "Kau tahu Aku tidak akan mati semudah itu".
Sudah lebih dari lima belas menit tapi masih tidak ada seorang pun yang melintasi jalan itu.
"Kenapa tidak ada seorangpun yang lewat jalan ini?" gerutu kesal Liana.
"Sudahlah menyerah saja! Kau tidak akan berhasil dengan caramu seperti itu. lagi pula kalau memang ada orang yang lewat, dia juga tidak akan membantumu." Ujar Arvin terengah-engah meski hanya bicara hanya beberapa kata sudah membuatnya menguras tenaga yang lebih.
"Kenapa?"
"Karena mereka tidak ingin terlibat masalah ini. Kalau seandainya Aku mati, pasti mereka juga ikut diintrogasi oleh polisi," terangnya dengan deruh nafas yang semakin cepat.
"Kemarilah! Duduk disini!"bArvin menepuk pelan bangku yang kosong disebelahnya.
"Kakimu akan bertambah parah jika terus dipaksa untuk berjalan," Arvin pasrah akan hidupnya.
"Tidak mau!" seru Liana menolak permintaan Arvin.
"Kenapa Kau keras kepala sekali?" desah Arvin lirih.
"Berhentilah berbicara! Simpan tenagamu!" pinta Liana.
"Liana boleh aku katakan sesuatu!" lontar Arvin menghentikan langkah Liana.
__ADS_1
"Sejujurnya Kau sangat cantik malam ini, tapi aku malu untuk menyatakannya," kata Arvin mencoba untuk jujur. Jika dirinya tak tertolong, setidaknya Ia pernah bicara jujur tentang perasaannya pada Liana.
Liana tersenyum pahit, "Aku tahu itu". Kenapa pada waktu yang seperti ini, Arvin baru bicara jujur padanya.
"Aku mohon, jangan sampai kehilangan kesadaranmu! Aku akan segera kembali," kini Liana benar-benar pergi. Ia berdiri diam tepat dipertengahan jalan untuk mencegat orang yang melintasi jalan itu.
Satu menit... dua menit.. hingga beberapa menit tak satu pun ada kendaraan yang melintas disana.
"Aku mohon datang.. datanglah!" harap Liana dalam hati sembari memejamkan matanya.
THIINNN... THHHIINNNNN..!! Suara kelakson mobil terdengar keras ditelinga Liana, Ia juga dapat merasakan cahaya terang lampu mobil yang per sekian detik semakin terang masuk melalui sela matanya yang tertutup.
"Datang," benak Liana yang merasakan senang sekaligus merasa takut.
Meski dirinya merasakan ketakutan Ia tidak dapat mundur lagi. Karena jika Ia tidak lakukannya sekarang, entah kapan lagi seseorang akan melintasi jalan itu? Lalu apakah Arvin akan dapat bertahan lebih lama lagi?
Itulah yang membuat Liana membesarkan tekatnya, untuk tetap bertahan.
"Ku mohon berhentilah! Aku mohon berhentilah!" komat-kamit bibir Liana.
Sedangkan Arvin sendiri yang mendengar kelakson mobil, langsung membuka matanya perlahan.
Dan yang melintas kali ini, ternyata sebuah truk yang kini jaraknya tak begitu jauh lagi dari Liana. "Liana!" Hati Arvin langsung hancur saat itu, berpikir jika disana bukan dirinya yang meninggal terlebih dahulu melainkan Liana yang begitu berani bertaruh nyawa untuk dirinya.
"Liana.. menjauh dari sana!" Pinta Arvin berusaha untuk mencapai tempat Liana saat ini berdiri untuk menghentikan tindakan Liana yang terbilang nekat.
Namun apa mau dikata, tenaganya sudah tidak dapat menopang tubuhnya. Arvin berusaha bangkit tapi Ia terjatuh berulang kali.
"Liana Kau tidak boleh takut! "ungkap Liana yang telah memundurkan kakinya beberapa langkah karena rasa takut.
"Ayo Liana Kau tidak boleh takut! Karena ini kesempatan terakhirmu untuk menyelamatkan Arvin" motivasi pada dirinya sendiri.
CHHIITT.....! lengkingan suara rem yang terinjak sangat keras.
Arvin hanya bisa memanggil lirih, "Liana!".
Lengkingan suara rem itu berhenti, dan saat itu Hening beberapa saat. Disaat itulah Liana memberanikan diri untuk membuka matanya.
Dan dirinya tahu posisi dirinya dan truk besarnya berkali-kali lipat darinya kini berdiri hanya beberapa puluh sentimeter dari tempatnya berdiri.
"hahh.." Liana bernafas lega. Dan sedetik kemudian ia terduduk diaspal, kakinya yang gemetaran tak kuat menopang tubuhnya.
__ADS_1
"Syukurlah Aku tidak mati. Arvin juga akan selamat." Liana menyatukan tangannya yang gemetaran.
"Bodoh!" lontar Avin yang merasa lega melihat Liana selamat.
"Yakk Nona! Apa Kau sudah gila? Kau ingin mati berdiri ditangah jalan?" Teriak si Supir truk itu geram.
Liana yang mendapat teriakan dari si supir truk itu tak merasa takut, malah Ia tersenyum dan hampir tertawa. Jika memungkinkan mungkin dirinya akan melompat kegirangan.
Liana bangkit, lalu kemudian Ia berjalan memincang mendekati sang Sopir truk untuk memohon bantuan, "paman tolong suami saya! Dia sedang terluka disana" tunjuk Liana pada Arvin yang kini telah tergeletak dibawah.
Tanpa pikir panjang si sopir truk itu turun dan memapah Arvin untuk dimasukkan kedalam truknya.
Gigi dimasukkan, kemudian ditancapnya dalam-dalam gas yang memberikan kecepatan maksimal pada truk itu.
Tangan yang memegang gagang stir beberapa kali menekan bunyi kelakson untuk mengantisipasi mobil yang berada didepannya untuk minggir.
Wajah yang semakin memucat, dan tubuh yang penuh dengan keringat dingin. Kini Arvin benar-benar kehilangan separuh kesadarannya, Ia hanya berucap satu kata saja yang tidak terdengar jelas, "dingin".
"Arvin apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti," tanya Liana yang tak begitu jelas mendengar suara Arvin.
"Dingin" ucap Arvin berulang kali hanya menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Liana langsung mendekap erat tubuh Arvin. "Dingin" Liana mendekap Arvin semakin erat.
"Apa seperti ini? Apa Kau sudah merasa lebih hangat?"
"Dingin".
"Bagaimana ini? Apa yang harus Aku lakukan?"
"Nona tenanglah sekitar lima menit lagi kita akan sampai dirumah sakit" lontar si supir truk mencoba menenangkan hati Liana yang takut.
"Aku mohon bertahanlah sebentar lagi! jangan mati!" harap Liana semakin berkurang kesadarannya.
"Nona kita sudah sampai!" ucap si Supir truk itu namun tak ada tanggapan dari Liana.
"Nona kita su..dah" si supir truk mencoba menggoyangkan sedikit tubuh Liana dan ternyata roboh dengan mudahnya.
"Keduanya tidak sadarkan diri," ucap si supir bernafas lega, setelah mengecek nafas Liana dan Arvin.
Si supir truk pun bergegas turun dan memanggil tim medis untuk menangani kedua orang yang telah ditolongnya.
***
__ADS_1