
Dengan menggunakan jasa Taksi Liana menuju kerumah Orangtuanya sebagai tempat tujuannya yang utama. Pikiran yang melayang terlalu lama tak menyadari bahwa dirinya telah sampai di depan halaman rumah Orangtuanya tuanya. "Nona kita telah sampai" ujar sang supir taksi menyadarkan Liana dari segala pikirannya.
"Ah benar" Liana menghapus segera air mata yang tanpa izin keluar begitu saja dari pelupuk matanya. "Terima kasih!" Liana membayar tarif taksi sebagai ganti Ia menggunakan jasa transportasi yang Ia tumpangi.
Didapati mobil Arvin telah terparkir di halaman rumah milik Orangtuanya. Liana mencoba menghela nafas panjang, mengumpulkan segala kekuatannya untuk menatap wajah Arvin. karena jika tidak, Liana akan mengacaukan acara hari ini karena tangisannya.
"Itu kakak" tujuk Dafina yang mengetahui kehadiran Liana terlebih dulu dari yang lainnya.
"Kau sudah datang" sambut hangat sang Mertua perempuan ternyata Ibu Arvin juga berada disana.
"Maaf, aku terlambat" ucap Liana yang melihat semua telah berkumpul dimeja makan untuk menyantap hidangan perayaan kemenangan Dafina dalam lomba bernyanyi.
"Tidak apa-apa, duduklah!" pinta Ibu memberi Isyarat untuk duduk di bangku kosong disebelah Arvin.
"Kalau begitu kita mulai makan, sebelum makanannya menjadi dingin" anjur Ayah.
"Tunggu dulu!" cegah Dafina yang memiliki rencana yang berbeda.
"Sebelum makan, dengarkan dulu lagu yang membuatku menjadi juara kedua dalam kontes ini!" pinta Dafina dengan nada manja.
"Ahh iya benar, lebih baik kita dengar Dafina bernyanyi terlebih dahulu! Tiara pasti kau akan menyukai suara Dafina yang sangat merdu" puji Ayah pada Sahabatnya itu.
"Benarkah? Bibi jadi tidak sabar mendengar suara merdu Dafina" seru Tiara Ibu Arvin.
"Dengar ya!" Dafina pun mulai bernyanyi dengan senyum dibibirnya, semua menepuk tangan membuat nada sesuai aslinya. Tawa tak tertahankan saat Dafina meggerakan tubuhnya, berjoget ala girlband.
"Darimana saja Kau? Bukannya Kau bilang berangkat lebih dulu? Kenapa baru sampai?" tanya Arvin berbisik lirih.
"Tadi aku bertemu Sofi dan Anita terlebih dahulu. Jadi sedikit terlambat" jawab Liana standart.
"Kenapa Kau tidak bilang? kalau Kau akan terlambat datang. Jika tahu seperti itu, Aku bisa menjemputmu" ujar Arvin dengan nada kesal. "Apa Kau tahu? Betapa malunya aku saat mereka bertanya dimana istriku, dan Aku sama sekali tidak dapat menjawabnya."
"Maafkan aku!" sesal Liana.
"Apa Kau sengaja?" tuduh Arvin.
"Apa maksudmu?"
"Kau sengaja membuatku malu dengan menujukkan jika aku tidak mampu menjaga Istriku"
"Apa sampai sekarang Kau hanya memikirkan perasaanmumu sendiri? Sekali saja, tidak pernahkah Kau memikirkan perasaanku?" tanya Liana lirih.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Arvin yang melihat wajah Liana begitu tertekan.
"Wahh.. ternyata anak Ayah ini sangat berbakat, Ayah bangga padamu" puji Ayah. Membuat Arvin harus menyudahi pembicaraannya dengan Liana.
"Kita lanjutkan nanti!" pinta Arvin.
"Benar, Dafina memang pintar bernyanyi. Sayang Paman Hari tidak bisa datang karena sibuk dengan pekerjaannya" sesal Tiara.
"Tidak apa-apa, kedatangan Bibi kemari sudah membuatku sangat senang" ucap Dafina bergaya ala orang dewasa.
"ohh ya ampun Kau membuat bibi tersanjung."
"Dafina!" panggil Arvin agar pandangan Dafina beralih kepadanya.
"Iya?"
"Kau sangat keren" puji Arvin seraya menunjukan kedua jempol tangannya.
"Terima kasih."
"Mari kita makan sekarang!" ajak Ibu Liana. Yang diikuti dengan tindakan yang lainnya, satu per satu mengambil makanan yang tersedia.
Setelah dirasa telah cukup keyang meyantap makanan. Semua bersantai duduk di teras rumah. Mereka bersenda gurau, bergantian bercerita menggelitik. Dan tak ketinggalan juga Ayah yang selalu mengabadikan segala momen pada sebuah jepretan foto, tak akan melewatkan momen bahagia ini. Beberapa ekspresi wajah telah terpotret apik pada lembaran foto.
"Ini untukmu" Arvin memberi sebuah kotak yang terbungkus kertas berwarna abu-abu pada Dafina.
"Untukku? Boleh Aku tahu isinya?" girang Dafina.
"Tentu saja, bukalah!"
Dafina membuka dengan kasar karena begitu penasaran dengan apa yang diberikan Kakak iparnya itu. Ternyata iphone pengeluaran terbaru.
"Wah... ini bagus sekali, ini pasti mahal" tafsir Dafina. "Terima kasih! Kakak Ipar ku, Kau memang yang terbaik!" Dafina menunjukan kedua jempolnya dengan senyum yang tak surut.
"Dari Kakak untukku mana?" Dafina menyodorkan kedua tangannya kearah Liana.
"Maaf aku tidak terfikir untuk membeli kado untukmu" sesal Liana.
"Kau lupa atau memang sengaja Kau lupakan? Dasar pelit" Cibir Dafina.
"Ihh.. Kau ini..."
__ADS_1
"Sudahlah dafina! Kan sudah dapat hadiah dari kak Arvin" Ibu memberikan pengertian pada anak bungsunya sebelum terjadi perang mulut antar kedua anaknya.
"Sudah siap" ungkap Ayah yang baru keluar dari kamar Liana.
"Benarkah?" tanya Dafina yang membuat Liana dan Arvin melihatnya dengan ekspresi bingung.
"Ayo Kak kita lihat kamar Kak Liana! Ayah sudah mendekor ulang kamar Kak Liana agar bisa kalian tempati berdua, Ayah juga membelikan kalian tempat tidur baru loh. Besar dan bagus" Oceh Dafina seraya menarik tangan Arvin paksa.
"Iya tunggu sebentar!" pinta Arvin yang hampir terjungkal karena tubuhnya tak sigap menerima tarikan dari Dafina yang masih kecil memiliki tenaga yang lebih.
"Maaf Ayah tapi kita berdua harus pulang sekarang" celetuk Liana menghentikan langkah Dafina. "Karena besok Aku harus ujian dan mungkin Arvin juga ada pertemuan paginya" terang Liana.
"Begitu ya" terdengar nada penuh kecewa dari Ayah.
"Tapi kalau kalian bangun lebih pagi kan bisa?" Lontar Dafina memberi solusi.
"Maaf Ayah, Ibu kami pergi!" tangan yang masih digenggam oleh Dafina kini direbut oleh Liana.
"Maaf Dafina."
"Lalu bagaimana dengan usaha ayah untuk mendekor kamar kalian berdua? Bisakah kalian pikirkan lagi?" rengek Dafina.
"Dafina biarkan mereka pergi! Kan ada hari-hari yang lain. Mungkin nanti Kak Liana dan Kak Arvin akan menginap disini saat mereka liburan" tutur Ibu.
"Kami pergi!" pamit Liana.
Dengan sekuat tenaga Liana menarik lengan baju Arvin hingga tak karuan bentuknya. Hingga di halaman rumah Arvin mulai melepas kasar tangan Liana dari dirinya.
"Kau ini kenapa?" Tanya Arvin yang kini mulai membuka pembicaraan setelah Ia tahan emosi didepan kedua Mertuanya karena sikap aneh Liana. "Apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Kenapa sikapmu sungguh aneh? Kau tidak melihat kekecewaan dimata mereka?" kesal Arvin meminta penjelasan.
Semua ucapan panjang lebar Arvin tak mendapat tanggapan dari Liana. Liana masih betah dengan kediamannya.
"Sebaiknya kita masuk sekarang! Dan bilang kalau kita berubah pikiran" kini giliran Arvin yang menarik tangan Liana namun tak berhasil karena dengan cepat Liana menepis tangan Arvin.
"Tidak mau" tolak Liana cepat.
"Kau ini kenapa?" Geram Arvin yang mulai tak dapat mengontrol emosi.
"Kalau Kau ingin menginap disini, menginaplah! Aku bisa pulang sendiri naik bus" Liana berpaling lalu melangkah pergi namun dapat dicegah Arvin dengan segera.
"Masuklah! Kita bicara dirumah!" pinta Arvin yang menyadari bahwa ada yang tak beres dari sikap Liana. Tanpa banyak kata Liana pun langsung menurut.
__ADS_1
***