Love'S Feeling

Love'S Feeling
Bertahanlah!


__ADS_3

"Aku mohon tolong Aku!" benak Liana, merasakan tubuhnya yang sudah tidak mampu melawan lagi. "Tolong Aku! Aku tidak punya daya lagi untuk berlari".


Sebuah wajah Arvin terlihat saat mata Liana terpejam karena lelah. "Arvin! Arvin!" panggil Liana.


"Brengsek, menjauh darinya!" pekik seseorang dari kejauhan.


"Arvin!" desahnya lirih yang hafal benar suara Arvin. Ia melihat samar Arvin tengah beradu jotos dengan segerombolan pria itu.


"Aku tahu Kau akan datang!" Senyum Liana sebelum Ia kembali menutup mata kembali.


Dihajar habis oleh Arvin semua Pria itu walau sesekali kalah dari mereka, tapi melihat kondisi Liana yang seperti itu tak memungkinkan untuk dirinya kalah saat ini.


Ia bangkit dengan sekuat tenaganya menghajar sisanya yang belum tumbang ketanah.


Game over, lima banding satu dan Arvinlah pemenang dari pertarungan ini. mereka berhambur menyelamatkan diri mereka dari kemarahan Arvin.


"Liana, Kau tidak apa-apa?" khawatirnya sambil mengangkat separuh tubuh Liana dan diarahkan untuk bersandar didadanya.


"Liana Jawab Aku!" Pinta Arvin dengan tangis melihat keadaan Liana saat ini.


Wajah memar, luka ada dimana-mana, dan baju yang tak utuh.


"Akhkk!" rintih Arvin saat mencoba untuk membuka mantelnya untuk dipakaikan pada Liana. Arvin merasakan kesakitan yang teramat sangat pada perutnya yang terluka sempat tergores benda tajam milik salah satu pria jahat itu.


"Aku percaya Kau pasti akan datang" Liana hanya tersenyum tipis, karena luka yang dimilikinya membuat Liana tidak bisa bergerak dengan bebas.


"Maaf! Maafkan aku!" sejenak Arvin menenggelamkan tubuh Liana dipelukannya.


"Apa Kau bisa berdiri?" tanya Arvin.


"Tidak bisa, kakiku terkilir".


"Ayo Aku bantu untuk naik ke punggung ku." Dengan sedikit usaha Akhirnya Arvin dapat menaikkan Liana kepunggungnya.


"Bertahanlah sebentar lagi!" ujar Arvin mulai berjalan menuju halte bus yang sudah tak jauh dari sana.


Cuaca mendung dengan Petir yang menggelegar, membuat jalan yang awalnya memang sudah tak terlalu ramai dengan lalu lalang orang. Kini dengan kondisi cuaca tak ada satupun didapati seorang yang melintasi jalan yang hanya diterangi lampu jalan yang terlihat buram.


Rasa sakit dirasa Arvin semakin parah yang telah menguras sebagian dari tenaganya. Arvin mulai berjalan melambat dengan beban dipunggungnya, Ia berusaha melangkah walau dirinya merasa tak kuat lagi.


"Apa Kau baik-baik saja? tubuhmu mengeluarkan keringat dingin" Liana sadar akan perubahan tubuh Arvin yang semakin melemah.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir!" ungkap Arvin tak sesuai dengan keadaan tubuhnya yang sebenarnya. 


Tak lama berjalan Arvin pun ambruk dan Liana pun ikut terjatuh disampingnya.


"Akhhk...!" rintih Liana meringis kesakitan.


Sedangkan Arvin hanya menahan sakit dengan penuh keringat ditubuhnya.

__ADS_1


"Arvin Kau baik-baik saja?" Tanya Liana merangkak kearah Arvin, tuk melihat keadaan Arvin yang tak bergerak sama sekali. 


Liana menyentuh perut Arvin yang sedari tadi dicengkeram oleh tangan Arvin. Ternyata darah mengalir begitu banyak dari perut Arvin akibat goresan benda tajam. Terlihat lukanya sangat dalam, hingga darah merah pekat yang keluar terus menerus.


"Kau berdarah, bagaimana ini?" Liana menangis ketakutan melihat kondisi Arvin yang terlihat sangat parah.


"Jangan menangis! Aku baik-baik saja," yakinkan Arvin pada Liana.


"Apa Kau bisa berdiri?"


"Iya Aku bisa," Arvin menyanggupi.


Dengan sekuat tenaga Arvin mencoba berdiri dengan kedua kakinya, Ia mencoba meyakinkan Liana jika dirinya baik-baik saja. Dengan seperti itu Liana tidak akan bersedih karena dirinya.


Tapi apa daya luka itu telah menghabiskan semua tenaganya, hingga kesadaran Arvin mulai menghilang karena luka itu.


Hanya hitungan detik Arvin pun tumbang, untuk dengan cepat Liana menopang tubuh Arvin yang dua kali lipat lebih besar darinya.


 


"Apa Kau mampu untuk berjalan?" Tanya Liana. karena jika dirinya sendiri yang menopang Arvin tak akan sanggup. Apalagi dengan kondisi kakinya yang masih terluka.


"Akan Aku usahakan," kini Arvin tak ingin menjamin jika dia bisa melakukannya, karena Ia tahu batas kemampuannya.


Dengan dipapah Liana, keduanya pun berjalan dengan sempoyongan mencari tempat berteduh karena gerimis mulai turun.


Didudukannya disebuah halte bus yang berjarak dua ratus meter dari tempatnya tadi. Tidak ada satupun orang yang berada disana untuk dimintai bantuan.


"Akhhk!"


"Hahh..." Liana menghela nafas panjang sedangkan Arvin merintih kesakitan diwaktu yang sama. 


"Oo... ponselku tidak ada." gelisahnya sambil mengobrak-abrik dompetnya yang hanya memiliki size kecil.


"Pantas dari tadi aku menghubungimu tidak kau angkat." lontar Arvin.


"Kalau begitu mana ponselmu?" minta Liana menadahkan tangannya.


"Ponselku ada disaku mantel".


Dengan segera Liana merogoh saku mantel yang dipakai olehnya.


"kau lupa mengisi baterainya lagi ya?" tanyanya mendapati ponsel Arvin yang telah mati.


"Maaf, mungkin Aku lupa lagi." sesal Arvin menyandarkan tubuhnya kesebuah tiang dengan tangan yang mencekram luka yang terus mengkeluarkan darah.


Liana merobek lapisan luar rok yang Ia pakai. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Arvin heran.


"Aku lihat di drama ada beberapa adegan yang tokohnya terluka tusukan dan lukanya ditekan seperti ini dengan kain. katanya bisa memperkecil keluarnya darah dari tubuhmu," terang Liana.

__ADS_1


"Ternyata ada gunanya juga Kau melihat film-film itu" Arvin tersenyum tipis.


"Aku mohon jangan mati!" pinta Liana meneteskan air mata, menatap lekat wajah Arvin yang semakin pucat dan dipenuhi dengan keringat dingin. Sedangkan Arvin hanya dapat tersenyum. "Aku tidak bisa seperti ini".


"Aku mohon tekan lukamu dengan sekuat tenaga!" Liana beranjak dari duduknya dan melangkah pergi tapi dicegah oleh Arvin. 


"Kau mau kemana?"


"Tunggulah disini sebentar! Aku akan mencari bantuan untukmu."


"Dengan keadaan seperti ini? apa Kau sudah gila?" Tanya Arvin yang melihat hujan mulai turun sangat lebat, dan Petir juga terdengar begitu menakutkan.


"Bukankah kakimu sedang terluka?"


"Jangan khawatir! Aku baik-baik saja. walaupun keadaanku seperti ini, aku masih kuat jika disuruh lari seribu meter lagi. Ketahanan tubuhku sangat kuat jadi jangan terlalu khawatir padaku!" ucapnya mencoba untuk meyakinkan Arvin.


"Bisakah sekali saja Kau tidak membantah ucapanku?"


"Tidak bisa" bantah Liana dengan cepat.


"Hey!"


"Apa?" tanya Liana kini memandang penuh kearah Arvin. "Lebih baik aku merasakan berkali-kali lipat rasa sakit ini dari pada aku harus melihatmu seperti ini". 


"Kau keras kepala sekali."


"Sekarang Aku tanya padamu. bisakah sekali saja, kau mempercayaiku?" kini Arvin terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Jangan khawatir! Aku tidak akan lama," kini Liana dapat menyakinkan Arvin, tangan yang tergenggam erat kini merengang dengan sendirinya.


"Tunggu Aku!".


Dibawah derasnya hujan tanpa alas kaki Liana berjalan tanpa arah mencari bantuan namun tak satu pun orang yang melintas dijalan itu.


Hingga beberapa waktu menunggu akhirnya terlihat sebuah mobil pribadi terlihat, "Oo... Itu dia!" Seru Liana saat mobil itu berjalan kearahnya.


 "disini.. disini..!" Liana melambaikan tangannya untuk memberi tahu keberadaannya.


Namun mobil itu malah melaju bertambah kencang tak perduli Liana yang dilewati berteriak meminta bantuan.


"Hey.. kembali! Aku tidak bermaksud jahat, aku hanya ingin meminta bantuan. Yakk kembali!" teriak Liana menangis kehilangan harapan yang baru saja didepan mata.


"Bagaimana ini?" rengeknya seraya berpaling memandang kearah Arvin yang kini berganti posisi membaringkan tubuhnya kebangku tunggu.


"Arvin?" Liana berlari dengan tertatih-tatih mengarah ke Arvin, pikiran buruk akan terjadi sesuatu pada Arvin tak dapat Ia kelak lagi.


"Arvin!" serunya. "Ayo buka matamu! Jangan membuatku takut" Liana menepuk-nepuk tubuh Arvin.


"Yak... Arvin bangunlah!"

__ADS_1


***


__ADS_2