Love'S Feeling

Love'S Feeling
Perpisahan


__ADS_3

Mobil Arvin berjalan dengan mulus pada gelapnya malam. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang di waktu yang terbilang malam untuk sekedar berjalan-jalan atau memenuhi janji pada seseorang. Kebanyakan dari mereka memilih untuk tertidur pulas dalam dekapan malam.


"Sekarang bicaralah!" pinta Arvin sesampainya di rumah mereka. 


"Aku lelah, Aku ingin istirahat" ujar Liana dengan nada lirih hampir tak dengar oleh Arvin.


"Bukankah kita sepakat untuk membicarakan semuanya di rumah. Sekarang Kau malah menghindar?"


"Kita bicarakan besok saja! Aku ingin istirahat lebih cepat malam ini" Liana mencoba menghindari percakapan tentang masalah itu setidaknya untuk malam ini. Karena mungkin jika Ia membahasnya, Dirinya tidak akan dapat mengontrol apa yang akan Ia katakan atau lakukan.


"Aku tanya padamu, jadi jawablah! Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" teriak Arvin yang tak bisa lagi menahan amarahnya, sembari mencengkeram erat lengan Liana. "Hentikan sikapmu itu! Itu membuatku sangat bingung."


Seketika air mata Liana mengalir, emosinya pun tak dapat tertahan lagi.


"Kau ingin tahu yang sebenarnya terjadi?" Tanya Liana mendekat selangkah kearah Arvin seraya menatap tajam pada Arvin dengan mata yang berair. "Baik akan aku katakan segalanya."


"Hari ini aku terlihat sangat menyedihkan didepan kedua sahabatku. Kau tahu kenapa? Itu semua karena dirimu." curah Liana penuh dengan amarah.


"Di cafe friendship bukankah itu tempatmu berkencan? di sanalah mereka melihatmu yang mereka anggap sebagai suami Sahabatnya bersama wanita lain yang mereka tahu jika dia adalah teman Sahabatnya." Liana meluapkan emosinya.


"Liana Maafkan aku!" Amarah Arvin kini berubah menjadi rasa bersalah. Dan Liana hanya dapat diam tak mampu katakan apapun lagi, Ia hanya bisa menatap wajah Arvin penuh dengan amarah.


"Kau puas sekarang. Jadi biarkan aku pergi!" Liana berpaling dengan air mata yang kembali menetes.

__ADS_1


"Bisakah kau meminta mereka untuk merahasiakan kejadian itu!" pinta Arvin menghentikan langkah Liana.


"Pastikan mereka tidak mengatakan pada siapapun tentang masalah ini! Jika tidak perjanjian yang kita sembunyikan selama ini akan terbongkar." khawatirnya.


Liana menghela nafas beratnya yang membuat sesak di dada. "Sudah aku katakan pada mereka untuk menyimpan rahasia ini." terang Liana memberi angin segar bagi Arvin.


"Syukurlah." Arvin menghela nafas lega. 


"Apa semua ini sudah membuatmu merasa tenang?" Liana mengerutkan keningnya, merasa sikap Arvin sungguh keterlaluan.


"Tentu saja. Bukankah segalanya telah beres sekarang?". "Aku yakin teman-temanmu akan menyimpan rahasia ini" ucap Arvin mencoba menenangkan hati Liana.


"Untuk kedepannya Aku akan lebih berhati-hati lagi" Janji Arvin pada Liana.


Tubuh Liana berbalik mengarah ketempat Arvin yang sedari tadi tak berpindah tempat.


"Apa?" shock Arvin dengan niat Liana yang baru saja diutarakan.


"Mari kita akhiri saja pernikahan ini!" Ulang Liana, mencoba untuk memperjelas maksudnya.


"Apa kau sudah gila? Apa yang akan dipikirkan keluarga kita jika begitu saja kita mengajukan perceraian"


"Bukankah sama saja antara sekarang dan nanti? Pada akhirnya kita akan berpisah. Jadi dimana masalahnya? Bukankah ini hanyalah masalah waktu?" kukuh Liana.

__ADS_1


"Kau ini sebenarnya kenapa? Hanya masalah tadi siang Kau sudah bertindak berlebihan?"


"Bagaimana jika kalau alasannya bukan itu saja? Bagaimana jika ada alasan lainnya?"


"Memang alasan apa yang membuatmu memutuskan untuk ber..." belum sempat Arvin selesaikan ucapannya, seketika ucapan Liana membungkam mulut Arvin.


"Aku mencintaimu!" Seru Liana.


"Kau..."


"Aku sangat menderita dengan perasaan ini, karena perasaan ini juga membawaku kedalam posisi yang menurutku tidak adil. Dan perasaan ini pula yang hampir membuatku menjadi gadis jahat karena berniat untuk merebutmu dari Kak Alya" tuturnya disela isak tangisnya. "Apa alasan ini belum cukup untukmu?" 


"Liana Kau!" 


"Pilih salah satu dari Kami! Aku atau Kak Alya?" pertegas Liana. meski dirinya tahu apa yang yang akan dipilih Arvin sebagai jawaban dari pertanyaannya.


"Kau tidak seharusnya lakukan ini (jatuh cinta pada Arvin)!"


"Aku tahu itu. Tapi sungguh Aku tidak dapat mengontrol hatiku sendiri" sesal Liana.


"Baiklah Mari kita berpisah!" Ujar Arvin sedikit tersendat mengatakan keinginannya.


Meski Liana telah bersiap akan jawaban itu, tapi tetap saja rasa sakit dihatinya tak pernah berkurang sedikitpun. "Iya.. harusnya kita memang berpisah" ucapan Liana hampir tak terdengar karena tengelam dalam isak kesedihan.

__ADS_1


Keduanya pun pergi kekamar masing-masing, disanalah mereka menumpahkan semua emosi, kekecewaan, dan terutama kepedihan yang ditimbulkan oleh hati mereka. Perasaan yang tak dapat diarahkan, takdir yang tak dapat dirubah. Membuat keduannya menahan kepedihan yang mendalam.


***


__ADS_2