Love'S Feeling

Love'S Feeling
Trauma


__ADS_3

Meski perasaan takut kerena berdiri disebuah tempat yang tak ku ketahui.


Tapi genggaman yang selalu menggenggam erat tanganku, seperti secara otomatis mengalir dari sel-sel darahku menghangatkan seluruh organ tubuhku. Hingga sampai hati yang penuh dengan perasaan yang gelisa kini memudar dengan sendirinya.


Ku tatap genggaman tangan itu, kemudian secara perlahan aku arahkan pandanganku kepemilik tangan itu. Kudapati sebuah senyuman yang sekejap mampu menggetarkan jiwaku.


Satu detik setelahnya, Ia menarikku untuk berlari bersamanya. "Kita mau kemana?" tanyaku mencari tahu.


Tapi lagi-lagi dia hanya melempar senyum padaku yang membuat bibirku terkatup dan hanya dapat tersenyum pasrah. 


Aku berlari tanpa lelah mengikuti langkah kakinya yang panjang dan sangat cepat.


Namun tangan yang sedari tadi menggengam tanganku kuat-kuat, kini mulai merenggang dan terlepas.


Jarak langkahku yang tak begitu panjang dan cepat membuatku tertinggal cukup jauh dengannya.


"Arvin!" Teriakku yang tak terasa telah meneteskan air mata menatap nanar kearah punggung Arvin yang semakin jauh dan hilang.


"Arvin!" Kini Ku tambah kecepatan lariku untuk mencarinya, dan berharap dia akan menungguku disuatu sudut jalan yang nantinya aku lintasi. 


Degg..!!


Rasanya jantungku hampir berhenti berdetak, tubuhku menjadi beku. Saat Ku temui disebuah sudut jalan, tubuh Arvin yang terkulai ditanah dengan bersimbah darah dengan sebuah pisau yang tertancap tepat diperutnya.


"Arvin!" Pekikku memanggil dirinya dengan bibir yang gemetar.


Awan berubah menjadi gelap, hujan turun seketika. Suasana menjadi menakutkan saat ku  dengar suara kelompok pria yang menusuk Arvin muncul kembali.


Mereka tertawa keras sembari memakiku dan mengancamku.


Mereka mengatakan bahwa Arvin telah mati karena mereka bunuh.


"Tidak! Arvin tidak mati! Dia tidak boleh mati!" Pekikku menutup telinga agar tak dapat mendengar perkataan mereka.


"Tidak... tidak.. dia tidak boleh mati. Tidak boleh!" Tubuhku kini menggigil ketakutan, tak dapat mengontrol emosiku sendiri. (Pov Liana).


***


"Liana sayang, ini Ibu sayang. Sadarlah!" Pinta ibu Liana yang panik melihat kondisi anaknya yang merontah histeris.


"Ayah bagaimana ini?" Resah Ibu Liana menangis.


"Dafina cepat panggil dokter!" perintah Ayah.


"Iya," jawab Dafina menuruti perintah Ayahnya.

__ADS_1


Dengan air mata bercucuran Dafina berlari sekuat tenaga untuk mencapai ruang perawat untuk meminta dipanggilkan dokter jaga.


Sedangkan Ayah dan Ibu masih mencoba untuk menyadarkan anaknya, "ini Ayah sayang, ini Ayah." Ayah memeluk tubuh Liana yang kini kejang.


"Ada Ayah disini! Ayah akan melindungimu. Bangun sayang!" Pinta ayah menangis. Sedangkan Ibu hanya bisa menangis dibelakang Ayah.


"Dokter tolong Kakak saya!" tunjuk Dafina setelah sampai didepan kamar Liana.


Dokter berlari masuk kedalam, mengecek kondisi pasiennya, agar bisa melakukan tindakan selanjutnya.


"Mohon keluarganya tunggu diluar!" Pinta sang Suster pada keluarga Liana, agar tidak mengganggu konsentrasi para Dokter.


Dengan pikiran yang kacau ketiganya menunggu dengan cemas.


"Ayah Kak Liana akan baik-baik sajakan?" Tanya Dafina menarik lengan baju Ayahnya.


"Pasti Kak Liana akan baik-baik saja?"


"Iya, Ayah benar. Kak Liana pasti akan baik-baik saja. Dia anak yang sangat kuat." terang ibu memeluk tubuh Dafina yang gemetar.


Tangis mereka tumpah di sebuah ketakutan akan kehilangan. Melihat suster berlarian kesana kemari untuk mengambil apa yang diperlukan sang dokter, entah apa itu?.


Setelah beberapa lama pintu terbuka, dokter keluar dengan wajah datarnya.


"Nona Liana baik-baik saja. Hanya saja dia mengalami trauma karena kejadian yang menimpahnya. Hal ini wajar dialami setiap orang jika mengalami hal-hal yang buruk." Jelas Dokter, yang tidak dapat dimengerti oleh Ayah itu kabar baik atau buruk untuk anaknya.


"Anda sekeluarga tidak perlu khawatir!" pinta sang dokter yang masih melihat kecemasan pada ketiga keluarga pasien.


"Nona Liana sudah saya beri obat penenang, dia akan tidur untuk beberapa jam. Dan untuk trauma dan cedera kakinya, akan kami jadwal terapi untuknya." Kini semua terjawab kekhawatiran mereka oleh keterangan dari sang Dokter.


"Terima kasih Dok!" ungkap Ayah. Ketiga raut wajah itu kembali tenang dan diberi sedikit senyuman dibibir mereka.


"Iya, saya permisi dulu!" pamit Dokter diikuti sang suster yang ada dibelakangnya, membungkuk hormat tanpa kata.


"Iya, silakan!" Jawab Ayah mempersilahkan.


"Ayah mau kemana? Jangan ganggu anak kita dulu, biarkan dia istirahat!" cegah Ibu menghalangi langkah Ayah untuk masuk kedalam.


"Lebih baik kita lihat keadaan menantu kita dulu" usul Ibu yang ingin mengetahui keadaan sang menantu, apa telah keluar dari ruang operasi atau belum?.


"Baiklah. ibu benar" setuju Ayah.


"Dafina jaga Kakakmu, Ayah dan Ibu ingin menengok Kak Arvin dulu" pesan Ayah.


"Ibu dan Ayah jangan khawatirkan Kakak! Aku akan menjaganya dengan baik." ujar Dafina.

__ADS_1


"Terima kasih sayang!" Ayah menggandeng tangan ibu saat berjalan, sedangkan Dafina sendiri kini masuk kedalam.


Dengan tatapan nanar Dafina memandang Liana yang terbaring diranjang rumah sakit. "Jari tangan kakak sangat bagus" puji Dafina yang sudah duduk disisi ranjang Liana sembari mengamati satu persatu jemari Liana.


"Bulu mata kakak sangat lentik."


"Oo...!" terkejut Dafina mendapati bulu mata yang jatuh dibawah kantung mata Liana.


Dengan satu jari Dafina mengambil bulu mata itu dan ditiupnya hingga menghilang dibawah angin.


"Semoga tidak akan ada lagi hal buruk yang terjadi pada kak Liana dan kak Arvin. Semoga!" Dafina memejamkan mata dan berdo'a dengan penuh kesungguhan.


Air mata kembali mengalir walau Dafina memejamkan mata.


"Hey... gadis sok tua, Kau menangis?" Seketika Dafina langsung membuka matanya.


"Kakak?" Dafina membesarkan matanya karena tak percaya kakaknya sudah dapat membuka matanya.


"Kau sudah sadar?"


"Memang kenapa? Kau tidak senang melihatku sadar?"


"Bicara apa kau ini?" tangis Dafina kini bertambah keras.


"yhaa Aku kan cuma bercanda. Kenapa Kau menangis?"


"Kenapa Kau jahat sekali padaku? Aku kan juga sangat khawatir padamu."


"Maafkan Aku! jangan marah ya!" Liana memutuskan untuk berhenti menggoda adiknya lagi. "Ayah dan Ibu..?"


"Ayah dan Ibu melihat keadaan kak Arvin" potong Dafina.


"Mungkin agak lama disana karena Paman dan Bibi belum datang" terang Dafina.


"Apa Arvin baik-baik saja?" Tanya Liana lirih.


"Tentu. Kak Arvin jauh lebih baik keadaannya dari pada Kakak sekarang ini" bohong Dafina demi kebaikan. Karena jika Liana mengetahui yang sesungguhnya, kalau Arvin harus dioperasi karena lukanya. Mungkin kondisi kakaknya akan semakin memburuk.


"Begitu ya, Syukurlah!" desah Liana lirih.


Beberapa saat Liana menutup matanya kembali. Mungkin karena obat yang diberikan dokter padanya sehingga Ia merasa sangat mengantuk lalu tidur kembali.


Sedangkan Dafina hanya duduk diam menemani Kakaknya yang telah terlelap tidur. Hingga beberapa saat Ia mulai bosan lalu ikut tidur disisi Liana dengan posisi terduduk.


***

__ADS_1


__ADS_2