Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kesedihan


__ADS_3

Sofi menangis sesunggukan disebuah taman didekat rumah, Ia tak berani pulang dengan keadaan yang seperti itu. Ia khawatir kalau ibunya akan sedih melihat keadaannya yang rapuh saat ini.


"Sofi kau menangis?" tanya Anita yang baru datang, setelah dipinta Sofi untuk datang menemuinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Anita ikut menangis. 


"Bagaimana ini? Apa yang harus Aku lakukan sekarang? Ini semua terlalu sulit untukku." Isak tangis Sofi semakin mengeras apa lagi saat Anita memeluk tubuhnya yang gemetar kerena shock menerima kenyataan yang sesungguhnya.


"Sttt ... sudah, jangan menangis lagi! Kuatkan dirimu!" pinta Anita menepuk punggung Sofi mencoba untuk menenangkan sahabatnya. 


Kesedihan tak berhenti pada Sofi saja, karena kesedihan malam ini juga dirasakan oleh Liana yang kini berdiri disisi ranjang Arvin yang sedang terlelap tidur dengan seragam pasien.


Akhirnya Ia memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan Arvin setelah beberapa hari hanya dapat berdiri diluar pintu dengan rasa bersalahnya.


Dengan tubuh yang ditopang oleh satu tongkat, Liana berjalan mendekat kearah ranjang. Ia menginginkan melihat Arvin lebih dekat lagi.


Padahal awalnya dirinya hanya ingin melihat sekilas lalu pergi, tapi entah mengapa? ego nya menginginkan yang lebih dan lebih.


Dapat Ia Liat perban putih yang terlilit pada perut Arvin karena kancing baju Arvin tidak terkancing dengan penuh. Selimut pun dibiarkan tak menutupi tubuh Arvin dengan baik.


"Dimana Ibu? Kenapa Arvin dibiarkan sendiri?" heran Liana yang seharusnya ada mertuanya yang menjaga Arvin saat ini. Tapi mengapa saat dia sampai disana tak ada seorangpun yang terlihat olehnya.


Tentu saja, karena Ibu Arvin kini bersembunyi di luar pintu kamar Arvin. Ia tak ingin mengganggu kebersamaan Liana dengan Arvin.


Dan tak ingin juga ada yang menggangu, seperti seorang perawat yang ingin mengecek infus Arvin pun dilarang oleh Ibu Arvin.


"Aku harap setelah malam ini, tidak ada lagi pemikiran yang menahan kalian untuk bersama." gumam Ibu berjalan pergi dari sana.


Disentuhnya dengan hati-hati perban yang membalut luka kemarin malam, agar tak mengganggu waktu istirahat Arvin.


"Maaf! Maafkan aku! Ini semua salahku. Andai saja aku bisa bertahan dan tidak pergi dari pesta itu mungkin keadaannya akan lain".

__ADS_1


Dengan cepat Ia membungkam mulut yang akan mengeluarkan isak, karena mungkin suara tangisnya bisa saja membuat Arvin terbangun.


"Aku lebih memilih untuk merasakan sakit dihati melihatmu bersama kak Alya dari pada harus melihatmu terluka karenaku" ucapnya hanya dapat Ia sampaikan dihatinya saja.


Ternyata begitu banyak hati yang terluka dimalam ini, termasuk juga dengan Tirta.


Rasa bersalah karena merasa dirinya lah penyebab kematian Ayah gadis yang dicintainya, kehilangan pendengaran, sekaligus kehilangan mimpinya menjadi seorang pemusik.


Ia menitihkan air mata saat menatap nanar pada sebuah gitar yang sudah usang disisi almarinya.


Bayangan lama terputar kembali diotak Tirta, ketika dirinya masih dipenuhi dengan sejuta mimpi dimasa depan yang perlu Ia capai.


Namun hanya karena satu hari telah merusak segalanya. Dan kini karena masa lalu itu Ia juga kehilangan gadis yang ia cintai. 


Dibukanya sebuah buku lama yang masih Ia simpan dengan baik, yang dipenuhi dengan susunan nada dan beberapa syair yang menyertainya.


Dimainkannya senar-senar gitar dan menghasilkan sebuah nada yang indah. Tepat pada salah satu bagian nada yang Ia yakini bahwa pada saat itulah seharusnya Ia mulai lantunkan.


Ibu Tirta yang dapat mendengar alaunan lagu itu dari luar kamar, menangis sesunggukan tepat didepan pintu kamar Tirta.


"Maafkan Ibu yang tidak sanggup membawa cintamu kembali!"


Dan sepertinya sang hujan juga ikut andil dalam malam yang dipenuhi oleh manusia yang menangis karena hati yang terluka oleh sebuah keadaan yang tak tepat.


***


Setelah sepanjang malam diguyur hujan, pagi ini terasa lebih sejuk dan semerbak aroma tanah yang sangat menyengat membuat Arvin terbangun dari tidurnya, ketika seorang perawat membuka jendela kamar Arvin yang sebelumnya tertutup rapat.


"Selamat pagi! Hari ini sengaja pintu jendela saya buka karena udara diluar sangat segar" celetuk sang perawat itu saat mengetahui Arvin telah terjaga dari tidurnya.


Sedangkan Arvin hanya tersenyum ramah dan tak lupa Ia juga mengucapkan kata, "terima kasih!".

__ADS_1


Sesaat kemudian pandangan Arvin tertuju pada seorang gadis yang tertidur disisinya dengan posisi terduduk dan kepala yang terpendam dikedua tangan yang terlipat.


"Dia sudah berada disini sebelum saya datang, sepertinya dia datang malam-malam dan tertidur disini," duga sang perawat.


"Kamu beruntung mempunyai istri seperti dia, padahal masih sakit tapi masih ingin menemanimu disini," ungkap sang perawat sembari mengecek kestabilan infus Arvin.


"Beberapa hari lalu saya melihat Istrimu selalu datang tapi tak berani masuk. Ia hanya berdiri diluar pintu untuk beberapa lama lalu pergi" ulas sang perawat menceritakan apa yang Ia lihat.


"Tapi sepertinya Ia sangat merindukanmu, karena itu dia memberanikan diri untuk masuk," duga sang perawat tersenyum geli.


"Kalian pasangan muda sangat lucu, sama-sama rindu tapi malu untuk menyatakannya".


Arvin yang mendengar penuturan itu langsung tertunduk tersipu malu.


"semua pemeriksaan sudah selesai untuk pagi ini. saya tinggal dulu!"


"Terima kasih!" Arvin mempersilakan perawat itu dengan sikap yang sopan. 


Dipandangi dengan penuh teliti kearah wajah Liana yang terlihat hanya separuh saja, didapatinya sebuah bekas air mata yang mengering tertinggal dipipi Liana.


"Apa dia habis menangis karena mengkhawatirkan ku?" tanya Arvin pada dirinya sendiri.


Dan beberapa saat kemudian Ia tertawa kecil, sesaat setelah menyadari bahwa di pipi Liana bukan hanya bekas air mata yang terdapat disana, tapi bekas air liur pun ada.


Diambilnya selimut yang mentutupi separuh badannya dan dialihkan pada Liana. Berharap dengan Ia menyelimutinya, Liana tidak akan kedinginan karena udara pagi ini.


Ia teringat kembali saat malam tragedi itu, Liana berusaha mati-matian untuk menyelamatkan dirinya.


"Seharusnya aku tidak menyakitinya dengan semua kebingungan ku," dibelai lembut rambut Liana sembari berpikir keras tentang keputusan yang akan dirinya ambil kedepannya.


***

__ADS_1


__ADS_2