Love'S Feeling

Love'S Feeling
Pergi untuk Kembali 2


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Suara bel tanda selesainya waktu belajar mengajar untuk hari ini, seluruh siswa-siswi berhambur keluar dari kelas.


Terdapat senyum kelegaan diwajah para murid yang seharian telah menguras otak untuk memikirkan teori-teori yang diberikan para guru mereka.


“Dafina!” panggil seorang pria dari seberang jalan.


“Kakak?” Dafina begitu terkejut saat mengetahui orang yang memanggilnya adalah Arvin.


“Hey!” Dengan senyuman manis Arvin melambaikan tangan.


“Siapa Kakak itu Dafina? Dia terlihat sangat tampan,” puji salah satu kawan Dafina.


“Namanya kak Arvin. Dia suami kakakku, jadi jangan macam-macam padanya!” kecam Dafina yang mengetahui gelagat teman-temannya yang sangat kecentilan.


“Hey ... cantik, bagaimana kabarmu?” Sapa Arvin yang berbasa-basi. 


“Kakak mengganti model rambut ?” Tanya Dafina melihat perbedaan penampilan Arvin antara dulu dan sekarang.


“Apa terlihat jelek?” tanya Arvin mencari pendapat tentang tatanan rambut bergaya Dandy yang sangat disukai oleh Liana.


“Tidak, malah semakin tampan. Teman-temanku saja hampir tidak berhenti berkedip melihatmu,” sindir Dafina menatap sinis pada para temannya yang masih melihat Arvin seperti seorang idola, yang membuat mereka tersenyum kegirangan.


“Benarkah? Terima kasih atas pujiannya,”.


“Itu bukan sebuah pujian tapi semua yang aku katakan adalah hal yang sesungguhnya. Kakak memang benar-benar tampan dengan rambut berponi”.


“Sebenarnya aku lakukan ini semua hanya untuk menunjukkan pada seseorang. Dia sangat menyukai penampilan pria yang seperti ini,” Arvin menata poninya yang terbelah samping.


“Siapa?” Tanya Dafina penasaran.


“Ikut kakak yuk! Kakak ingin bicara sesuatu padamu,” Arvin mengalihkan pembicaraan dengan cara mengajak Dafina pergi.


Digandengnya tangan Dafina yang tiga kali lipat lebih kecil dari tangan Arvin.


"Kemana?"


"Ketempat yang enak buat kita untuk berbicara," dari apa yang dikatakan oleh Arvin, sepertinya Ia tidak memiliki tempat tujuan setelah ini.


“Kakak traktir aku makan!” Dafina memberikan syarat.


"Baiklah," setuju Arvin.


"Aku yang pilih tempatnya,". "Setuju?"


"Setuju!". Keduanya pun pergi dari kerumunan beberapa siswi yang masih menatap kagum pada ketampanan Arvin.


Disebuah café Arvin dan Dafina duduk disisi kaca. Secangkir kopi panas yang dipesan Arvin dan segelas jus alpukat ditambah sepotong kue coklat yang kini disantap lahap oleh Dafina sampai habis.


“Dafina ingin tambah lagi kuenya?” tawar Arvin.

__ADS_1


“Sudah cukup ini saja. Sekarang kakak ingin bicara apa padaku?” Tanya Dafina to the point.


“Apa tentang Kakakku?” Tanya Dafina sekali lagi namun Arvin tidak menyauti.


“Kabar Kak Liana sangat baik. Dia sangat senang dengan kehidupannya yang sekarang,” jelas Dafina.


“Begitu ya,” terdapat nada kecewa yang terucap dibibir Arvin walau ada senyum yang menyertai.


“Apa Kakak kecewa mendengarnya?” Arvin tersenyum kecut sedangkan Dafina masih bicara dengan nada standart.


“Apa sampai sekarang kakak menyesal telah menceraikan kak Liana?”


“Tidak. Karena aku masih suaminya. Aku hanya menyesal membiarkan istriku pergi bersama pria lain,” ungkap Arvin.


“APa?” sontak Dafina terkejut. “Jadi ...”


“Iya, aku masih suami kakakmu sekaligus aku masih kakak iparmu,” terang Arvin.


“Bagaimana bisa? Bukankah kalian sudah bercerai? Permainan apa lagi yang kakak mainkan?”


“Aku hanya ingin mengakhirinya sesuai perjanjian. Dan kurang dari satu minggu lagi semuanya akan berakhir,” bongkarnya.


“Sebenarnya kakak menemuimu hanya untuk berpamitan padamu.”


“Memang kakak mau kemana?” tanya Dafina tak sabaran.


“Tentu saja kembali ke rumah Kakak,". "kakak sudah tidak memiliki siapapun yang dapat menahan kakak untuk tetap disini".


“Maksudmu Alya?”


“Iya”.


“Kakak dan Alya sudah memutuskan untuk berteman saja. Dan dia sekarang berada di Italy untuk melanjutkan sekolahnya disana”.


“Begitu ya,” desah Dafina lirih. “kapan kakak akan berangkat?”.


“Setelah kakak resmi bercerai dengan kakakmu,” Arvin menjawab semua pertanyaan dari Dafina tanpa ada salah sedikitpun.


“Apa kakak benar-benar mencintai kak Liana?” Tanya Dafina memastikan, tapi Arvin hanya diam dalam senyum.


“Jika aku bilang kak Liana tidak pernah pergi, Apakah kakak akan tetap tinggal disini?” ceplos Dafina.


“Apa maksudmu? Apa dia masih disini?”


“Tidak. Aku tadikan hanya bilang mungkin,” ucap Dafina terbata-bata.


“Tunggu sebentar! Kakak terima telpon dulu” pembicaraan itu terpotong oleh sebuah panggilan yang sepertinya sangatlah penting bagi Arvin.


“Iya,” dengan memainkan sedotan Dafina mencoba untuk mengusir kesendiriannya saat ditinggal Arvin menerima telepon. 


“Dafina maaf, kakak harus pergi sekarang. Kakak akan mengantarmu pulang!” Ada raut kecemasan diwajah Arvin setelah menerima telepon itu.

__ADS_1


“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, aku bisa naik bus dihalte depan,” ucap Dafina tak mau merepotkan.


“kau yakin?"


"Tentu, aku sangat mengenal daerah sini."


"Kalau begitu kakak tunggu sampai busnya datang,” ucap Arvin masih mencemaskan adik iparnya itu.


“Baiklah,” setuju Dafina.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Arvin dan Dafina berjalan menuju halte bus. Tak sampai lima menit bus yang dimaksudkan telah datang.


“Itu busnya sudah datang!” Arvin melihat bus dari kejauhan.


“Kakak aku ingin memberi tahu suatu hal padamu,” ragu Dafina.


“Katakan!”


“Kak Liana, dia …”


Thinttthhhinn… Suara klakson bus yang baru datang menghentikan perkataan Dafina.


“Cepatlah masuk!” pinta Arvin yang tak ingin membuat Dafina ketinggalan busnya.


“Iya” Turut Dafina karena jika ketinggalan pasti akan menunggu lebih lama lagi.


“Kak Arvin, sebenarnya kak Liana tidak pernah pergi bersama pria itu,” bongkar Dafina setelah membuka jendela bus.


“Maksudmu?”


“Dia masih disini. Dia tidak pernah pergi dengan pria itu karena kak Liana sadar, dia tidak akan bisa mencintai pria lain selain kakak,” teriak Dafina karena bus mulai melaju.


Dengan sekuat tenaga Arvin berlari untuk mengejar bus, untuk menanyakan keberadaan gadis yang dicintainya.


“Dafina beri tahu kakak! Dimana kak Liana sekarang?” teriak Arvin.


Tapi apa daya ia hanya manusia biasa yang tidak dapat mengejar laju bus yang sangat kencang.


Bus semakin menjauh dan suara Dafina pun tak dapat didengar lagi olehnya, Meski Dafina berteriak sekencang mungkin, namun suara mesin bus mengalahkan suara Dafina.


Disatu sisi Dafina yang tahu hal itu, mencoba untuk memakluminya.


“Kakak tenang saja, aku akan membawa kak Liana kembali. Jadi tunggulah sebentar lagi!” Janji Dafina hanya bisa didengarnya sendiri. 


 


Sesampainya dirumah Dafina langsung berkemas, Ia juga memecahkan tabungannya sebagai ongkos untuk menyusul kakaknya kesebuah desa dipinggiran kota, sesuai dengan alamat yang diberikan Liana padanya.


Dafina pergi secara diam-diam tanpa izin pada kedua orang tuanya, tapi Ia meninggalkan sepucuk surat yang berisi kemana dirinya akan pergi dan untuk apa.


Dengan harapan yang sangat besar untuk menyatukan dua kakaknya kembali, Dafina menaiki satu bus yang memiliki satu tujuan yang sama dengannya, tanpa rasa takut meski ini pertama kalinya Ia bepergian sendiri ketempat yang lumayan jauh dari rumahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2