Love'S Feeling

Love'S Feeling
Jodoh yang Dilindungi Ayah


__ADS_3

“Selamat pagi!” bisik Tirta pada telinga Sofi yang masih sibuk dengan sejuta mimpinya.


“Sayang bukankah kau harus bangun sekarang!” dibelainya lembut rambut Sofi, dan kini Tirta berhasil mengusik tidur Sofi.


“Hey!” Tirta tersenyum pada Sofi yang telah membuka mata tak penuh. 


“Ehm!” Sofi menghela nafasnya sedikit panjang mencoba mengkumpulkan kesadarannya yang belum seratus persen terkumpul.


“Tirta kau!” Mata Sofi terbelalak saat tersadar bahwa dihadapannya saat ini adalah Tirta dan Ia tahu sekali keadaannya sekarang pasti sangat berantakan. Dan seharusnya Tirta tidak melihat semua itu.


"Akhkk!" Teriak Sofi yang kesadaran sudah kembali, namun kini dirinya kehilangan akal akibat shock.


"Ada apa?" Tanya Tirta ikut panik, matanya langsung mencari penyebab yang membuat wajah sang kekasih tegang.


Sofi menghela nafas, melihat sang kekasih lebih panik dari pada dirinya.


Dipegangnya wajah Tirta, lalu dihadapkan pada dirinya.


"Apa ini? Kenapa Kau lebih cemas dari pada diriku?" tanya Sofi, setelah dirinya merasa Tirta memperhatikan dirinya.


"Tadi Aku hanya terkejut melihatmu berada di kamarku, hanya itu." lanjut Sofi bicara secara lembut, tak perduli lagi tentang penampilannya kini.


“Aku hanya ingin mengajakmu kesuatu tempat. Jadi aku membangunkanmu pagi ini,” ucap Tirta utarakan tujuannya.


“Harusnya kau beri tahu aku saja kemarin! Pasti aku akan bersiap-siap. Tidak perlu membangunkanku seperti ini,” ucapnya dengan nada sedikit kesal.


“Sekarang keluarlah!” Sofi mendorong tubuh Tirta keluar dari kamarnya. Dikunci rapat pintu kamarnya berharap Tirta tidak dapat menyelonong masuk lagi.


Terlihat didepan kaca wajah yang kusut, rambut yang berantakan, sangat tak pantas untuk diperlihatkan pada kekasihnya.


“Bagaimana ini?” rengeknya yang sangat malu memperlihatkan wajah yang menurutnya sangat jelek. 


Dipersiapkan dirinya sebaik mungkin agar kesan beberapa waktu yang lalu dapat terhapus dari ingatan Tirta, dan tertinggal hanya sebuah kesan bahwa dirinya sangat bersih dan rapih.


Dihampirinya Tirta yang duduk tenang diruang tamu dengan suguhan yang mungkin dibuatkan oleh Ibunya. 


“Kau sudah siap?” Tanya Tirta yang melihat Sofi telah berdiri dihadapannya saat ini. 


“Lain kali jangan ulangi hal itu lagi!” 


“Hal apa?” Tanya Tirta dengan wajah tanpa rasa bersalah.


“Masuk kekamar tanpa sepengetahuanku, apalagi saat aku sedang tidur,” terang Sofi.


“Memang kenapa?” 


“Aku malu. Wajahku sangat jelek saat aku bangun tidur,” Tirta tersenyum geli mendengar penuturan Sofi. 

__ADS_1


“Kenapa tersenyum? Apa ucapanku ada yang lucu?” 


“Tentu saja lucu. Kau sebentar lagi akan jadi istriku, jadi aku akan melihatmu setiap pagi dengan wajah yang seperti itu. Lalu untuk apa kau malu? anggap saja ini sebagai permulaan. Mengerti?” tutur Tirta membuat Sofi manggut-manggut mengerti. 


“Ibu sudah siap. Ayo kita berangkat sebelum hari menjadi siang!” Ajak Ibu Sofi yang baru bergabung setelah bersiap diri untuk pergi keluar.


“Memang kita mau kemana?” Tanya Sofi yang tidak tahu apa-apa. 


“Kita akan kemakam Ayahmu,” jawab Ibu.


“Makam ayah?” 


“Iya. Tirta yang meminta untuk bertemu Ayah sebelum dia resmi menjadi suamimu,”.


pandangan Sofi beralih pada Tirta, Ia menatap penuh rasa bangga pada calon suaminya. 


Ketiganya berangkat kemakam ayah dengan membawa taburan bunga dan juga seikat bunga lili putih.


Tatapan nanar terpancar dari ketiganya saat menghadap makam ayah. 


“Suamiku lihatlah! Aku datang bersama Sofi dan calon menantumu. Kau ingat Tirta kan?" Tanya Ibu nadanya tersendat sesaat.


"Kau tahu dia pemudah yang baik. Pasti kau setuju jika anak kita menikah dengannya,” lanjut Ibu tak dapat membendung air matanya.


“bicaralah pada Ayahmu!” suruh Ibu pada Tirta. 


“Ayah aku datang untuk meminta restu darimu. Aku ingin menjadikan Sofi sebagai pengantinku. Aku berjanji padamu, aku akan melindungi Sofi seperti Ayah telah melindungiku 13 tahun yang lalu,”.


“Lihatkan Ayah? Dia mencintaiku lebih besar dariku. Jadi ayah bisa tenang sekarang disana!” benak Sofi yang dapat berimajinasi Ayahnya yang kini tersenyum dihadapannya.


"Terima kasih karena Ayah telah melindungi Tirta ku. Dan kini giliranku untuk menjaga orang yang sangat ayah lindungi,” imajinasi yang berwujud Ayah kini mengangguk padanya masih dengan seyuman dibibirnya.


“Aku menyayangimu Ayah. Aku sangat merindukanmu,” mata Sofi berlinang air mata.


***


Anita sangat kesal yang mencoba untuk membangunkan Rendi sedari tadi, tapi Suaminya itu tetap saja tak kunjung terbangun dari tidurnya.


“Sayang ayo bangun!” pinta Anita menggoncang-goncang tubuh Rendi.


“Sayang ayolah! Kitakan sudah sepakat untuk mencuci selimut dan beberapa pakaian yang menumpuk!” Ujar Anita mengingatkan yang sama sekali tak digubris oleh Rendi. 


Malah Rendi yang sedari awal malas untuk bangun, mencoba menghentikan cara Anita yang berusaha membangunkannya dengan menarik paksa lengan Anita dan terjatuh kepelukannya. 


“Apa yang kau lakukan?” 


“Lima menit saja. Biarkan seperti ini!” pinta Rendi.

__ADS_1


“Hanya lima menit aku ingin bermanja dengan istriku pagi ini,” Dipeluk tubuh Anita semakin erat.


“Tapikan kita harus menyelesaikan tugas kita. Kalau tidak, semuanya tidak akan kering hari ini,” protes Anita.


“Aku tahu. Aku hanya meminta waktu lima menit saja, apa itu berlebihan untukmu?” 


“Baiklah hanya lima menit, tidak lebih” Anita memberi kelonggaran.


“Iya hanya lima menit,” Dibalikkan tubuh Anita yang awalnya memunggunginya.


“Apa kau bahagia menikah denganku?” Tanya Rendi.


“Lebih dari yang kau bayangkan. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan atau mungkin lebih dari itu,” jawab Anita dengan senyuman tak terlihat namun bisa dirasakan oleh Rendi.


 


“Syukurlah dihidup ini, aku mempunyaimu dan Reta,” Lontar Rendi penuh kelegaan.


Suara tangis Reta yang terbangun membuyarkan adegan romantis antara ayah dan Ibunya. 


Dengan cepat perhatian Rendi beralih keputrinya yang memang posisinya dibelakang Rendi.


"Ooh ... Reta sayang! Anak Ayah terganggu tidurnya karena Ibu yang pagi-pagi sudah berisikan ya?" ujar Rendi melimpahkan semua kesalahan pada Anita.


Diambilnya botol susu yang berada disisi Reta untuk menenangkan tangisnya, dan beberapa saat kemudian Reta pun kembali tertidur.


"Sepertinya Reta sudah tertidur," ucap Anita memperhatikan.


"Ayo kita cuci baju sekarang!" ajak Anita.


"Bagaimana kalau Reta bangun lagi?".


"Tidak akan. Ini jam Reta untuk tidur, dia akan terbangun setengah sampai satu jam lagi,"lontar Anita mengerti benar bagaimana anaknya.


"Jadi jangan buat Reta menjadi alasan kemalasan mu," sindir Anita yang tidak mudah dikelabui.


Ditarik kembali tubuh Anita yang terduduk di sisinya, dengan sekejap tertidur dengan bantalan lengannya.


“stt ...”Rendi menghentikan ucapan Anita mencium secara cepat dibibir Anita.


"Jangan bicara lagi! Jika kau bicara lagi akan aku buat diam dengan ciuman ku,“ ancam Rendi mencegah Omelan Anita.


"Kita jarang untuk libur, jadi biarkan kita bermalas-malasan saja hari ini. Dan sekali- sekali mencuci di loundry tidak akan membuat kita jatuh miskin. Jadi sebaiknya kau berhentilah mengomel! Mengerti?” tutur Rendi dengan senyum diwajahnya. 


“Baiklah aku mengalah,” pasrah Anita.


Dikecup lembut kening Anita lalu berucap, "aku mencintaimu!".

__ADS_1


"Cintaku lebih besar darimu," Ungkap Anita tak mau kalah untuk menunjukkan rasa cintanya.


***  


__ADS_2