Love'S Feeling

Love'S Feeling
Jangan tunjukkan lukamu


__ADS_3

Liana memasak menu baru yang sengaja dirinya pelajari dari internet, Ia kerjakan penuh dengan ketulusan.


"Semoga nenek suka dengan masakanku," harap Liana mencium aroma masakannya sediri yang berbau sedap.


Ditata rapi meja makan, piring, gelas, dan beberapa sendok dan garpu. Bak sebuah restaurant berbintang, Liana mencoba menatanya hingga sedemikian rupa.


Setengah jam, bibirnya masih dengan senyuman. "Apa mungkin Nenek sekarang ada dirumah ibu? Ya sudahlah aku tunggu saja pasti sebentar lagi Nenek dan Arvin juga pulang," ucap Liana menduga-duga.


Satu jam berselang, semangat mulai meredup.


Dua jam, Liana tak sengaja tertidur hingga berselang sejam.


Makanan yang tersaji dijam setengah tujuh kini menjadi dingin dijam setengah sepuluh malam.


"Sudah larut malam mereka belum juga kembali. Apa aku tanya saja pada Arvin?".


Dengan segera Liana menghubungi ponsel Arvin yang kini sedang mengikuti rapat, "Aku sedang sibuk, nanti Aku akan menelpon mu!" jelas Arvin dengan segera menutup telponnya.


Namun Liana tak jerah dia menghubungi kembali ponsel Arvin, walau dia tahu bahwa Arvin sedang sibuk. "Apa lagi? Aku sedang rapat," geram Arvin yang hanya bisa berbisik.


"Jangan tutup dulu!" cegah Liana.


"Aku hanya ingin tanya, nenek ada dimana? Kenapa sampai sekarang nenek belum juga pulang?" Lanjut Liana.


"Nenek sudah kembali pulang tadi siang," jawab Arvin.


"Apa?"Liana tercengang. Dengan segera Arvin menjauhkan sedikit ponselnya karena lengking suara Liana sangat keras.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku?"


"Sudah aku coba untuk menelfonmu berkali-kali bahkan aku juga mengirim pesan pada ponselmu namun tak ada jawaban darimu," perjelas Arvin.


Seketika Liana langsung ingat bahwa siang itu ponselnya dipinjam Anita, bahkan Anita memberitahunya ada telfon dan pesan dari Arvin namun Ia tak memperdulikan malah ia asik sendiri mengobrol dengan Sofi.


"Begitu ya," lesu Liana.


"Sudahlah nanti saja kita bahas," Arvin ingin menutup telepon seluler yang terhubung, tapi suara lirih Liana yang terdengar sedih mencegah dirinya.


"Padahal aku sudah merasa senang bisa tinggal bersama nenek. Walau banyak bicara dan ingin menang sendiri, tapi setidaknya aku punya teman ngobrol saat dirumah. Jujur selama ini aku merasa sangat kesepian dirumah," desah Liana lirih mengungkapkan semua isi hatinya.


"Hahh..." Liana tersenyum kecut, "bicara apa sih aku ini?" Liana menahan tangis.

__ADS_1


"Ya sudah sekarang aku akan menutup telponnya, selamat bekerja! Dah Arvin!" Liana memutuskan komunikasinya lalu berjalan masuk kedalam kamar untuk merebahkan tubuhnya yang merasa sangat lelah hari ini.


"Kenapa semuannya terasa melelahkan hari ini? Sebaiknya aku tidur lebih awal hari ini" Liana mematikan lampu kamarnya dan terlelap didalam kegelapan malam.


"Ya memang ini lebih baik, setidaknya aku bisa kembali tidur di kamarku sendiri," Liana mencoba berpikir positif agar rasa kecewa itu sedikit meredam.


Walaupun sudah hampir tengah malam Arvin menyempatkan dirinya untuk mampir kerumah Liana.


Karena entah mengapa perasaan Arvin menjadi aneh setelah mendengar penuturan Liana ketika ditelfon tadi.


Arvin menekan bell dirumah itu beberapa kali dan akhirnya ada sautan. Ternyata itu ibu mertuanya.


"Arvin?" Ibu Liana begitu terkejut saat melihat menantunya yang datang malam-malam.


"Ibu, aku ingin menjemput Dafina untuk tidur dirumah. Bolehkan?" Izin Arvin.


"Tentu saja boleh, tapi Dafina sudah tidur dari tadi," jelas Ibu Liana.


"Tidak masalah, biar aku mengendongnya".


"Iya, baiklah. Ayo aku antar kekamarnya!" Tanpa bertanya apa pun Ibu Liana langsung mengizinkan menantunya itu untuk mengambil anak keduannya.


Karena Ibu sudah sangat percaya pada Arvin mungkin ada satu hal yang membuat Arvin datang semalam ini.


"Baiklah bu, saya langsung saja pulang!" pamit Arvin.


"Maaf telah mengganggu tidur Ibu!" santun Arvin.


"Tak ada masalah, hati-hati dijalan Arvin!"


"Iya pasti" ujar Arvin.


"Ayah, selamat malam!" sapa Arvin melihat Ayahnya yang baru keluar.


"Malam!" jawab Ayah.


Arvin dan Dafina pun berlalu, meninggalkan Ibu dan Ayah diluar halaman. 


"Kenapa selarut ini menantu kita menjemput Dafina?" tanya Ayah yang begitu penasaran.


"Ibu juga tidak tahu" jawab Ibu langsung masuk kedalam rumah. 

__ADS_1


"Ibu! Ayah belum selesai bicara, kenapa ditinggal begitu saja sih?" Ayah tak terima begitu saja dengan jawaban yang dilontarkan oleh Ibu atas pertanyaannya.


***


Sedangkan disisi lain Arvin yang menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi kini dirinya telah sampai dirumah.


Ia menggendong Dafina sampai kedepan tempat tidur Liana, lalu secara perlahan ia mentidurkan Dafina disebelah Liana yang tertidur lelap saat itu.


"Bisakah kau tidak menunjukan kelemahanmu lagi padaku! Entah kenapa aku sangat tersiksa melihatmu seperti itu?" Gumamnya saat memandang penuh kearah Liana yang tertidur lelap.


Keesokan harinya saat Liana terbangun dari tidurnya, Liana bisa menemukan Dafina yang masih tertidur pulas disampingnya.


"Dafina? Kapan kau kemari? Kenapa kau tidak bilang mau tidur disini?" Tanya Liana yang begitu bahagia saat mendapati adiknya telah berada diranjangnya. "Dafina?"


"Apa sih? Aku masih ngantuk, jangan ganggu aku!" bentak Dafina yang merasa kesal dengan Kakaknya.


"Baiklah.. baiklah.. aku tidak akan mengganggu tidurmu" ungkap Liana yang mengerti betul sifat adiknya yang tak ingin diganggu saat ia sedang tidur.


"Dafina terima kasih, aku senang kau disini" Liana memeluk adiknya erat, karena tak dapat menahan kebahagiaannya.


"Yakk.. berhenti menggangguku!" teriak Dafina yang kini menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Iya ... iya ... sensitif sekali" ungkapnya dengan senyum dibibirnya.


Tak ingin membuang waktu lama lagi Liana pun berlari menuju depan kamar Arvin. Ia buka pintu yang tak tertutup sempurna


"Arvin! Apa kamu sudah bangun?" lirih Liana tuk memastikan Arvin telah bangun apa belum.


"Dia masih tidur," gumamnya mendekat dan duduk disisi Arvin lalu berbisik, "terima kasih!".


"pasti kau sangat kesulitan, bukan?" tatap Liana.


"aku berjanji, aku tidak akan menyulitkanmu lagi dengan keluh kesahku dimasa mendatang," Liana tersenyum dan ingin meninggalkan tempat itu dengan perlahan, tanpa suara agar Arvin tidak akan terbangun dari tidurnya.


Namun sesuatu menahannya, lengan Liana ditarik kuat hingga terjatuh diatas tubuh Arvin. ternyata Arvin sudah terbangun sejak awal dan telah mendengar segalanya.


Dengan tatapan yang sangat dekat Arvin berucap, "Aku harap kau memegang ucapanmu itu!".


Tatapan tajam Arvin membuat jantung Liana mulai berpacu cepat, untuk mengurangi hal itu Liana berkedip cepat, mendahem lalu melepaskan diri dengan cepat, "aku akan siapkan sarapan untukmu," Liana berlalu.


Dan Arvin masih meneruskan ucapannya yang tak mampu diucapkan didepan Liana, "jangan menunjukan lukamu lagi! Karena aku tidak akan tahan".

__ADS_1


***


__ADS_2