Love'S Feeling

Love'S Feeling
Monster berwajah lembut


__ADS_3

"Huhh.. kenyangnya! Rasanya perutku hampir meledak karena kekenyangan" desah Liana seraya bersandar disandaran kursinya. Sesaat itu Arvin tersenyum agak lebar mendengar penuturan Liana. 


"Minum obatmu!" Arvin menyodorkan empat butir obat yang wajib Liana minum setiap harinya dan sebagai pelengkap Arvin memberi segelas air putih untuk menghilangkan rasa pahit dari obat itu. 


"Sudah habis, aku telan semuanya" Liana menunjukan tangan yang tadinya penuh dengan obat kini telah kosong. 


"Sekarang ayo ikut aku!" 


"Kemana lagi? Apa masih ada makanan lagi? itu saja belum aku habiskan" duga Liana.


"Siapa yang ingin memberimu makanan lagi? makanan tadi saja aku sudah hampir menyerah untuk membuatnya" ujar Arvin yang masih menarik lengan Liana, membimbingnya masuk ke dalam kamar Liana. 


"Jadi semua itu Kau yang membuatnya?" Tanya Liana meragukan kemampuan Arvin.


"Tentu saja, lalu siapa lagi yang bisa membuat makanan seenak itu kalau bukan aku" ungkap Arvin memuji diri sendiri.


Setelah mendengar penuturan dari Arvin, pandangan Liana langsung berfokus pada satu jari yang terbalut oleh perban putih bening. "Dia berusaha begitu keras" pemikiran Liana.


"Sudah cepat tidur! Kau harus banyak beristirahat jika ingin cepat sembuh" perhatian Arvin, menyelimuti tubuh Liana tak penuh.


"Lalu kau sendiri, mau kemana? 


"Tentu saja kembali kekantor. Aku harus tinggalkan pekerjaanku hanya untuk membuatkan makan siang untukmu" ujar Arvin menunjukan tangan yang diperban.

__ADS_1


"Apa terasa sakit?" tanya Liana tentang perkembangan luka Arvin.


"Tidak sebanding dengan hasil yang aku dapat". "Karena aku bisa melihatmu makan dengan lahap."


"Istirahatlah! Jika membutuhkan sesuatu atau apa pun itu. Segera telfon Aku!" perintah Arvin pada Liana.


Arvin mengusap lembut rambut Liana sebelum Ia mencoba melangkah pergi. 


"Arvin" panggil Liana seraya menggenggam tangan Arvin tuk cegah langkah Arvin. 


"Apa?" 


"Bisakah kau tetap disini bersamaku! Setidaknya sampai aku tertidur. Bisakan?" pinta Liana penuh harap.


"Tidak perlu" Liana meraih tangan kanan Arvin dan ditaruhnya dipundaknya. "Cukup tepuk-tepuk saja pundakku sampai aku benar-benar tertidur!" 


"Hanya itu?"


"Ehm" angguk Liana pelan.


"Baiklah. Seperti inikan?" tanya Arvin memperaktekan. 


"ehm" angguk Liana sekali lagi.

__ADS_1


Liana mencoba memejamkan matanya meski tak merasa mengantuk. Apalagi saat pemikiran aneh mulai memenuhi pikirannya, mata yang tertutup pun dapat meneteskan air mata.


Arvin yang mengetahui itu mulai dirundung kekhawatiran akan keadaan Liana, "Liana kau kenapa? Apa kepalamu terasa sakit lagi?"


Setetes lagi air mata Liana terjatuh pada kelopak mata yang tertutup, dan beberapa detik kemudian suara Liana lembut Lian mulai didengar oleh Arvin. "Kau tahu? Terkadang aku berpikir, posisiku yang seperti ini membuatku seperti tokoh shin chae gyoung. Tapi diwaktu yang berbeda aku merasa diriku bukanlah shin chae gyoung melainkan min hyeorin."Liana membuka mata dan menatap nanar wajah Arvin.


Liana mendesah panjang tuk kurangi sesak di hatinya. Dan kembali berucap, "Hah.. sungguh mengerikan bukan? sesaat aku bisa jadi gadis polos dan sesaat kemudian aku bisa menjadi moster berwajah lembut" tutur Liana hanya mendapatkan pandangan tak mengerti dari Arvin.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu itu."


Liana tersenyum pahit seraya menghapus beberapa tetes air mata yang terlanjur mengalir. "Bukan apa-apa. Lupakan saja ucapanku yang baru saja kau dengar!"


"Sudah jangan banyak berpikir! Sebaiknya kau tidur sekarang!" Pinta Arvin yang tangannya sibuk membenahi selimut Liana yang sebenarnya tak butuh untuk dibenahi.


"Baiklah" patuh Liana memejamkan matanya kembali dan tak lama kemudian Ia tertidur pulas.


Dan kini tinggal Arvin yang terjaga sendiri, memandangi penuh teliti wajah Liana yang masih terlihat pucat. Disalah satu waktu Arvin dapat melihat kening Liana mengkerut, seperti seorang yang tengah bermimpi buruk. Dengan sebuah kata-kata ajaib yang selalu diucapkan semua orang, jika mimpi buruk dialami oleh orang terdekat mereka. "Tidak apa-apa! Aku berada disini bersamamu" Arvin menepuk pelan lengan Liana yang tertutup penuh oleh selimut.


"Cepatlah sembuh! Dan aku minta jangan sakit lagi! Apa lagi kalau itu karena aku" desah Arvin lirih saat Ia benar-benar yakin bahwa Liana telah tertidur lelap disisinya. Disentuhnya lembut rambut Liana yang terurai.


"Maafkan aku!" sesal Arvin sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Liana yang terlelap tidur.


***

__ADS_1


__ADS_2