Love'S Feeling

Love'S Feeling
Yang Dirindukan


__ADS_3

Setelah turun dipemberhentian bus Liana harus berjalan kaki beberapa ratus meter untuk dapat mencapai rumah.


“Hahh ... sampai kapan aku akan menunggumu? Ini benar-benar sudah melampaui batas kemampuanku,” gumam Liana mendongakkan kepalanya menatap lampu buram diatasnya.


Dan disaat itulah dirinya mengingat kembali pristiwa dibawa lampu buram saat Arvin memeluknya tuk hilangkan kesedihan karena patah hati pada Jojo.


“Aku merindukanmu, aku benar-benar merindukanmu!” berulang kali Liana menghela nafas panjang tuk hilangkan rasa sesak di dadanya.


Dilanjutkannya kembali perjalanan yang hanya tinggal sebentar lagi.


"Aku pulang!" ucap Liana sudah terbiasa meski Ia tahu tak ada uang menyambut kedatangannya.


“Yakk … Apa kau sadar jam berapa sekarang ini? Kau dari mana saja? Kenapa malam sekali baru pulang?” teriak suara seorang pria yang tak asing baginya saat ia sedang sibuk menutup pagar yang terbuat dari kayu.


Liana berbalik untuk mengetahui orang yang menteriakinya adalah Arvin atau malah sebaliknya. 


Degup jantung Liana cepat saat Ia mendapati Pria yang dirinya rindukan selama setahun ini, kini telah berada tepat dihadapannya.


Iya itu Arvin yang memandangnya dengan ekspresi wajah kemarahan. “Kenapa pulang selarut ini? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku? Sudah lebih dari lima jam aku menunggumu dihalte bus seperti orang gila,” Arvin terus saja mengomel.


Sedangkan Liana sendiri malah diam dan mulai menitihkan air matanya.


"Kau menangis?” tanya Arvin dengan nada terkejut.


“Apa ucapanku sangat keterlaluan padamu?” Ada rasa penyesalan dari nada Arvin karena bicara begitu keras hingga membuat gadisnua tangisnya menangis.

__ADS_1


“Maafkan aku!" Arvin berjalan mendekat kearah Liana. Berniat untuk memeluknya, dan menenangkannya.


"Aku tidak bermaksud memarahimu, aku hanya khawatir saja padamu. Maafkan aku jika itu membuatmu merasa takut!” Arvin mencoba memeluk Liana, namun ditepis oleh kedua tangan Liana secara cepat.


“Kau kenapa? Apa kau masih marah dengan ucapan ku?" Kini Arvin mencoba lebih dekat tapi Liana malah mundur satu langkah seperti memberi jarak antara keduanya.


"Aku minta maaf jika ucapanku salah padamu! Ehm ...?"


“Tidak mau. Kau sangat jahat padaku. Mana mungkin aku memaafkanmu begitu saja,” pekik Liana menangis sejadi-jadinya.


“Maaf! Maaf!” lembut Arvin mencoba untuk memeluk Liana tuk kedua kalinya, dan lagi-lagi ditolak oleh Liana.


“Kau bilang hanya sebentar, Kau juga bilang akan selalu menghubungi ku. Tapi apa? Kau sama sekali tak menggubris ku. telpon dan juga pesanku kau abaikan," Lontar Liana dengan nada yang sedikit tinggi, bersaing dengan Isak tangisnya.


"Apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku disini karena merindukanmu? Kenapa kau begitu egois,” Nadanya semakin lama semakin lirih.


“Iya aku memang pria yang egois, aku salah meninggalkanmu begitu lama. Maafkan aku!” Akuh Atas kesalahannya. Dan usahanya untuk memeluk tubuh Liana tak lagi mendapat penolakan.


“Aku janji. Jika aku pergi lagi untuk bertugas aku akan selalu mengajakmu. Kita akan selalu bersama, aku tidak akan mengabaikan mu, atau meninggalkanmu lagi.” Tutur Arvin melegakan sedikit keresahan hati Liana.


“Sudah jangan menagis lagi!” pinta Arvin mendekap lebih erat tubuh Liana, seraya membelai lembut rambut Liana mencoba untuk menghentikan tangis wanita yang dicintainya. 


***


Dikamar utama atau lebih tepatnya, kamar yang 2 tahun lalu dimiliki oleh Arvin. Sekarang menjadi kamar mereka berdua.

__ADS_1


Dipembaringan Arvin memejamkan matanya karena mulai lelah untuk terbuka dengan tangan yang menggengam erat tangan kanan Liana yang juga tidur bersamanya.


Tapi Liana sendiri masih terjaga dari tidurnya, Ia melihat penuh teliti wajah Arvin. Mata yang terpejam, bulu mata yang panjang, hidung yang sangat mancung, bibir. Semuanya yang ingin Ia lihat sejak lama, saat ini dapat Ia lihat kembali.


“Berhenti menatapku seperti itu! Apa kau tidak lelah?" desah Arvin lirih tanpa membuka mata.


"Tidak sama sekali".


"Ini sudah malam, cepatlah tidur! Bukankah besok kau masih harus mengajar?".


“Aku sudah melihatmu berjam-jam seperti ini, tetap saja aku masih merindukanmu. Walau berdekatan seperti ini tapi masih saja rasa rinduku padamu belum berkurang sedikitpun. Kecemasan karena jauh darimu masih terasa jelas,” terang Liana.


Arvin membuka matanya dan memandang penuh wajah Liana yang kini mengembangkan senyuman. 


“Kemarilah!” Arvin mendekap tubuh kecil Liana.


“Apa seperti ini jauh lebih baik?" tanya Arvin mencari kepastian jika yang dilakukannya dapat mengurangi risau dihati Liana.


Dan secara cepat Ia mendapatkan jawaban dari Liana dengan sebuah anggukan yang tidak dapat dia Lihat, namun Ia rasakan kepala Liana bergerak.


“Selamat malam!” 


“Selamat malam istriku! mimpi yang indah,” balas Arvin mengecup lembut rambut Liana, membuat bibir Liana mengembang lagi. 


Perlahan mata Liana terpejam dan keduanya pun tertidur lelap dipelukan malam.

__ADS_1


***  


__ADS_2