
Liana melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dia terlihat begitu gelisah saat berada didalam taksi.
"Aduh gawat sudah telat," batinnya gusar beberapa kali Liana melirik jam tangannya kembali.
"Berhenti di sini saja pak! Terima kasih," Liana memberi uang kepeda supir taksi itu dan mulai berlari tanpa perduli supir taksi yang memanggilnya untuk memberikan kembalian uangnya yang lebih.
"Aduh ... telat, telat," gusarnya sekali lagi tanpa memberhentikan larinya.
"per -misi maaf pak saya terlambat," Liana terengah-engah saat bicara kepada dosennya setelah sampai di dalam kelasnya.
"Anak kecil juga tau kalau kamu terlambat jadi tidak usah beri tahu pada saya, saya hanya ingin tahu apa alasanmu hari ini terlambat!" tegas dosen Liana yang bernama pak Totok yang memang terkenal kegalakannya.
"Saya ..." Liana tak dapat berbicara yang sebenarnya karena bisa-bisa satu kelas menertawakannya alasannya.
"Tidak bisa manjawab? Belum pecus sekolah saja sok-sokan menikah, mau jadi apa generasi mudah ini kalau pikiran mereka hanya menikah saja," sindir pak Totok.
"Maaf pak!" sesal Liana.
"Ya mungkin karena tidak mau nasibnya seperti bapak kali makanya cepat-cepat menikah, secara perjaka ting-ting" sahut salah satu mahasiswa yang membuat satu kelas tertawa.
"Sudah diam semuanya! Apa mau saya tambah tugas kalian semua," tegur keras pak Totok.
"Liana saya mau bicara sama kamu, saya tunggu di ruangan saya!"
"Baik pak," jawab Liana lesu.
Dosen itu pun pergi meninggalkan ruangan kelas dan Liana pun mengikutinya dengan berjalan dibelakangnya.
Sesampainya disana Liana mendapat ceramah yang begitu panjang dan tak ketinggalan sebuah hukuman untuk suatu kesalahan yaitu bertambahnya tugas dari satu makala menjadi dua makala, Liana hanya dapat pasrah karena ini memang sepenuhnya kesalahannya.
Saat keluar dari ruang dosen Liana disambut sahabat-sahabatnya tepat didepan pintu.
"Bagaimana? Dosen itu bilang apa saja?" tanya Anita memberondong pertanyaan karena begitu penasaran apa yang dilakukan pak Totok itu terhadap sahabatnya.
"Seperti biasa ceramah dan hukuman" jawab Liana lesu.
"Hukuman apa?"
"Disuruh mengerjakan dua makala sekaligus dan tugas itu lima hari lagi akan dikumpulkan".
"Wah.. si botak itu memang keterlaluan ya," ucap Anita merasa marah karena sahabatnya dihukum tanpa rasa kasihan.
"Anita jangan keras-keras nanti kedengeran!"
"Maafkan aku! habis aku kesal dengan Dosen itu".
"Ya sudah kalau gitu aku akan membantumu," Sofi menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, kau juga kan harus mengumpulkan tugas".
"Bagaimana kalau kita berdua saja yang membantumu, ya kan sayang?" tawar Anita
"Memang kita bisa materi yang diajarkan pada Liana?"
"Rendi benar. Kalian kan beda fakultas denganku".
"Terus bagaimana sekarang?" keluh Anita tak bisa membantu apa-apa.
"Tidak apa-apa, kalian berniat membantuku saja aku sudah sangat senang," Liana mencoba untuk memenangkan hati sahabatnya yang sangat khawatir dengannya.
"Sebenarnya kenapa kamu tadi terlambat?"
"Ceritanya panjang, aku akan ceritakan pada kalian tapi tidak disini".
"Ya udah ketempat biasa saja," saran Rendi.
Liana pun bercerita tentang kedatangan nenek Arvin yang dari Jawa dan bagaimana perlakuan sang nenek terhadapnya, Liana begitu antusias bercerita tanpa ada yang terlewat atau pun yang dilebih-lebihkan.
__ADS_1
Saat Liana asik-asiknya bercerita, tiba-tiba suara handphone Liana berdering dengan segera ia mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Liana membuka pembicaraannya dengan Arvin lewat sambungan telpon.
"Nenek tadi menelfonku dia bilang agar kau sudah selesai kelasku, kau disuruh cepat pulang!"
"Baiklah aku akan pulang," Liana menutup kembali telponnya dan bergegas beranjak dari duduknya.
"Aku harus pulang sekarang," Liana mengangkat tas ranselnya.
"Nenek itu lagi ya?"
"Hmm," angguk Liana membenarkan.
"Dasar nenek keterlaluan, tidak punya perasaan cucu menantunya sendiri disiksa," comment Anita.
"Hey diamlah! ingatlah dia orang tua." tugur Sofi.
"Baiklah aku pergi dulu!" setelah pamit Liana pun pergi dengan menaiki taksi agar lebih cepat sampai dirumah.
Dan ternyata yang diucapkan oleh Arvin benar adanya, Nenek telah duduk santai diteras rumah sepertinya telah menunggu kedatangan Liana.
"Selamat sore nek!" sapa Liana setelah turun dari taksi dan mendapati nenek sedang duduk santai diteras rumah.
"Bagaimana keadaan nenek? Apa sudah baikkan?" Tanya Liana mengkhawatirkan keadaan kaki Neneknya tapi kekhawatirannya tak disambut baik oleh nenek, bukannya menjawab malah bertanya balik kepada Liana.
"Apa setiap hari kamu pulang pergi naik taksi?"
"Iya, memang kenapa nek?"
"Itu namanya pemborosan, menghambur-hamburkan uang suami saja," sindir nenek.
"Sabar Liana," batin Liana meredam emosinya.
"Kampus kamu jauh dari rumah?"
"Bukan apa-apa, ya sudah sekarang ganti baju dan siapkan makan malam!"
"Baik nek," patuh Liana.
Dengan terpaksa Liana harus menyiapkan makan malam sendirian. "Untung aku pernah belajar masak kalau tidak bisa direbus hidup-hidup aku sama nenek," gumamnya sendirian.
Dengan lahap Liana, Arvin dan Nenek menikmati makan malam yang dimasak oleh Liana.
Tanpa percakapan sedikit pun yang keluar dari mulut mereka bertiga sampai menyelesaikan makan malam mereka.
Selesai makan malam pun Liana harus merapikan meja makan dan mencuci semua piring yang digunakan malam ini sendiri tanpa dibantu siapa pun.
"Sini aku bantu!"bArvin menawarkan bantuan pada Liana yang begitu sibuk dengan pekerjaan yang diberikan Nenek.
"Kau kenapa? Tidak bisanya kau bersikap selembut ini padaku," sindir Liana merasa aneh dengan kelakuan Arvin.
"Hey ... aku hanya menawarkan bantuan, apa itu sebuah keanehan bagimu?"
"iya," jawab Liana datar dan Arvin tersenyum tak percaya jika Liana melontarkan jawaban itu.
"Tapi aku berterima kasih atas maksud baikmu," jawab Liana sembari tersenyum.
"Baiklah. Ayo kita selesaikan semuanya dengan cepat! Agar kau dapat beristirahat lebih awal"
"semagat.. semangat.. semangat..!" lontar Liana memberi motivasi.
"Apa itu? seperti anak kecil saja," cibir Arvin.
"Apa ini juga sebagain dari dialog drama yang kau tonton?"
"Memang kenapa? Aku selalu melakukannya jika aku mulai lelah dan semuanya sangat manjur. Seperti sebuah sihir!" bela Liana pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ayo coba lakukan sepertiku! Baru berkomentar."
"Tidak mau".
"SEMANGAT!" ucap Liana sembari mengangkat kedua tangannya.
"Sudah mulai bekerja!"
"Ayolah, coba dulu! ini sangat mengasikkan," paksa Liana.
"Semangat ... semangat ..." Liana terus mengulang satu kata itu dengan laku yang sama.
Hingga beberapa saat Arvin mulai tersenyum geli dan melakukannya. "Semangat!"Liana langsung tertawa lebar melihat kelucuan yang ditunjukan Arvin.
"Kau tidak pantas melakukan itu. Kau seperti seorang yang sedang melucu bukan seperti orang yang menyemangati".
"Hey.. Kau yang memaksaku untuk melakukannya, sekarang kau mencibirku? Perlakuan buruk apa itu?"
"Maafkan aku! tapi Kau memang tidak pantas melakukan hal itu jadi kedepannya jangan melakukannya lagi!"
"Sudah cuci piringnya!" perinta Arvin yang lebih dulu mengerjakannya.
"Iya," patuh Liana memulai pekerjaannya.
"Tapi benar kau sangat lucu tadi," tawa Liana kembali.
"Hiss anak ini. Mau dibantu atau tidak?"
"Baik aku akan berhenti tertawa," ucapan yang tak sesuai prilaku, meski sejenak diam tapi beberapa detik Liana mulai tertawa kembali.
"harusnya aku merekamnya tadi," ledek Liana.
"diam, dan kerjakan pekerjaanmu dengan benar!"
"Baiklah-baiklah!" Liana kembali tertawa geli.
"Aku tidak bisa melakukannya. Itu terlalu lucu bagiku," Liana tertawa kembali.
Merasa terus menjadi lelucon bagi Liana, tanpa pikir panjang Arvin memoles sedikit busa cucian dipipi Liana.
"Yakk ... Arvin!" Liana terkejut.
"Sekarang siapa yang lebih lucu? Kau atau aku?" ejek Arvin.
Dan kini giliran Liana yang membalas perbuatan Arvin. "wahh...haahh... sekarang kita seri," Liana tertawa terbahak-bahak.
"Ohhh ... jadi kau ingin berperang denganku? Baik kita bertarung" Arvin memercikan sedikit air yang berada ditangannya kewajah Liana.
"Ahhkk.. Arvin kau curang aku kan belum siap".
"Didalam setiap pertarungan tidak ada kata belum siap," terang Arvin.
"Baik ... aku akan mengalahkan mu," Liana mengisi sebuah gelas penuh dengan air.
"Untuk apa itu?" tanya Arvin yang merasa terancam.
"Arvin tunggu pembalasanku".
"Yakk ... kau curang! Mana boleh menyiram air sebanyak itu?"
"Terserah aku." Liana mulai mengejar Arvin memutari meja makan.
Dan tanpa sadar keberadaan mereka diperhatikan oleh nenek. "Sudah lama aku tidak melihat senyum Arvin selebar itu. Semenjak hari naas itu," gumam nenek menangkap moment yang terasa langka untuknya.
"Mungkin memang tepat Hary memilih dia untuk Arvin. Dia gadis yang baik dan perhatian meski sikapnya sedikit minus," nilai nenek, berpaling meninggalkan keduannya yang masih sibuk dengan gurauannya.
***
__ADS_1