Love'S Feeling

Love'S Feeling
pernyataan hati


__ADS_3

'Tokk ... tokk ...' terdengar sebuah ketukan pintu dari arah luar kamarnya, dan sedetik setelahnya terlihat sekertaris Han dan staf Sassy masuk kedalam dan mengucapkan salam secara sopan.


Dengan cepat dan sangat kasar Arvin menutup kepala Liana dengan selimut.


"Akkhh!" pekik Liana terbangun karenanya.


"Yakk.. kau ingin membuatku mati karena kehabisan nafas didalam sini?" protes Liana yang hanya menongolkan kepalanya saja.


Terlihat sangat buruk saat itu, wajah yang penuh air mata dan air liur. Dan pastinya rambut yang tak beraturan membuat kedua pegawai Arvin menahan tawa.


"Yakk.. tutupi wajahmu itu!" ucap Arvin yang lirih dan tak dapat terdengar jelas oleh Liana.


"Apa sih? Katakan dengan jelas! Aku tidak bisa mendengar ucapanmu" pinta Liana yang masih belum menyadari keberadaan dua pegawai Arvin.


"Yakk.. apa kau mau mentunjukan wajah jelekmu itu pada pegawaiku?" ucap Arvin kini sedikit terang walau masih dengan nada berbisik.


Mata Liana langsung mencari dimana keberadaan pegawai Arvin yang kini berdiri tak jauh dari dirinya sekarang.


"Ohh.. ya ampun!" mata Liana terbelalak karena shock melihat kedua pegawai Arvin.


Dengan cepat Liana membungkus wajahnya kembali dengan selimut. 


"Selamat pagi, nona Liana!" sapa mereka dengan nada yang sopan.


"Selamat pagi!" Liana sengaja menampilkan satu tangannya untuk membalas sapaan kedua pegawai Arvin.


Sedangkan Arvin malah memasang wajah tegas lalu mendehem untuk mendapat perhatian kedua pegawainya itu.


"Apa kalian telah membawakan berkas yang aku minta?"


"Sudah Direktur, ini beberapa berkas yang perlu persetujuan dari anda" Sekertaris Han memberi beberapa map yang ada ditangannya.


"Hey ..." Liana hanya menampakkan kedua matanya saja.


"Apa kau masih ingin bekerja dengan kondisimu yang masih belum pulih benar?"


"Memangnya kenapa kalau aku bekerja? Lagi pula yang sakit itu perutku bukan otak dan tanganku. Jadi diamlah!" Lontar Arvin yang memang ada benarnya juga.


"ckkk..ckk.. terserah lah." Liana memilih menyerah karena tak ingin berdebat dengan Arvin disituasi tak tepat ini.

__ADS_1


Hanya bisa memanyunkan bibir tanda atas kekalahannya, membuat Arvin harus menahan tawanya agar menjaga wibawanya didepan Karyawannya.


"Baiklah, aku akan mempelajarinya dulu. Kalau sudah selesai akan aku kabari kalian berdua. Apa ada yang lainnya?"


"Ada beberapa relasi direktur yang dari luar negeri, mereka ingin bertemu dengan direktur. Apa direktur ingin saya membuatkan jadwal untuk bertemu dengan mereka?"


"Aku tidak mungkin bertemu dengan mereka dalam keadaan seperti ini. Jadi tolong katakan pada mereka bahwa aku meminta maaf atas ketidak hadiran ku!" pinta Arvin.


"Ah... tidak. Biarkan aku saja yang menghubungi mereka" ujar Arvin. Sedikit perhatian kecil dapat mempertahankan kesetiaan mereka agar tetap berada disisinya.


"Baik direktur," patuh keduanya.


"Baiklah, kalian boleh pergi sekarang! Terima kasih!"


"Iya Direktur," ucap keduannya hampir bersamaan.


"Kami permisi dulu!" pamit sekretaris Han.


"Nona kami pamit!"


"Iya, hati-hati dijalan!" ucap Liana yang hanya memperlihatkan tangannya yang melambai.


"Baik!".


"Ohh.. ya ampun, sulit sekali bernafas didalam sini," keluh Liana menghela nafas panjang setelah mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut.


"Itu apa sih?" Tanya Liana yang begitu penasaran saat melihat Arvin begitu serius membaca beberapa berkas yang ada didepannya.


"Jika aku beri tahu, kau juga tidak akan pernah mengerti. Jadi jangan membuang waktuku untuk menjelaskan sesuatu yang sia-sia," tukas Arvin yang matanya masih berfokus pada berkas-berkas yang dipegangnya.


"Dasar..." Liana tak dapat berkata-kata kembali, Ia selalu kalah dalam hal berbicara.


"Geser sedikit!" pinta Liana naik keatas ranjang Arvin.


"Kau ini sebenarnya mau apa?"


"Aku ingin membaringkan tubuhku sebentar. Sekujur tubuhku rasanya sakit semua setelah tidur dengan posisi terduduk tadi malam."


"Tidak boleh. Ranjang ini terlalu kecil untuk ditempati dua orang dewasa," tolak Arvin. Walau ruangannya VIP tapi tetap saja memiliki ranjang yang kecil seperti pasien-pasien yang lain.

__ADS_1


"Kau ini pelit sekali. Aku cuma ingin meminta beberapa bagian darimu, anggap saja ini sebagai cara kau menghiburku." Liana memasang wajah melasnya.


"Aku sangat sedih saat ini karena tidak mendapat beasiswa yang aku inginkan" cerocos Liana yang langsung menggeser secara paksa tubuh Arvin lalu membaringkan tubuhnya dibagian yang kosong.


"Kemari!" Dengan suka rela Arvin memberi sedikit bagian lagi pada Liana, agar Liana dapat berbaring dengan nyaman.


"Terima kasih!" Kini Liana dapat membagikan tubuhnya meski harus berdesakan dengan Arvin.


"Kakimu, apa masih terasa sakit?" Tanya Arvin melihat sebelah kaki Liana yang Gip.


"Lumayan," jawab Liana memejamkan mata."hahh.. rasanya sangat nyaman berbaring seperti ini".


"Apa kau habis menangis semalaman disini?" Tanya Arvin tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Iya" jawab Liana singkat.


"Apa karena beasiswa itu kau menangis?"


"Mungkin iya, mungkin juga tidak" jawaban Liana penuh teka-teki.


"Apa sekarang kau ingin menggoda ku?".


"Aku hanya ingin membuat hidupku berguna itu saja" kali ini dijawab Liana dengan jawaban yang sebenarnya.


"Apa karenaku kau ingin pergi sejauh itu dari rumah? Bukankah kau sangat tidak tahan dengan kesepian?" Tanyanya Arvin kembali, kini tak ada jawaban dari Liana namun Arvin tetap saja melanjutkan perkataannya.


"Kau kan bodoh, bahasa inggris saja kau tidak bisa. Lalu bagaimana kau akan hidup disana? Pasti sangat sulit beradaptasi jika kemampaun bahasamu sangat tidak bagus," Cerocos Arvin yang kini memandang kearah Liana yang telah tertidur lelap.


Arvin menghela nafas dan ekspresinya mulai berubah, pandangannya menjadi lembut lalu berucap, "bisakah kau tetap disini saja! Walau kita akan berpisah. Bisakah kita menjalin hubungan dengan baik? Menyapa jika bertemu dijalan, bertemu jika kita rindu. Bisakah kita melakukan hal itu?" pinta Arvin dengan setetes air mata yang cepat Ia hapus. 


Diam ...


Dengan lembut Arvin menata rambut Liana agar sedikit rapi walau tak bisa seutuhnya untuk membenarkan rambut Liana yang begitu berantakan.


"Aku rela seluruh tubuhku remuk asal aku bisa melihatmu seperti ini sekarang. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku saat kau pergi, rasanya hatiku sesak saat memikirkan bahwa aku akan kehilanganmu." Desah Arvin memandang penuh kearah Liana, Ia tak memperdulikan berkas-berkas yang berada di pangkuannya.


"Jika aku bertindak egois seperti itu, akankah kau tetap bertahan bersamaku?" curah Arvin mengungkapkan segalanya pada Liana yang kini sedang sibuk dengan segala mimpinya.


Dikecup hangat kening Liana yang mengerut, sepertinya Liana bermimpi buruk saat itu.

__ADS_1


"Sungguh Aku mencintaimu Liana, aku ingin bersama denganmu. Tapi jika aku lakukan itu, aku akan menjadi pria yang lebih kejam karena mengabaikan perasaan Alya demi kebahagiaan ku sendiri." Mata Arvin mulai tergenang, dan sedetik kemudian menetes.


***


__ADS_2