Love'S Feeling

Love'S Feeling
Sisi baru dari dirimu


__ADS_3

Pada akhirnya semua rencana yang dirancang menjadi berantakan. Mereka kembali pulang secara cepat dengan perasaan yang kacau.


Bukan senyuman layaknya seorang yang pulang dari bulan madu, mereka hanya membawa amarah mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Mertua Liana.


"Aku tidak mengerti yang sebenarnya terjadi, tapi mungkin Arvin seperti ini karena kesalahanku," jawab Liana lesu.


"Maksud Liana apa?" Tanya Ibu Arvin kembali untuk memperjelas perkaranya.


"Saat di Villa Aku sempat tenggelam karena kakiku kram..."


"Tenggelam?" Ibu Arvin yang mendengar hal itu, tak ingin memusingkan masalah yang dihadapi keduanya. Ia lebih memikirkan bagaimana keadaan sang menantunya saat ini. "Apa Kau merasakan tidak enak badan atau ada yang sakit?" Cemas Ibu Arvin.


"Ibu, Aku baik-baik saja! Jadi Ibu tenanglah!" Pinta Liana untuk sang mertua tak memikirkan hal yang sudah lewat.


"Ibu sudah tak setuju jika Kalian pergi ke sana. Pasti akan seperti ini akhirnya," ulas Ibu Arvin.


"Dan firasat Ibu benar, kejadian itu kembali terulang. Pasti kini Arvin kembali terguncang."


"Apa yang ingin Ibu katakan? Firasat apa? Kejadian apa?" Cecar Liana.


"Sebenarnya Ibu memiliki dua orang anak Arvin dan adiknya Arvin bernama Cika. Ia meninggal karena tenggelam, dan Arvin merasa jika dirinyalah yang bersalah atas kematian adiknya." Ulas Ibu Arvin, memberikan shock pada Liana yang kini tak mampu berkata apapun.


"Cika berumur sembilan tahun saat kami berlibur ke Villa itu. Saat itu kami sangat bersenang-senang disana, menghabiskan masa liburan musim panas mereka." Bibir Ibu tersendat, Air mata yang tertahan mulai mengalir karena kenangan buruk dimasa lalu.


Dipeluk tubuh sang mertua oleh Liana, mencoba untuk menguatkan hati Ibu mertuanya.


Setelah menumpahkan segala rasa pahit kenangan masa lalu. Ibu menghela nafas panjang sesaat setelah Ia lepas dari pelukan Liana.


"Arvin sebenarnya tak marah padamu, Ia hanya mengkhawatirkan keadaanmu." jelas Ibu Arvin tak ingin Menantunya salah paham.


"Aku mengerti," angguk Liana.


"Maafkan Liana! Karena kecerobohan ku, Arvin dan Ibu harus kembali mengingat kenangan pahit itu kembali." Sesal Liana.


"Tidak ini bukan salah siapa-siapa. Semua telah tersurat oleh sang pembuat takdir".


Dari ucapan sang Ibu mertua, kini Liana jadi mengerti perubahan sikap yang ditujukan pada Dafina terlihat begitu tulus dan lembut.


"Hey..!" Sapa Liana menghampiri Arvin yang sedang duduk termenung diranjang tempat tidurnya.


"Ada apa?"


"Ketus sekali?" gerutu Liana. Namun Ia tak menyerah, Dirinya mengusahakan agar Arvin tidak terlalu terpuruk karena kejadian pagi tadi.


"Aku datang kemari untuk meminta maaf karena telah mengatai mu, 'Pria kasar dan egois'. Aku benar-benar menyesali ucapanku itu," ujar Liana.


"Tidak perlu, itu memang hakmu beranggapan seperti itu."


"Tidak. Aku sangat salah selama ini tentang dirimu?"

__ADS_1


"Kenapa? Apa sekarang Kau mulai mengasihani ku? Karena itu Kau merubah semua penilaian mu terhadapku?"


"Bukan seperti itu"


Arvin tersenyum pahit sembari berucap, "Apa Aku terlihat seperti orang yang butuh dikasihi?"


"Baiklah lakukan saja!" Pasrah Arvin.


Tamparan yang sangat keras melesat pada pipi kiri Arvin. "Aku tidak pernah mengasihani mu, Aku lebih ingin menampar orang bodoh dihadapanku ini" tegas Liana.


"Kau..."


"Siapa Kau yang memiliki hak untuk terus bersikap seperti ini?" Bentak Liana memotong ucapan Liana.


"Sebagai putra tertua seharusnya Kau yang bertanggung jawab atas segala kesedihan mereka yang juga kehilangan sama sepertimu." mata Liana mulai mencairkan air mata.


"Di sana Ibu dan Ayahlah yang lebih terluka. Mereka bukan saja kehilangan anak bungsunya tapi juga merasa bersalah pada anak sulungnya yang terus menutup diri karena penyesalan tak berujung." jelas Liana atas tamparan yang telah Ia berikan.


"Sebagai Orangtua pasti mereka merasa gagal melindungi kedua anaknya." Pandangan Arvin mulai berubah, tidak ada lagi amarah disana. Hanya tatapan sendu yang tampak dimatanya.


"Aku mohon kuatlah demi Orangtuamu! Dan demi Cika! Pasti jika Kau terus bersikap seperti ini, Cika akan merasa bersalah membuat Kakaknya terpuruk dalam kenangan pahit yang dia buat."


"Semua orang butuh untuk meneruskan hidupnya walau harus merelakan kenangan manis atau sepahit apa pun itu, agar dia dapat berjalan maju tanpa menoleh kebelakang."


"Apa sudah selesai ceramahnya? Apa Kau sudah puas memaki ku?" Desah Arvin lirih seperti tak memiliki tenaga lebih untuk berbicara.


Ditarik tangan Liana tuk mendekat padanya, Lalu dipeluk lembut perut Liana, dan di sanalah Arvin menyandarkan semua beban dihatinya.


"Terima kasih!" ucapan Arvin masih dalam Isak tangisnya.


"Aku tidak menyangka Arvin yang aku kenal begitu dingin dan arrogant sekarang dia menangis seperti anak kecil didekapanku, selama tiga bulan lebih aku mengenal Arvin, baru kali ini aku melihat Arvin menangis. Rasaya seperti es yang mencair." Batin Liana mencoba mengarungi hati seorang Arvin.


KKKRRRUUUUUUKKKK..........!!! terdengar begitu keras bunyi perut Liana, Arvin yang mendengar itu langsung melepaskan tangannya yang saat itu melingkar ditubuh Liana lalu menatap penuh tanya kearah wajah Liana.


Liana meringis menampakan wajah innocent, "Maafkan Aku! Habis dari kemarin Aku belum makan sama sekali" tutur Liana dengan tampang lugunya.


Dan wajah yang penuh kesedihan itu pun dengan sekejap berubah menjadi tawa singkat namun indah. "Kamu ini lucu sekali" Arvin mengusap sisa air mata di pipinya.


"Maaf!" sesal Liana.


"Dasar bodoh, untuk apa Kau minta maaf!" Arvin terlihat melebarkan senyumannya kemudian dia bangkit dari duduknya.


"Ayo ikut!" Gandeng Arvin.


"Kemana?" tanya Liana tak mengerti.


"Tentu saja mengisi perut yang kosong. Ayo! Akan Aku traktir makan malam yang enak."


***


Arvin meneraktir Liana di sebuah restaurant seafood yang terdapat disebuah Mall di lantai atas.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam yang disediakan oleh restaurant tempat mereka makan.


"Lihat dirimu! Seperti tidak pernah makan saja" cibir Arvin dengan cara makan Liana yang tak enak dipandang.


"Kepiting adalah makanan kesukaanku. Jadi jangan heran jika melihatku makan selahap ini"


"Itu bukan lahap, tapi rakus" cibir Arvin melingkapkan kedua tangan dan menyilangkan kaki, bersandar sembari mengamati Liana yang sedang menyantap makanan.


"Hey...!" Arvin menendang kursi Liana hingga daging kepiting yang akan disantapnya jatuh kebawah.


"Yakk apa yang Kau lakukan?"


"Hey..ubah sikapmu itu! Jadilah gadis yang didambakan semua pria ketika melihatmu!" pinta Arvin yang merasa prihatin dengan sikap Liana yang tidak layak tuk dimiliki seorang wanita.


"Jika seperti ini, siapa yang menikahimu nanti? Seorang janda yang bodoh, yang tidak cantik dan berkelakuan minus. Aku rasa hanya orang yang setenga gila yang mau padamu."


"Oh ya ampun." desah Liana kesal.


"Kau!" Liana menaruh kembali capit kepiting yang seharusnya Ia santap.


"Sebenarnya Kau berniat untuk mentraktirku atau tidak sih?" lontar Liana menahan amarah.


"Tentu saja."


"Kalau begitu diamlah! Jangan membuat nafsu makanku menghilang dengan ceramahmu itu!"


"Apa salahnya Aku berkata seperti itu? Aku sebagai seorang yang peduli padamu, memang harusnya memberi pengarahan padamu jika Kau berada dijalan yang salah."


"Apa? Dijalan yang salah? Hey perumpamaan mu itu terlalu berlebihan. Tidak sekalian saja kau buat perumpamaan, 'mengangkatku dari dunia gelap'. hanya karena cara makan ku." Cerocos Liana yang merasa sangat kesal.


"Kau membuat perkataan seperti Aku bukan seorang pendosa besar."


"Sudah jangan bicara dan habiskan makananmu!" Arvin menyumpal mulut Liana dengan tangan kepiting yang belum terkupas.


Ingin marah kembali pada Arvin, tapi Arvin telah mengantisiasi terlebih dahulu dengan berucap, "jika Kau bicara sekali lagi, Aku akan meninggalkanmu disini sendiri. dan Kau yang akan membayar semua makanan ini" ancam Arvin membuat Liana mengurungkan niatnya untuk berbicara kembali.


Dan itu artinya Arvin tak menang dan juga tak kalah dalam perdebatan ini.


Selesai makan malam Arvin mengajak Liana kembali pulang, Namun sesaat dalam perjalanan pulang, Liana meghentikan langkahnya, Ia melihat sebuah kalung yang terdapat disalah satu toko perhiasan.


Sebuah kalung terukir sangat khusus yang ditaburi dengan berlian putih yang begitu indah.


"Wahh...cantik sekali!" Liana langsung tertarik dan ingin rasanya memiliki kalung itu. Namun Ia urungkan niatnya karena harga kalung itu sangatlah mahal.


Arvin yang tersadar bila Liana sudah tak berada disisinya lagi. mencoba mencari keberadaan Liana yang kemudian Ia temukan tertinggal dibelakang sedang mengamati sesuatu.


"Yakk apa yang sedang kau lakukan disana?"tanya Arvin berjalan menghampiri Liana.


"Ahh... tidak. Bukan apa-apa, ayo kita pergi!" Liana menarik tangan Arvin dan membawanya pergi dari sana.


Namun Arvin telah melihat benda yang sekejap mampu membuat Liana menghentikan langkahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2