
Keduanya mulai berkemas beberapa hal yang diperlukan untuk mereka bepergian jauh. Seperti pakaian, dan beberapa hal yang lainnya.
"Apa sih sebenarnya yang ada pada otakmu?"
"Apa lagi sih?"
"Kenapa kau menolak tiket honeymoon itu? Lagi pula Aku juga tidak bilang kalau Aku menolak tiket itu, seenaknya saja memutuskan tanpa meminta pendapatku dulu" cerocos Liana.
"Kalau kau mau? Ya sudah pergi sendiri sana!"
"Mana bisa seperti itu?" rengek Liana.
"Kalau begitu turuti saja apa yang Aku mau!"
"Hiiiss.. dasar beruang kutub, mulut iblis. Aku benar-benar membencimu sekarang." Kecam Liana.
"Berhenti menggerutu! Cepat bereskan barangmu! Dan jangan menggangguku dengan ocehanmu itu lagi!" perinta Arvin yang kembali mengemas barangnya.
***
Sesuai saran dari kedua Orangtua Arvin, sebelum perjalanan untuk berbulan madu. Liana dan juga Arvin berpamitan terlebih dahulu pada kedua Orangtua Liana.
"Dafina mau ikut tidak?" Tawar Arvin dengan penuh kelembutan.
"Tidak mau. bisa-bisa Aku dijadikan obat nyamuk disana," tolak Dafina secara cepat.
"Mana mungkin. Kita bisa bersenang-senang disana." bujuk Arvin.
"Tetap saja. Aku tidak tertarik."
"Baiklah. Kalau begitu, Kakak bawakan oleh-oleh saja untukmu. Kau mau apa? Boneka? Coklat? Atau mainan?"
"Semuanya!" Seru Dafina melonjak kegirangan meski janji itu belum terlaksana.
"Dasar kekanak-kanakan!" umpat Liana.
"Biarkan saja. Dasar wanita tua sirik!" Balas Dafina.
__ADS_1
"Sudah jangan dengarkan dia!" pinta Arvin berpihak pada Dafina.
"Yang penting Kakak sudah berjanji untuk membawakan semua keinginanmu. Jika Kau mendapatkan semuanya, Kau bisa pamer kepadanya" bisik Arvin.
"Apa dia mempunyai masalah keperibadian? Kenapa jika dengan Dafina dia begitu lembut? Seperti ada sosok lain dalam dirinya." Benak Liana.
Liana melihat kearah Arvin dan Dafina yang terlihat sangat akrab. Meski hanya beberapa waktu mereka bertemu, namun jika orang lain yang tidak tahu tentang mereka, pasti akan salah mengira jika Dafina adalah adik Arvin, bukannya Liana.
"Jika seperti ini sifat Dafina seperti anak seumurannya, padahal selama ini dia selalu bersikap lebih dewasa melampaui umurnya." lagi-lagi Liana berbicara dalam hati saja tentang bagaimana pendapatnya tentang kedua manusia yang berada didepannya sekarang ini.
"Tapi sekarang Arvin bisa membuat Dafina kembali ketitik normal seperti layaknya anak kecil." Liana tersenyum sendiri.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tersenyum lagi." Tanya Arvin yang sadar jika sedari tadi dirinya diperhatikan oleh Liana.
"Bukan apa-apa." Liana mengelengkan kepalanya.
"Ayo kita berangkat!" Arvin menggandeng tangan Liana dengan erat.
"Baru saja dipuji, balik lagi kesikap asalnya, arogant!" umpat Liana yang dapat melihat sisi belakang Arvin yang berjalan didepannya.
Mereka pun naik mobil dan melanjutkan perjalanannya ke villa sebagai tujuan mereka berbulan madu.
"Kanapa? Wajahku sangat tampan ya? Sampai Kau tidak berkedip saat memandangku" Cetus Arvin memuji dirinya sendiri dan Liana pun memalingkan wajahnya, dan memandang keluar jendela mobil.
Keheningan membuat Liana kehilangan kesadarannya, Ia tertidur pulas. Tanpa sadar kepala Liana jatuh kepundak Arvin.
Namun dengan segera Arvin menyingkirkan kepala Liana menjauh dari dirinya. Tak lama kepala Liana terbentur kaca mobil pada saat itulah Liana terbangun sejenak dan tidur kembali saat kepalanya merasa nyaman disandarkan pada sofa mobil.
Namun namanya juga sebuah mobil yang terus bergerak mengikuti jalur jalan yang dilintasi. Pastinya membikin gerakan yang membuat Liana terbentur hingga beberapa kali oleh kaca mobil.
Karena tak tega melihat kepala Liana terbentur kaca berulang kali. Dengan perlahan tubuh Liana diarahkan untuk bersandar ketubuhnya. Dan direlakan bahu Arvin sebagai bantal tidur untuk Liana.
Perjalanan masih jauh, Arvin yang tidak melakukan apa-apa mulai bosan dan mengantuk. Dengan sadar Arvin menyandarkan kepalanya pada kepala Liana.
Dan keduanya pun tertidur pulas berdua, tinggal pak Imam yang kini terjaga sendiri.
Pak Imam yang melihat hal itu, tersenyum lebar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mereka pasangan yang sangat lucu," benak pak Imam.
__ADS_1
Matahari terbenam diufuk barat, hari berganti gelap dan perjalanan pun telah sampai pada tujuannya.
"Tuan Muda Arvin bangun! Kita sudah sampai di Villa!" pak Imam pun membangunkan Arvin dari tidur lelapnya.
"Sudah sampai?" Arvin mencoba memenuhkan kesadarannya.
"Iya baru saja sampai." ulang Pak Imam sekali lagi.
"Ya sudah, Pak Imam masukkan saja barang-barangnya kedalam rumah!" perintah Arvin.
"Baik Tuan Muda!"
"Terima kasih!" Ucap Arvin atas kerja keras pak Imam.
"Iya, sama-sama" Pak Imam pun bergegas menjalankan perintah majikannya.
Melihat Liana yang tertidur sangat lelap membuat Arvin tidak tega untuk membangunkannya, tapi juga tidak tahu harus berbuat apa.
Hingga pak Imam menyarankan satu hal yang tak terpikir oleh Arvin.
"Lebih baik digendong saja Tuan! Kasihan Nona Liana sepertinya dia lelah sekali," saran Pak Iman saat melihat majikanya terlihat begitu bimbang harus membangunkan atau membiarkan Istrinya tetap tidur.
Perkataan yang diucapkan pak Imam ada benarnya juga, Arvin mencoba untuk memakai saran pak Imam untuk tidak membangunkan Liana dan menggendongnya untuk masuk ke dalam.
Selangkah demi selangkah Ia berjalan menuju kamar yang akan dipakai oleh Liana, yang terdapat taburan bunga disepanjang lantai kamar dan ranjang kamar.
Disanalah Liana dibaringkan disebuah tempat tidur yang begitu nyaman dan diselimuti dengan selimut yang sangat tebal.
"Mereka mengerjakannya dengan begitu baik" gumam Arvin melihat kamar Liana yang dipenuhi dengan hiasan bunga mawar putih dan terdapat pula beberapa lilin putih yang diletakkan dibeberapa sudut tertentu.
"Kau beruntung Liana mempunyai sahabat-sahabat seperti mereka" ungkap Arvin yang mengetahui bahwa yang melakukan semua ini adalah sahabat-sahabat Liana.
Inilah adalah alasan mengapa mereka terlambat untuk datang ke pesta pernikahannya.
Sejenak Arvin memandang lekat wajah Liana yang saat itu sedang tertidur pulas di ranjangnya.
"Dia terlihat cantik saat tertidur. Apa mungkin karena mulut besarnya itu tidak mengeluarkan suara?" gumam Arvin.
__ADS_1
"Selamat malam liliput, semoga mimpi indah!" Arvin melebarkan senyumnya seraya menyentuh lembut rambut Liana sebelum pergi meninggalkan Liana.
***