
“Hey lihat tidak pria yang bersama presedir?” lontar guru Nita yang mendatangi meja guru Rosemi.
“Iya saya lihat tadi masuk kedalam ruangan presedir,” jawab guru Rosemi menanggapinya dengan antusias.
“Bukankah dia sangat tampan? Seperti pemain film,” Tambah guru Nita.
“Dengar-dengar dia menjadi salah satu orang kaya yang diakuhi oleh Negara kita,” kata guru In ikut nimbrung. Dan lengkaplah ketiga penggosip telah berkumpul.
“Seperti pangeran di Negeri dongeng kan Bu?” saut Cika yang sedari tadi duduk dimeja Liana untuk bertanya tentang pelajaran yang tertinggal olehnya karena tidak masuk untuk beberapa hari.
Ketiga guru itu menoleh kearah Cika.“Anak kecil jangan biasakan menguping pembicaraan! Ini pembicaraan orang dewasa, kamu fokuslah belajar dengan guru Ana!” tegur guru Nita.
“Belum besar saja sudah sering bolos, bagaimana nanti jika dewasa? Harusnya kamu bersyukur sudah ada yang mau membantu anak-anak sepertimu untuk bersekolah," Semprot guru Nita.
"Jadi hormatilah yang telah membantumu, jangan kebanyakan bolos!”.
“Ibu nita!” tegur guru In.
“Biar saja, memang anaknya yang salah,”.
Sebenarnya ingin menasehati namun ucapan Guru Nita tak bisa dibenarkan, karena tak pantas sebagai seorang guru berkata seperti itu, harusnya lebih diperlembut.
“Cika sudah selesaikan? Sekarang Cika bisa kembali kekelas sendiri?” Tanya Liana mengkhawatirkan Cika yang harus berjalan dengan memakai tongkat untuk menopang kedua kakinya yang cacat.
“Saya bisa Bu,” yakin Cika.
“Tapi kembali lagi pada gurunya, kalau anak didik saya tidak mungkin seperti itu,” sindir guru Nita ingin membalas kekalahan beberapa waktu yang lalu.
“Maafkan saya jika mengecewakan Ibu Nita. Saya tidak pernah mengajari anak didik saya melakukan hal buruk. Jika orang yang melakukan hal buruk itu anda sendiri. Didepan anak didik saya, anda bergosip dan menggunjing orang. Dan pantaskah seorang guru berbicara seperti itu pada seorang murid?” Sekali Liana berbicara sudah bisa menutup mulut guru Nita.
“Akhkk!” jerit kesakitan membuat keempat guru itu menoleh kearah suara itu bersumber.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Arvin yang tak sengaja bertabrakan dengan Cika.
“Pria itu!” Seru ketiga guru langsung terpesona dengan Arvin.
“Iya saya baik-baik saja paman,” sopan Cika yang telah berdiri kembali karena telah dibantu oleh Arvin.
“Maafkan Aku! Karena paman kau terjatuh,”.
“Paman tidak perlu minta maaf! Tubuh cika sama sekali tidak sakit atau pun lecet,” ujar Cika sesuai kenyataan.
“Kau anak yang pintar,” puji Arvin membelai lembut rambut Cika.
“Paman pria yang sangat tampan, pasti paman orangnya yang dibicarakan Ibu guru Nita, Ibu guru In, dan Ibu guru Rosemi,” Celoteh Cika.
“Benarkah?” Arvin tersenyum manis.
__ADS_1
“Wahh.. dia sangat tampan saat tersenyum,” puji guru Rosemi.
"Hatiku meleleh," ucap guru Nita Inging melonjak kesenangan.
“Paman memang seperti pangeran tampan di negeri dongeng,” puji Cika tuk sekian kali.
“Terima kasih atas pujiannya, kau manis sekali. Tapi paman sukanya jika paman dibilang mirip Lee Shin yang menyukai Shin Chae Gyoung,” ujar Arvin.
“Apa paman menyukai seseorang? Apa wanita itu disini?” Percakapan mereka terlihat sangat akrab tak seperti seorang yang baru bertemu.
“Tentu saja istri paman”
“Jadi paman sudah menikah?” tanya Cika begitu antusias.
“Tentu saja, Bukankah kau bilang Paman sangat tampan. Jadi mana mungkin Paman melajang diumur Paman sekarang ini”.
"Benar juga," mengerti Cika manggut-manggut kan kepalanya.
“Apa paman suami ibu guru ana?” tebak Cika dengan beralasan, “Karena Cika pernah melihat Ibu guru ana menangis karena merindukan suaminya yang pergi jauh”.
“Cika!” Tegur Liana.
“Jadi benar paman suami Ibu guru Ana?” Tanya Cika meminta kepastian.
“Kalau begitu paman tampan jangan pergi lagi! Kasihan Ibu guru Ana yang terus diejek sama Ibu guru Nita”.
“Cika!” Tegur Liana kali ini ia berjalan mendekat kearah Cika.
“Cika tidak boleh bicara seperti itu! Tidak baik. Cika mengerti kan?”
“Maafkan Cika!” sesal Cika.
“Baiklah, tidak apa-apa. Sekarang Cika masuk kelas ya!” pinta halus Liana.
“Baik Bu,” turut Cika, berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, dan suasana canggung yang diciptakan olehnya.
“Namanya Cika?” Tanya Arvin yang teringat kembali tentang adiknya yang bernama Cika, yang juga memiliki usia yang hampir sama dengan Cika.
“Ehm,” angguk Liana pelan. “Apa mereka seumuran?”.
“Iya. Tubuhnya juga sama kecilnya dengan Cika ku,” Arvin menghela nafas panjang untuk mengusir rasa sedihnya.
“Apa kita bisa pergi sekarang?”.
“Bisakah menunggu seperempat jam lagi? Aku akan selesai dalam waktu itu,”.
__ADS_1
“Baiklah, aku tunggu dimobil!”
“Tunggu!” Liana menggenggam tangan Arvin untuk mencegahnya pergi.
“Aku perkenalkan dulu pada rekan kerja ku!" ajak Liana.
“Boleh,” angguknya mengikuti Liana dari belakang.
“Ibu In, Ibu Rosemi, dan Ibu Nita. Perkenalkan ini suami saya Arvin!”.
“Senang berkenalan dengan anda semua,” Arvin melebarkan senyum ramahnya.
“Iya”.
"Saya juga".
"Salam kenal," ketiga guru itu melempar senyum tak kalah ramah dengan jawab yang berbeda-beda.
“Terima kasih telah menjaga Istri saya selama ini. Kapan-kapan jika ada waktu berkunjunglah kerumah kami! Kami akan menjamu Ibu guru dengan baik,” lontar Arvin sangat ramah dan terlihat menawan.
“Iya. Pasti” setuju guru In secara cepat.
“Ya sudah, aku tunggu diluar!”.
“Ehm”angguk Liana pelan.
Lalu tiba-tiba kecupan hangat meluncur tepat dikening Liana. Mata ketiga guru itu terbelalak karena terkejut dan sepertinya hal itu juga dirasakan oleh Liana yang tak menduga perlakuan manis Arvin.
“Apa seperti ini sudah cukup?” bisik Arvin.
Liana tersenyum karena mengerti alasan mengapa Arvin melakukan hal itu. Untuk membuat ketiga guru itu iri padanya.
Sedangkan disudut ketiga guru itu sedang berbisik tentang Liana dan Arvin.
“Apa dia sedang membisikan kata cinta?” lirih guru Rosemi.
“Mungkin,” jawab datar guru Nita yang benar-benar merasa cemburu dengan nasib baik Liana.
“Wah.. mereka romantis sekali,” decak kagum guru In.
“Aku pergi!” pamit Arvin pada Liana.
“Permisi!” pamit Arvin pada ketiga guru.
"Iya silakan!".
***
__ADS_1