Love'S Feeling

Love'S Feeling
Tiga hati


__ADS_3

"Mungkin aku akan mundur selangkah untuk menempati satu titik yang tak dapat terlihat oleh mereka. Dan mungkin dengan cara yang seperti itu aku tak akan menyakiti seorang pun yang terlibat dalam tiga cinta ini. cukup aku saja yang menyimpan sebentuk cinta yang tak akan pernah tersambut, dan aku akan menunggu luka hati ini sembuh dan mengering dengan sendirinya, seiring dengan denting waktu yang tak pernah berhenti" Monolog Liana.


Pagi yang tanpa sinar matahari hanya kabut yang menutupi pandangan, mungkin karena hujan semalam. Udara sejuk dan sedikit dingin langsung masuk kekamar Liana sesaat setelah Ia membuka jendela kamarnya. "hahhh...!" Liana menghela nafas beberapa kali, membiarkan semua beban yang ada pada dirinya menghilang bersama desiran angin pagi. 


"Liana!" panggil seseorang yang suaranya tak asing lagi baginya. "Morning!" Sapa Alya memunculkan hanya bagian kepalanya saja pada pintu yang tak terbuka penuh.


"Kakak?" Liana begitu kaget melihat seorang yang tak terduga berada disini sepagi ini.


"Kau sedang apa?" Tanya Alya masuk ke dalam kamar.


"Tidak ada" jawab singkat Liana.


"Kita jogging yuk!" ajak Alya.


"Apa?" 


"Aku tunggu dibawah. Oke!" 


"Kak aku.."

__ADS_1


Tanpa harus mendengar persetujuan Liana, Alya langsung keluar.


"Sebenarnya aku kan tidak ingin ikut" gumamnya sendiri. 


Tak membutuhkan waktu lebih banyak untuk Liana mempersiapkan diri. Dengan memakai baju olah raga Ia keluar dari kamar dan disana dirinya telah mendapati Alya dan juga Arvin sedang menunggunya. 


"Sudah siap?" Tanya Alya menghampiri Liana, dan menggandeng lengan Liana.


"Iya" Liana mengangguk pelan.


Sebuah tatapan khawatir Arvin terarah pada Liana yang terlihat seperti biasanya, namun Liana tak dapat menafsirkan tatapan itu.


"Dia menatap siapa? Aku atau Kak Alya?" pertanyaan Liana begitu besar saat mendapati Arvin memandang tajam kearah mereka berdua. 


Dengan mobil pribadinya Arvin bergerak menuju kesebuah tempat yang memang ditujukan sebagai tempat untuk berolahraga pagi, untuk mereka yang ingin mengisi waktu libur mereka untuk berolahraga atau cuma bersenang-senang disana berkumpul dengan teman atau keluarga.


Terlihat beberapa orang yang terduduk dipembatas jalan dengan keringat yang membasahi tubuhnya, entah dari jam berapa mereka mulai berlari pagi, padahal menurut Liana jam enam masih terlalu pagi untuk berolahraga di pagi hari. 


"Liana apa yang Kau lakukan disana? Ayo cepat!" teriak Alya yang melihat Liana tertinggal jauh darinya dan Arvin. 

__ADS_1


"Iya" Liana mencoba untuk berlari lebih cepat untuk menyusul ketertinggalannya.


Namun tubuh yang dipaksakan itu sudah tak memiliki tenaga lebih untuk berlari terlalu jauh lagi. Apa lagi harus berlari cepat, itu tidak diharuskan. Karena beberapa Minggu ini Liana kekurangan nutrisi tubuhnya karena diet tanpa aturan.


'Depp...'! Tiba-tiba pengelihatan Liana kabur, tubuhnya terasa begitu ringan. "Kenapa ini? Kenapa dengan tubuhku? Kakiku terasa melayang" Liana tak dapat menguasai dirinya lagi.


Tubuh Liana tumbang, Liana terkulai dijalan dan seketika itu Liana kehilangan separuh kesadarannya. Ia melihat samar-samar orang-orang yang berkerumun memandangnya dengan pandangan cemas.


Dan beberapa diantaranya masih bertanya padanya, "Nona kau baik-baik saja?" Tanya sala seorang yang saat itu juga tengah berolahraga.


"Nona apa kau bisa mendengar suaraku?"


"Hallo! Ada yang mengenal Gadis ini?" Ada juga yang berteriak seperti itu.


Terdengar sangat riuh saat itu, namun ditelinga Liana hanya berdengung pelan.


Sesaat sebelum Liana benar-benar kehilangan kesadarannya, Ia memanggil nama, "Arvin!" Seru Liana, ketika Ia melihat Arvin memanggil dirinya. Dan sekejap pun hening, suara itu tak terdengar lagi setelah Liana menutup mata.


Arvin yang sangat panik langsung menggendong Liana dipunggungnya dengan bantuan beberapa Orang untuk membantu Liana naik. Ia berlari cepat, sangat-sangat cepat untuk menuju kendaraan pribadinya.

__ADS_1


"Seharusnya aku tahu kau akan seperti ini. Tapi sekali lagi aku mengabaikan mu, dan akhirnya kau terluka" sesal Arvin yang Ia utarakan dihatinya saja.


***


__ADS_2