
Tirta yang berada didalam mobil memperhatikan keluar jendela, sebuah jalan yang tak asing baginya. Jalan yang selalu Ia lalui ketika malam datang untuk mencapai tempat kerja Sofi hanya untuk meletakkan setangkai bunga. "Kapan rapat akan dimulai?" Tanya Tirta pada Sekretaris Arga.
"Masih beberapa jam lagi rapat akan dimulai" ucap Arga membelokkan badannya kearah belakang tuk tatap wajah sang Bos hanya untuk memberi tahu. "Jika anda ingin menemui Sofi tak akan jadi masalah. Anda juga bisa mengajaknya untuk makan siang bersama" ujar Sekretaris Arga yang sangat mengenal atasannya itu. "Jadi bagaimana? Apakah kita mampir dulu?" Tanya Sekretaris Arga memastikan.
"Tidak perlu. Aku tidak memiliki alasan untuk bertemu dengannya" ungkap Tirta. "Jadi kita langsung saja ke tujuan awal kita"
"Ya baiklah jika itu kemauan anda" patuh Sekretaris Arga, meski mengumam diakhirnya. "Memang harus membutuhkan alasan untuk bertemu gadis yang disukainya?" gumaman itu tak dapat didengar oleh Tirta yang kini kembali konsentrasi dengan lembaran kertas yang bertumpuk ditangannya.
"Oo! Bukankah itu Sofi?" Seru Sekretaris Arga.
"Bos!" tepuk pelan tangan sang atasan tuk mendapatkan perhatiannya sekali lagi, dan itu sangatlah efektif.
"Disana!" tunjuk Sekretaris Arga yang diikuti dengan pandangan mata Tirta melihat kearah ujung jari yang ditunjukkan oleh telunjuk tangan Sekretaris Arga. "Bukankah itu Sofi?" ucap Sekretaris Arga yang tak dapat didengar oleh Tirta yang kini fokus pada seorang gadis yang berada disisi jalan.
"Hentikan mobilnya!" perintah Tirta. Setelah mobil di hentikan, Tirta ingin dengan segera menghampiri Sofi karena ada janggal dari sikap Sofi.
Dengan perasaan panik Sofi mencoba untuk menyebrang jalan agar dia bisa naik angkutan umum diseberang sana. Namun apa daya, ia tidak bisa cepat karena keadaan kendaraan sangatlah ramai.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" panik Sofi. Setelah beberapa saat dirasa jalan agak lengang, tanpa meneliti kembali Sofi langsung menyebrang begitu saja.
"Sofi awas!" pekik Tirta bersamaan dengan lengkingan suara klakson mobil yang bercampur dengan suara rem mendadak.
Didekapnya tubuh Sofi, dijadikannya tubuhnya sebagai perisai untuk menghalau segala keburukan yang akan melukai Sofi.
"Yakk.. jika kalian ingin mati jangan disini!" Amarah si Pengendara mobil itu yang hampir saja menabrak punggung Tirta. Karena jika terjadi sesuatu pada keduanya yang dipersalahkan adalah dirinya.
"Maafkan kami!" pinta Tirta memohon maaf pada si Pengendara mobil.
Ditariknya Sofi ke tepi jalan, dan disanalah Tirta mulai melampiaskan rasa khawatirnya dengan berteriak pada Sofi, "apa Kau sudah gila? Apa Kau ingin mati sia-sia? Kenapa kau begitu ceroboh?"
"Aku mohon antarkan aku kerumah sakit sekarang! Ibuku berada disana" pinta Sofi memohon kali ini dengan wajah yang menatap wajah Tirta langsung.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tirta yang mulai sadar jika Sofi membutuhkan pertolongannya saat ini.
"Tolong antar aku!"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu!" digenggamnya tangan Sofi yang gemetar, lalu membimbing Sofi untuk masuk ke dalam mobilnya.
Sesuai dengan instruksi dari Sofi dimana lokasi yang menjadi tujuannya, mobil yang mereka melaju dengan kecepatan maksimum meski ada beberapa hal yang membuat mereka berhenti atau berjalan agak pelan.
"Ibu! Ibu!" Seru Sofi lirih yang berkali-kali ia memanggil Ibunya disela isak tangisnya.
"Seperti inikah kepedihan yang kau rasakan saat peristiwa tujuh tahun yang lalu?" Ditatapnya lekat wajah Sofi yang tertunduk penuh dengan deraian air mata yang duduk disebelahnya. "Kau mengingatkanku pada seorang gadis rapuh yang pernah kutemui dimasa lalu. Dia terlihat sangat menyedihkan, duduk sendiri dengan air mata yang terurai."
Sesaat pikiran Tirta melayang menuju masa lalu, lebih tepatnya tujuh tahun yang lalu.
Saat dirinya dirawat disebuah rumah sakit akibat kecelakaan yang menimpahnya. Saat itu Tirta begitu terpukul ketika dirinya tau jika kecelakaan mobil yang dialaminya telah merampas segala hal dari hidupnya. Dari kehilangan pendengaran, trauma yang terus menghantuinya, hingga menjadi seorang terdakwa karena menghilangkan nyawa seseorang. Seorang pria yang berumur sekitar setengah abad, yang bukan lain adalah Ayah Sofi.
Disebuah *lorong rumah sakit Tirta muda yang masih berumur tujuh belas tahun berjalan tak tegap yang masih mengenakan baju pasien. Beberapa tetes air mata yang langsung Ia hapus menemani perjalanan ingatan yang terputar kembali di otaknya. Bahwa dirinya tidak dapat mendengar di sisa hidupnya.
Sesaat pandangannya beralih pada seorang gadis yang yang memiliki umur berkisar dua belas hingga tiga belas tahun terduduk dilantai didepan kamar mayat.
"Hari ini ada yang dirampas darinya seperti. Dan mungkin dia jauh lebih menderita dari diriku" Pikir Tirta yang merasa ibah pada gadis itu. Didekatinya sang Gadis, kemudian Tirta pun duduk disisi gadis malang itu dan berucap, "Kau mau apel?" Tawar Tirta yang kebetulan ia membawanya pemberian dari beberapa orang yang menjenguknya. "Kau bisa memilikinya jika kau mau" ucap Tirta sekali lagi setelah tak mendapat perhatian dari Sang Gadis yang masih saja menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan air mata dan ingus yang bercampur.
__ADS_1
"Hari ini aku juga kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Aku juga merasakan kesedihan yang mungkin, sama seperti yang kau rasakan saat ini" ulas Tirta kembali mengeluarkan air matanya. "Rasanya ingin marah, tapi pada siapa? Jika saja takdir itu terlihat, mungkin aku akan mempersalahkannya" Tirta bicara panjang lebar tapi tak mendapat perhatian dari sang Gadis. oleh karena itu Ia memutuskan untuk pergi, dan meninggalkan sapu tangan dan apel yang memiliki sedikit gigitan bersama sang Gadis. Tirta meletakan keduanya tepat disisi sang Gadis, dan kemudian melangkah pergi. (Flashback Tirta*).