Love'S Feeling

Love'S Feeling
Pergi untuk Kembali


__ADS_3

"Apa kau benar-benar ingin pergi?” Tanya Dafina menghampiri sang Kakak yang tengah duduk melamun diayunan rumahnya.


“Emm,” angguk Liana tak bersemangat.


Liana tak memiliki keyakinan jika keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang terbaik. Padahal besok Ia sudah harus naik pesawat.


“Apa kau akan pergi dengan pria selingkuhanmu itu?”.


“Namanya jojo dan dia bukan selingkuhanku,” tekan Liana.


“Alah ... sama saja,” kini Dafina duduk dibangku taman yang dekat dengan tempat Liana berada.


“Bisakah kau pikirkan kembali? Jangan turuti emosi sesaat! Pikirkan kedepannya! Apa kau juga sanggup meninggalkan kami? Kau pergi bukan cuma satu atau dua bulan tapi ini dua tahun itu pun kalau kau belajar dengan cepat. Otakmu itukan pas-pasan, pastinya butuh empat hingga lima tahun lebih untuk mendapatkan gelarmu,” Cerocos Dafina yang mulutnya tidak bisa dihentikan meski mendapat pandangan sinis dan cibiran tak bersuara dari Liana.


“Yakk ... Kenapa ucapanmu itu selalu tajam? Tidak bisakah kau bicara manis sekali saja terhadapku? Aku ingin pergi untuk waktu yang lama," sungut Liana.


“Aku tahu kau akan pergi hanya sebagai alasan. Kau masih mencintai kak Arvin dan hatimu terluka karena itu semua. Tapi haruskah pria itu sebagai pelarian cintamu?”.


“Apa sih? Kau masih anak kecil, tahu apa kau soal cinta?”.


“Aku memang kurang paham soal cinta, tapi aku sangat paham perasaan kakakku saat ini. Sekarang aku tanya, apa kau sanggup menjanjikan cinta untuknya?” skak mat pertanyaan Dafina membuat Liana terdiam.


“Tidak bisa jawabkan. Jadi jangan menjanjikan sesuatu, jika kakak tidak mampu melakukannya.” Dafina berdiri dan bersiap untuk pergi namun sebelum dirinya benar-benar pergi, Dafina meyakinkan kakaknya untuk terakhir kali.


“Lakukan dengan hatimu! Jangan lakukan dengan sebuah pandangan kebaikan! Karena yang menurutnmu baik, belum tentu akan menjadi kebaikan untukmu nantinya. Jangan sampai menyesal karena salah memilih!” nasehat Dafina.


Liana menghela nafas berat, “dia mulai lagi. bicara seolah aku ini adiknya.” keluh Liana sendiri dengan setetes air mata yang disekanya secara cepat.


***


Walau masih ragu dengan keputusannya untuk pergi, tapi tetap saja Liana berada dibandara sekarang ini.


Dengan bekal restu dari orang tua Liana pergi sendiri ke bandara. Ia meminta untuk tidak diantar agar tidak ada air mata yang jatuh mengiringi kepergian dirinya.


Keraguan Liana semakin menjadi saat melihat Jojo dari kejauhan yang duduk tengah menunggunya.


Terngiang kembali perkataan Dafina pada malam kemarin yang semakin membuat hatinya gundah.

__ADS_1


“Aku tahu kau akan pergi hanya sebagai alasan. Kau masih mencintai kak Arvin dan hatimu terluka karena itu semua. Tapi haruskah pria itu sebagai pelarian cintamu? Apa kau sanggup menjanjikan cinta untuknya?".


"lakukan dengan hatimu jangan lakukan dengan sebuah pandangan kebaikan! Karena yang menurutnmu baik, belum tentu akan menjadi kebaikan untukmu nantinya. Jangan sampai menyesal karena salah memilih!”.


Liana berjalan mundur bersamanya dengan hati yang mulai tak memiliki keyakinan mengambil jalan yang ada dihadapannya kini.


Ia berbalik, berjalan mengarah kepintu keluar Bandara, dan pergi.


 


-_Maafkan aku! Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk pergi bersama kakak. tapi aku berjanji tidak akan kembali lagi padanya. Jadi aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua. Semoga kakak memahami keputusanku ini. Jaga diri kakak


baik-baik disana! Selamat tinggal. Liana_- . 


Dibibir Jojo terdapat senyuman pahit setelah membaca pesan dari Liana. “Kenapa harus berjanji sesulit itu? Jangan katakan jika kau tidak akan menemuinya! Karena aku yakin, suatu saat kau akan kembali padanya,” gumam Jojo sendiri.


Jojo tidak terlalu terkejut dengan semua itu, karena ia sudah menduga akhir dari kisah cinta sapihaknya akan seperti ini. 


Lain Liana, lain juga Jojo. Meskipun Liana telah membatalkan rencanannya,  jojo tetap dengan rencana awalnya. Ia tetap pergi dengan penerbangan yang telah dijadwalkan akan berangkat beberapa menit lagi.


Sedangkan Liana kini duduk disebuah bus bukan untuk pulang kerumah ataupun menemui Arvin tapi ia mencari tujuan lain untuk menenangkan diri untuk beberapa saat.


“Ada apa?” Tanya Dafina ketus saat mengangkat telpon dari kakaknya.


“Bukankah kau harus berangkat sekarang?”.


“Ketus sekali bicaranya. Kau masih marah padaku? karena aku pergi,”.


“Tentu saja, aku bicara panjang lebar tapi tidak kau dengarkan baik-baik,” geram Dafina.


“Aku mendengarnya dengan sangat jelas, hingga membuatku mengambil keputusan untuk tidak pergi," ucap Liana memberi tahu.


"Aku tidak ingin semakin bertambah menyesal dikemudian hari," tambah Liana.


"Sekarang kau dimana? Apa kau perlu untuk dijemput?" tawar Dafina.


"Tidak," tolak Liana secara cepat.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Untuk saat ini mungkin aku akan pergi untuk menenangkan pikiran ku dulu. Aku akan pulang kalau aku benar-benar siap untuk pulang. Aku ingin menata semuanya dari awal lagi. Dan kali ini aku tidak ingin ada kesalahan lagi,” terang Liana panjang lebar.


“Dan satu hal lagi jangan beri tahu siapa pun tentang ini!”. " Aku tidak ingin semua orang cemas memikirkan ku," pinta Liana.


“Aku mengerti. Aku akan menutup mulutku soal ini.”


“Terima kasih!” tulus Liana.


“Kabari aku setelah kau mendapat tempat untuk tinggal!”.


“Pasti. Aku serahkan ayah dan ibu padamu. Jaga mereka baik-baik! selama aku tidak ada,” perintah Liana memberi tugas pada sang adik.


“Jangan khawatir! Aku akan menjaga mereka lebih baik darimu,” jawab Dafina.


“Hiss ... kau ini suka sekali mencibirku” decak Liana yang tak benar-benar kesal. 


Beberapa saat keduanya diam ...


“Kakak” ucap Dafina setelah hening sesaat.


“Rawat dirimu dengan baik! Jangan sampai terlambat makan dan jangan pilih-pilih makanan! Makan semua yang bergizi!” Air mata keduanya mulai menggenang.


“Pakailah pakaian tebal saat cuaca dingin. Jika kemana-mana bawa payung  saat musim hujan, dan ...”


“Baiklah-baiklah nona tua, aku akan lakukan semuanya” potong Liana atas penuturan adiknya.


“Aku pasti akan merindukanmu,” Dafina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


“Aku tahu. Aku juga akan merindukanmu!” Isak Liana yang sengaja menjauhkan ponselnya agar Dafina tidak mendengar isak tangisnya.


"Kakak aku sangat bangga padamu, kau melakukan hal yang benar," puji Dafina.


"Terima kasih!" ucapan itu menjadi ucapan terakhirnya sebelum Liana memutuskan sambungan telepon selulernya.


Dengan nafas panjang Liana menyeka sisa air mata yang masih terdapat dipipinya. “Tidak apa-apa Liana! Semua akan baik-baik saja," yakinnya memberi semangat pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kau pasti bisa melakukannya, Semangat!” seru Liana memantapkan hatinya.


***


__ADS_2