Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kembali


__ADS_3

Dengan dipapah oleh sang Ibu, Arvin berjalan masuk kedalam rumahnya. Terlihat sunyi tidak seorangpun yang menyambut kedatangan mereka.


"Liana sayang kami pulang!" panggil ibu Arvin berkali-kali seraya mencari kebeberapa sudut rumah. 


"Sudah tidak perlu dicari lagi! Mungkin dia sedang pergi bersama teman-temannya," Duga Arvin yang merasa kesal dengan Liana yang tak pernah menjenguknya setelah kejadian itu.


"Check.. mana mungkin Liana seperti itu?" bela Ibu Arvin yang mengetahui sikap menantunya tidak seburuk dugaan sang anak.


"Istrinya mana yang tidak pernah menjenguk suaminya sama sekali, dan sekarang saat aku pulang pun dia tidak menjemput ku" ulas Arvin.


"Karena Ibu yang melarangnya."cetus Ibu Arvin.


"Kenapa kau suka sekali mengambil persepsi jika seseorang itu salah tanpa kau mencari tahu dulu? Dan marah-marah tanpa alasan" kesal Ibu atas sikap Arvin yang begitu merendahkan Liana, padahal setahu Ibu Liana sangat perduli pada anaknya itu.


"Sudahlah, berdebat dengan ibu tidak akan pernah menang," kesal Arvin.


"Aku ingin kekamar saja, aku ingin istirahat," Arvin berjalan pelan menaiki tangga karena keadaan perutnya yang masih tidak memungkinkannya untuk berjalan lebih cepat.


Ibu yang merasa khawatir pada Anaknya, mengikuti Arvin dari belakang untuk memastikan anaknya baik-baik saja.


Ternyata Liana sedang tertidur lelap diatas ranjang Arvin, dan itu diketahui oleh Arvin sesaat setelah dirinya masuk kedalam kamarnya.


"Kau lihat! Dia sedang menunggu kedatangan mu," ucap Ibu yang kini berada tepat di belakang Arvin.


"Beberapa hari lalu lukanya sempat memburuk karena Ia terjatuh dari kamar mandi. Karena itu Ibu tidak membiarkannya menjenguk dirimu," terang ibu.


"Dia juga melarang Ibu memberi tahu dirimu tentang itu, karena Liana tidak ingin membebani pikiranmu" lanjut Ibu.


"Tapi ternyata pikiran anak Ibu terlalu picik,"Sindir Ibu.


"Sudahlah Ibu, jangan bicara lagi! suara Ibu bisa membangunkannya," pinta Arvin menghentikan ucapan Ibunya yang tidak dapat berhenti.


"Ya sudah kalau begitu, Ibu langsung kembali saja! Ibu masih harus bersiap-siap karena pesawat Ibu akan berangkat nanti sore".


"Apa perlu diantar?" 


"Tidak perlu. Kau jaga dirimu dengan baik! Dan bersikap baiklah pada istrimu!" 


"Ehm...!" Angguk Arvin. "Ibu juga jaga kesahatan dan salam dariku untuk Ayah!"


"Baiklah akan Ibu sampaikan" .


"Hati-hati dijalan!" Arvin memeluk hangat Ibunya sebagai tanda perpisahan sebelum kembali keluar negeri untuk menemani sang Ayah disana.


"Ibu pergi!" pamit ibu meinggalkan Arvin dan Liana yang tertidur lelap.


Dalam diam Arvin terus memandang penuh teliti kearah wajah Liana yang terlelap tidur.


"Apa kau sedang bermimpi sekarang? Apakah itu tentang diriku?" tanya Arvin didalam hatinya 

__ADS_1


"Iya, ini memang tentang dirimu".


Seperti ada jawaban yang menjawab pertanyaannya. Dan mungkin itu hanya imajinasinya yang membuat Arvin, atas pertanyaan-pertanyaannya yang diutarakan pada Liana.


"Apa yang kau mimpikan? Apa sebuah mimpi buruk?" tanyanya sekali lagi saat melihat ada kerutan pada dahi Liana. 


"Iya sangat buruk, didunia mimpi pun aku harus mempunyai kenangan buruk denganmu. Aku sangat sedih karena ini".


"Begitu ya!" Ada nada sesal pada nada bicara Arvin. "Maafkan aku! Hanya memberi keburukan pada hidupmu."


Seperti tak ada kata bosan untuk  Arvin memandangi wajah Liana  yang hampir satu jam lamanya.


Mata Liana mulai terbuka perlahan dan saat mengetahui wajahnya diamati oleh Arvin, dengan cepat Liana merubah dari posisi tidurnya menjadi posisi duduk. 


"Kau sudah pulang?" Tanya Liana berbasa-basi.


"Maaf aku ketiduran dikamarmu. Mungkin karena aku kelelahan setelah membersihkan kamarmu" jelas Liana kikuk. 


"Apa kau merindukanku?" Tanya Arvin secara tiba-tiba membuat Liana shock berat dan berucap secara sepontan. 


"Apa?" Tanya Liana terdengar sedikit lantang. 


"Sudahlah lupakan saja! Jika masih menggantuk tidur saja lagi!" ucap Arvin beranjak dari duduknya.


 


"Aku akan kembali ke apartemen," jawab


Arvin sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Liana.


"Aku datang kemari karena Ibu. Jika ..."


"Tidak boleh!" potong Liana.


"Bukankah ini juga rumahmu? Jadi kenapa harus pergi ke apartemen jika memiliki rumah?" lanjut Liana tak memberi kesempatan Arvin untuk mengutarakan maksud hatinya.


"Lagi pula lukamu masih belum sembuh benar. Jadi akan lebih nyaman dirumah sendiri bukan?".


Bukannya Liana tak mengerti jika Arvin akan bicara padanya, hanya saja Ia takut ucapan yang terlontar akan membungkam bibirnya. Karena itu sebelum semua itu terjadi Liana ingin mengatakan segalanya yang ada pikirannya untuk mencegah kepergian Arvin.


"Dan janjimu tentang Shin Chae Gyoung, bisakah kau tepati itu?" Suara Liana mulai melemah.


Ia telah mengutarakan segalanya sekarang dia hanya pasrah pada Arvin yang akan tetap kukuh pergi ataukah akan tinggal karena segala bujukan dirinya.


"Sudah selesai bicaranya?" Tanya Arvin yang telah menunggu Liana berhenti untuk bicara.


"Ternyata setelah beberapa hari tidak bertemu, kau sudah menjadi gadis yang banyak bicara ya," ledek Arvin.


"Aku hanya tidak ingin kau pergi," ujar Liana memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Maka dari itu, berikan aku kesempatan untuk bicara!" ucap Arvin menyentil kening Liana.


"Akhkk ... sakit!" rintih Liana.


"Kau terlalu banyak berpikir" lontar Arvin.


"Padahal aku ingin katakan padamu, 'jika Kau ingin aku tinggal disini, aku akan tinggal untukmu'. Itu hal yang ingin aku katakan tadi, tapi kau terus saja bicara sembarangan," Arvin mengusap lembut kening Liana yang baru saja Ia sentil sebagai obat penyembuh.


Ucapan Arvin memberikan angin segar pada dada Liana yang terasa sesak tak dapat bernafas secara bebas karena merasa khawatir.


"Benarkah?" Liana mempertanyakan kembali ucapan Arvin, Ia masih tak percaya apa yang yang dirinya dengar baru saja.


"Apa kau ingin aku tarik ucapanku kembali?" kesal Arvin yang merasa Liana terlalu banyak berpikir.


"Tidak, tidak, tidak," geleng Liana membuat senyum dibibir Arvin.


"Sungguh aku sangat merindukanmu," benak Liana saat melihat senyuman Arvin yang sudah lama tak Liana lihat.


Entah setan apa yang kini merasuki pikiran Liana hingga dirinya begitu berani menyentuh bibir Arvin dengan bibirnya.


"Apa ini? dia membalasnya. Dia membalas ciumanku?" Liana terkejut merasakan sentuhan balasan dari Arvin.


Ingin hati melepaskan diri dan menanyakan apa yang terjadi, namun secepat kilat tangan Arvin merapatkan pinggang Liana padanya agar ciuman itu tak berakhir sampai disana saja.


Liana yang semula melawan kini mulai pasrah dan memejamkan matanya merasakan hangat sentuhan bibir Arvin.


Tangan Arvin mulai merambah keatas dan tepat pada leher Liana pergerakan tangan itu berhenti lalu menekannya agar rasa cinta itu semakin dalam. 


"Entah apa arti dari ciuman ini? Namun yang kini aku yakini bahwa ini adalah hadiah kecil untukku, atas usahaku selama ini," batin Liana berbicara.


Mata Liana mulai terbuka seiring dengan berakhirnya ciuman itu.


Begitu juga dengan Arvin yang terlihat tersipu sehabis ciuman panjang itu, tapi Ia tetap memberikan diri untuk berbicara.


"Mari kita ulangi segalanya dari awal! Kita lakukan sekali lagi! kali ini lakukan dengan benar tanpa ada yang merasa tersakiti!" ucap Arvin yang sesungguhnya dimaksudkan untuk menjalin kembali hubungan yang berbeda dengan Liana.


Hubungan tanpa adanya sekat yang membatasi mereka, hubungan yang sesungguhnya. Hubungan seorang kekasih, suami dan seorang Istri.


Namun yang dipikir Liana jauh berbeda dengan yang diinginkan oleh Arvin.


"Iya mari kita lakukan bersama! Jalani waktu seperti pasangan biasa, membuat kenangan indah bersama-sama."


"Tentu," setuju Arvin.


"Bahkan jika nantinya jika kita tidak bersama lagi, kenangan kita akan membuat senyuman dibibir saat mengingatnya," ucap Liana memeluk tubuh Arvin.


"Mungkin aku terlalu berani mengungkapkan perasaanku padanya, tanpa aku pahami bagaimana perasaanku nantinya. Tapi tidak masalah jika sesal itu akan aku dapat nanti, karena segalanya kepahitan akan aku bayar dengan memori manis ini”.


***

__ADS_1


__ADS_2