
Ditengah kerumunan ratusan orang ketiga pasangan itu menciptakan dunia mereka masing-masing. Sebuah tingkah tiada batas tuk tunjukan kebahagiaan mereka, meski terlihat seperti anak kecil pun tak ada masalah.
Berbagai fasilitas yang disediakan mereka manfaatkan, satu persatu mereka mulai mencoba nya.
"Ayo kita naik itu!" tunjuk Sofi pada bianglala yang berdiri kokoh ditengah-tengah area taman hiburan itu. Tirta yang baru saja mengartikan ucapan Sofi, langsung ditarik paksa oleh Sofi ke tempat Bianglala itu berada.
"Apa kau begitu suka dengan wahana ini?" tanya Tirta melihat Sofi yang tidak sabar ingin cepat menaiki bianglala itu.
"Em'm" angguk Sofi Mulai menceritakan kenapa Ia sangat menyukai Bianglala itu.
"Hal ini mengingatkan Aku pada Ayah, disetiap hari ulangtahun ku Ayah selalu membawa ku menaiki bianglala ini" itulah kisah di balik semua ketertarikan Sofi akan wahana yang dipenuhi kenangan bersama Ayahnya yang telah meninggalkannya untuk selamanya.
Seketika bibir Tirta terkatup, seketika hati bahagianya sirna menjadi kemurungan.
Sofi mendongakkan wajahnya, menatap lekat wajah yang tertunduk. "Dulu aku buat hari indah bersama Ayahku, dan sekarang setiap tahunnya akan kita buat kenangan indah bersama" ucap Sofi mengembalikan senyum Tirta.
"Tentu. Mari kita buat kenangan indah, hingga Ayahmu akan tersenyum lebar di surga sana"
"Iya".
Jika Sofi dan Tirta mencoba merasakan sensasi Bianglala namun berbeda dengan Anita dan Rendi yang memilih untuk mencoba permainan mengambil boneka yang berada di box kaca dengan menggunakan penjepit untuk meraihnya, dan semua itu dijalankan oleh remote kontrol.
__ADS_1
Berkali-kali Rendi mencoba untuk mendapatkan boneka yang diinginkan oleh Kekasihnya itu, dan berkali-kali itu juga dirinya gagal mendapatkannya. Meski seperti itu Rendi tetap berusaha dan tak ingin menyerah.
Sedangkan Arvin dan Liana berjalan-jalan disebuah pasar Jajanan yang berada di samping kiri pintu masuk.
"Kau mau es krim rasa apa?" tawar Liana pada Arvin yang hanya berdiam diri dibelakangnya tak menunduk tuk memilih macam-macam es krim yang berada lemari pendingin.
"Tidak. Aku tidak ingin" tolak Arvin yang merasa bahwa es krim adalah jajanan yang pantas untuk anak kecil.
"Ya sudah. kalau tidak mau" Liana tak ambil pusing dengan penolakan Arvin.
Namun pemikiran Arvin langsung dipatahkan oleh pasangan muda-mudi yang kini bersemangat memilih es krim yang sesuai selera mereka.
"Paman aku mau es krim stroberinya satu" tunjuk Liana pada sang Penjual.
"Katanya tidak mau es krim?" kerut Liana yang merasa bingung pada sikap Arvin yang sekejap tak mau, dan sekejap kemudian Ingin.
"Semuanya Dua puluh ribu" total sang Penjual meminta bayaran dari mereka kerena telah membeli barang dagangannya. Namun ucapan sang Penjual tak digubris oleh mereka berdua.
Mereka masih dengan pembicaraan tentang sikap Arvin yang seperti bunglon, dalam sekejap dapat berubah.
"Siapa bilang ini Es krim? Ini hanya Air rasa yang dibekukan. Kalau es krim ya... yang berada di tanganmu itu, yang terdapat krim didalamnya" terang Arvin yang tak masuk di akal. Ya, yang sebenarnya Arvin tak ingin dianggap plin-plan oleh Liana.
__ADS_1
"Hey!" seru sang Penjual yang marah menunggu kapan uangnya dibayar. "Dua puluh ribu" pertegas sang Penjual kembali.
"Iya Paman. Tidak sabaran sekali" ujar Liana merogoh tasnya tuk cari dompetnya.
"Ini" Arvin mendahului Liana, Ia memberikan uang senilai seratus ribu pada sang Penjual. "Ambil kembaliannya untukmu!" ujar Arvin dengan tatapan marah. "Lain kali hormati pelanggan mu! Mereka kemari dengan niatan membeli bukan untuk mengambil milikmu. Jika kau seperti ini pada mereka, kau tidak akan mendapat pelanggan yang baik" tutur Arvin yang serasa sama-sama seorang Penjual.
"Ayo kita pergi!" Ajak Arvin merengkuh pundak Liana.
"O'ho... Pembisnis mudah. Itu tadi sangat keren" puji Liana memberikan ancungan jempol pada Arvin, menjadikan senyuman bangga pada bibir Arvin.
"Mau kemana kita sekarang?" Tanya Arvin yang mulai menikmati acara kencan ini.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Arvin, malah pandangan Liana kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu.
"Kau sedang apa?"
"Arvin kita lihat kesana yuk!" tunjuk Liana yang melihat kerumunan orang yang sedang menonton pemusik yang sedang memainkan musik, atau lebih tepatnya pengamen jalanan karena mereka meminta upah dari pertunjukan yang mereka berikan.
Suara indah yang menyanyikan lagu romantis hanya diiringi dengan petikan gitar dan suara pukulan gendang, sudah dapat membius orang-orang yang mendengarkannya.
Namun tidak untuk Arvin yang merasa itu sangat membosankan, "Apa kita bisa pergi sekarang?" pinta Arvin pada Liana yang begitu menikmati alunan musik itu.
__ADS_1
Dengan bibir yang terus mengembang, mata yang terpejam, dan tangan yang disatukan diletakan dibawah dagunya. Disatu sisi Arvin begitu mengagumi kecantikan Liana saat sedang menikmati alunan musik dengan wajah yang berseri-seri. Sedangkan disisi lain dirinya juga merasa iri saat Liana tersenyum karena orang lain.
***