Love'S Feeling

Love'S Feeling
I Need you


__ADS_3

Setelah kemarin tanah bumi diguyur hujan sepanjang malam, hari ini terlihat sang Matahari lah yang akan mengambil alih.


"Sepertinya hari ini tidak akan ada hujan" prediksi Ray mendongakkan kepalanya memandang keatas langit berwarna biru terang. "Benarkan senior?" tanya Ray yang menjadi pegawai magang di café prince. Tempat dimana Rendi bekerja paruh waktu disana.


"Emm" jawab Rendi sangat singkat.


"Apa yang kau lakukan?" Kesal Rendi saat tangan Ray menyentuh keningnya. 


"Aku hanya mengukur suhu tubuhmu, Aku kira senior demam karena akhir-akhir ini senior selalu marah-marah. Tapi ternyata putus cinta" Sindir Ray menebak situasi Rendi disaat ini. 


"Kau ingin mati?" kecam Rendi


"Hey sudahlah! Senior tidak perlu malu padaku. Aku juga pernah diposisi yang sama seperti Senior. Dan semua akan terlupakan seiring berjalannya waktu" cerocos Ray yang memang terkenal banyak bicara. 


Kringg...! Dering telfon genggam Rendi membuat keduannya diam sesaat. 


"Siapa? Apa wanita yang membuat Senior patah hati?" Tanya Ray terlalu ingin tahu.


"Diamlah! Kau ini berisik sekali" umpat Rendi sembil menekan tombol terima. "Minggir!" perintah Rendi, dengan cepat Ray menjauhkan sedikit tubuhnya untuk memberi jalan Rendi. 


"Ada apa?" jawab Rendi menerima panggilan telfon dari Sofi.


Terlihat ekspresi wajah Rendi yang tiba-tiba berubah sesaat setelah Ia mendengar dengan cermat berita yang disampaikan oleh sahabatnya itu. Dan beberapa saat pula mata bening itu kini penuh dengan air mata yang bisa kapan saja terjun walau tanpa diinginkan. 


"Senior, Kau kenapa?" Tanya Ray penasaran.


"Ray tolong izinkan Aku pada bos ya!" Dengan segera Rendi melepas celemek yang sedari tadi terpasang ditubuhnya. 


"Memang senior mau kemana?" Pertanyaan dari Ray diabaikan oleh Rendi.


Dengan perasaan yang campur aduk Rendi berlari ketepi jalan tuk temukan transportasi umum yang dapat membantunya sampai ke tempat yang dituju.


"Senior naiklah! Aku akan mengantarkanmu" tawar Ray tuk membonceng Rendi dengan motor bebeknya.


Tanpa pikir panjang Rendi setuju dengan usul Ray. Iya langsung duduk di bangku penumpang. "Kita kerumah sakit!" 


"Apa?" 


"Sudah jangan banyak tanya! Cepat berangkat!" Pinta Rendi dengan nada cemasnya.


"Baiklah."


Motor yang dikendarai Ray melaju diatas rata-rata, menyelip diantara mengendara mobil atau motor yang lainnya. "Apa terjadi sesuatu pada kekasihmu?" 


"Iya, dan mungkin itu semua karena diriku." 


"Senior tenang saja! Dia pasti baik-baik saja. Dan sekarang Dia pasti sedang menunggumu" 


"Semoga saja" harap Rendi. "Tolong lebih cepat sedikit!" pinta Rendi tak mengurangi kesopanannya.


"Baiklah." Patuh Ray.


Tak butuh waktu yang terlalu lama untuk sampai ketempat tujuan. Diturunkannya Rendi tepat didepan pintu utama rumah sakit. 

__ADS_1


"Terima kasih telah mengantarku!" Ujar Rendi sesuai dengan tata karma.


"Tidak masalah. Sudah sana pergilah! Jangan membuatnya bosan menunggumu."


Rendi berlari kekamar yang telah disebutkan Sofi. Didapatinya seorang yang tengah terbaring lemas diranjang dan beberapa perban yang membalut lukannya.


Rendi menghela nafas panjang setelah berlari jauh hanya untuk melihat wajah sang kekasih. Semua mata kini beralih kearah Rendi yang masih berdiri diambang pintu. 


"Kau datang!" ucap Liana sebagai orang pertama yang berbicara setelah hening sesaat. 


"kalian bicaralah berdua! Selesaikan masalah kalian berdua!" Tutur ibu Anita yang mengetahui hubungan keduannya sedang tidak baik. "Ibu tinggal dulu!".


"Ayo kita pergi!" ajak Ibu Anita pada Liana dan juga Sofi. "Tolong pahami dia!" pinta Ibu menepuk pundak Rendi. 


"Terima kasih" jawab Rendi sopan. 


"Emm!" bersama Ibu, sofi dan Liana pun pergi meninggalkan mereka berdua. 


Walau semuanya telah pergi dan hanya tertinggal mereka berdua di kamar. Rendi hanya diam tak mengatakan satu katapun hanya matanya yang memandang Anita lah yang seperti memberikan isyarat pada Anita apa yang ingin Ia katakan. 


"Bisakah kau lebih dekat? Aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas" pinta Anita setelah mengumpulkan beberapa keberaniannya untuk berbicara. "Kemarilah!" pintanya seraya menepuk sisi tempat tidur yang masih kosong.


Rendi berjalan mendekat dan duduk disisi Anita, sesuai kemauan sang Kekasih.


Dengan tubuh yang lemah Anita berusaha untuk mandudukan dirinya namun tetap saja tak kuasa untuk duduk sendiri. "Bantu aku!" pintanya.


Tanpa bicara, dengan pelan Rendi mendudukan Anita. "Bisakah kau duduk dibelakangku?" rendi masih saja bungkam tapi kali ini Ia tak memenuhi permintaan Anita seperti yang sebelum-sebelumnya. 


Disandarkan tubuhnya yang masih lemah pada dada Rendi. "ha... rasanya lebih nyaman dari pada berbaring seperti tadi. Rasanya punggungku sakit semua terus-terusan berbaring seperti tadi." Tuturnya pada Rendi.


Mendengar penuturan itu Rendi mencoba untuk mengeser tubuh Anita agar lebih nyaman saat bersandar padanya. 


"Bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu?" Tanya Anita yang kini menutup mata karena dirasakannya sudah lelah untuk membuka matanya. 


"Tanyakan saja!" jawab Rendi singkat tapi sudah dapat membuat Anita tersenyum. 


"Tapi ada syaratnya, jika Aku bertanya Kau hanya boleh menjawab 'iya' atau 'tidak'. Mengerti!" 


"Iya" mendengar jawaban itu membuat senyum tipis di bibir Anita sekali lagi. 


"Apa Kau sangat khawatir, saat mendengar berita kalau Aku kecelakaan?" tanya Anita untuk yang pertama kali. 


"Iya." Jawab Rendi dengan segera. 


"Apa selama ini Kau merindukanku?" 


"Iya." 


"Apa Kau membenciku setelah malam itu?" 


"Tidak." 


"Lalu kenapa kemarin kau tidak ingin menemuiku?" 

__ADS_1


"Itu..." 


"Yang ini tidak perlu dijawab" potong Anita yang takut jawaban Rendi akan melukai hatinya.


"Satu pertanyaan lagi. Mungkinkah Kau akan menangis jika kecelakaan itu membuatku mati?" 


"yak... Apa yang Kau bicarakan? Apa Kau sudah gila?" 


"Aku bilang hanya boleh jawab 'iya' atau 'tidak', Kenapa Kau melanggarnya?" Lontarnya dengan nada standart. 


Rendi menghela nafas panjang untuk menahan tangisnya, "Aku juga akan mati. Itu jawabanku." Sesaat itu pula membuat Anita membuka matanya. "Karena hal itu akan membunuhku" sambungnya melanjutkan ucapannya yang sempat terputus. 


"Kau tidak membenciku, Kau juga tak bisa hidup tanpaku. Itu berarti Kau masih mencintaiku. Benarkan?" Analisa Anita. 


"Lebih yang kau bayangkan" kini Rendi tak dapat lagi menahan air mata, sebutir air mata langsung terjun dipundak Anita, yang dapat dirasakan oleh Anita.


"Maaf! Membuatmu menjadi seperti ini" ungkap Rendi sembari merengkuh tubuh Anita dari belakang, wanita yang ia cintai.


"Menyenangkan sekali bisa bersandar seperti ini" ungkap Anita ikut menangis seraya tersenyum lega.


"Sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan hubungan mereka berdua" ungkap Sofi yang sedari tadi begitu asik mengintip dari balik jendela bersama Liana. 


"Kau benar. Seharusnya kita tidak perlu meragukan cinta mereka, karena pastilah akhirnya akan seperti ini" tambah Liana.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa Kau akan menyerah begitu saja? Apa Kau akan sanggup melepas Arvin seperti jojo dulu?" tanya Sofi mengalihkan pembicaraan.


"Dulu Kau bisa melewatinya karena ada Arvin yang mengulurkan tangan padamu. Tapi sekarang bagimana?"


"Aku masih punya kalian." 


"Itu berbeda Liana. Kau memang akan membaik tapi itu hanya sesaat jika Kau bersama kami. Tapi bagaimana kalau Kau sendiri?" 


Liana diam.


"Kau tidak bisa menjawab?" 


"Aku tidak tahu. Otakku sudah penuh dengan pikiran-pikiran aneh saat ini."


"Kau hanya perlu melakukan apa yang saat ini Kau inginkan! Hanya itu" nasehat Sofi.


"Yang sangat ini aku inginkan?" Liana terlihat begitu keras untuk berfikir.


"Tidak perlu berfikir! Karena Aku yakin Kau sudah tahu apa yang sangat ini Kau inginkan. Katakan padaku apa yang Kau ingin sekarang? Lalu lakukan apa yang ingin Kau lakukan! Sederhanakan?" Tutur Sofi.


"Aku ingin bersamanya. Aku ingin bersama Arvin." 


Sofi tersenyum lega, " Benar. Sekarang berkerja lah dengan keras untuk mendapatkan keinginanmu ini! Jangan pikirkan yang lainnya! Hanya Dirimu saja" nasehat Sofi. 


"Terima kasih!" Liana memeluk dengan senyuman dan derai air mata. 


"Lakukan apa pun yang terbaik untuk cintamu! Aku akan selalu berada dipihakmu" tutur Sofi yang begitu berempati pada Sahabatnya.


***

__ADS_1


__ADS_2