
“Bibi aku datang!” Sapa Liana pada pemilik kedai seperti seorang yang telah mengenal lama.
“Oo ... Liana, kau datang! Bagaimana keadaanmu?” Tanya Bibi pemilik kedai yang menghampiri meja Liana.
“Kenapa baru datang? Kemana saja kalian selama ini?”
“Maafkan aku, akhir-akhir ini aku sangat sibuk jadi baru sempat datang kemari lagi," ucap Liana memberi alasan.
“Aku kira kau sudah bosan dengan masakan ku,".
"Mana mungkin seperti itu, masakan Bibi yang paling enak," puji Liana.
"Lalu siapa pria yang kau bawa? Apa dia pacarmu?”
“Dia ...”
“Saya suaminya,” selat Arvin mendahului Liana.
“Maaf?” Mata bibi kedai terbelalak karena terkejut mendengarnya.
“Jadi kau sudah menikah?” Liana megangguk pelan dibarengi dengan senyuman ragu dibibirnya.
“Bibi bisakah aku pesan mie seperti biasanya! Yang ekstra pedas,” pinta Liana mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja. Lalu suamimu ingin pesan apa?”.
“Saya hanya ingin air dingin saja,” saut Arvin.
“Tunggu sebentar! Akan segera diantar,” Bibi pergi dari meja Liana dan beberapa puluh menit lamanya kembali dengan membawa pesanan Liana dan Arvin.
“Wahh.. baunya harum sekali,” Liana menghirup aroma dari mie yang tercium sangat enak.
“Makanlah!” seru Bibi lalu pergi kepelanggan yang lainnya.
“Selamat makan!” Liana mulai menyantap semangkuk mie yang benar-benar pedas.
Sedangkan Arvin hanya memandang Liana dengan kerutan di dahinya, seperti seorang yang tengah berpikir keras.
“Arvin!” panggil Liana menghentikan kegiatan makannya.
“Katakan!” Lontar Arvin masih dengan nada kesalnya.
“Ayo kita hentikan saja semua ini!”
“Apa yang ingin kau katakan? Katakan dengan jelas!”
“Lupakan ucapanku beberapa hari yang lalu! Kita berpisah saja sekarang! Tidak perlu menunggu hingga masa kontrak berakhir,” Terang Liana.
“Apa kau yakin dengan ucapanmu?”
“Iya aku sangat yakin," pertegas Liana.
"Minggu depan skripsi ku akan selesai, jika itu diterima dan aku lulus aku akan melanjutkan studi ku ke luar negeri. Jadi aku minta peceraian kita dipercepat!”
“Apa kau akan pergi bersamanya?” Tanya Arvin dengan nada ketus.
“Iya. Kak jojo juga akan melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus di negara itu. Lagi pula aku juga mempunyai mimpi untuk pergi kesana,” jawab Liana apa adanya.
“Jadi kau sudah mempunyai rencana untuk pergi dan tinggal bersama dengan pria lain?” pertanyaan itu dilontarkan untuk menyindir Liana.
“Iya”.
“Kau masih berstatus istriku, tapi kau sudah merencanakan hidup dengan orang lain. Bukankah itu sangat keterlaluan?”
“Kenapa harus keterlaluan? Bukankah kita akan berpisah? Jadi aku berhak menentukan pilihan ku sendiri”.
“Baik kalau itu yang kau inginkan. Aku akan segera mengurus perceraian kita” Arvin terpancing emosi.
__ADS_1
“Baguslah,”.
Liana kembali memakan makanannya kini semakin lahap. Mata Liana mulai berair. “Mie ini pedas sekali membuat air mataku keluar,” Liana menutupi kesedihannya dengan mie pedas sebagai alasannya.
“Apa kau bisa menjaminnya? Apa kau akan bahagia bersamanya?” Tanya Arvin kembali.
Diam ... Liana tak langsung menjawab pertanyaan Arvin.
“Bukankah saat ini kau sangat mencintaiku? Lalu bagaimana kau bisa bahagia dengan pria lain?” Arvin mempertegas posisinya.
Liana memaksa senyumnya lalu berkata, “aku menyukainya sebelum dirimu. Jadi tidak sulit untuk menghilangkan rasaku sekarang lalu kembali menyukainya.” tutur Liana.
Arvin tersenyum dengan penuh kebencian, “kelihatnya kau sangat yakin bisa mencintainya kembali,”.
“Tentu saja. Kenapa tidak? Aku saja yang membencimu pada awalnya dapat jatuh cinta padamu jadi bukan perkara sulit untuk mengembalikan rasa ini lalu berpaling padanya,” tutur Liana dengan hati yang menangis.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku sekarang? Apa aku masih ada dihati mu? lalu bagaimana dengan beberapa hari ini? Bukankah kau bahagia denganku? Lalu kenapa kau memutuskan ini secara tiba-tiba?" cecar Arvin yang sulit menyelami hati Liana.
"Apakah semua ini karena Alya? asal kau tahu, aku telah ..."
"Cukup!" Liana menghentikan tutur kata Arvin, Ia tidak ingin lagi mendengar lanjutan perkataan Arvin yang mungkin akan semakin menyakitinya.
"Aku mohon tinggalkan aku! Aku sudah cukup menderita karena dirimu. Aku tidak sanggup lagi menanggung beban ini," ujar Liana dengan nada bergetar.
"Beban? Jadi selama ini kau anggap kebersamaan kita adalah beban saja?" benak Arvin terhenyak.
Dikeluarkan beberapa lembar uang lalu Arvin beranjak dari duduknya. “Aku akan menunggumu dimobil,” Arvin pergi dengan segera meninggalkan Liana didalam kedai mie sendiri.
Kini Liana dengan bebas dapat mengekspresikan kesedihannya dengan menangis didalam kedai dan dilain sisi Arvin yang berada didalam mobil mengekspresikan kekecewaan, kemarahannya dengan berteriak dan menghantam kan tangannya kestir.
“Bibi aku sudah selesai. Terima kasih atas makanannya!” Liana meninggalkan meja dan kembali kedalam mobil.
“Aku sudah selesai” ucapnya yang telah duduk disisi Arvin.
Dijalankan mobilnya diatas rata-rata berharap jalan ini akan cepat ia lalui. Tanpa berbicara, tanpa melihat, hanya diam hingga sampai dirumah.
“Aku akan berkemas sekarang, besok aku akan pulang dan memberi tahu ayah dan ibu tentang perceraian kita,” cetus Liana setelah keduanya telah masuk kedalam rumah.
“Tidak perlu, kau cukup memberi tahu orang tuamu saja tentang perceraian kita!”.
“Aku bilang aku antar!” kali ini nada bicara Arvin meninggi.
Dengan perasaan campur aduk, Arvin berjalan keatas lalu ditutup pintu kamarnya dengan kasar.
Malam itu berakhir dengan tangis, entah besok seperti apa? Mungkin akan lebih buruk dari ini.
***
Hari menjelang pagi, setelah dirasa telah siap keduanya pun menuju kerumah orang tua Liana.
Walau telah menyiapkan nyali sebesar apapun itu, tapi tetap saja Liana masih merasa cemas atas apa yang akan dilakukannya dengan Arvin nantinya akan mengganggu kesehatan ayahnya.
“Apa kalian benar-benar akan melakukannya?” Tanya Dafina sedikit berbisik supaya hanya mereka berdua yang bisa mendengar pertanyaannya.
“Maafkan kami,” sesal Arvin.
“Oh ya ampun,” Dafina begitu tak percaya dengan kelakuan Arvin dan Liana yang terlampau nekat.
“Sudahlah, terserah kalian. Aku sudah lelah dengan keegoisan kalian berdua,” Dafina kini menyingkir keluar dari ruangan.
“Ayo duduk nak Arvin! Ibu akan buatkan minuman untuk kalian. Ayo Liana!” ajak Ibu meminta bantuan Liana untuk menyiapkan sajian untuk Ayah dan Arvin.
“Ibu!” panggil Arvin menghentikan langkah Ibu Liana.
“Ibu duduklah! Kami ingin bicara sekarang,” Arvin tidak ingin menunda lebih lama lagi.
“Memang kalian ingin bicara apa? Kenapa terburu-buru sekali?” Ayah angkat bicara.
__ADS_1
Arvin berdiri tepat dihadapan Ibu dan Ayah lalu berlutut.
"Arvin kau ..."
“Ayah, Ibu maafkan kami! Kami memutuskan untuk berpisah”.
Ayah dan Ibu begitu shock mendengar perkataan yang diutarakan oleh Arvin.
“Apa?”.
“Arvin, apa kau tidak salah bicara?”.
“Maafkan aku Ayah, Ibu ini semua kemauanku,” tambah Liana membuka suara.
“Aku sudah lelah melakukan kebohongan ini”.
“Kebohongan apa?” Tanya Ibu meminta penjelasan.
“Aku berbohong saat aku menyetujui pernikahan ini, aku berbohong saat aku bahagia dengan perikahan ini. Sejak awal pernikahan ini sudah didasari oleh kebohongan. Dan aku sangat tersiksa karena ini".
"Ayah pernah bilangkan pada Liana, bahwa pernikahan harus didasari dengan ketulusan dan kejujuran hati kalau bisa harus didasari dengan cinta pasangan dan keluarga. Tapi dipernikahanku tidak ada semua itu.” Tutur Liana berlinang air mata.
“Ayah berikan aku kebebaskan! Aku sudah sangat lelah,” isak Liana.
“Liana jangan bicara sembarangan! Sebuah perceraian tidak bisa dianggap main-main," tutur Ibu yang menyadarkan ucapan Liana sangatlah salah.
“Aku berbicara ini karena aku tidak ingin bermain-main lagi dengan perasaan semua orang. Aku hanya ingin hidup dengan baik. Aku tidak ingin dihantui dengan perasaan palsu ini.”
“Liana!”
“Baiklah, ” Ayah beranjak dari tempat duduknya.
“Ayah?”
“Lakukan apa yang menurut kalian itu yang terbaik”.
“Maafkan kami!” sesal Arvin.
“Iya. Tidak apa-apa,” Ayah melangkah pergi.
“Arvin bangunlah! Duduklah disini! Ibu ingin bicara dengan kalian.” pinta ibu.
“kalian sudah yakin akan melakukan ini? Apa ini memang yang terbaik untuk kalian?” Tanya Ibu meminta penjelasan.
“Maafkan aku ibu!” lontar Arvin telah menjawab segala pertanyaan Arvin.
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu?”
“Aku akan bertanggung jawab untuk itu. Aku akan memberi pengertian pada mereka. Jadi Ibu jangan khawatir tentang itu.”
“Baik, Ibu mengerti sekarang”.
“Sekali lagi maafkan aku untuk segalanya”.
“Ibu harap yang diputuskan hari ini tidak membuat kalian menyesal suatu saat nanti”.
"Karena entah kenapa ibu telah melihat cinta dimata kalian”.
“Maaf ibu!” lagi-lagi Arvin hanya bisa melontarkan kata ‘maaf’.
“Sudahlah. Ibu ingin melihat Ayahmu dulu!” pamit Ibu meninggalkan keduanya dengan tangis diwajahnya.
Walau menyetujui permintaan mereka tapi tetap saja Ibu dan Ayah sangat terluka dengan keputusan putri dan menantunya.
“Sudah berakhir. Segalanya sudah berakhir sampai disini.” batin Liana menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Takdir seperti telah mempermainkanku, mungkin ini karena dosa dari kebohongan yang telah aku ciptakan dulu, lebih tepatnya Sembilan bulan yang lalu. Aku mengatakan ‘bahwa aku menerimanya dan menyukainya’ agar menutupi semua kebencianku padanya. Dan sekarang takdir yang mungkin muak dengan segala dustaku. Kini dengan mudah ia membalikkan segalanya. Kini aku harus rela mengatakan bahwa, ‘aku tidak menyukainya’ dalam sebuah kebohongan. Padahal dalam kenyataan aku sangat mencintainya .” (proloq Liana.)
***