Love'S Feeling

Love'S Feeling
Perhatianmu


__ADS_3

Tiga puluh dua Mahasiswa didalam satu ruangan kelas, namun kelas terasa kosong karena tak ada satupun Mahasiswa yang mengeluarkan suara.


Perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada lebaran pertanyaan yang diharuskan dijawab dengan benar. Karena lembar kertas itulah yang akan mengantarkan mereka pada masa depan yang lebih baik lagi.


Sebuah beasiswa ke Inggris yang dijanjikan pada Lima orang Mahasiswa yang menduduki urutan nilai teratas pada ujian ini.


"Liana apa Kau baik-baik saja? Apa kepalamu terasa sakit?" tanya pengawas saat melihat Liana sedari tadi menyentuh keningnya yang terdapat balutan perban disana. 


"Tidak apa-apa bu, saya baik-baik saja!" 


"Benar?" Tanya sang Pengawas kembali tuk yakinkan dirinya sendiri.


"Iya. Saya baik" jawab Liana meyakinkan.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu!" 


"Baik" angguk Liana.


"stt.. liana!" panggil Sofi lirih sesaat setelah sang Pengawas menjauh dari bangku Liana. 


"Apa?" tanya Liana tak bersuara, hanya gerakan bibir yang dapat di mengerti sahabatnya Sofi. 


"Kalau kau memang merasa pusing, sudah jangan diteruskan!" 


"Sungguh Aku merasa baik-baik saja, sudah lanjutkan pekerjaanmu!" Liana tersenyum menghibur. 


"Benar?" 


"Iya, sudah fokus saja dengan ujianmu!" 


"Kau ini selalu membuat orang khawatir" gerutu Sofi lirih. Sedangkan Liana hanya tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan mengisi soal ujiannya. 


Dua jam waktu yang diberikan kini telah selesai semua mengumpulkan kertas jawaban dengan tertib. 


"Sebaiknya Aku antar Kau pulang ya! Wajahmu tambah pucat Liana" khawatir Sofi.


"Ya sudah naik mobilku saja!" tawar Anita.

__ADS_1


"Sayang tidak apa-apakan, aku tinggal sendirian?" tanya Anita merasa tidak enak pada Kekasihnya


"Sudah jangan khawatirkan Aku, antar saja Liana pulang!" 


"Ya sudah".


"Ayo Liana! Kita antar kau pulang." 


"Apa sih? Jangan papah aku!" Liana melepaskan gandengan tangan kedua sahabatnya. "Aku hanya pusing sedikit, jangan perlakukan aku seperti orang sakit parah! Aku masih sanggup untuk berjalan sendiri." 


"Baiklah" Sofi dan Anita pun melepaskan tangan Liana dan membiarkan Liana berjalan sendiri. 


Ketiganya pun keluar dari Universitas dengan menggunakan mobil berwarna merah milik Anita. Dengan menempuh jarak sekitar tiga kilo agar bisa sampai dirumah Liana. 


Ternyata Arvin sudah berada didepan teras rumahnya mondar-mandir dengan wajah penuh kecemasan. 


"Sepertinya kau sudah ditunggu!" ujar Anita yang melihat Arvin tuk pertama kalinya. 


"Cepat turun dan temui dia! Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu?" perintah Sofi 


"Ehm.." angguk keduanya. 


"Istirahatlah!" lontar Sofi 


"Semoga cepat sembuh!" harap Anita. "Arvin aku kembalikan istrimu dalam keadaan utuh jadi jangan terlalu khawatir" goda Anita bernada Keras agar dapat didengar Arvin yang kini melihat kearah Liana yang turun dari mobil. 


"Yakk... berhentilah bicara sembarangan!" pinta Liana kesal tapi tidak dapat marah karena tubuhnya terlalu lemas untuk mengeluarkan tenaga lebih. 


"Baiklah. Maafkan aku!" sesal Anita. "Ya sudah kami pergi!" 


"Sampai jumpa!" Sofi memberikan ucapan selamat tinggal dengan lambaian tangan sedangkan Anita hanya tersenyum karena kedua tangannya sibuk memutar setir sesuai dengan keinginannya. "Dah Liana!" pamit keduanya. 


"Arvin kami pamit!" lontar Sofi untuk sopan santun seorang tamu jika akan pergi. Arvin mengangguk dengan senyuman ramah. 


Dengan segera Arvin berjalan mendekat kearah Liana, lalu menyentuh kening Liana tuk ukur suhu tubuh Liana. 


"Apa yang kau lakukan?" Liana begitu shock dengan prilaku Arvin yang begitu tiba-tiba. 

__ADS_1


"Diamlah! aku hanya ingin mengukur suhu tubuhmu."


Liana tidak dapat melihat wajah Arvin sepenuhnya karena mereka berdua sangat dekat.


"Jantungku mulai berdetak kencang lagi, semoga Arvin tak mendengar dan merasakannya" harap Liana didalam hati.


"Aku sudah tidak apa-apa. Jadi jangan terlalu cemaskan aku."


"Tidak apa-apa, apanya? Kau tidak merasa? Kau mulai demam lagi" ujar Arvin dengan nada kesal merasakan suhu tubuh Liana mulai naik lagi. 


"Benarkah?" Liana menyentuh keningnya untuk memastikan. 


"Kau ini, tidak bisa apa diam dirumah saja? Sampai benar-benar kau sembuh total. Jika sudah seperti ini, siapa yang merasakan sakit? Kau sendirian?" bentak Arvin. 


"Aku hanya kekampus tadi, ada ujian yang harus Aku ikuti. Jadi Aku harus masuk" jelas Liana tertunduk dengan rasa bersalah.


"Ikut denganku!" Arvin menarik lengan Liana dan membawahnya kedalam rumah. Didudukannya diruang makan. Dan disana Liana telah mendapati berbagai macam jenis makanan yang telah terhidang apik diatas meja makan. 


"Makanlah!" 


"Semuanya?" 


"Boleh, jika kalau kau sanggup menghabiskannya" tantang Arvin.


"Hey! Apa Kau meledekku? Mana mungkin Aku bisa menghabiskan semuanya. Aku bisa gendut nanti." 


"Lalu memang kenapa jika kau gendut? Aku tidak perduli jika kau gendut atau tidak. Asalkan kau tidak sakit lagi, aku akan lebih senang" perkataan Arvin langsung membuat Liana tersipu sejenak. "Jadi jangan banyak bicara dan makan saja!" perintah Arvin mendudukkan Liana di kursi makan, didepan semua hidangan yang telah ia siapkan.


"Lihatlah wajahmu itu! Pucat seperti mayat hidup" tuturnya.


"Benarkah? Pasti wajahku sangat mengerikan sekarang" gumam Liana sendiri.


"Iya wajahmu sangat mengerikan, jadi cepat makan! Dan cepatlah sembuh!" perintah Arvin yang terlihat begitu kesal. 


"Baiklah aku akan makan sekarang". "Cerewet sekali" meski menggerutu Liana tetap menuruti perintah Arvin. Dengan segera Liana melahap satu persatu makanan yang tersaji dimeja makan.


***

__ADS_1


__ADS_2