
Awan biru berpindah diganti oleh mendung gelap yang menutupi cahaya matahari, yang beberapa saat berubah menjadi butiran air hujan yang turun ke tanah bumi.
Orang-orang yang terkena tetesan air dari langit langsung berhambur mencari tempat untuk berteduh agar tubuh mereka tak akan basah kuyup karena air hujan.
"Oo hujan, Rendi ayo kita berteduh!" Anita berlari tunggang langgang tanpa tahu bahwa Kekasihnya masih berdiam didepan kotak permainan itu dengan usahanya yang tak pernah terputus.
"Dimana dia?" sadarnya saat Ia tak lagi mendengar suara Rendi. Anita mencari-cari keberadaan kekasihnya itu.
"Anita!" Teriak Rendi dari arah belakang. "Lihatlah! Aku telah mendapatkannya" Ujar Rendi seraya menunjukan boneka yang didapatkannya.
Anita hanya bisa menghela nafas panjang sebelum tersenyum melihat usaha kekasihnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. "Pria bodoh, kenapa rela hujan-hujanan hanya demi mendapatkan boneka itu?"
Dan diwaktu yang sama namun pada tempat yang berbeda, Arvin berlari mencari tempat untuk berteduh bersama semua orang yang menikmati musik dan juga kedua pemusik yang bergegas menyelamatkan peralatannya dari air hujan.
"Arvin benarkan ucapanku kalau hari ini akan hujan" teriak Liana dibawah guyuran hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Apa dia sudah gila?" Kesal Arvin yang melihat Liana malah asik menikmati guyuran hujan sedangkan yang lainnya menghindarinya.
"Diakan masih sakit, kenapa sudah berani hujan-hujanan? Dasar..." Arvin tak ingin melanjutkan gerutuannya, Ia lebih memilih mencari solusi untuk ini.
"Permisi Bibi!" Arvin mendekati seorang wanita setengah abad yang mengeluarkan payung dari tasnya. "Bisakah saya meminjamnya sebentar?" mohon Arvin.
"Tapi..."
"Bagaimana kalau saya beli payung Bibi?" Arvin mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. Harga payung yang tak seberapa itu dibeli Arvin dengan harga mahal agar sang Bibi tidak berpikir terlalu panjang untuk menyetujui permintaannya.
"Baiklah" bukan Bibi itu rakus akan uang tapi begitulah sifat manusia yang seharusnya.
"Terima kasih" ungkap Arvin. Yang kini mulai memakai payung yang telah menjadi miliknya untuk menjemput Liana yang masih betah bermain hujan.
Dipayunginya tubuh Liana, "Kau sedang apa disini?".
"Bukankah ini sangat menyenangkan?"
"Itu menurutmu. Ayo berteduh!" digenggamnya tangan Liana yang dingin, ditariknya untuk mengikutinya.
"Kenapa berteduh? Lagi pula Akukan sudah basah kuyup" tolak Liana.
__ADS_1
"Kau bisa sakit nanti"
"Tidak akan. Jadi ayo kita nikmati hujan hari ini! Bukankah ini pertama kali hujan turun dikencan pertama kita?" Liana menunjukan senyuman manjanya.
"Bagaimana kalau kita berdansa? Pasti sangat romantis jika berdangsa ditengah hujan"
"Apa?" pekik Arvin. "Tidak mau?" Tolak Arvin tegas.
"Ayolah, katanya Kau mau jadi pria yang Aku inginkan. Jadi turuti permintaanku yang satu ini. emm!" Mohon Liana dengan wajah memelas.
"Kau tidak malu dengan mereka yang melihatmu nanti?"
"Untuk apa? Aku bukan berdansa dengan pacar orang lain atau suami orang lain kan?"
"Tapi tetap saja..."
"Hey mereka kan tidak mengenal kita, satu atau dua hari mereka akan lupa pada kejadian ini. Jadi kenapa harus malu?"
"Arvin!" panggil Liana manja. "Hanya ingin kau tahu. Aku sangat menginginkannya."
"Bagus."
Liana mengambil payung yang digenggam Arvin dan diletakannya dibawah.
"Kakak! Bisakah kalian mainkan satu lagu romantis untuk kami?" pinta Liana meminta pada pemusik itu.
"Dengan senang hati" jawab sang vokalis.
Suara indah sudah dapat dinikmati meski tidak ada musik. Apalagi saat petikan gitar masuk dalam syair-syair indah itu.
"hah.. bukannya ini begitu romantis?"
"Apa kau menyukainya?"
"emm" angguk Liana pelan dengan senyuman.
"Kau bahagia?"
__ADS_1
"Pasti" ujar Liana menjawab tuk kedua kalinya.
"Dan apa seperti ini Pria yang ingin kau kencani?"
"Benar" Jawab Liana ketiga kalinya.
Dan kini sedikit berbeda karena jawabannya ada yang tertahan di hatinya."Kaulah Pria yang inginkan sebagai teman kencan ku yang sesungguhnya."
"Baguslah jika seperti itu."
Dengan senyum diwajah, dengan saling menatap, dan dengan perasaan yang tertahan mereka berdansa dibawah guyuran hujan.
Tak jauh berbeda dari kedua pasangan sebelumnya Anita dengan Rendi, dan juga Arvin dan Liana. Sofi juga menikmati hujan yang turun di siang itu.
Dengan menutup mata dan satu tangan dikeluarkan untuk menikmati tetesan hujan yang menyentuh jemarinya.
"Kau sedang apa?" Tanya Tirta bingungo.
"Merasakan hujan, dengan seperti ini aku bisa mendengar dengan jelas satu persatu hujan yang menetes di tanganku."
"Benarkah?"
"Cobalah!"
Tanpa ragu Tirta langsung mencoba metode Sofi untuk menikmati hujan.
Tes..tes..tes.. Terdengar samar - samar suara tetes hujan dan semakin lama, semakin terdengar dengan jelas.
"Aku mendengarnya dengan jelas" ungkap Tirta tersenyum senang karena ini kali pertamanya Ia tak hanya merasakan tetesan hujan tapi juga mendengarkannya setelah tujuh tahun tak bisa mendengar apapun. meski itu sebuah ilusi saja.
"Kenapa Kau begitu bersemangat, dengan hal sesedarhana ini?" tanya Sofi yang kini melihat Tirta tertawa kecil sembari melakukan apa yang Ia lakukan tadi. "apa kau benar-benar senang?" Tanya Sofi kembali tapi sama saja Tirta tak menjawabnya lagi.
"Baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi. jadi nikmatilah!" kini Sofi hanya diam memandang lekat wajah Pria yang berada dihadapannya.
Sepertinya hujan kali ini menjadi saksi bisu kisah cinta dari ketiga pasangan yang memiliki kisah hidup masing-masing tapi akan berujung pada perjalanan terakhir sebuah tahta cinta sejati.
***
__ADS_1