Love'S Feeling

Love'S Feeling
Hari-hari Biasa Bersamamu


__ADS_3

Jarum jam telah menunjuk lewat tengah malam, namun Liana masih saja sibuk dengan komputernya.


"Hey.. apa yang sebenarnya kau kerjakan? Pergilah tidur! Ini sudah jam satu pagi," pinta Arvin saat mendapati istrinya masih betah berada didepan komputer. Padahal Ia telah menanti Liana selama berjam-jam dikamar tanpa dapat tidur.


"Sebentar lagi, Aku harus menyelesaikan soal untuk ujian nanti. Karena besok aku harus menyerahkannya ke Kepala sekolah," ucap Liana, yang pandangannya berfokus pada layar monitor.


"Apa perlu aku bantu?" tawar Arvin mendekat.


"Tidak perlu. Sebentar lagi juga selesai tinggal beberapa soal lagi. Jadi tidurlah!" pinta Liana.


"Aku akan tidur, jika kau juga tidur".


"Jika kau masih disini, kau hanya menggangguku saja. Jadi tidurlah! Aku akan tidur sebentar lagi. Ehm!" bujuk Liana mendorong tubuh Arvin menjauh.


"Lagi pula kau kan harus menghadiri rapat besok pagi. Jadi tidurlah!" pinta Liana tuk sekian kali.


Tak tega melihat Liana yang lebur sendirian, membuat Arvin pergi ke dapur untuk membuatkan sesuatu minuman hangat untuk Istrinya itu.


"Pasti dia sangat lelah, akan aku buatkan sesuatu yang hangat dan juga manis," gumamnya sendiri.


Diputuskannya untuk membuat secangkir coklat panas untuk diminum Liana, sebagai menghangatkan tubuh, dan manisnya juga dapat memberi beberapa energi untuk Liana.


Tak sampai 10 menit minuman itu telah berada dimeja kerja Liana.


"Minuman lah supaya tubuhmu tetap hangat!" pinta Arvin.


"Terima kasih!" haru Liana atas perhatian yang ditujukan Arvin padanya.


"Berjanji setelah ini selesai, kau segera tidur!"


"Iya aku janji".


"Baiklah," Arvin meninggalkan Liana sendiri untuk kembali ke kamar.


Walau Arvin membebaskan Liana, tapi tetap saja dirinya khawatir. Ia tidak bisa tertidur, berbaring, duduk, mondar-mandir, baca berkas, Ia tidak bisa tenang.


Hampir jam 3 pagi Liana masih belum naik untuk tidur, perasaan Arvin semakin gusar.


"Ap yang sedang dia lakukan? Bukankah dia bilang cuma sebentar? Kenapa sudah dua jam dia belum kembali juga?".


Tak ingin resah, dan tidak ingin lagi bertanya macam-macam pada dirinya sendiri yang sama sekali tak dapat dirinya jawab. 


Dengan langka pasti Arvin kembali melihat Liana yang tak kunjung datang. Ternyata beberapa dugaannya benar, Liana telah tertidur pulas didepan komputernya yang masih dalam keadaan menyala.


Arvin menghela nafas panjang sesaat, "Kau selalu membuatku khawatir. Aku kira dengan kau yang sekarang, Kau akan menjadi lebih baik dan tidak membuatku khawatir lagi," Gumam Arvin sendiri.


Ia mengangkat tubuh Liana secara perlahan untuk dipindah ke tempat tidur, secara perlahan Arvin menyelimuti tubuh Liana.


Dikecupnya lembut kening Liana. "Aku mencintaimu!" bisiknya pelan membuat bibir Liana yang terlelap tidur tersenyum lebar, mungkin Liana dapat mendengar suara itu lalu masuk kedalam mimpinya.


Meski singkat dikarenakan waktu pagi akan datang sebentar lagi. Arvin tetap mencoba untuk tidur nyenyak dengan memeluk tubuh istrinya.


***


Didalam ruang guru Liana terus saja memegangi kepalanya yang semakin terasa berat, yang sudah Ia rasakan saat dirumah tadi.


Arvin yang sadar akan hal itu menyuruhnya untuk beristirahat di rumah, tapi Liana tetap kukuh untuk berangkat kesekolah karena Ia mempunyai janji dengan Orangtua Cika, karena lagi-lagi Cika tidak masuk beberapa hari tanpa pemberitahuan.


"Ibu Ana sedang sakit?" Tanya guru Rosemi khawatir.


"Wajah Anda sangat pucat, bukankah sebaiknya Ibu Ana pulang dan beristirahat saja?".


"Mungkin nanti setelah saya bertemu dengan Orangtua Cika," ujar Liana masih bersikukuh.


"Tapi sepertinya mereka tidak akan datang. Ini sudah lebih dari tiga jam dari waktu yang seharusnya," utara Ibu In yang tahu benar jam berapa seharusnya Orangtua Cika datang, karena dialah yang membuatkan undagan.


"Begitu ya. Baiklah kalau begitu," Liana beranjak dari tempat duduknya, menyambar tasnya yang berada dimeja dan dikaitkannya kebahu kanannya.


"Ibu perlu saya panggilkan taksi?" tawar guru Rosemi.

__ADS_1


"Tidak usah Bu, saya akan cari diluar sekolah saja. Bukankah tempat tinggal Cika didekat sini?"


"Bukankah Ibu Ana ingin pulang?"


"Nanti setelah aku menemui Orangtua Cika. Sepertinya saya harus menemui mereka sendiri"


"Haruskah sekarang?" tanya guru Rosemi yang masih mengkhawatirkan keadaan Liana.


"Ehm," angguk Liana pelan karena kepalanya terasa semakin pusing jika digerakan.


"Tidak ada waktu lagi, karena dua hari lagi ujian akan dilaksanakan".


"Ibu guru Nita tidak ikut?" Tanya guru In angkta bicara.


"Maaf?" guru Nita sangat terkejut mendengar namanya dikaitkan.


"Anda kan seorang guru BP disini. Bukannya tidak pantas jika guru Ana saja yang datang kerumah Cika? Walau guru Ana sebagai wali kelas Cika, tapi guru Ana kan cuma seorang guru musik," perjelas guru In panjang lebar.


"Iya. Memang benar. Harusnya Ibu Nita ikut dengan Ibu guru ana," setuju guru Rosemi yang berpihak pada guru In.


"Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi aku takut guru Ana tidak ingin pergi bersamaku," guru Nita mencari alasan agar tidak disudutkan.


"Kenapa Ibu guru Nita berbicara seperti itu? Jika Ibu guru Nita ingin ikut denganku, aku akan merasa senang," lontar Liana yang tak ingin dikambing hitamkan oleh guru Nita.


"Baik aku ikut!" ucap guru Nita yang kini membereskan barangnya dengan cepat "ayo aku sudah siap".


"Kami berangkat!" pamit Liana.


"Hati-hati dijalan!".


"Terima kasih!" Keduanya pun pergi dengan jasa taksi ke alamat yang tertera pada identitas Cika yang dimiliki oleh sekolah.


Disebuah perkampungan kumuh yang berada dipinggiran kota, yang berjarak beberapa kilometer dari sekolahan.


Padahal masih daerah perkotaan, tapi tempat itu serasa jauh dari keramaian dan gemerlap kota. Tidak terjamah oleh sebuah arti kemewahan.


Hanya beberapa gubuk yang terbangun asal-asalan, yang mungkin itulah rumah termewah mereka yang melindungi dari terik matahari dan dinginnya malam. Dan disanalah tempat mereka untuk berteduh jika hujan telah datang.


"Ibu guru Nita benar. Presedir memang pria yang sangat hebat dan juga baik," setuju Liana.


"Kau sangat beruntung sofi mendapatkan pria seperti Presedir," benak Liana.


"Oo bukankah itu cika?" tunjuk guru Nita kepada satu anak yang merangkak disalah satu timbunan sampah untuk mencari sebuah plastik atau besi yang bisa dijual.


"Cika!" panggil Liana berjalan kearah anak didiknya itu.


"Ibu guru?"


"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah sekarang waktunya kau untuk bersekolah?" Dengan nada sedikit tinggi Liana memperlihatkan rasa marah dan kecewanya pada murid didiknya.


"Ayo sekarang kita pergi kesekolah! Ganti bajumu sekarang!".


"Maafkan aku Bu! Tapi aku harus mencari uang," sesal Cika.


"Untuk apa? Kau tidak perlu uang untuk sekolahmu. Kau hanya perlu datang dan menjadi anak pintar".


"Tapi aku yang membutuhkan uang," teriak seorang laki-laki dari arah belakang.


Tubuh yang lusuh dan tampang seperti preman mendekat kearah Liana dan guru Nita yang kini bersembunyi dibelakang Liana karena takut.


"Siapa anda?"


"Aku Ayahnya Cika. Memang kenapa?" angkuhnya seperti seorang yang menantang.


"Kebetulan sekali ada yang ingin saya katakan kepada anda," meski ada perasaan takut tapi Liana mencoba untuk memberanikan diri untuk menegur Orangtua Cika yang membiarkan anaknya tidak bersekolah berhari-hari.


"Anda sebagai wali murid, kenapa anda membiarkan Cika tidak bersekolah? Bukankah sekolah itu tidak memungut biaya sepeserpun dari anda?" tanya Liana tegas.


Walau Ia sedikit terganggu oleh guru Nita yang terus menarik lengan baju Liana agar tidak menyinggung perasaan Orangtua Cika yang seperti preman itu.

__ADS_1


"Memang," akuh Ayah Cika.


"Seharusnya anda memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat anak anda menjadi pintar, agar dia memiliki masa depan".


"Pintar dalam hal apa? Kalau pintar saja tidak cukup, yang paling penting anak yang bisa mencari uang," lontar Ayah Cika tak mau kalah.


"Maksud anda. Anda ingin mempekerjakan anak anda untuk mencari uang?".


"Tentu saja".


"Wahh orang seperti apa itu? memperkerjakan anaknya sendiri," gumam guru Nita lirih.


Liana menghela nafas panjang sesaat, mungkin kemarahan Liana telah sampai puncak amarahnya karena mendengar perlakuan tidak adil pada anak didiknya.


"Lalu untuk apa tenaga anda? Jika anak anda yang disuruh untuk bekerja?" sindir Liana.


"Ibu guru jangan bicara seperti itu!" Pinta Cika yang kini menangis karena takut akan pertengkaran Liana dan Ayahnya.


"Cika pergi bersama Ibu guru Nita dulu ya! Ibu ingin bicara dengan Ayah Cika," suruh Liana.


"Ibu guru Nita tolong bawah Cika menjauh dari sini!" mohon Liana, yang tak ingin perselisihan dirinya dengan Ayah Cika terlihat oleh anak didiknya itu.


"Apa tidak apa-apa, jika guru ana sendirian?".


Angguk Liana sebagai jawaban untuk meyakinkan. 


Dengan bujukan Cika akhirnya mau diajak guru Nita pergi dari sana, meninggalkan Liana sendiri menghadapi Ayah Cika.


"Hey mau dibawa kemana anak itu?" teriak Ayah Cika.


"Anda mau kemana?" cegat Liana menghalangi jalannya.


"Apa lagi?" kesal Ayah Cika.


"Saya masih ingin bicara dengan anda!"


"Oo ya ampun. Wanita ini sangat menyusahkan sekali," desahnya kesal.


"Dimana istri anda? Saya juga ingin bicara dengan istri anda".


"Istriku sudah pergi".


"Pergi kemana?"


"Pergi jauh. Tidak tahu kemana?"


"Jadi kalau begitu saya hanya punya urusan dengan anda," walau Ayah Cika selalu menjawab dengan berteriak tapi Liana mencoba untuk tetap berbicara dengan nada yang biasa.


"Biarkan Cika bersekolah seperti anak yang lainnya!"


"Memangnya siapa kau? Beraninya memerintahku".


"Saya wali kelas dari anak anda". "Jadi bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Biarkan cika bersekolah!" bentak Liana yang sudah tidak dapat menahan emosinya, memberi efek pusing kepada kepalanya lagi.


"Tidak bisa. Dia harus mencari uang kalau mengandalkan aku saja, pasti akan sangat sulit nanti".


"Dasar Orangtua brengsek!" gumam Liana.


"Jika anda masih tetap dengan pendirian anda. Saya tidak segan-segan untuk memenjarakan anda walau anda masih Orangtua Cika. Karena anda telah mempekerjakan anak yang masih dibawah umur," Kecam Liana.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau mempersulit ku? Dia kan anakku, jadi terserah akan aku apakan dia," kini suara Ayah Cika kembali ke normal.


Tapi malah kini Lianalah yang kini berteriak melepaskan kemarahannya, "Yakk ...!"


"Ya ampun kau mengagetkan ku saja, kenapa tiba-tiba kau berteriak?" ucap Ayah Cika mengelus dada.

__ADS_1


Perut Liana tiba-tiba terasa kram dan juga kepala yang terasa semakin berat, membuat Liana tak dapat lagi mengontrol tubuhnya, dan sesaat kemudian Liana terjatuh pingsan.


***


__ADS_2