
Arvin terduduk disofa begitu resah, beberapa kali ia sempatkan melirik jam yang berada ditangan kirinya. "Yakk.. Liliput cepatlah! Ini sudah siang aku bisa terlambat meeting"teriak Arvin mencoba memberi tahu.
"iya sebentar lagi".
"ada apa dengannya? Apa dia menganggap aku seorang penggangguran apa? Harus menjadi supirnya seperti ini. Lagi pula, kapan dia akan bisa menaiki motornya?"gumamnya kesal. "Yakk... apa yang kau lakukan disana? Cepatlah!"geram Arvin yang kini menjadi semakin kesal saat seseorang mengetuk pintu rumahnya. "apa lagi ini? Apa orang ini tidak punya etika? kenapa pagi-pagi sudah bertamu kerumah orang?"gerutu Arvin sembari membukakan pintu untuk tamunya. "rupanya kau, ada apa datang sepagi ini?"ucap sinis Arvin karena tamunya bukan lain adalah Jojo.
"maaf sudah menggangumu sepagi ini".
"Kau sadar rupanya"ucapan sinis arvin hanya disambut senyuman singkat Jojo.
"Maafkan aku! Aku hanya.."
"aku sudah siap, ayo..." Jojo menghentikan ucapannya begitu juga dengan Liana. Keduanya berbalas pandang cukup lama karena akhir-akhir ini mereka tak pernah bertemu. Hingga akhirnya Liana membuka percakapan, "kakak?"
"hay, lama tidak bertemu!"sapa Jojo sedikit berbasa-basi. Balas Liana dengan senyuman.
"Yakk.. berhenti berbasa-basi! Cepat katakan, apa yang ingin kau katakan!"sela Arvin kesal karena melihat mereka seperti sepasang kekasih yang baru dipertemukan setelah sekian lama berpisah.
"Maafkan aku"sesal jojo menyadari kesalahannya.
"Kau ini kasar sekali!"lirik tajam Liana.
__ADS_1
"Apa?"
"ini.aku kemari hanya ingin mengundang kalian ke perayaan kelulusanku, kalian bisa datangkan?"
"kami tidak bisa"jawab Arvin begitu sinis.
"maaf kak! Dia memang suka bercanda, kami pasti datang"ralat Liana memberikan senyuman sembari kakinya bergerak menginjak kaki Arvin dengan kerasnya.
"AAkkkkkhh..."pekik Arvin kesakitan
"kau kenapa?"tanya Jojo heran dengan tingkah Arvin
"ayan? Apa perlu dibawah kerumah sakit?"
"tidak perlu, kalau istirahat juga nanti sembuh"
"oh.. ya sudah kalau begitu aku pergi dulu! Semoga cepat sembuh!"Jojo berjalan beberapa langkah lalu berhenti dan menoleh kearah Liana. "oh ya soal pesan yang kau kirim, maafkan aku tidak bisa membalasnya!"
"ahhh...iya tidak apa-apa, aku mengerti pasti akhir-akhir ini kakak sangat sibuk dengan kuliah kakak"
Jojo hanya tersenyum lalu beberapa saat berucap, "iya".
__ADS_1
"sampai bertemu nanti malam"Liana terus memandang Jojo yang semakin terlihat jauh dari padangan matanya.
"jadi selama ini kau mengirim pesan padanya? Dasar wanita kesepian"
"itu bukan urusanmu, urus saja pacarmu yang selalu kau tunggu kabarnya! Jadi tidak usah mencibirku. Dasar pria arogant"sindir Liana.
"itu bukan urusanmu, urus saja pestamu nanti malam! karena aku tidak akan ikut kepesta itu denganmu?"balas Arvin.
Dengan penuh kemarahan Liana kembali menginjak kaki Arvin dan yang ini lebih keras dari sebelumnya. "AAAKKHH...yakk"teriak Arvin begitu kesakitan.
"sakit? Rasakan!"
"apa kau gila? Kakiku bisa patah karena heelsmu itu"
"dan aku pastikan ucapanmu itu akan menjadi kenyataan, kalau nanti malam kau tidak datang kepesta itu bersamaku"kecam Liana lalu melangkah masuk kedalam mobil dan duduk dengan bertumpuk didepan.
"Hiss.. gadis ini benar-benar..."umpat Arvin. "akhkk.. kakiku sakit sekali"rintih Arvin merasakan betapa sakit kakinya yang telah diinjak Liana dua kali.
Tinnttt..tiinntt...suara kelakson mobil dibunyikan berkali-kali oleh Liana. "iya, tunggu sebentar!" Arvin bejalan dengan kaki memincang. "aduh sakit sekali.."keluh Arvin beberapa kali saat berjalan menuju mobilnya.
*** ***
__ADS_1