
"kau tahu? Terkadang aku berpikir, posisiku yang seperti ini membuatku seperti tokoh shin chae gyoung. Tapi diwaktu yang berbeda aku merasa diriku bukanlah shin chae gyoung melainkan min hyeorin. Hah.. sungguh mengerikan bukan? sesaat aku bisa jadi gadis polos dan sesaat kemudian aku bisa menjadi moster berwajah lembut"
ucapan Liana terus beputar diotak Arvin.
"Hah..!" Arvin menghela nafas panjang, "sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?" keluhnya tak bisa memahami ucapan Liana.
"Permisi direktur! Direktur!" panggil pegawai Sassy berkali-kali namun tak ada respon dari atasannya. "DIREKTUR!" kali ini pegawai Sassy mencoba untuk lebih dekat dan memanggil atasannya dengan nada yang lebih keras.
"Ohh.. ya ampun" keterkejutan Arvin membawa kesadarannya kembali. "Kau ini mengkagetkanku saja" tegur Arvin pada sang Pegawainya Sassy.
"Maafkan saya!" Sesal pegawai Sassy. "Saya panggil direktur berulang kali, namun Direktur tak menjawab jadi saya berinisiatif untuk memanggil Direktur dengan suara sedikit lebih keras" jelas pegawai Sassy membuat Arvin bungkam.
"Ada apa?"
"Ada dokumen yang harus Direktur tanda tangani!" ujar pegawai Sassy menyerahkan beberapa dokumen penting.
"Letakan saja disana! Akan aku pelajari nanti."
"Baik" diletakkannya dokumen itu di meja kerja Arvin.
"Sassy!" panggil Arvin tuk cegah pegawai Sassy yang ingin meninggalkan ruangannya.
"Iya Direktur?"
"Apakah Kau tahu Min Hyeorin?"
"Maaf?" Tanya pegawai Sassy ingin memperjelas yang dia dengar itu adalah benar.
"Min Hyeorin, apa Kau pernah mengenal tokoh itu disalah satu cerita, atau film yang pernah Kau tonton?"
"Min Hyeorin?"
"Dan juga Shin.." Sendat Arvin yang tak ingat benar nama tokoh yang satunya lagi.
"Maksud Direktur Shin Chae Gyoung" saut pegawai Sassy yang mengenal benar tokoh-tokoh yang dimaksudkan atasannya.
"Iya benar. Shin Chae Gyoung. Apa Kau tahu mereka?" sumringah Arvin yang mendapat petunjuk dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi pikirannya.
"Iya". "Itu salah satu serial favorit saya" ujar pegawai Sassy antusias.
"Benarkah?"
"Iya"
"Bisa kau mencarikannya untukku!"
"Maaf?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu"
"ah.. Baik Direktur" patuhnya.
"Ya sudah, Kau boleh pergi sekarang!"
"Baik" Sassy pun bergegas keluar dari ruangan Arvin.
Saat dirinya sampai di luar ruangan Arvin, Sassy berpapasan dengan Liana yang baru saja tiba.
"Halo!" Sapa Liana ramah.
"Selamat siang Nona!" balas Sassy santun.
"Apa arvin ada di dalam?"
"Iya, Direktur berada di ruangannya" jawab Pegawai Sassy.
"Emm.. terima kasih!"
"Iya sama-sama Nona" Sassy pun pergi meninggalkan Liana sendiri didepan pintu Arvin.
"Wah dia cantik sekali, dia juga sangat sopan. Pria itu pintar sekali memilih pegawai" gumamnya sendiri. Dengan perlahan Liana membuka pintu yang berada di depannya. "Hay Arvin!" sapanya Liana memasukan kepalanya dan tangannya terlebih dahulu.
"Kau?"
"Hiss.. pria ini" umpat Liana. "Bisakah Kau memperdulikanku saat Aku bicara?" Liana melangkah maju dan berhenti tepat di depan meja Arvin. "Yakk..!" bentak Liana.
"Aku sedang sibuk, jadi pergilah!"
"Ayo kita berkencan" celetuk Liana berhasil menghentikan kegiatan Arvin. "Minggu ini, di taman hiburan jam sepuluh pagi. Ayo kita pergi berkencan!"
"Jadi sekarang Kau mulai sadar, jika kau menyukaiku?"
"Apa?". "Yakk.. aku mengajakmu karena terpaksa. Karena Sofi dan yang lain ingin kita ikut kencan ini" jelas Liana.
"Kau ingin berkencan atau ingin pergi piknik bersama?". "Ke taman hiburan pula dasar kekanak-kanakan" cibir Arvin.
"Yakk.. tidak masalah jika Kau tidak ingin ikut. Tapi jangan memperolok cara kami."
"Aku tidak memperolok. Aku hanya bicara tentang kenyataan"
"Huh.."dengus Liana. "Sepertinya aku sangat salah datang kemari" Liana melangkah pergi, tapi hanya beberapa langkah ia berhenti karena ucapan Arvin.
"Apa kau sudah makan siang? Kau harus makan dan minum obat secara teratur jika ingin cepat sembuh" perhatian Arvin.
"Baru saja Kau memperolokku dan sekarang, apa Kau ingin menguruiku?"
__ADS_1
"Hey kenapa begitu saja Kau marah? Baiklah aku ikut denganmu. Kau puas?"
"Tidak perlu."
Liana berjalan angkuh hingga Ia tak memperhatikan langkah kakinya. Kaki Liana menyandung sebuah kaki kursi, hingga tubuhnya oleng dan terjatuh, keningnya membentur sudut meja. Kening yang masih terdapat perban kini terlihat mengeluarkan darah kembali. "Akhkk!" Rintih Liana kesakitan.
"Oo.. darah!" seru Liana saat ujung jari yang dibuatnya memegangi kepalanya tadi terdapat darah.
Arvin yang mendengar ucapan Liana langsung berlari kearah Liana tuk mengetahui kondisinya.
"Apa Kau baik-baik saja?"
"Jangan dekati Aku! pria jahat" umpat Liana dengan mata berkaca -kaca menahan sakit.
"keningmu berdarah lagi. ayo kita obati lukamu!"
"Jangan sok perduli"
"YAKK...!" teriak Arvin terdengar sampai luar ruangan.
Para pegawai yang mendegar itu merasa penasaran apa yang terjadi di dalam ruangan Atasannya.
"Bisakah kau menurutiku sekali saja?" pinta Arvin meredam kemarahannya, karena teriakan itu membuat Liana menjadi takut. "Tunggu disini! Aku akan mengambil obat untuk lukamu" Liana mengangguk pelan untuk menyetujui permintaan Arvin.
Arvin berlari keluar untuk mencari kotak P3K, sedangkan Liana hanya duduk diam didalam seperti yang diminta Arvin. Beberapa menit telah berlalu, Arvin pun kembali dengan membawa kotak P3K ditangannya.
"Mendekatlah!" begitu lembut sentuhan Arvin saat mengobati Liana karena Ia berharap dengan seperti itu Liana tidak akan merasa sakit yang terlalu.
"Akhhkk.." rintih Liana kesakitan.
"Bertahanlah!" Arvin meniup luka Liana sembari mengoles obat pada lukanya. "Sedikit lagi akan selesai" Arvin memasang perban dikeningnya yang direkatkan dengan plester. "Sudah selesai."
"Terima kasih" Liana beranjak dan ingin pergi dari sana karena menurutnya tidak ada lagi yang bisa menahannya lebih lama ditempat itu.
"Minggu jam sepuluh kan? Ingatkan Aku dihari itu!" pinta Arvin.
"Jadi Kau mau datang?" tanya Liana tak yakin.
"Haruskah aku mengulang ucapanku?"
"Tidak, tidak perlu. Aku sudah mendengarnya dengan jelas" ujar Liana kesenangan. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang, aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu lagi" Liana beranjak dari sana kini dengan wajah penuh senyuman.
"Arvin!"
"Apa lagi?" desah Arvin kesal.
"Selamat bekerja. Semangat! Dahh..!" Liana melambaikan tangannya sebelum ia benar-benar pergi dari sana dan sesaat itu pula Arvin mengela nafas panjang. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Liana tapi Liana sendiri malah bersikap tenang-tenang saja dengan keadaannya. "Dasar!".
__ADS_1
***