
Setelah beberapa hari Liana tidak dapat tidur nyenyak karena masih bermimpi tentang kejadian buruk itu.
Kini entah mengapa Ia terlihat sangat rileks saat tidur ditemani oleh Arvin. Hingga Ia tertidur sangat lama sampai menjelang tengah hari.
Liana membuka matanya bersamanya dengan kesadaran yang perlahan mulai berangsur kembali.
"Dia didepanku" ujar Liana tersenyum melihat punggung Arvin yang berada dihadapannya. Seperti sebuah magis melihat Arvin yang berada disekitarnya membuat hati Liana selalu tenang, trauma itu tak datang kembali padanya.
"Liana kau sudah bangun" ujar Ibu Arvin yang sedari tadi berada disana, menemani sang anak bekerja sembari mengupas buah agar dapat dimakan oleh Arvin selagi sang anak bekerja berharap memberi tenaga lebih untuk Arvin saat bekerja disaat anaknya masih sakit.
"Ibu!" Seru Liana yang terlambat menyadari keberadaan sang mertuanya.
"Bagaimana ini? kenapa aku tidur disaat mertuaku ada disini" gusar Liana yang langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Liana langsung merapikan apa yang perlu dirapikan, dan dengan segera Liana turun dari ranjang untuk menyapa sang mertua dengan benar.
"Akhkk!" pekik Liana merasakan nyeri di kakinya, saat dirinya kurang hati-hati dengan langkahnya saat turun dari ranjang.
"Liana kau baik-baik saja?" Ibu Arvin langsung berlari kearah Liana untuk mencari tahu keadaan Liana lebih dekat.
Sedangkan Arvin hanya bisa menatap khawatir kearah Liana, Ia tidak bisa langsung berlari seperti Ibunya untuk melihat keadaan Liana secara dekat.
"Liana baik-baik saja, Ibu tidak perlu khawatir! Tadi aku sedikit ceroboh menekan kakiku saat turun dari ranjang" jelas Liana tuk lega kan hati sang mertua tentang kekhawatiran atas sakitnya.
"Baiklah biar Ibu papah kamu ya!" anjur Ibu Arvin yang masih khawatir dengan menantu kesayangannya.
"Apa kau ingin duduk dan makan buah bersama Arvin?" tanya Ibu.
"Iya" angguk Liana yang tak tahu harus kemana. Ia sudah cukup canggung dengan adanya bantuan dari sang mertuanya.
"Bodoh! Apakah kau tidak bisa hati-hati sedikit?" Sebenarnya Arvin mencoba untuk mengekspresikan kekhawatirannya, tapi entah mengapa jatuhnya malah seperti umpatan.
"Maafkan aku!" sesal Liana yang dibantu Ibu Arvin untuk duduk disebuah bangku rotan yang berada diruang itu, yang sengaja disiapkan oleh Rumah sakit untuk menerima tamu jikalau ada yang menjenguk sang pasien.
"Sudahlah makan saja buahmu!" anjur Arvin yang tak ingin memperpanjang kesalahannya untuk mencoba mengekspresikan diri.
Arvin menusuk buah dengan potongan lebih besar dengan sebuah garpu kecil tuk diberikan pada Liana. "Ini makanlah!".
"Kau ini Liliput yang kekurangan gizi jadi banyak-banyaklah makan! Agar lukamu sembuh dengan cepat" anjur Arvin.
"Iya aku mengerti" patuh Liana memakan pemberian dari Arvin dengan wajah yang cemberut. Karena sikap Arvin padanya, tidak seperti orang yang tengah mengkhawatirkan dirinya.
Tapi berbeda dengan Ibu yang dapat menangkap kekhawatiran sang anak yang begitu besar terhadap istrinya.
Ibu hanya bisa tersenyum geli melihat sang anak tidak dapat mengekspresikan hatinya dengan benar.
"Kenapa kau hanya memakan buah itu-itu saja? Makan yang lainnya juga!"
"Tapi aku tidak terlalu suka jeruk pasti rasanya masam" ujar Liana.
"Kata siapa ini masam? Ini sangat manis" Arvin menyuapi Liana dengan buah-buah yang tak disentuh Liana sama sekali.
"Manis kan?"
"Tapi sedikit masam" ujar Liana, yang memang tidak terlalu suka makanan yang berasa masam, karena tubuhnya akan merespon dengan bergidik.
"Ini juga makanlah!" Arvin memberikan buah yang penuh mengandung banyak vitamin C.
"Ini sangat masam" ujar Liana yang tubuhnya mulai merespon.
Sedangkan Arvin yang melihat itu hanya bisa menahan tawa. Andai saja Arvin tidak terluka mungkin ia akan tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi yang ditunjukkan Liana.
"Kau imut sekali," ujar Arvin menyeka air mata yang keluar karena menahan tawa.
"Aku harap semua akan baik-baik saja" Benak Ibu Arvin yang pikirannya masih terganggu dengan kehadiran Alya ditempat ini.
***
Sebuah pesan singkat diponselnya dari Jojo membuat Liana harus keluar dari sana, meninggalkan Arvin yang masih disibukan oleh segudang pekerjaan.
Sedangkan Ibu Arvin sendiri telah pulang untuk mengurusi semua keperluan untuk kembali ke luar negeri karena Ibu tak bisa meninggalkan Ayah Arvin sendiri di negeri orang lebih lama lagi.
Liana berjalan disalah satu taman rumah sakit untuk menemui Jojo yang telah menantinya.
"Liana!" lambai Jojo yang memberi tahu kan keberadaannya.
"Kakak disini?" ujar Liana berbasa-basi setelah berhasil menghampiri Jojo.
"Iya, aku hanya ingin mengetahui keadaanmu," ucap Jojo menjawab pertanyaan Liana.
"Tadi aku beberapa kali datang ke kamarmu, tapi kau kamarmu selalu kosong" lanjutnya.
"Maafkan aku! Sejak semalam aku berada dikamar Arvin."
__ADS_1
"Ah... begitu ya," ada rasa kecewa dihati Jojo mendengar perhatian yang ditujukan Liana pada Arvin.
"Bagaimana keadaan Arvin?"
"Dia baik. Hanya tinggal menunggu proses pemulihannya saja," jawab Liana.
"Lalu bagaimana dengan luka kakimu?"
"Ahh ... ini. Ini hanya retak sedikit saja, sebentar lagi juga sembuh" terang Liana.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya" ungkap Jojo tersenyum lega walau tampak mimik tak menyenangkan disana setelah membahas tentang Arvin.
"Liana!"
"Ya?"
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu".
"Sesuatu? Tentang apa?"
"Mungkin hal ini tidak tepat untuk dikatakan disituasi saat ini. Tapi aku tidak dapat menunda lagi kali ini" ucap Jojo yang sangat bertele-tele, karena efek gugupnya.
"Sebelum aku kembali untuk meneruskan pekerjaanku ke luar negeri, aku ingin melepas beban ku," Jojo masih tak dapat ucapkan tujuan hatinya yang sesungguhnya.
"Sebenarnya aku ingin menyimpan ini seumur hidupku, tapi aku ..."
"Kak!" potong Liana yang tak sabar dengan ucapan Jojo yang bertele-tele.
"Aku tidak akan berpikir buruk padamu, jadi katakan saja apa yang ingin kau katakan!" lontar Liana menenangkan hati Jojo, dan mencoba membuatnya agar lebih terbuka padanya.
"Aku menyukaimu!" Tegas Jojo.
"Kakak?"
"Aku menyukaimu sebelum dia datang, aku mencintaimu sejak tiga tahun yang lalu semenjak pertemuan pertama kita, aku sudah mengagumi dirimu," ungkap Jojo mengungkapkan isi dihatinya.
"Kakak!" air mata Liana mulai menetes.
"Aku sudah mencoba mencintai orang lain tapi semuanya terasa sulit karena hatiku masih memandang ke arahmu," ujar Jojo.
Liana terdiam. Ia tidak tahu harus senang atau bahkan sebaliknya.
"Apa kau sangat kesulitan dengan pernyataan ini?" Jojo menghela nafas panjang lalu berucap, "maafkan aku! harus mengatakan ini padamu. Tapi hanya seperti inilah aku bisa lanjutkan hidupku," Jojo menyerah pada perasaannya.
Jojo tahu jika tidak ada tempat dihati Liana untuknya, karena itu tanpa menunggu jawaban dari Liana Jojo langsung pergi.
"Bisakah kakak menungguku?" cetus Liana membuat langkah Jojo terhenti.
"Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Beberapa bulan lagi kami memutuskan untuk berpisah. Jadi bisakah kakak melakukan itu?" pinta Liana dengan nada bergetar.
Sungguh Liana tak inginkan ending seperti ini untuk cintanya. Tapi jika Ia melepaskan Jojo kali ini, bagaimana dia akan melewati waktu setelah dirinya berpisah dengan Arvin?
Mungkin dengan bersama Jojo semuanya akan lebih baik kedepannya. Toh Liana dulu pernah menyukai Jojo selama 3 tahun jadi untuk menyukainya kembali Liana pasti bisa melakukannya.
"Apa kau serius?" tanya Jojo meyakinkan dirinya bahwa yang didengar segalanya benar.
"Iya. Jika kakak tidak keberatan menungguku," ucap Liana penuh keraguan, karena Ia merasa telah memanfaatkan Jojo sebagai pelampiasannya saja.
"Tapi bukankah kau mencintai Arvin?".
"Aku juga menyukai kakak dulu". "Dan mungkin jika aku berusaha aku bisa menyukai kakak kembali," tutur Liana.
"Lagi pula, kami akan berpisah sebentar lagi. Jadi rasa ini tidak penting lagi," lanjut Liana.
Jojo berjalan cepat kearah Liana dan langsung memeluk tubuh Liana tanpa perduli terlihat oleh orang banyak. "Terima kasih! Terima kasih Liana!" ucapnya berulang kali.
"Yakk... kalian berdua!" teriak Dafina dari kejauhan membuyarkan pelukan itu.
"Apa kalian ini tidak tahu malu? Berselingkuh didepan umum".
"Dafina, ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"atku heran pada kalian berdua, sebegitu besarkah cinta kalian? sehingga berpelukan didepan umum pun tidak mempunyai rasa malu. wanita seperti apa kau ini? suami sedang berbaring sakit tapi disini malah berpelukan dengan pria lain?" kecam Dafina tak terima dengan tindakan kakaknya.
"Dafina tutup mulutmu! kalau tidak tahu apa-apa jangan bicara sembarangan," geram Liana.
Dafina tersenyum sinis dan berucap tak kalah sinisnya dengan senyumannya, "aku sangat kasihan pada kak Arvin harus mempunyai istri sepertimu."
"Aah.. bukan, tapi aku juga sangat menyesal punya kakak sepertimu dan mungkin keempat orang tuamu pasti sangat sakit hati karena perselingkuhan mu," Dafina memundurkan langkahnya lalu berbalik meninggalkan keduanya.
Liana yang mengetahui itu berusaha mengejar adiknya. "Dafina tunggu aku! Kau mau kemana? Biar aku jelaskan dulu!".
__ADS_1
Dengan tertatih-tatih Liana mencoba mengejar keterlambatannya begitu pula dengan Jojo yang mengikuti dari belakang, karena Ia juga merasa bertanggung jawab atas kekacauan ini.
Dengan segera Dafina membuka pintu kamar Arvin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat melihat kedalam kamar Ia melihat sesuatu yang lebih mengejutkan dirinya.
Alya yang diam-diam mencium lembut bibir Arvin saat tertidur di bangku dengan posisi terduduk.
Tak hanya Dafina, Liana beserta Jojo juga melihat adegan itu. Secara cepat Liana membalikan tubuhnya karena tak ingin melihat kejadian yang menyakiti hatinya.
"YAKK...!" teriak Dafina berusaha menghentikan wanita yang mencium kakak iparnya tapi teriakan itu malah membangunkan Arvin.
***
Selepas kepergian Jojo dan Alya, Arvin berserta Liana duduk disatu sofa yang sama, dengan wajah yang memandang kearah Dafina yang berada didepannya.
Dirasakan suasana seperti ruang sidang, Liana dan Arvin sebagai tersangka utama sedangkan Dafina sendiri seperti hakim yang bisa menjatuhi hukuman apa pun pada keduanya.
Dafina menghela nafas berat setelah mengetahui segalanya dari awal hingga akhir setelah diceritakan oleh Liana dan Arvin.
"Jadi karena kontrak yang hampir selesai kalian mulai mencari pasangan masing-masing?" interogasi Dafina terhadap keduanya tapi tak ada sautan sedikitpun dari keduanya.
"Lalu bagaimana dengan ayah, ibu dan orang tua kak Arvin? apa kalian akan memberi tahu bahwa kontrak pernikahan kalian akan habis atau kalian telah menemukan pasangan selingkuh yang lebih baik. apa seperti itu?" sindir Dafina mulai geram dengan keduanya.
"Bukan seperti itu ..."
"Lalu seperti apa?" bentak Dafina memotong ucapan Liana.
"Kita akan pikirkan itu. Jadi tolong Dafina jaga rahasia ini!" lontar Arvin angkat bicara.
"Kalian benar-benar membuatku gila," keluh Dafina kesal seraya pergi dari keduanya.
Liana pun beranjak dari sana, bermaksud untuk pergi mengikuti yang lain yang lebih dahulu pergi.
"Kau mau kemana?" tanya Arvin, sebenarnya ingin menjelaskan tentang ciuman yang baru saja terjadi bukanlah kehendaknya.
"Aku ingin kekamar ku, aku lelah ingin istirahat."
"Maafkan aku atas kejadian tadi!"
"Tidak perlu meminta maaf padaku, lagi pula itu bukan urusanku," ucap Liana yang tahu benar tentang maksud ucapan Arvin yang mengarah pada kejadian ciuman itu.
"Aku pergi!" Liana melangkah dengan tetesan air mata yang tidak diketahui oleh Arvin.
"Tidak apa-apa liana, tidak apa-apa," benaknya menguatkan hatinya dengan senyum dibawah derasnya air mata.
Dan diwaktu yang sama namun tempat yang berbeda. Jojo dan Alya yang berjalan bersama menuju parkiran rumah sakit.
Terlihat sedikit ada perdebatan antara mereka berdua.
Jojo tiba-tiba tertawa singkat.
"apa yang sedang kau tertawakan?" Tanya Alya sinis.
"Bukankah semua ini sangat lucu? Ternyata kita membicarakan pasangan yang sama".
"Apa menurutmu semua itu lucu?"
"Aku rasa ini tidak lucu, aku hanya mentertawakan diri kita. Kita seperti merusak hubungan yang dibangun dengan ikatan suci pernikahan." Lugas Jojo tersenyum pahit.
"Dasar pria tidak waras" cibir Alya.
"Setidaknya aku bukan orang yang munafik"
"Apa?" langkah yang berjalan cepat dan berusaha menghindar dari Jojo kini malah melangkah mendekat dengan tatapan sinis.
"Apa kau bilang?"
"Aku melihat kedua mata itu saling menatap dengan penuh cinta. Dan aku rasa kau juga menyadari itu."
"Tidak. Aku tidak melihat apapun," air mata Alya mulai menggenang.
"Aku akan mencoba untuk melepaskan Liana jika itu membuatnya bahagia".
Kini Alya hanya diam...
"Lepaskan dia! Dia sudah bukan untukmu lagi," tutur Jojo.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengar ucapanmu itu," Alya melangkah kembali dan kini tak peduli dengan apa yang dikatakan Jojo.
"Berhentilah berpura-pura tidak melihatnya, itu akan menyiksa dirimu sendiri!" teriak Jojo yang telah ditinggal sendiri.
"Liana harusnya kau berterima kasih padaku! Karena aku sudah berbesar hati untuk memaafkanmu yang memberi harapan palsu untukku," gumamnya disertai dengan nafas panjang nan berat.
Setelah kejadian siang itu, dihari-hari berikutnya Liana tak pernah terlihat lagi datang ke kamar Arvin. Bahkan Liana telah diperbolehkan pulang oleh Rumah sakit saja, kabar itu dirinya ketahui dari Ibunya.
__ADS_1
***